• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Jengis khan ± 1162-1227

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63
JengisKhan.jpg


JengisKhanEmpire.jpg

Jengis Khan, penakluk Mongol terbesar, dilahirkan kira-kira tahun 1162. Ayahnya seorang kepala suku kecil, menamakan anaknya Temujin sesudah dia mengalahkan kepala suku lain. Tatkala Temujin berumur sembilan tahun, ayahnya terbunuh oleh suku lawannya, dan sesudah itu anggota familinya yang kebetulan masih hidup berada dalam cengkeraman ketakutan dan keterasingan. Ini betul-betul suatu pemula dari kehidupan yang getir, dan bagi Temujin lebih-lebih lagi sebelum ada perubahan yang lebih baik untuk dirinya. Tatkala dia sudah menginjak usia muda remaja, dia tertawan dalam suatu pertempuran melawan suku lawannya.

Untuk mencegah dia bisa lolos, sebuah gelang bambu digantungkan di batang lehernya. Dari keadaan yang tak tampak jalan lolos dalam tahanan kelompok buta huruf yang primitif, dari negeri yang kering kerontang papa sengsara, Temujin mampu bangkit menjadi manusia yang terkuat di dunia.

Kebangkitannya bermula dari usahanya meloloskan diri dari tahanan lawannya. Kemudian dia bergabung dengan Toghril, teman akrab mendiang ayahnya, seorang kepala suku yang punya kaitan hubungan di daerah itu. Tahun-tahun berikutnya yang penuh dengan baku hantam antar suku, Temujin setapak demi setapak berjuang keras mencapai puncak.

Suku-suku Mongol lama terkenal penunggang-penunggang kuda yang mahir dan pendekar-pendekar yang keras tak kenal ampun. Sepanjang sejarah mereka tak henti-hentinya menggempur Cina bagian utara. Tetapi, sebelum Temujin muncul, antar suku Mongol suka berhantam sesamanya menyia-nyiakan energi. Dengan kelihaian menggabungkan sikap keberanian, diplomasi, kekerasan dan kesanggupan mengorganisir, Temujin berhasil menyatukan semua suku-suku dibawah kepemimpinan Temujin, dan pada tahun 1206 sebuah permusyawaratan besar antar suku-suku Mongol memberi julukan Temujin "Jengis Khan" yang berarti "Kaisar semesta." Kekuatan militer Jengis Khan yang menakutkan yang digalangnya menujukan ujung tombaknya ke negeri-negeri yang berdampingan. Mula-mula dia melabrak Hsi Hsia di timur laut Cina dan Kekaisaran Chin di utara Cina. Tatkala pertempuran berlangsung percekcokan timbul antara Jengis Khan dan Khwarezm Shah Muhammad yang memerintah kerajaan yang lumayan besarnya di Persia dan Asia Tengah. Di tahun 1219 Jengis Khan menggerakkan pasukannya melabrak Khwarezm Shah. Asia Tengah dan Persia diambil alih dan kerajaan Khwarezm Shah Muhammad dihancurluluhkan. Bersamaan dengan itu sebagian pasukan Mongol menyerang Rusia, Jengis Khan pribadi memimpin tentara menyerbu Afganistan dan India bagian utara. Dia kembali ke Mongolia tahun 1225 dan wafat di sana tahun 1227.

Sesaat sebelum Jengis Khan menghembuskan nafas terakhir, dia minta agar putera ketiganya, Ogadai, ditetapkan jadi penggantinya. Ini merupakan pilihan bijaksana karena Ogadai menjadi seorang jendral brilian atas hasil usahanya sendiri. Di bawah kepemimpinannya, pasukan Mongol meneruskan penyerbuannya di Cina, sepenuhnya menguasai Rusia, dan menyerbu maju menuju Eropa. Di tahun 1241 gabungan tentara Polandia, Jerman, Hongaria sepenuhnya dipukul oleh orang-orang Mongol yang maju pesat menuju Budapest. Tetapi, tahun itu Ogadai meninggal dunia dan pasukan Mongol mundur dari Eropa dan tak pernah kembali lagi.

Ada masa lowong yang kentara tatkala para kepala suku Mongol saling adu alasan mengenai soal pengganti pimpinan. Tetapi, sementara itu di bawah dua Khan berikutnya (Mangu Khan dan Kublai Khan, keduanya cucu Jengis Khan) orang-orang Mongol meneruskan maju mendesak terus di Asia. Tahun 1279 orang-orang Mongol sudah menguasai sebuah empirium yang terluas dalam sejarah. Penguasaan daerahnya meliputi Cina, Rusia, Asia Tengah, juga Persia dan Asia Tenggara. Tentaranya melakukan gerakan maju yang penuh keberhasilan menambah daerah yang membentang mulai dari Polandia hingga belahan utara India, dan kekuasaan Kublai Khan diakhiri di Korea, Tibet, dan beberapa bagian Asia Tenggara.

