Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Kerusuhan Mei 1998. Kejadian ini tercatat sebagai bentuk kerusuhan rasial kepada etnis Tionghoa yg terjadi di daerah Ibu Kota Jakarta serta beberapa wilayah lain. Kerusuhan yg diawali dari krisis finansial ini tercatat sebagai salah satu memori gelap dalam sejarah bangsa ini.
Baru-baru ini ada sebuah postingan viral dari seorang netizen Twitter dengan nama Hasansamuda yg mana dia mengharapkan supaya kerusuhan 98 terjadi lagi. Dalam cuitannya dia mengaku bahagia melihat toko-toko orang Tiongkok dibakar & tak lupa dia berdoa supaya kejadian tersebut terulang kali, kalau dapat seratus kali lebih kejam.
Entahlah apa maksudnya. Atau entah siapa yg menyuruhnya. Yang jelas bagi mereka yg mengalami sendiri kerusuhan 98 tak akan berani mengatakan hal semacam itu. Beberapa orang yg jadi korban kerusuhan tersebut juga menceritakan apa saja yg mereka alami mulai dari toko-toko yg dibakar, perempuan-perempuan yg diperkosa, rumah-rumah yg dijarah serta sorakan-sorakan bunuh Cina yg dapat terdengar dari berbagai penjuru.
Masyarakat Tionghoa yg ketakutan banyak melarikan diri ke luar negeri. Sebagian bersembunyi di dalam rumah serta menciptakan pagar tinggi untuk melindungi diri mereka dari penjarahan. Sementara itu bisnis mereka pun dijadikan target oleh massa yg marah.
Mobil & motor mereka dibakar, barang-barang mereka dirampas hingga akhirnya kaum Tionghoa dihadapkan pada kerugian yg mencapai ratusan juta & bahkan milyaran rupiah. Bukan cuma kerugian materi, mereka diberikan trauma mendalam yg mungkin tak akan pernah hilang. Seumur hidup para korban akan terus bertanya-tanya apa kesalahan mereka hingga harus menghadapi itu semua.
Lalu apakah mungkin kerusuhan yg sama terjadi lagi seperti yg diharapkan oleh Hasansamuda? Jika melihat kondisi saat ini yg tengah perang politik dengan isu agama & ras yg terus bermain maka tak ada yg dapat bilang bahwa itu tidak mungkin terjadi. Terlebih setelah kasus Ahok pada tahun 2017. Jika kasus penjarahan yg sama kembali berulang maka sejumlah akibat ekonomi akan menimpa negara ini.
Bayangkanlah sebuah toko akbar milik etnis Tionghoa yg dijarah habis hingga tak bersisa. Toko itu bangkrut & akhirnya terpaksa tutup. Jika toko akbar itu tutup maka toko-toko kecil akan kesulitan untuk mengisi ulang barang belanjaan mereka & para pengusahan juga akan kesulitan untuk memasok barang-barang buatan mereka. Mungkin terdengar sepele tetapi siklus perdagangan yg terganggu sanggup memberikan gejolak pada barang-barang berupa kenaikan harga. Ini cuma satu toko, bagaimana kalau ada seratus toko?
Barang-barang yg dijarah pun pasti akan ditimbun supaya tidak ketahuan & kelangkaan barang berujung pada naiknya harga seperti halnya kasus minyak goreng. Barang yg kosong serta toko-toko akbar yg berhenti menyuplai barang akan menimbulkan kerusuhan yg lebih akbar dari sekedar minyak goreng. Saat ini kita memang sudah mengenal sistem belanja online tetapi tetap saja harganya akan lebih mahal dibanding belanja di toko.
Belum lagi kalau kita membahas jumlah kematian sekaligus kerusakan infrastruktur yg akan terjadi. Masalah negara yg sudah banyak akan semakin bertambah dengan mengurus setiap akibat dari kerusuhan yg mungkin saja akan terjadi di seluruh negeri.
Tapi efek paling akbar yg ditimbulkan adalah hilangnya kepercayaan akan HAM.
Pancasila menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tetapi kaum Tionghoa tetap didiskriminasi kendati lahir & akbar di negeri ini. Ketidakpercayaan akan menghasilkan pembangkangan & pembangkangan akan jadi akar bagi banyak tipe pelanggaran lainnya. Karena itulah kalau kerusuhan sejenis kerusuhan 98 terjadi lagi maka negeri ini akan jatuh ke dalam jurang akbar yg tak jelas dasarnya. So, mari berdoa supaya kerusuhan itu tak akan pernah terulang.
Sekian dari saya mari berjumpa di thread saya yg lainnya.
sumur Hari ini 13:28