Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Wahabiyahadalah kelompok puritan yg didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab (1111-1207 H) di Najd. Citra wahabi di mata mayoritas kaum muslim kurang harum karena mereka acap bersitegang dengan kelompok muslim lain dalam konflik sosial keagamaan yg dipicu oleh klaim kebenaran. Di mata para penulis Barat, khususnya pascatragedi 11 September, citra Wahabi juga sangat negatif. Mayoritas pelaku bom bunuh diri yg menimpa Twin Towers & Pentagon adalah orang-orang Wahabi dari Saudi.
Oleh karena itulah, para penulis Barat menyimpulkan bahwa biang keladi terorisme berkaitan erat dengan tradisonal pemikiran Wahabi, bahkan berhubungan secara tidak langsung dengan doktrin keagamaan yg disebarkan oleh pendirinya. Pandangan ini tampaknya didukung oleh Khaled Abou el-Fadl yg menyatakan bahwa kelompok-kelompok radikal seperti Taliban & Al-Qaeda memang terpengaruh oleh pemikiran Wahabi.
Akan tetapi, menurut Natana De Long Bas, Muhammad bin Abdul Wahab berpandangan bahwa jihad adalah tindakan yg bersifat defensif. Pendiri Wahabi ini lebih memilih jalur dialog & pendidikan dalam menyebarkan akidahnya. Pandangan pendiri Wahabi ini bertolak belakang dengan doktrin Osama bin Laden & pengikutnya. Dengan demikian, Natana berani menyimpulkan bahwa kalau Osama menghalalkan terorisme yg bertentangan dengan prinsip jihad defensif ala Muhammad bin Abdul Wahab, harus diakui bahwa terdapat banyak paras & keragaman pemikiran dalam tubuh Wahabi.
Richard Bonney mengutip pernyataan Stephen Schwarz sebagai perbandingan. DalamThe Two Faces of Islam : The House of Saud from Tradition to Terror,Schwarz menyatakan bahwa Wahabi merupakan aliran keagamaan yg totalitarian, fanatik, eksklusif, & fasis. Wahabi mengklaim sebagai kelompok satu-satunya yg menganut akidah Islam murni. Sebaliknya, kelompok lain yg berseberangan diklaim musyrik (politeis) dan, sebagai konsekuensinya, mereka sah diperangi dengan dalih pemurnian tauhid.
Bonney condong menyepakati pandangan yg menilai Wahabi sebagai kelompok yg mengajarkan doktrin puritan & radikal. Menurutnya, radikalisme ini terlihat setelah terjadinya kontrak kerjasama antara Wahabi dengan Muhammad bin Saud (w.1179 H/1744 M), penguasa Diriyya, salah satu kawasan padang pasir terluas di Najd. Muhammad bin Abdul Wahab berpandangan bahwa dakwahnya akan mengalami kesulitan kalau tidak didukung oleh kekuatan politik. Oleh sebab itu, dia perlu bekerja sama dengan Muhammad bin saud. Aliansi ini kemudian membentuk kesatuan kekuatan politik & otoritas keagamaan demi dua tujuan yg saling tumpang tindih. Di satu sisi, kepentingan politik untuk membangun kerajaan Saudi dengan melepaskan diri dari kekuasaan Dinasti Utsmani sangat menonjol. Di sisi lain, otoritas keagamaan Wahabi memiliki kepentingan untuk menarik pengikut sebanyak-banyaknya, termasuk dengan cara memerangi kelompok-kelompok lain yg mereka klaim syirik yg masih patuh pada penguasa Utsmani.
Dua kepentingan yg bercampur baur ini, kemudian mendorong tersulutnya serangan & pembantaian kepada kelompok-kelompok yg diklaim syirik & tunduk pada kekuasaan Utsmani. Pembantaian berdarah & teror atas nama purifikasi akidah kepada penduduk Mekah, Madinah, Qatar, Basrah, Karbala, Najaf, Oman, & Syam digambarkan secara jelas oleh Jamil Afandi Shidqi az-Zahawi dalam bukunyaFajr as-Sadiq.
Khaled Abou el-Fadl juga mencatat bahwa musuh utama Muhammad bin Abdul Wahab bukanlah orang Yahudi ataupun Kristen, melainkan Dinasti Turki Utsmani. Pendiri Wahabi ini menilai Dinasti Utsmani sebagai rezim yg sama bejatnya dengan mongol yg sah diperangi sesuai fatwa Ibnu Taimiyah. Baik kerajaan Utsmani maupun Mongol sama-sama memeluk Islam, tetapi tidak menerapkan hukum Islam. Khaled mengkritik Muhammad bin Abdul Wahab yg memukul rata seluruh Dinasti Utsmani sebagai rezim yg bejat. Bagi Khaled, Dinasti Utsmani memiliki jasa akbar dalam membela Islam, khususnya pada periode awal. Namun, pada periode akhir, penguasa Utsmani memang cenderung sewenang-wenang & mengabaikan keadilan.
Akan tetapi, menurut Natana De Long Bas, Muhammad bin Abdul Wahab berpandangan bahwa jihad adalah tindakan yg bersifat defensif. Pendiri Wahabi ini lebih memilih jalur dialog & pendidikan dalam menyebarkan akidahnya. Pandangan pendiri Wahabi ini bertolak belakang dengan doktrin Osama bin Laden & pengikutnya. Dengan demikian, Natana berani menyimpulkan bahwa kalau Osama menghalalkan terorisme yg bertentangan dengan prinsip jihad defensif ala Muhammad bin Abdul Wahab, harus diakui bahwa terdapat banyak paras & keragaman pemikiran dalam tubuh Wahabi.
