• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Jateng Masih Aman dari Peredaran Beras Plastik

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
EBgDV.jpg
Kepastian mengenai adanya kandungan bahan pembuat paralon dalam beras di Bekasi Jawa Barat, membuat beberapa daerah termasuk di Jawa Tengah waspada.
Kemarin secara serentak pemerintah beberapa daerah di Jateng melakukan razia ke pasar-pasar untuk mencari tahu ada tidaknya peredaran beras sintetis yang mengandung bahan plastik.
Di Semarang, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Semarang, Nurjanah, memastikan tidak ada temuan beras plastik di Kota Semarang.
"Hasil pantauan kami, sejauh ini tidak ditemukan adanya beras plastik atau sintetik sehingga masyarakat tidak perlu khawatir atas isu peredaran beras plastik," Nurjanah, Jumat (22/5).
Nurjanah mengungkapkan pernyataan tersebut pascapemantauan peredaran beras di Pasar Dargo. Tim gabungan yang melakukan pantauan beras terdiri atas pegawai Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pertanian, Kantor Ketahanan Pangan Kota Semarang, serta Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Semarang. Pantauan dilakukan di sejumlah titik, di antaranya sentra beras Pasar Dargo, pasar tradisional, dan pasar modern
"Cara pengecekannya sederhana, yakni merendam di air. Kalau beras asli pasti tenggelam, kalau plastik mengambang," terangnya.
Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang WP Rusdiana mengatakan, pihaknya juga akan ikut melakukan pemantauan di lapangan untuk mengantisipasi beredarnya beras plastik di Kota Semarang.

"Tim kami selama ini juga memantau harga beras, nanti juga akan memantau peredaran beras di pasaran," kata Rusdiana.
Rusdiana menjelaskan, beras asli dari ciri-cirinya yang terlihat secara kasat mata. Menurutnya, warna beras asli tidak bening tapi berwarna putih susu. Beras asli mudah dipatahkan batangnya, sementara beras plastik atau sintetis lebih sulit.
"Dari baunya juga bisa dikenali. Kalau beras asli, baunya khas. Apalagi, jika sudah dimasak," terang Rusdiana.
Saat pantauan, Rusdiana bahkan mengunyah beberapa butir beras untuk memastikan keasliannya. Rusdiana mengungkapkan, beras asli bila dikunyah semakin lama akan berasa manis. "Kalau masyarakat curiga ada beras palsu, laporkan saja ke Dinas Pertanian," ujarnya.
Kudus
Plt Kepala Dinas Perdangan dan Pengelolaan Pasar (Disdagsar) Kudus, Sudiharti, mengatakan, setiap hari pihaknya memantau perdagangan beras di pasar-pasar yang ada di Kudus. Menurutnya, belum ditemukan adanya beras plastik.
"Petugas yang tiap hari ngecek harga di pasar-pasar, juga kami tugasi untuk memantau perdagangan beras, tak ada beras plastik yang ditemukan," kata dia, kepada Tribun Jateng, melalui sambungan selular, Jumat (22/5).

Disampaikan, pihaknya sangat yakin beras plastik tak akan ada di Kudus. Sebab, Kudus termasuk lumbung padi di Jateng.
"Kami yakin tak akan ada, tapi untuk antisipasi, kami terus memantau tiap harinya," tegas dia.
Diakui, memang ada pedagang beras yang kulakan ke daerah lain, di sekitar Kudus. Semisal Grobogan maupun Pati.
"Informasi dari pedagang, di daerah tersebut juga tak ada informasi tentang keberadaan beras plastik yang beredar," ucapnya.
Banyumas
Tim dari Polres Banyumas melakukan razia di Pasar Wage Purwokerto, Jumat (22/5). Razia dalam rangka mengantisipasi beredarnya beras plastik yang baru-baru ini marak jadi perbincangan.
Tim dipimpin oleh KBO Reskrim Polres Banyumas Iptu Beni Timor. Dia menyambangi beberapa toko yang menjual beras di pasar tersebut. Toko yang dikunjungi adalah yang ramai dan dipilih secara acak.

Berbekal korek api, petugas mengecek beras dengan cara membakarnya. Setelah dibakar lalu dicium baunya untuk mengetahui apakah beras tersebut mengandung plastik.
Siti Rofinah pemilik Toko Tiga Putra saat didatangi polisi mengatakan, di tokonya ada tiga jenis beras yang dijual. Beras tersebut yaitu IR poles, biasa dan pandanwangi. Dia mengaku mengambil stok beras dari Aceh. "Saya kira tapi razia apa. Kalau beras campur plastik saya tidak jual," katanya.
Pedagang lainnya, Novi mengatakan kebanyakan konsumen sudah tahu beras plastik seperti apa. Biasanya, kata dia, beras tersebut cenderung berwarna lebih putih. "Saya ambil dari Purbalingga langsung dari petani. Jadi digiling sendiri. Saya sudah jualan tujuh tahunan," katanya.
Solo
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kota Solo, Triyana menuturkan timnya terus melakukan pengawasan kepada para pedagang beras di Kota Solo.
"Kami juga akan melakukan operasi pasar, untuk jadwalnya belum akan kami beberkan," ujar Kepala Disperindag Solo, Triyana, kemarin.
Triyana menambahkan belum ada temuan di Kota Solo. Dirinya juga berharap masyarakat tidak perlu resah terkait kabar adanya beras plastik lantaran timnya terus melakukan pantauan.

