Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Dalam sebuah kitab dijelaskan bahwa nanti di Padang Mahsyar orang akan menerima kitab amal perbuatannya melalui tiga cara.
Yang pertama, mereka akan menerima kitab amal perbuatanya dari tangan kanan. Sumringah paras sang penerima. Baginya sudah tergambar indah & nikmatnya surga. Kemudian mendapat anugerah termegah dari Sang Pencipta. Mereka akan abadi di dalamnya.
Yang kedua, mereka adalah yg menerima kitab amal perbuatannya dari tangan kiri. Sungguh! Yang bersangkutan mengutuk dirinya. "Celaka aku! Celaka aku! Mengapa dahulu saya lalai ketika di dunia." Kutukan kepada diri yg sudah tidak berarti lagi.
Dan yg ketiga, mereka mendapat kitab amal perbuatan dari belakang punggungnya. "Duhai, sekiranya dahulu saya jadi tanah saja!" Penyesalan yg sia-sia.
Bagaimana halnya dengan perseteruan jempol kanan & jempol kiri. Mungkinkah jempol kanan perlambang kebaikan yg ditebarkan lewat media? Mengingat beberapa akbar orang mengetik lewat gawainya mengpakai jempol. Termasuk saya.
Sementara jempol kiri perwakilan dari perilaku kejahatan yg dilakukan di sosial media. Suka jadi pengadu domba, menyebarkan fitnah, menggibah, & lain-lainnya.
Ketika sendiri, apa pun dapat terjadi. Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa, Rasullullah SAW, memerintahkan untuk memotong kuku tangan & kaki. Mungkin saja salah satunya adalah untuk menghindari syaitan bersarang. Sehingga akibat buruk dari jempol kiri sedikit dapat dihindari.
"Potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat (melalui) kuku-kuku yg panjang." (HR Ahmad)
Bukankah orang sekarang lebih bahagia memanjangkan kuku tangan kirinya. Jadi jangan salahkan syaitan kalau lewat jempol tangan kirinya menciptakan kita ahli. Kadang bergerak begitu lincah mengetikkan sesuatu di gawainya.
Tiba-tiba saja menemukan postingan video youtube, status FB, unggahan di instagram. Dengan lincah mengomentari & menimbulkan kegaduhan. Terjadi permusuhan.
Padahal jempol kanan kadang lebih sering mengerjakan kesalahan dengan typo di berbagai perckapan. Pun begitu tetap saja. Jempol kiri dengan berani mengoreksi, mengerjakan pembetulan.
Jika pembaca sekalian mengganggap apa yg ditulis ini hanyalah anekdot sebagai cerita penghantar pun tak mengapa. Perkara ghaib memang cuma dapat dicerna oleh mereka yg percaya.
Baiklah. Bagaimana jempol kanan kemudian setiap kita akan mengerjakan kesalahan yg berakibat buruk pada diri sendiri & orang lain sering memberikan peringatan. Bagi mereka yg memiliki kepekaan. Yang ada cahaya iman dalam dirinya pasti tergerak & memberikan peringatan. "Awas ini berbahaya. Pasti akan ada pertanggungjawabannya."
Karena bujuk rayu setan lebih dominan maka, kadangkala jempol kanan kalah & tersisih. Tetap saja, apa yg merugikan & mengakibatkan orang lain malu, kecewa, & menderita meluncir deras lewat jempol kirinya.
Ketika kesalahan-kesalahan kecil terlewat begitu saja. Akan berakibat hal itu dianggap biasa. Hasilnya, kepekaan perlahan-lahan sirna. Seperti sebuah gelas dengan tutup di atasnya. Semakin tebal penutup gelas tersebut, pasti akan semakin sulit apa pun memasuki gelas tersebut.
Nasihat dari teman, sahabat, orang tua, & orang-orang tercinya lainnya. Hanya masuk lewat telinga. Setelahnya hilang menguap entah kemana. Dan jempol kiri sering jadi raja atas perbuatannya.
Oleh karena itu, tak ada salahnya sekali-sekali kota meluangkan waktu untuk mengamati seperti apa bentuk jempol tangan kita. Perhatikan bentuk jempol tangan kanan & kiri kita. Mana yg lebih besar, yg lebih kuat, & yg lebih panjang kukunya? Lantas ingat-ingat, apa yg sudah jempol lakukan hari ini.
Sudahkah jempol kanan memenangkan perseteruan dengan jempol kiri. Atau ternyata hari ini jempol kiri jadi raja sementara jempol kanan mengekor layaknya hamba sahaya.
Kalau ada perbantahan, bukan jempol yg menjado raja dari setiap tindakan kita. "Dalam tubuh ada segumpal daging, kalau baik daging itu, maka akan baik semua anggota tubuhnya. Jika rusak daging itu, maka rusaklah semua anggota tubuhnya. Dialah hati." Semua tergantung daei hati manusia. Ia jadi pusat perintah kebaikan & keburukan.
Dalam hat tertentu menang benar. Namun dalam hal kegiatan yg dilakukan jempol bersama gawainya. Sungguh eksekusi dilakukan oleh jempol kanan & jempol kiri, ketika mengetik. Bukankah lewat postingan video, unggahan status di sosial media & berita begitu banyak yg sudah merusak ketenangan pemirsanya. Kegaduhan & kekerasan setelahnya.
Walau tidak kita pungkiri, bagi mereka yg jempol kanannya menguasai jempol kiri. Pastilah apa pun yg dilakukan memberikan manfaat & kebaikan bagi siapa saja yg menyimaknya.
Terakhir. Semoga jempol tangan kanan kita sanggup menguasai jempol kiri. Sehingga perseteruan yg setiap detik terjadi, jempol kanan jadi pemenang. Aamin.
Kemarin 21:20