yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Perusahaan baru mendominasi pertumbuhan industri tekstil di Jawa Tengahdibandingkan perusahaan pindahan dari luar daerah, misalnya dari Jawa Barat.
Jateng menjadi pilihan untuk pendirian perusahaan karena kondusivitas. Atmosfir industri di Jateng, lebih kondusif dibandingkan daerah lain.
Hal itu bisa dilihat dari rendahnya intensitas demo buruh di Jateng. Itu merupakan nilai plus sendiri dibandingkan daerah lain.
Jateng juga menyediakan banyak tenaga kerja padat karya. Perusahaan yang relokasi ke Jateng membawa tenaga kerja dari daerah sebelumnya, namun tidak banyak. Tenaga kerja yang dibawa biasanya mematok upah tinggi.
Industri baru di Jateng kira- kira membutuhkan tenaga kerja sebanyak empat ribu hingga lima ribu per perusahaan. Sedangkan tahun ini, industri garmen di Jateng membutuhkan sekitar 10 ribu tenaga kerja terampil.
Jumlah itu belum bisa terpenuhi. Karena jumlah tenaga kerja terampil di Jateng sangat terbatas. Hal itu sangat disayangkan, pertumbuhan industri garmen yang sedang tumbuh tidak berjalan seiring dengan ketersediaan tenaga kerja terampil.
Ada beberapa perusahaan tekstil skala besar yang sudah menyediakan fasilitas pelatihan bagi para tenaga kerja baru, misalnya PT Apac Inti Corpora.
Namun, hal itu belum mencukupi jumlah tenaga kerja terampil untuk perusahaan. Pasalnya kapasitas jumlah tenaga kerja yang dilatih tidak sebanding dengan jumlah yang dibutuhkan. Misalnya tenaga kerja yang dilatih hanya 100-200 namun yang dibutuhkan bisa ribuan.
Kerjasama dengan pemerintah sangat dibutuhkan untuk mencukupi jumlah tenaga kerja terampil, misalnya dengan menambah jumlah sekolah kejuruan. Siswa lulusan dari sekolah kejuruan biasanya lebih siap menghadapi dunia kerja.
Perusahaan juga diharapkan mengambil tenaga kerja dari lingkungan perusahaan terdekat atau ring satu dari perusahaan. Jika tidak ada bisa mengambil dari luar itu.
Jateng menjadi pilihan untuk pendirian perusahaan karena kondusivitas. Atmosfir industri di Jateng, lebih kondusif dibandingkan daerah lain.
Hal itu bisa dilihat dari rendahnya intensitas demo buruh di Jateng. Itu merupakan nilai plus sendiri dibandingkan daerah lain.
Jateng juga menyediakan banyak tenaga kerja padat karya. Perusahaan yang relokasi ke Jateng membawa tenaga kerja dari daerah sebelumnya, namun tidak banyak. Tenaga kerja yang dibawa biasanya mematok upah tinggi.
Industri baru di Jateng kira- kira membutuhkan tenaga kerja sebanyak empat ribu hingga lima ribu per perusahaan. Sedangkan tahun ini, industri garmen di Jateng membutuhkan sekitar 10 ribu tenaga kerja terampil.
Jumlah itu belum bisa terpenuhi. Karena jumlah tenaga kerja terampil di Jateng sangat terbatas. Hal itu sangat disayangkan, pertumbuhan industri garmen yang sedang tumbuh tidak berjalan seiring dengan ketersediaan tenaga kerja terampil.
Ada beberapa perusahaan tekstil skala besar yang sudah menyediakan fasilitas pelatihan bagi para tenaga kerja baru, misalnya PT Apac Inti Corpora.
Namun, hal itu belum mencukupi jumlah tenaga kerja terampil untuk perusahaan. Pasalnya kapasitas jumlah tenaga kerja yang dilatih tidak sebanding dengan jumlah yang dibutuhkan. Misalnya tenaga kerja yang dilatih hanya 100-200 namun yang dibutuhkan bisa ribuan.
Kerjasama dengan pemerintah sangat dibutuhkan untuk mencukupi jumlah tenaga kerja terampil, misalnya dengan menambah jumlah sekolah kejuruan. Siswa lulusan dari sekolah kejuruan biasanya lebih siap menghadapi dunia kerja.
Perusahaan juga diharapkan mengambil tenaga kerja dari lingkungan perusahaan terdekat atau ring satu dari perusahaan. Jika tidak ada bisa mengambil dari luar itu.