Tiopan1990
IndoForum Newbie E
- No. Urut
- 282834
- Sejak
- 28 Mar 2014
- Pesan
- 63
- Nilai reaksi
- 0
- Poin
- 6
PENGAMAT komunikasi Erix Hutasoit mengatakan angka golput pada pemilih pemula kelompok minoritas dapat ditekan. Guna memperkecil angkat golput maka kualitas demokrasi harus ditingkatkan dan partisipasi pemilih pemula diperluas. “Di sini media massa punya tiga peran yaitu advocacy, social mobilization dan behavior change communication,” tegas peserta e-learning bidang komunikasi di RTI University, AS ini.
Peran advovacy media ditujukan untuk memberikan informasi dan memotivasi pemimpin politik baik partai politik maupun penyelenggara pemilu agar menyediakan lingkungan yang mendukung bagi pemilih pemula untuk terlibat dalam pemilu. Setelah lingkungan politik yang mendukung tersedia maka seluruh pemilih pemuda harus dimobilisasi untuk berpartisipasi termasuk kelompok-kelompok minoritas seperti Parmalim.
“Selama ini kedua pihak saling salah memahami. Partai politik dan caleg menganggap Parmalim tertutup. Di sisi lain Parmalim menganggap partai politik dan caleg-calegnya tidak perduli. Padahal keduanya saling membutuhkan,” lanjutnya.
Di titik ini media memainkan peran keduanya yaitu social mobilization. Kampanye, sanggar kerja, pelatihan dan simulasi yang berhubungan dengan pemilu baiknya difokuskan di sekolah-sekolah, universitas dan tempat-tempat umum secara masif.
Peran terakhir media adalah menghubungkan kelompok-kelompok minoritas dengan institusi politik. Di sini media melakukan peran behavior change communication. Dalam peran ini media menggagas terjadinya dialog dan kontak politik baik secara invidu maupun institusi.
“Pemilih pemula harus difasilitasi untuk terbiasakan berdialog dan berkomunikasi dengan elit partai politik atau caleg. Tujuannya tidak sekadar membekali pemilih pemula mendapat informasi yang cukup soal partai politik dan programnya, namun lebih dari itu adalah membangun kepercayaan dirinya untuk mampu mengambil keputusan sendiri,” terang Erix Hutasoit.
Erix Hutasoit mengatakan model pendidikan di Indonesia tidak memberikan kemampuan kepada siswa agar mampu menganalisis dan mengambil keputusan sendiri. Keterlibatan orang dewasa seperti guru dan orangtua sangat mendominasi cara siswa mengambil keputusan. Begitu pula saat mengambil keputusan politik di balik bilik suara mereka biasanya mengonsultasikan pilihannya kepada orang dewasa.
“Pemilih pemula itu umumnya pelajar kelas 3 SMA atau semester awal kuliah. Mereka tidak terbiasa diberi tanggung jawab untuk memutuskan sendiri keputusan politiknya. Karena itu mereka harus dilatih untuk berani mengambil keputusan secara mandiri,”tambahnya.
Komisioner KPU Sumut Benget Silitonga mengatakan pihaknya bekerja serius untuk menurunkan angka golput. Caranya antara lain memperbaiki dan mengembangkan sistem data pemilih, termasuk menyinkronkan pendataaan manual dengan elektronik. KPU bahkan menggagas mekanisme pemutakhiran data lebih baik dari pemilu sebelumnya. Tiga strategi ditetapkan.
Pertama, pemutakhiran dan penyempurnaan data pemilih termasuk akurasinya. Kedua, menyasar lima sektor pemilih strategis dengan merekrut 25 orang “relawan demokrasi” dari lima segmen pemilih yakni pemilih pemula, kelompok agama, penyandang disabilitas dan kaum perempuan.
Ketiga, bermitra dengan lembaga sipil, asing, dan media massa. Hasil bermitra adalah merekrut 30 orang presenter-presenter pemilu untuk penyedia informasi pemilu lewat media online. Para presenter itu direkrut dari murid SMA atau perguruan tinggi angkatan baru.
