• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Jogja dari Kacamata Mahasiswa Perantauan

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Jogja dari Kacamata Mahasiswa Perantauan


Cangkeman.net -Sudah agak lama saya punya kebiasaan lari pagi di Malioboro. Selain jalan yg terasa lebar, melihat orang-orang menikmati Jogja adalah hal yg menyenangkan, setidaknya bagi saya.

Tapi sekarang agak berbeda. Malioboro jadi sepi. Bahkan terlalu sepi untuk sebuah destinasi wajib bagi wisatawan yg mengunjungi Jogja. Iya, seperti yg kita tahu bahwa pedagang kaki lima di sekitar sana akhirnya dirapikan & akan tinggal di habitat baru yg dinamai Teras Malioboro.

Jogja tercipta dari rindu, pulang, & angkringan. Kutipan salah satupwisidari Joko Pinurbo yg fenomenal ditempel pada dinding sebelah utara. Sangat konten-able. Dan terkesan mengikuti zaman.

Romantisasi Jogja sepertinya cukup menyenangkan bagi pengunjung. Jogja memang sebuah kota yg menyenangkan utuk dikunjungi, tetapi kalau ditinggali beda lagi. Ya, gimana, UMR kota ini cukup tragis. Sebagai perbandingan, bahkan lebih rendah dari Kabupaten Lamongan. Iya, kabupaten cuy, yg sering banjir itu loh. Yang jalannya sering memancing kesabaran. Ternyata UMR kabupaten tersebut masih lebih akbar dari Jogja. Iya, Jogja cuy, kota istimewa lho he.

Meski UMR yg demikian, tetapi biaya hidup di Jogja nggak murah-murah amat. Mungkin terlihat murah kalau dibandingkan dengan Jakarta. Tapi ketika dibandingkan dengan Malang, Gresik, atau bahkan Lamongan, tentu saja terkesan mahal.

Makanan yg sering dianggap mencerminkan biaya hidup di Jogja yg murah adalah nasi kucing. Iya, harganya memang sekitar 2-3 ribu rupiah. Tapi itu satu porsi saja. Bagi yg belum tahu, satu porsi nasi kucing ini setara dengan cemilan yg tidak mengenyangkan. Perlu makan beberapa porsi supaya dapat kenyang. Selain itu, satu porsi cuma berisi nasi & sambal saja. Alhasil, perlu setidaknya gorengan supaya dapat dinikmati dengan keikhlasan. Nah, beberapa tambahan tersebut kalau dijumlahkan harganya juga nggak murah.

Selain itu, makanan di Jogja kebanyakan agak manis, yg bagi lidah orang Jawa Timur seperti saya, hal tersebut susah untuk dinikmati. Bahkan mencari pecel dengan rasa yg otentik pun cukup susah. Selama di Jogja, saya baru menemukan satu warung pecel dengan rasa yg otentik: Warung pecel Bu Ramelan, sebelah Amplas.

Itu baru makanan, selanjutnya tempat tinggal. Harga kos di Jogja itu tergolong mahal. Sekali lagi, saya memakai perbandingan Malang, Gresik & Lamongan. Bukan Jakarta. Kos-kosan di Jogja itu rata-rata kosongan atau cuma kamar saja tanpa kasur, bantal, lemari & perabotan lain. Ada sih yg isian, tetapi harganya sangat jarang ada yg murah.

Belum lagi masalah klitih. Itu loh yg mirip begal, tetapi latar belakang mengerjakan tindakannya bukan karena materi, melainkan suka-suka.Edyan, kan?

Iya, keamanan di jalan ketika malam hari memang cukup mengkhawatirkan. Padahal saya ini golongan orang yg suka ngopi hingga larut malam. Dulu ketika di Malang, pulang jam 2 dini hari adalah hal yg biasa. Tidak ada kekhawatiran kepada tindakan yg membahayakan. Berbeda ketika di Jogja. Pulang jam 11 malam saja sudah ketar-ketir. Apalagi kalau harus lewatring road. Adrenalin, Cuy.

Sebenarnya saya harap menulis lebih banyak lagi tentang sisi abu-abu dari Jogja, khususnya tentang keraton, tetapi saya takut ditanyaKTP mana, Mas?Takut hilang juga sih wqwqwq.

Intinya Jogja itu menyenangkan untuk dikunjungi. Kalau ditinggali sih, mending di Kabupaten Lamongan aja. Iya, kabupaten cuy, yg sering banjir loh. Yang jalannya sering memancing kesabaran. Asyem emang.

Meski begitu, singgah beberapa tahun di Jogja adalah satu dari beberapa hal dalam hidup yg perlu disyukuri. Saya belajar banyak sekali tentang kehidupan, budaya & keberagaman ketika di Jogja. Sungguh, saya tidak menyesal singgah di kota ini.

Tulisan ini ditulis oleh Afiqul Adib diCangkemanpada tanggal 16 Maret 2022. Hari ini 17:06
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.