Suatu empirium yang begini luas daerahnya dengan sendirinya sukar diatasi lewat sistem transportasi yang masih primitif. Akibatnya adalah musykil memelihara keutuhan daerah kekuasaan, sehingga pada akhirnya empirium itu terpecah belah. Tetapi, kekuasaan Mongol masih mampu bertahan bertahun-tahun. Orang Mongol baru terhalau dari sebagian besar Cina tahun 1368. Malahan, kekuasaan mereka atas daerah Rusia berlangsung lebih lama. "Pengelana Emas," begitulah julukan yang lazim diberikan kepada kerajaan cucu Jengis Khan bernama Batu didirikan di Rusia berlangsung hingga abad ke-16 dan Khamate dari Crimea bertahan hingga tahun 1783. Cicit-cicit lain Jengis Khan mendirikan dinasti-dinasti yang menguasai Asia Tengah dan Persia. Kedua daerah ini ditundukkan di abad ke-14 oleh Timurleng (Tamerlane), juga berdarah Mongol dan mengklaim diri keturunan Jengtis. Dinasti Tamerlane berakhir di abad ke-15. Tetapi meski ini berakhir bukanlah berarti penaklukan-penaklukan dan penguasaan Mongol sudah stop. Cicit Tamerlane bernama Baber menyerbu dan menduduki India dan mendirikan dinasti Mogul (Mongol). Penguasa-penguasa Mogul, yang menguasai hampir seluruh India tetap menggenggam tampuk kekuasaan hingga pertengahan abad ke-18.

Dalam perjalanan sejarah telah dapat dipastikan penguasaan oleh manusia-manusia --katakanlah manusia "sinting" kalau mau-- yang telah mampu menaklukkan dunia dan berhasil menguasainya. Yang paling menonjol dari para "Megalomaniak" ini adalah Alexander Yang Agung, Jengis Khan, Napoleon Bonaparte dan Hitler. Apa sebab dan alasan apa menempatkan keempat orang ini dalam daftar urutan atas dalam daftar buku ini? Bukankah yang namanya ide lebih bermakna ketimbang bala tentara? Saya tentu saja sepakat bahwa dalam jangka panjang pena jauh punya kekuatan ketimbang pedang. Bahkan juga dalam ukuran jangka pendek. Masing-masing dari keempat tokoh di atas menguasai begitu luas daerah dan begitu banyak penduduk dan menanamkan pengaruh begitu besar kepada orang-orang sejamannya dan mereka tidaklah bisa disebut dan disisihkan semacam menghadapi bandit biasa.

Penaklukan Mongol

Apa sebab saya berkesimpulan Jengis Khan lebih penting dari ketiga tokoh lainnya? Sebagian --tentu saja-- karena pengaruhnya menyebar ke daerah yang lebih luas dari pengaruh lainnya. Dan yang lebih penting lagi, pengaruhnya berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama. Napoleon dan Hitler terkalahkan tatkala keduanya masih hidup dan penaklukannya berjangka pendek. Meski pasukan Alexander Yang Agung tak terkalahkan pada saat ia tutup usia, dia tak pernah menunjuk penggantinya dan sesudah kematiannya empiriumnya segera berantakan. Tetapi, Jengis Khan mampu mengorganisir daerah taklukannya begitu cermat dan rapinya, dan baik anak-anak maupun cucu-cucunya semuanya merupakan pewaris yang teguh. Orang-orang Mongol meneruskan penguasaan atas daerah begitu luas di Asia berabad-abad sesudah kematian Jengis Khan.

Salah satu akibat tak langsung penaklukan oleh Jengis Khan menyimpan makna tersendiri. Penaklukan Mongol yang berbarengan dengan penyatuan sebagian besar Asia lebih mengembangkan rute perdagangan di kawasan itu daripada keadaan sebelumnya. Dan sekaligus mendorong arus perdagangan antara Cina dan Eropa. Pedagang-pedagang Eropa seperti Marco Polo dengan demikian dapat melakukan perjalanan ke Cina dan kembali membawa pelbagai rupa kisah tentang betapa kaya dan makmurnya Cina. Peningkatan kegiatan ekonomis dengan daerah Timur ini dan kenaikan minat di Cina sendiri salah satu sebab yang menggoda orang-orang Eropa untuk berdatangan mencari rejeki dan mengeksploitir Timur.

Salah satu kenyataan penting: andaikata Christoper Colombus, Simon Bolivar dan Thomas Edison tak pernah dilahirkan ibu mereka ke dunia, dapat dipastikan ada orang lain yang menemukan benua Amerika, yang membebaskan Amerika Latin, yang menemukan cahaya listrik. Tetapi, jika Jengis Khan tak pernah dilahirkan emaknya, tak bakalan dunia menyaksikan penaklukan begitu dahsyat dan besar-besaran oleh bangsa Mongol. Suku-suku Mongol tak pernah bisa bersatu sebelum abad ke-13 dan mereka sekarang tak bisa bersatu lagi. Jengis Khan dengan demikian tak syak lagi merupakan penggerak utama dari perbuatan besar itu dalam sejarah manusia.
 
Sejarah Jenghis Khan

GengisKhan3.jpg


Jenghis Khan (bahasa Mongolia: Чингис Хаан), juga dieja Genghis Khan, Jinghis Khan, Chinghiz Khan, Chinggis Khan, Changaiz Khan, dll, nama asalnya Temüjin, juga dieja Temuchin atau TiemuZhen, (sek. 1162 - 18 Agustus 1227) adalah khan Mongol dan ketua militer yang menyatukan bangsa Mongolia dan kemudian mendirikan Kekaisaran Mongolia dengan menaklukkan sebagian besar wilayah di Asia, termasuk utara Tiongkok (Dinasti Jin), Xia Barat, Asia Tengah, Persia, dan Mongolia. Penggantinya akan meluaskan penguasaan Mongolia menjadi kekaisaran terluas dalam sejarah manusia. Dia merupakan kakek Kubilai Khan, pemerintah Tiongkok bagi Dinasti Yuan di China.