Richard Bonney mengutip pernyataan Stephen Schwarz sebagai perbandingan. DalamThe Two Faces of Islam : The House of Saud from Tradition to Terror,Schwarz menyatakan bahwa Wahabi merupakan aliran keagamaan yg totalitarian, fanatik, eksklusif, & fasis. Wahabi mengklaim sebagai kelompok satu-satunya yg menganut akidah Islam murni. Sebaliknya, kelompok lain yg berseberangan diklaim musyrik (politeis) dan, sebagai konsekuensinya, mereka sah diperangi dengan dalih pemurnian tauhid.
Bonney condong menyepakati pandangan yg menilai Wahabi sebagai kelompok yg mengajarkan doktrin puritan & radikal. Menurutnya, radikalisme ini terlihat setelah terjadinya kontrak kerjasama antara Wahabi dengan Muhammad bin Saud (w.1179 H/1744 M), penguasa Diriyya, salah satu kawasan padang pasir terluas di Najd. Muhammad bin Abdul Wahab berpandangan bahwa dakwahnya akan mengalami kesulitan kalau tidak didukung oleh kekuatan politik. Oleh sebab itu, dia perlu bekerja sama dengan Muhammad bin saud. Aliansi ini kemudian membentuk kesatuan kekuatan politik & otoritas keagamaan demi dua tujuan yg saling tumpang tindih. Di satu sisi, kepentingan politik untuk membangun kerajaan Saudi dengan melepaskan diri dari kekuasaan Dinasti Utsmani sangat menonjol. Di sisi lain, otoritas keagamaan Wahabi memiliki kepentingan untuk menarik pengikut sebanyak-banyaknya, termasuk dengan cara memerangi kelompok-kelompok lain yg mereka klaim syirik yg masih patuh pada penguasa Utsmani.
Dua kepentingan yg bercampur baur ini, kemudian mendorong tersulutnya serangan & pembantaian kepada kelompok-kelompok yg diklaim syirik & tunduk pada kekuasaan Utsmani. Pembantaian berdarah & teror atas nama purifikasi akidah kepada penduduk Mekah, Madinah, Qatar, Basrah, Karbala, Najaf, Oman, & Syam digambarkan secara jelas oleh Jamil Afandi Shidqi az-Zahawi dalam bukunyaFajr as-Sadiq.
Khaled Abou el-Fadl juga mencatat bahwa musuh utama Muhammad bin Abdul Wahab bukanlah orang Yahudi ataupun Kristen, melainkan Dinasti Turki Utsmani. Pendiri Wahabi ini menilai Dinasti Utsmani sebagai rezim yg sama bejatnya dengan mongol yg sah diperangi sesuai fatwa Ibnu Taimiyah. Baik kerajaan Utsmani maupun Mongol sama-sama memeluk Islam, tetapi tidak menerapkan hukum Islam. Khaled mengkritik Muhammad bin Abdul Wahab yg memukul rata seluruh Dinasti Utsmani sebagai rezim yg bejat. Bagi Khaled, Dinasti Utsmani memiliki jasa akbar dalam membela Islam, khususnya pada periode awal. Namun, pada periode akhir, penguasa Utsmani memang cenderung sewenang-wenang & mengabaikan keadilan.
Menurut Khaled, sikap Muhammad bin Abdul Wahab yg keras kepada penguasa Utsmani sejatinya bertujuan untuk menggulingkan penguasa non-Arab. Pendiri Wahabi ini menganut paham etnosentris bahwa penguasa Islam haruslah dari bangsa Arab. Selain itu, Muhammad bin Abdul Wahab & Muhammad Saud beraliansi dengan kepentingan kolonialisme Inggris yg menghendaki jatuhnya Dinasti Utsmani. Wahabi & Inggris sama-sama memiliki kepentingan untuk menjatuhkan Kerajaan Utsmani. Di satu sisi, Inggris akan dapat mewujudkan agenda kolonialnya ke negara-negara jajahan apabila Utsmani runtuh. Di sisi lain, Wahabi akan mendapatkan kompensasi politik berupa berdirinya kerajaan Saudi atas dukungan Barat.
Quote:
Penting diketahui, sebagaimana dikemukakan Richard Bonney, bahwa tafsir atas konsep jihad sudah mengalami pergeseran pada era kemunculan Wahabi. Jihad yg pada mulanya dipahami sebagai tindakan untuk mempertahankan diri & agamadari serangan musuh, perlahan berubah jadi doktrin yg kaku & dipakai untuk memerangi sesama kaum muslimin yg dituduh sebagai pelaku syirik & bidah.Di sinilah letak anomali & ironi Wahabi. Di satu sisi, Wahabi getol memerangi sesama Ahli Kiblat. Namun di sisi lain, dalam sejaranya Wahabi tidak pernah terlibat dalam jihad untuk mempertahankan negara-negara muslim dari serangan kolonialis & imperialis. Mereka justru beraliansi dengan negara-negara penjajah. Dalam konflik Palestina, Irak, Iran, misalnya, Wahabi cenderung berpihak pada kebijakan-kebijakan Barat. Inilah absurditas konsep jihad dalam perspektif Wahabi.(hd/liputanislam.com)
*Sumber
iambil dari karya intelektual muda NU, Irwan Masduqi,Ketika Nonmuslim Membaca Alquran: Pandangan Richard Bonney Tentang Jihad,Yogyakarta : Bunyan, 2013.hal.86-90.