Menurutnya apabila ditemukan pedagang hingga distributor yang memang menjual beras palsu maka Disperindag akan melakukan tindakan tegas sesuai peraturan daerah (Perda) atau undang-undang.
"Sanksinya beraneka macam mulai dari yang ringan hingga yang berat bisa pencabutan izin usaha maupun hukuman pidana," tandasnya.
Tegal
Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno menjamin beras yang beredar di Kota Tegal aman dikonsumsi dan tidak mengandung plastik.
Namun wali kota mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan jangan sampai kecolongan sehingga tertarik membeli beras dengan harga murah yang ternyata palsu.
“Alhamdulillah bisa diyakinkan bahwa Tegal tidak ada beras plastik, itu dijamin. Forkominda (forum komunikasi pemimpin daerah) turun meyakinkan kepada masyarakat bahwa aman membeli beras. Tetapi kita tetap waspada jangan sampai kecolongan,” kata Siti Masitha saat sidak beras di Pasar Randugunting Kecamatan Tegal Selatan, Jumat (22/5).
Dandim Tegal/0712 Letkol Inf Hari Santoso mengatakan, masyarakat harus tahu perbedaan antara beras asli dan beras plastik melalui ciri-cirinya. Antara lain beras plastik warnanya terang, tidak lengket di tangan, dan harganya murah. “Masyarakat jangan tergiur beras yang harganya murah,” kata Hari.

Kepala Bidang Pasar Dinas Koperasi UMKM dan Perindustian Perdagangan Fachrudin mengatakan di Pasar Randugunting terdapat 40 kios dan 17 di antaranya berdagang beras. Dari pedagang beras, pihaknya tidak menemukan adanya beras plastik saat sidak.
Kabid Perdagangan dan Promosi Dinkop UMKM dan Perindag Kota Tegal Mujiharti menyebut pihaknya bersama empat orang Tim Dinas Perindag Provinsi Jawa Tengah, Kamis (21/5) melaksanakan sidak di Pasar Beras Martoloyo dan UD. Bumirejo, distributor beras di Kota Tegal. “Hasil sidak tidak ditemukan adanya beras berbahan plastik,” jelas Mujiharti.
Jateng Belum Ada Temuan
Beras plastik menyita perhatian banyak pihak. Tak terkecuali Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo. Ia ingin memastikan apakah ada peredaran beras plastik di Jateng.
Ganjar memerintahkan kepada Dinas Perindustrian, Dinas Pertanian dan Badan Ketahanan Pangan untuk mencegah beredarnya beras plastik di Jateng.
Ketiga dinas tersebut diminta untuk bekerjsama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk langsung turun ke lapangan. "Kemarin sudah saya instruksikan untuk memantau," kata Ganjar, Jumat (22/5).
Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jateng Riyono mengatakan, instansi pemerintah harus turun tangan agar persoalan beras plastik tidak meresahkan masyarakat. Persoalan beras plastik, ucapnya, cukup meresahkan warga.

Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jawa Tengah pun telah melakukan operasi pasar untuk mencari tahu peredaran beras plastik.
Plh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, Mohammad Santoso menjelaskan, temuan beras plastik di Bekasi, Jawa Barat, meresahkan masyarakat di daerah lain, khususnya Jateng yang secara geografis berdekatan.
Dia menjelaskan, selama merazia beberapa pasar di Jateng belum ditemukan beras berbahan plastik. "Pengawasan terhadap beras plastik tidak hanya Disperindag, tetapi Dinas Pertanian dan Badan Ketahanan Pangan. Dari 15 Kabupaten/Kota yang telah kami operasi hasilnya nihil semua," paparnya, kemarin.
Mohammad Santoso mengatakan, operasi pasar dilakukan secara bergiliran. Setelah mendengar adanya beras sintetis berbahan plastik beredar, pihaknya langsung turun ke pasar tradisional maupun modern, dimulai di Kota Semarang.
Ditemukan di Gunung Kidul
Beras yang dicurigai jenis sintetis ditemukan oleh warga Dusun Duwet, Desa Karangwuni, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul. Kecurigaan itu muncul setelah beras yang dimasak lantas menggumpal dan lengket.
Sunarmo, salah satu warga Dusun Duwet, Desa Karangwuni, Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul, menuturkan, ia beberapa hari lalu membeli beras jenis Raja Lele di sebuah warung. Saat itu, ia membelinya sebanyak 5 kilogram dengan harga Rp 9.600 per kilogram. "Jenisnya Raja Lele, saya beli di warung sekitar 5 Mei lalu," kata Sunarmo, Jumat (22/5).

Ketika dimasak, beras menempel di magic jar dan lengket seperti plastik. Ketika dimakan, rasanya hambar, berbeda dengan beras biasa.
"Lengket dan menempel di magic jar. Lengket banget. Kalau dimakan itu rasanya anyep, beda sama beras biasanya," ujarnya.
Curiga dengan beras yang dibelinya, ia pun lantas mengambil satu genggam dan membakarnya. Ternyata, ketika terkena api, beberapa beras langsung menggumpal kehitaman seperti plastik, sedangkan beras lainnya jadi gosong.
Mendapat informasi adanya beras yang dicurigai bercampur plastik, jajaran Polsek Rongkop datang ke lokasi. Petugas pun langsung melakukan pengecekan dengan membakar beras tersebut. Hasilnya, beras itu menggumpal dan lengket, sementara beras lainnya gosong.
Polisi akhirnya mengambil sampel beras untuk diteliti guna penyelidikan lebih lanjut.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.