Dominasi Global
Mongolia berjuang untuk membawa nama baik bangsanya dengan prinsip yang telah diajarkan oleh pahlawan mereka, yaitu Jenghis Khan. Sejarah dunia mencatat bahwa Mongolia adalah satu-satunya negara yang kekuasaannya mendekati dominasi atas seluruh dunia (global domination). Kekuasaannya waktu itu adalah: China, Mongolia, Russia, Korea, Vietnam, Burma, Kamboja, Timur Tengah, Polandia, Hungaria, Arab Utara, dan India Utara.

Kehidupan Awal Jengis Khan
Jenghis Khan dilahirkan dengan nama Temüjin sekitar tahun 1162 dan 1167, anak sulung Yesügei, ketua suku Kiyad (Kiyan). Sedangkan nama keluarga dari Yesügei adalah Borjigin (Borjigid). Temujin dinamakan seperti nama ketua musuh yang ditewaskan ayahnya.

Temujin lahir di daerah pegunungan Burhan Haldun, dekat dengan sungai Onon dan Herlen. Ibu Temujin, Holun, berasal dari suku Olkhunut. Kehidupan mereka berpindah-pindah layaknya seperti penduduk Turki di Asia Tengah. Saat Berumur 9 tahun, Temujin dikirimkan keluar dari sukunya karena ia akan jodohkan kepada Borte, putri dari suku Onggirat. Ayah Temujin, Yesugei meninggal karena diracuni suku Tartar tepat pada saat ia pulang setelah mengantar Temujin ke suku Onggirat.

Temujin pun dipanggil pulang untuk menemui ayahnya. Yesugei memberi pesan kepada Temujin untuk membalaskan dendamnya dan menghancurkan suku Tartar di masa depan. Kehidupan Temujin bertambah parah setelah hak kekuasaannya sebagai penerus kepala suku direbut oleh orang lain dengan alasan umur Temujin yang masih terlalu muda. Temujin dan keluarganya diusir dari sukunya karena ia ditakuti akan merebut kembali hak kekuasaannya atas suku Borjigin. Hidup Temujin dan keluarganya sangat menderita. Dengan perbekalan makanan yang sangat terbatas, Ia dan adik-adiknya hidup dengan cara berburu. Pada saat ia menginjak remaja, kepala suku Borjigin mengirimkan pasukan untuk membunuh Temujin.

Temujin berhasil tertangkap dan ditawan oleh musuhnya, namun ia berhasil kabur dari tahanan dan dengan pertolongan dari orang-orang yang masih setia kepada Yesugei. Pada saat menginjak dewasa, Temujin berjuang dan mengumpulkan kekuatannya sendiri.



Menyatukan Mongolia
Temujin mempunyai teman baik yang juga merupakan saudara angkatnya, yang bernama Jamukha. Ia pernah berkali-kali ditolong oleh Jamukha, yang merupakan keturunan dari suku Jadaran. Bersama-sama dengan saudara angkatnya, Temujin berhasil merebut kembali hak kekuasaannya atas sukunya dan juga perserikatan Mongolia yang didirikan ayahnya dahulu. Waktu demi waktu, wilayah Temujin menjadi semakin besar, yang dilakukan dengan cara menghancurkan musuh-musuhnya dan menggabungkan suku-suku dalam perserikatan Mongolia. Musuh terbesar Temujin dalam sejarah ternyata adalah saudara angkatnya sendiri, Jamukha, yang sering mengadu-domba Temujin dengan suku-suku lainnya, termasuk ayah angkat Temujin sendiri yang bernama Wang Khan. Setelah Temujin berhasil menyisihkan musuh-musuhnya dan melaksanakan perintah almarhum ayahnya, Yesugei, ia kemudian juga berhasil membalaskan kematian nenek-moyangnya, yang dibunuh oleh kerajaan Jin. Temujin kemudian diangkat menjadi Khan dengan gelar Jenghis Khan; yang artinya "Khan dari Segala-galanya".

Memerangi kerajaan Jin
Nenek-moyang kerajaan Jin berasal dari suku Jurchen. Suku Jurchen berhasil menguasai wilayah utara China selama lebih dari 100 tahun. Hal ini akan menjadi kesulitan besar untuk Jenghis Khan dalam menunaikan tugasnya. Kerajaan Jin memiliki jumlah pasukan yang hampir mendekati jutaan jiwa (lebih dari 10 kali lipat dari pasukan Jenghis Khan pada waktu itu). Mereka hidup aman dibalik tembok kerajaan yang besar dan susah untuk diserang. Jenghis Khan berhasil meruntuhkan semangat perang dan kekuataan kerajaan Jin dalam berbagai peperangan. Salah satunya adalah perang di Tebing Serigala Liar, dimana Jenghis Khan yang hanya memiliki pasukan tidak lebih dari 100.000 tentara berhasil membabat pasukan musuh yang besarnya lebih dari setengah juta jiwa. Kejayaan Jenghis Khan terbukti dari keberhasilannya dalam merebut ibukota kerajaan Jin, Dadu, yang sekarang ini menjadi Beijing. Para seniman (artis), ahli senjata (terutama ahli senjata berat/siege weapon), dan barang berharga, semuanya dibawa kembali ke Mongolia sebagai budak dan rampasan perang.