Data pemilih tetap di Provinsi Sumatera Utara versi KPU mendekati 10 juta (9.733.497) jiwa. Diprediksi 10 persen dari total penduduk adalah pemilih pemula (usia 17-19 tahun) yakni sekitar 1,7 juta (1.711.878) jiwa. Mereka inilah yang akan menyambangi tempat pemungutan suara pada 9 April. Pemilu di Sumut akan digelar di 4.108 TPS yang tersebar di 21 kecamatan dan 151 kelurahan.
Peran advovacy media ditujukan untuk memberikan informasi dan memotivasi pemimpin politik baik partai politik maupun penyelenggara pemilu agar menyediakan lingkungan yang mendukung bagi pemilih pemula untuk terlibat dalam pemilu. Setelah lingkungan politik yang mendukung tersedia maka seluruh pemilih pemuda harus dimobilisasi untuk berpartisipasi termasuk kelompok-kelompok minoritas seperti Parmalim.
“Selama ini kedua pihak saling salah memahami. Partai politik dan caleg menganggap Parmalim tertutup. Di sisi lain Parmalim menganggap partai politik dan caleg-calegnya tidak perduli. Padahal keduanya saling membutuhkan,” lanjutnya.
Di titik ini media memainkan peran keduanya yaitu social mobilization. Kampanye, sanggar kerja, pelatihan dan simulasi yang berhubungan dengan pemilu baiknya difokuskan di sekolah-sekolah, universitas dan tempat-tempat umum secara masif.
Peran terakhir media adalah menghubungkan kelompok-kelompok minoritas dengan institusi politik. Di sini media melakukan peran behavior change communication. Dalam peran ini media menggagas terjadinya dialog dan kontak politik baik secara invidu maupun institusi.
“Pemilih pemula harus difasilitasi untuk terbiasakan berdialog dan berkomunikasi dengan elit partai politik atau caleg. Tujuannya tidak sekadar membekali pemilih pemula mendapat informasi yang cukup soal partai politik dan programnya, namun lebih dari itu adalah membangun kepercayaan dirinya untuk mampu mengambil keputusan sendiri,” terang Erix Hutasoit.
Erix Hutasoit mengatakan model pendidikan di Indonesia tidak memberikan kemampuan kepada siswa agar mampu menganalisis dan mengambil keputusan sendiri. Keterlibatan orang dewasa seperti guru dan orangtua sangat mendominasi cara siswa mengambil keputusan. Begitu pula saat mengambil keputusan politik di balik bilik suara mereka biasanya mengonsultasikan pilihannya kepada orang dewasa.
“Pemilih pemula itu umumnya pelajar kelas 3 SMA atau semester awal kuliah. Mereka tidak terbiasa diberi tanggung jawab untuk memutuskan sendiri keputusan politiknya. Karena itu mereka harus dilatih untuk berani mengambil keputusan secara mandiri,”tambahnya.
Komisioner KPU Sumut Benget Silitonga mengatakan pihaknya bekerja serius untuk menurunkan angka golput. Caranya antara lain memperbaiki dan mengembangkan sistem data pemilih, termasuk menyinkronkan pendataaan manual dengan elektronik. KPU bahkan menggagas mekanisme pemutakhiran data lebih baik dari pemilu sebelumnya. Tiga strategi ditetapkan.
Pertama, pemutakhiran dan penyempurnaan data pemilih termasuk akurasinya. Kedua, menyasar lima sektor pemilih strategis dengan merekrut 25 orang “relawan demokrasi” dari lima segmen pemilih yakni pemilih pemula, kelompok agama, penyandang disabilitas dan kaum perempuan.
Ketiga, bermitra dengan lembaga sipil, asing, dan media massa. Hasil bermitra adalah merekrut 30 orang presenter-presenter pemilu untuk penyedia informasi pemilu lewat media online. Para presenter itu direkrut dari murid SMA atau perguruan tinggi angkatan baru.
Data pemilih tetap di Provinsi Sumatera Utara versi KPU mendekati 10 juta (9.733.497) jiwa. Diprediksi 10 persen dari total penduduk adalah pemilih pemula (usia 17-19 tahun) yakni sekitar 1,7 juta (1.711.878) jiwa. Mereka inilah yang akan menyambangi tempat pemungutan suara pada 9 April. Pemilu di Sumut akan digelar di 4.108 TPS yang tersebar di 21 kecamatan dan 151 kelurahan.
Terakhir disunting oleh moderator: