yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Kegemukan dan perut buncit sudah sejak lama dicurigai sebagai faktor risiko penyakit jantung. Penumpukan lemak di tubuh disebut-sebut dapat mempersempit pembuluh darah dan mengganggu aliran darah dari jantung. Tapi beberapa penelitian terbaru menemukan timbunan lemak justru dapat melindungi jantung dari kerusakan.
Anehnya, beberapa orang obesitas lebih terlindungi dari penyakit jantung dan pembuluh darah ataupun kanker dibanding orang dengan berat badan normal. Untuk pasien penyakit jantung, obesitas justru dapat mengurangi risiko kematian. Oleh para peneliti, fenomena ini disebut 'paradoks obesitas'.
Dalam laporan penelitian yang dimuat European Heart Journal, tim peneliti yang dipimpin Francisco Ortega dari Institut Karolinska di Stockholm mengumpulkan data dari 43.000 orang lebih. Sebanyak 98% peserta adalah orang kulit putih yang bekerja di posisi eksekutif atau profesional. Peserta direkrut dari tahun 1979 hingga 2003 dan dipantau sampai akhir tahun 2003 atau sampai meninggal.
Semua peserta diminta menjawab pertanyaan tentang riwayat kesehatan dan gaya hidupnya. Peserta juga melakukan tes treadmill untuk mengevaluasi kebugarannya. Selain itu, tinggi badan, berat badan, lemak tubuh, ukuran pinggang, kolesterol, tekanan dan kadar gula darah peserta juga diukur.
Para peneliti menemukan bahwa di antara penderita obesitas, 46% memiliki jantung yang sehat dan risikonya meninggal akibat penyakit jantung 38% lebih rendah daripada orang gemuk dengan jantung tak sehat.
Risiko penyakit jantung dan kanker pada orang dengan obesitas ditemukan sama seperti orang sehat dengan berat badan normal. Risikonya terserang penyakit jantung dan pembuluh darah ataupun kanker 30% sampai 50% lebih rendah dibandingkan dengan orang gemuk yang tidak sehat jantungnya.
"Tidak semua orang gemuk sama. Ada sebagian besar orang dengan obesitas yang memiliki metabolisme sehat. Jika obesitas didefinisikan dengan persentase lemak tubuh, bukan indeks massa tubuh, serta memperhitungkan kebugaran jantung dan pernafasan, maka orang gemuk sama sehatnya dengan orang dengan berat badan normal," kata Ortega seperti dilansir HealthDay, Kamis (6/9/2012).
Dalam penelitian kedua, Dr Oskar Angeras, ahli jantung konsultan di Akademi Sahlgrenska dari University of Gothenburg di Swedia mengumpulkan data lebih dari 64.000 orang pasien penyakit jantung atau pernah mengalami serangan jantung.
Peneliti menemukan bahwa orang-orang dengan resiko kematian terendah setelah mengalami jantung koroner adalah orang dengan kelebihan berat badan dan obesitas dalam taraf sedang. Sedangkan risiko tertinggi ditemukan pada orang dengan berat badan rendah dan orang gemuk yang tak sehat.
"Kami percaya bahwa sangat penting untuk berfokus pada pencegahan sekunder seperti mengobati tekanan darah dan kadar lemak dalam darah, berhenti merokok, banyak berolahraga dan makan makanan sehat. Penurunan berat badan mungkin tidak begitu penting, bahkan dapat menyebabkan kecemasan pada pasien," kata Angeras.
Anehnya, beberapa orang obesitas lebih terlindungi dari penyakit jantung dan pembuluh darah ataupun kanker dibanding orang dengan berat badan normal. Untuk pasien penyakit jantung, obesitas justru dapat mengurangi risiko kematian. Oleh para peneliti, fenomena ini disebut 'paradoks obesitas'.
Dalam laporan penelitian yang dimuat European Heart Journal, tim peneliti yang dipimpin Francisco Ortega dari Institut Karolinska di Stockholm mengumpulkan data dari 43.000 orang lebih. Sebanyak 98% peserta adalah orang kulit putih yang bekerja di posisi eksekutif atau profesional. Peserta direkrut dari tahun 1979 hingga 2003 dan dipantau sampai akhir tahun 2003 atau sampai meninggal.
Semua peserta diminta menjawab pertanyaan tentang riwayat kesehatan dan gaya hidupnya. Peserta juga melakukan tes treadmill untuk mengevaluasi kebugarannya. Selain itu, tinggi badan, berat badan, lemak tubuh, ukuran pinggang, kolesterol, tekanan dan kadar gula darah peserta juga diukur.
Para peneliti menemukan bahwa di antara penderita obesitas, 46% memiliki jantung yang sehat dan risikonya meninggal akibat penyakit jantung 38% lebih rendah daripada orang gemuk dengan jantung tak sehat.
Risiko penyakit jantung dan kanker pada orang dengan obesitas ditemukan sama seperti orang sehat dengan berat badan normal. Risikonya terserang penyakit jantung dan pembuluh darah ataupun kanker 30% sampai 50% lebih rendah dibandingkan dengan orang gemuk yang tidak sehat jantungnya.
"Tidak semua orang gemuk sama. Ada sebagian besar orang dengan obesitas yang memiliki metabolisme sehat. Jika obesitas didefinisikan dengan persentase lemak tubuh, bukan indeks massa tubuh, serta memperhitungkan kebugaran jantung dan pernafasan, maka orang gemuk sama sehatnya dengan orang dengan berat badan normal," kata Ortega seperti dilansir HealthDay, Kamis (6/9/2012).
Dalam penelitian kedua, Dr Oskar Angeras, ahli jantung konsultan di Akademi Sahlgrenska dari University of Gothenburg di Swedia mengumpulkan data lebih dari 64.000 orang pasien penyakit jantung atau pernah mengalami serangan jantung.
Peneliti menemukan bahwa orang-orang dengan resiko kematian terendah setelah mengalami jantung koroner adalah orang dengan kelebihan berat badan dan obesitas dalam taraf sedang. Sedangkan risiko tertinggi ditemukan pada orang dengan berat badan rendah dan orang gemuk yang tak sehat.
"Kami percaya bahwa sangat penting untuk berfokus pada pencegahan sekunder seperti mengobati tekanan darah dan kadar lemak dalam darah, berhenti merokok, banyak berolahraga dan makan makanan sehat. Penurunan berat badan mungkin tidak begitu penting, bahkan dapat menyebabkan kecemasan pada pasien," kata Angeras.