Invasi ke Timur Tengah
Sejarah mencatat invasi yang dipimpin oleh Jenghis Khan sendiri dengan ratusan ribu tentara terpilih ke kerajaan Khawarizmi yang pada waktu itu menguasai seluruh wilayah Timur Tengah diawali dengan pedagang Mongolia yang dibunuh dan harta mereka dirampas oleh panglima Khawarizmi yang serakah. Keserakahan itu membawa bencana bagi bangsanya. Jenghis Khan berhasil menawan dan menghukum mati panglima tersebut dengan cara menuangkan logam panas ke matanya. Kerajaan Khawarizmi menderita kerugian yang tidak terhitung. Amarah Jenghis Khan bertambah setelah cucu kesayangannya terbunuh. Populasi rakyat Timur Tengah berkurang hingga 1/10, dan wilayah Mongolia pun bertambah luas sampai kebagian barat benua Asia.

Sejarah pernah mencatat bahwa pada saat Jenghis Khan mundur kembali ke Mongolia, ia sempat memerintahkan dua jendral terbaiknya, Jebe dan Subotai Baatur untuk menyelidiki daerah barat dan membasmi sisa musuh sampai ke wilayah Russia. Jebe dan Subotai pernah menginjak daratan Eropa pada saat itu, dan mengalami konfrontasi dan menghancurkan pasukan Salib yang hendak menyerang wilayah Arab. Sumber konfrontasi itu diperkirakan terjadi karena pasukan Salib dari Eropa mengira pasukan Mongol adalah pasukan Arab.

Wilayah Timur Tengah kemudian dibagi-bagi dan dikuasai oleh putra-putra Jenghis Khan.



Akhir Hidup Jengis Khan
Jenghis Khan yang sudah berumur tua dipaksa untuk memimpin pasukan untuk menghancurkan kerajaan Abbasiyah untuk kesekian kalinya, namun ketidak-cakapan para pasukan dan seringnya melakukan mabuk-mabukan memperlemah pasukan militernya. Ia meninggal dalam perjalanan dan dirahasiakan oleh panglima-panglima setianya sampai musuh berhasil ditaklukan. Kuburan Jenghis Khan dirahasiakan agar tidak dirusak oleh orang lain. Kekuasaan Mongol diwariskan kepada putra ketiganya, Ogodai Khan. Alasan Jenghis Khan menunjuk putra ketiganya untuk meneruskan tahta warisnya, disebabkan oleh keahlian yang dimiliki Ogodai Khan dalam bernegoisasi, memimpin negara dan sifatnya yang tidak sombong (tidak seperti kedua kakaknya yang sering bertempur satu sama lain).



Mongolia Setelah Jengis Khan

Ogodei Khan
Ogodei Khan bukan hanya berhasil dalam mempertahankan wilayah Mongolia yang telah dibangun oleh ayahnya, namun ia berhasil memperluas kekuasaannya dengan menghancurkan kerajaan Jin untuk terakhir kalinya, serta memerintahkan panglimanya untuk memperluas kekuasaan di wilayah Eropa. Wilayah Russia, Polandia, serta Hungaria berhasil dikuasai oleh Mongolia. Pasukan gabungan yang dipimpin oleh Henry dari Silesia tergabung dari pasukan Hungaria, Polandia, dan Jerman (Kekaisaran Suci Romawi) yang terdiri dari pasukan Teutonik terbantai tak bersisa dalam perang di Leignitz. Sejarah Eropa mencatat kekejaman dan teror besar yang dilakukan oleh kerajaan Mongolia atas rakyat Eropa. Pasukan Mongolia baru menghentikan perluasan wilayah mereka di Eropa setelah mendengar kematian Ogodei Khan. Negara-negara Eropa memilih untuk memberikan upeti kepada kerajaan Mongolia daripada mengambil resiko untuk melawan Mongolia. Eropa bahkan memohon bantuan Mongolia untuk menghancurkan Arab.

Batu Khan
Setelah kematian Ogodei Khan, Mongolia dikuasai oleh Batu Khan yang memiliki visi lain dalam memperluas kerajaan Mongolia. Ia mengirimkan pasukan untuk menguasai tanah Arab yang sebelumnya dikuasai oleh Eropa, seperti Damaskus dan kota-kota lainnya. Pasukan Eropa mengirimkan bantuan pada saat mereka merebut kota Yerusalem. Pasukan Mongolia tercatat dalam sejarah memperluas kekuasaannya sampai ke wilayah Mesir. Setelah kematian Batu Khan, pasukan Mongolia menghentikan agresi militernya ke arah barat.

Kubilai Khan
Mongolia pada saat kekuasaan Kubilai Khan berhasil memperluas wilayah sampai seluruh China, Korea, Burma, Vietnam, dan Kamboja. Pasukan Mongolia pernah melakukan agresi militer ke Jepang dan Jawa (Kerajaan Singasari), namun tidak berhasil.
 
Hulagu Khan, Si-Penghancur Baghdad

Hulagu Khan (1217 - 8 Februari 1265 M) adalah cucu dari 'penyerbu besar' dari padang rumput di Asia Tengah, Mongolia: Jengis Khan. Hulagu adalah anak dari Tulai dan Sorghaghtani Beki seorang wanita Nasrani. Dia mempunyai tiga saudara Arik Boke, Mongke, dan Kublai Khan. Hulagu adalah 'Khan' pertama yang menaklukan banyak negara di Asia Barat atau Timur Tengah.

Sedangkan Baghdad adalah kota yang 'lahir' kembali pada 762 Masehi di bawah dinasti Daulat Abbasiyah I (750-1258). Sebelumnya adalah pusat peradaban bangsa Babilonia yang terkenal dengan peninggalan legendaris taman gantungnya. Kota ini berada di wilayah subur karena dibelah oleh sungai Eufrat. Saat itu adalah kota termegah dan pusat peradaban. Khalifah pertamanya adalah Abu Ja'far atau lebih dikenal dengan sebutan Al-Mansyur (754-775 M). Dialah yang membangun Baghdad dengan mendatangkan para tukang yang ahli, juru pahat, dan pelukis untuk membangunnya. Hasilnya, selain sebagai pusat peradaban, Baghdad juga menjadi pusat ilmu dan kesenian.

Pada tanggal 29 Januari 1258, kota Baghdad mulai dikepung pasukan Mongol di bawah pimpinan jendral China, Guo Khan. Sepekan kemudian, yakni pada tanggal 5 Pebruari, benteng di sekitar Baghdad dikuasainya. Khalifah kemudian berusaha bernegosiasi dengan Hulagu tetapi ditolaknya. Akhirnya pada tanggal 10 Februari, Baghdad resmi menyerah.

Pasukan Mongol mulai memasuki kota pada tanggal 13 Februari. Tak ayal lagi kebiadaan segera meledak. Pembantaian, penjarahan, pemerkosaan dan pembakaran terjadi di mana-mana. Bala tentara Mongol itu menjarah dan menghancurkan masjid, perpustakaan, istana, rumah sakit, dan juga banyak bangunan bersejarah. Perpustakaan di kota Baghdad pun dihancurkan.

Khalifah Al-Mus'tasim ditangkap dan disuruh melihat rakyatnya yang sedang disembelih di jalan-jalan dan hartanya yang dirampas. Kemudian setelah itu khalifah dibunuh dengan cara dibungkus dengan permadani dan diinjak-injak dengan kuda sampai mati. Semua anaknya dibunuh kecuali satu yang masih kecil dijadikan budak dan dibawa ke Mongol.

Hulagu Khan meninggal pada tahun 1265 dan dimakamkan di Pulau Kaboudi yang terletak di dalam Danau Urmia. Dia digantikan oleh anaknya, Abaqa.

Namun, masa panen pemikiran Islam mulai redup seiring dengan jatuhnya Baghdad dari serangan pasukan babar dari padang rumput Mongolia yang dipimpin cucu Jengis Khan, Hulagu. Pada tanggal 29 Januari 1258, kota Baghdad mulai dikepung pasukan Mongol di bawah pimpinan Jendral China, Guo Khan. Sepekan kemudian, yakni pada tanggal 5 Pebruari, benteng di sekitar Baghdad dikuasainya. Khalifah kemudian berusaha bernegosiasi dengan Hulagu tetapi ditolaknya. Akhirnya pada tanggal 10 Februari, Baghdad resmi menyerah.

Pasukan Mongol mulai memasuki kota pada tanggal 13 Februari. Tak ayal lagi kebiadaan segera meledak. Pembantaian, penjarahan, pemerkosaan dan pembakaran terjadi di mana-mana. Bala tentara Mongol itu menjarah dan menghancurkan masjid, perpustakaan, istana, rumah sakit, dan juga banyak bangunan bersejarah. Perpustakaan di kota Baghdad pun dihancurkan. Ribuan koleksi buku dibuang ke Sungai Tigris hingga warna air sungai itu berubah seperti warna tinta.

Khalifah Al-Mus'tasim ditangkap dan disuruh melihat rakyatnya yang sedang disembelih di jalan-jalan dan hartanya yang dirampas. Kemudian setelah itu khalifah dibunuh dengan cara dibungkus dengan permadani dan diinjak-injak dengan kuda sampai mati. Semua anaknya dibunuh kecuali satu yang masih kecil dijadikan budak dan dibawa ke Mongol.

Namun ironisnya, delapan ratus tahun kemudian Baghdad mengalami hal yang sama. Bala tentara Amerika Serikat dan sekutunya ganti datang memporakporandakan dan menjarah kota tua itu.
 
Mongol memang terkenal kejam dan keji.bahkan orang yg sampai mengumpat di sumur atau di selokan saja sampai dibunuh kira2 2 juta lebih rakyat Abbasiyah dibunuh.bahkan perpustakaan2 yg menyimpan ilmu pengetahuan peninggalan abbasiyah dibakar dan di buang ke sungai tigris. itu lah kehancuran Negara Islam pusat negara Islam periode abbasiyah sehingga terjadi periode vakum negara Islam(tidak ada pusat pemerintahan) dan juga awalnya MUnculnya Negara Islam periode utsmaniyah yg berpusat di Turki. dan membalas serang mongol dengan peristiwa ain jalut
Pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulago merubah arah ekspansinya dari Bagdad menuju Syiria. Dengan didukung kekuatan yang lengkap mereka dengan mudah menaklukkan wilayah Haleb dan membunuh penduduknya.

Sesudah Baghdad, Negeri Syam pun jatuh ke tangan mereka. Kemudian mereka mengincar Mesir, yang kala itu diperintah oleh Mudhaffir Saifudin Qutuz bin Abdullah Al Ma'zi, yang lebih dikenal dengan nama Mudhaffir Qutuz. Dia seorang raja yang cerdik, penunggang kuda yang ulung, pemberani, banyak mengerti masalah-masalah agama Islam dan dicintai oleh rakyatnya.

Di Timur jauh wilayah Mongolia, terjadi perpecahan antara para pejabat dan panglima perang Mongol dalam masalah kekuasaan. Oleh karena itulah Hulago panglima besar Mongol kembali ke negerinya untuk melihat langsung pertikaian itu. Ia menyerahkan tapuk kepemimpinan di wilayah Syiria kepada “Kitbuqa”. Pasukan Islam saat itu dipimpin oleh Al Mudzaffar Saifuddin Qutuz dan Dzahir Pepris. Dua pasukan itu bertemu di suatu tempat yang dikenal dengan ‘Ain Jalut. Perang itu sendiri pecah pada hari Jum’at, 25 Ramadhan tahun 658 H, dua tahun setelah Hulago membumihanguskan Bagdad. Pada perang di ‘Ain Jalut ini pasukan Islam memperoleh kemenangan dan berhasil menghancurkan tentara Mongol. Bahkan pangeran Jamaluddin Aqusyi mampu menerobos kejantung pertahanan musuh dan membunuh panglima perang Mongol Kitbuqa.

Hulaghu Khan, pengganti Genghis Khan mengirim surat yang penuh ancaman kepada Mudhaffir Qutuz. Dia memintanya untuk taat dan menyerah sepenuhnya kepada Kerajaan Mongol. Qutuz lalu bermusyawarah, yang akhirnya diputuskan bahwa tentara Islam tidak akan tunduk kepada seruan itu. Untuk itu, Qutuz segera mempersiapkan bala tentara yang besar. Pasukan Mesir digabung dengan pasukan Syam yang kalah melawan Mongol, serta ia membangkitkan semangat juang pasukannya untuk menghadapi tentara Tartar. Dia berharap bisa mendahului musuhnya dalam penyerangan.

Sebagai langkah awal, Qutuz mengirimkan pasukan perintis (pelopor) ke arah selatan Syam, di bawah pimpinan Bibras Al Bandakdari. Maka bertemulah pasukan ini dengan sebagian pasukan Mongol di suatu daerah dekat Ghaza. Dengan izin Alloh, pasukan perintis ini berhasil mengalahkan musuh. Pasukan Mongol ini kaget. Mereka tidak menyangka bila pasukan gabungan ini bisa mengalahkan mereka.

Berikutnya kaum Muslimin bersama Mudhaffir Qutuz berusaha melakukan serangan mendadak terhadap tentara utama Mongol. Dua pasukan bertemu di daerah yang bernama Ainuljalut, sebelah selatan Palestina pada hari Jum'at tanggal 25 Ramadhan 658 H. Terjadilah pertempuran yang sangat besar. kemenangan berada di pihak Islam. Sebuah kemenangan yang telak, bahkan pemimpin pasukan Mongol yang bernama Abgha juga tewas terbunuh. Tetapi kemenangan ini pun harus dibayar mahal oleh kaum Muslimin, yaitu dengan gugurnya pemimpin mereka fi sabilillah, Mudhaffir Qutuz.

Sejak kemenangan itu, kaum Muslimin kian bersemangat dan sedikit demi sedikit merebut kembali wilayah yang telah dijajah bangsa Tartar, seperti Damaskus dan Halb. Mereka mendesak mundur tentara Mongol dari satu tempat ke tempat lain, hingga mereka tidak bisa memberikan perlawanan terhadap tentara Islam ini, dan kemudian meninggalkan Syam.

Kekalahan di ‘Ain Jalut merupakan kekalahan pertama Mongol.Setelah kekalahan ini tentara Mongol kembali ke negerinya, mereka mendirikan kerajaan-kerajaan di wilayah India, Khurasan, Turkistan dan lainnya.ada juga yg masuk Islam dari kebanyakan tentara2 Mongol.
 
Bagi kalangan Timur Tengah, Mongol dianggap bangsa tartar yang barbar, bengis dan kejam. Bagi dunia lain, Mongol dianggap sebagai penyelamat Asia, karena akibat esxpansi ke Timur tengah dan keberhasilan menguasai 1/3 dunia menjadikan Mongol justru sebagai pencegah jatuhnya dunia ke dalam penguasaaan Kekaisaran Timur Tengah/Arab.

Dan sekedar info saja, tidak ada eskpansi Mongol yang pernah gagal, kecuali expansi ke Indonesia/Nusantara. Dimana utusan Kubilai Khan, yaitu Mengki Counter Strike, menghadap raja Jawa saat itu: Kertanegara (Raja Singosari) untuk menyatakan takluk kepada Mongol.

Tapi Kertanegara menolak dengan tegas. Tidak sudi Nusantara dijajah bangsa asing (mongol). Sejarah kemudian malah menunjukkan fakta. Kertanegara menjalin hubungan diplomatik yang sangat kuat dengan Malayu, Siam, Campa dan sebagaian besar kerajaan-kerajaan merdeka di Asia Tenggara.

Akibat dari espansi Pa-Malayu prabu Kertanegara ini, justru kekuatan Nusantara sebagai kekuatan politik paling kuat di Asia Tenggara menjadi solid. Sementara, di tubuh dalam kerajaan Singosari sendiri terjadi kerendahan kewaspadaan.

JayaKatwang, mantan raja Kediri yang sebelumnya sudha ditaklukkan Ken Arok - Moyangnya si KertaNegara, justru memberontak, dan berhasil mengkudeta Kertanegara. Kejadian ini dikenal dengan istilah Pralaya - kiamat. Dan mengakhiri kejayaan Singosari sebagai pusat kekuatan politik di Asia Tenggara.

Pada saat utusan Kubilai Khan yang marah, karena Mengki Counter Strike yang pulang dengan penghinaan besar dari Singosari/Raja Jawa - yaitu dengan kuping kutung, mengutuskan laksamana Ceng Ho untuk menguasai Jawa.

Kedatangan Laksamana Ceng Ho untuk menguasai Jawa dimanfaatkan Raden Wijaya dengan melobi pasukan Tar Tar ini. Raden Wijaya mendekati pasukan dari Mongol ini, justru untuk menghantam kekuatan Jayakatwang/Kediri yang sudah mengkudeta Kertanegara/Singosari.

Jayakatwang habis..... Pasukan laksamana Ceng Ho menang, namun hany auntuk waktu sementara. Raden Wijaya yang sebelumnya sudah mengembangkan pasukan di tanah tarik dekat Trowulan sekarang, justru menghantam balik ke pasukan Laksamana Ceng Ho dari Mongol.

Akibatnya.... tak sekalipun kekaisaran Mongol bisa bercokol di tanah Jawa. Raden Wijaya memukul mundur pasukan dari Cina ini untuk kemudian mendirikan Majapahit sebagai penerus dari kerajaan Singasari. Sisa sisa balatentara dari Mongol ini sampai sekarang menjadi cikal bakal etnis Tiong Hua yang banyak di Singkawang dan Pulau bangka.

Dalam hal kekuasaan, penjajahan? Yang tahluk selalu menganggap yang menang sebagai tiran. Demikian juga dari komentar anda sdr. Asoy Banget.

Kemenangan kekasisaran Islam, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemenangan Mongol. Bukti bukti sejarha memperlihatkan, ras arab sampai saat ini ternoda DNA nya akibat penguasaan mongol. Demikian juga bukti-bukti arkeologi di Afganistan berupa maha karya seni berupa patung patung Buddha yang dihancurkan Taliban. Justru memperlihatkan betapa besarnya kekuasaan Mongol pada saat itu.

Adilkah menyatakan penyerbuan Mongol sebagai tiran, dan menganggap eskpansi Arab sebagai kebaikan?

Kenyataan, nagara ini pada saat jaman klasik, era sebelum masuknya Islam ke Indonesia justru tidak pernah bisa dijajah oleh bangsa asing. Bahkan oleh Mongol sendiri. Tidak pernah. Perpecahan nusantara justru terjadi pada era selanjutnya. Dimana, kerajaan Demak (yang pada kenyataannya tidak bisa lepas dari pengaruh Mongol) mendominasi kekuatan Politik di Indonesia.

Kekuatan-kekuatan Islam justru terpecah belah. Demak ribut dengan Pajang. Sampai akhirnya masuk bangsa asing dari eropa yang meluluh lantakkan nusantara.

Kejayaan selalu diselimuti air mata, darah dan sebagainya. Tidak adil bila membuka mata pada kejayaan suatu kekaisaran yang satu, tapi menolak kenyataan ada kejayaan lain yang lebih besar.

Bahkan kekuasaan yang berhasil dihimpun oleh Alexander Yang Agung tidak ada apa-apanya bila dibandingkan luas wilayah yang berhasil disatukan Jengish Khan. Itu fakta. Dan hampir mustahil menemukan ada kekuasaan politik sedemikian besar, tanpah darah tertumpah.... bohong kalau ada.

Dan Indonesia, sebagai bangsa berdaulat sejak dahulu kala... sekitar 400 tahun sesudah masehi. Pernah menguasai imperium sampai ke madagaskar di Africa. Bila diukur luas kekuasaan kerajaan-kerajaan Jawa dan Sumatera, Sriwijaya dan Majapahit, yang berhasil menguasai seluruh Asia Tenggara, bahkan selatan India dan Madagaskar... Tidak kalah luasnya dengan kekuasaaan yang pernah dimenangi kekaisaran Timur Tengah.

Dengan satu catatan yang sangat membesarkan: Timur Tengah tahluk ke dalam kekaisaran Mongol - yang katanya bangsa barbar.... Namun, tak sekalipun Bumi Nusantara bisa ditahlukkan bangsa barbar tsb. Mongol justru berhasil menyusup ke Indonesia, setalah berfusi menjadi Demak, yang juga umurnya tidak sepantar dengan umur jagung. Prabu Jayabaya sudah memprediksi ini jauh-jauh hari. JAuh sebelum Notrodumus terkenal sebagai peramal paling tangguh.

Permasalahannya ke nasionalisme. Orang Indonesia sekarang lebih suka melhat keluar, daripada memperdalam pede, bahwa bahkan Tahun saka Jawa, masih lebih tua dari Tahun Arab (tanpa potongan 14 hari setiap tahunnya). Itu saja sudah membuktikan, keluhuran sejarah bangsa ini.

Luas daerah yang pernah dikuasai Sriwijaya dan Majapahit:
Seluruh Indonesia, Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, India Selatan, Philipina, Madagaskar (Afrika), utara Australia, Papua Timur, Timor Leste...
 
Kok bisa MONGOL tidak MENYERANG INDONESIA /? Lalu dimana sekarang kebesaran MONGOL /?

Maaf bertanya >:D<
 
Kok bisa MONGOL tidak MENYERANG INDONESIA /? Lalu dimana sekarang kebesaran MONGOL /?

Maaf bertanya >:D<

Makanya baca om.... jawabnya tepat di post di atas anda.

Dan sekedar info saja, tidak ada eskpansi Mongol yang pernah gagal, kecuali expansi ke Indonesia/Nusantara. Dimana utusan Kubilai Khan, yaitu Mengki Counter Strike, menghadap raja Jawa saat itu: Kertanegara (Raja Singosari) untuk menyatakan takluk kepada Mongol.

Tapi Kertanegara menolak dengan tegas. Tidak sudi Nusantara dijajah bangsa asing (mongol). Sejarah kemudian malah menunjukkan fakta. Kertanegara menjalin hubungan diplomatik yang sangat kuat dengan Malayu, Siam, Campa dan sebagaian besar kerajaan-kerajaan merdeka di Asia Tenggara.

Akibat dari espansi Pa-Malayu prabu Kertanegara ini, justru kekuatan Nusantara sebagai kekuatan politik paling kuat di Asia Tenggara menjadi solid. Sementara, di tubuh dalam kerajaan Singosari sendiri terjadi kerendahan kewaspadaan.

JayaKatwang, mantan raja Kediri yang sebelumnya sudha ditaklukkan Ken Arok - Moyangnya si KertaNegara, justru memberontak, dan berhasil mengkudeta Kertanegara. Kejadian ini dikenal dengan istilah Pralaya - kiamat. Dan mengakhiri kejayaan Singosari sebagai pusat kekuatan politik di Asia Tenggara.

Pada saat utusan Kubilai Khan yang marah, karena Mengki Counter Strike yang pulang dengan penghinaan besar dari Singosari/Raja Jawa - yaitu dengan kuping kutung, mengutuskan laksamana Ceng Ho untuk menguasai Jawa.

Kedatangan Laksamana Ceng Ho untuk menguasai Jawa dimanfaatkan Raden Wijaya dengan melobi pasukan Tar Tar ini. Raden Wijaya mendekati pasukan dari Mongol ini, justru untuk menghantam kekuatan Jayakatwang/Kediri yang sudah mengkudeta Kertanegara/Singosari.

Jayakatwang habis..... Pasukan laksamana Ceng Ho menang, namun hany auntuk waktu sementara. Raden Wijaya yang sebelumnya sudah mengembangkan pasukan di tanah tarik dekat Trowulan sekarang, justru menghantam balik ke pasukan Laksamana Ceng Ho dari Mongol.

Akibatnya.... tak sekalipun kekaisaran Mongol bisa bercokol di tanah Jawa. Raden Wijaya memukul mundur pasukan dari Cina ini untuk kemudian mendirikan Majapahit sebagai penerus dari kerajaan Singasari. Sisa sisa balatentara dari Mongol ini sampai sekarang menjadi cikal bakal etnis Tiong Hua yang banyak di Singkawang dan Pulau bangka.

Dengan satu catatan yang sangat membesarkan: Timur Tengah tahluk ke dalam kekaisaran Mongol - yang katanya bangsa barbar.... Namun, tak sekalipun Bumi Nusantara bisa ditahlukkan bangsa barbar tsb. Mongol justru berhasil menyusup ke Indonesia, setalah berfusi menjadi Demak, yang juga umurnya tidak sepantar dengan umur jagung. Prabu Jayabaya sudah memprediksi ini jauh-jauh hari. JAuh sebelum Notrodumus terkenal sebagai peramal paling tangguh.

Mongol menyerang Jawa 2 kali, pada masa kekaisaran Kubilai Khan. Kedua duanya gagal. yang kedua justru dimanfaatkan oleh orang-orang Jawa sebagai kekuatan besar untuk mendirikan Majapahit.
 
Kokk bisa yach,,,,, MONGOL di TIPU oleh INDONESIA,,,,,

Tapi emang sih kalo LOBI MELOBI indonesia paling jago, karena sudah TRADISI :">
 
Antara Roma, Mongol dan Ingris mana yang paling hebat?
 
Mongol dong, penguasa terbesar di dunia..... tapi, hanya sekali dia gagal, ke Nusantara... menghadapi Kertanegara akhirnya utusan Mongol kena potong kuping, menghadapi Raden Wijaya, tentara Mongol justru diperalat untuk menghancurkan kudeta Jayakatwang.

Indonesia win
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.