Diggie
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 287751
- Sejak
- 6 Apr 2020
- Pesan
- 14.195
- Nilai reaksi
- 1
- Poin
- 0
Berikut adalah berita Jangan ada rasisme di antara kita.
Bek regu nasional Inggris Tyronne Mings (kedua kiri) yg jadi korban cemoohan rasial dari suporter Bulgaria selesai berdebat dengan wasit Ivan Bebek (kiri) dalam laga lanjutan Grup A Kualifikasi Piala Eropa 2020 di Stadion Nasional Vasil Levski, Sofia, Bulgaria, Senin (14/10/2019) setempat. (ANTARA/REUTERS/Carl Recine)
Jakarta (ANTARA) - Selasa 15 Oktober 2019, regu nasional Inggris tampil begitu dominan dalam pertandingan melawan tuan rumah Bulgaria pada babak kualifikasi Piala Eropa 2020 di Stadion Nasional Vasil Levski, Sofia.
Akan tetapi, yg semestinya diingat dari laga tersebut bukanlah soal skor akbar 6-0, melainkan kenyataan bahwa kemenangan Three Lions itu harus terlebih dahulu dinodai oleh tindakan rasial dari suporter tuan rumah.
Pertandingan bahkan harus dihentikan dua kali setelah suporter terdengar melantangkan nyanyian monyet yg ditujukan kepada pemain kulit hitam dari regu tamu.
Ketua FA Inggris Greg Clarke yang hadir di Stadion Levski mengatakan bahwa malam itu jadi malam yg dapat dibilang paling mengerikan yg pernah dia saksikan dalam pertandingan sepak bola.
Aksi yg dikatakan Clarke mengerikan itu juga terekam oleh saluran TV Inggris yg menunjukkan sekelompok pria mengenakan pakaian serba hitam dengan mulut ditutup & menyerukan olok-olok rasis dari arah tribun.
Menyadari pelecehan yg terjadi, Harry Kane memimpin protes timnas Inggris kepada wasit atas cemoohan rasis yang diarahkan kepada bek debutan Tyronne Mings. Wasit segera menghentikan pertandingan & panitia memperingatkan suporter supaya menghentikan tindakan rasis dari pengeras suara stadion.
Pelecehan pun masih berlanjut & memaksa pertandingan dihentikan lagi pada menit ke-42 setelah manajer Gareth Southhgate mengajukan protes kepada ofisial di tepi lapangan.
Kapten Bulgaria Ivelin Popov bertindak langsung dengan berbicara kepada suporter yg pada akhirnya beberapa dikeluarkan dari tribun stadion.
Reporter Sky Sports Rob Dorsett mengaku mendengar teriakan ‘monyet’ pada enam kesempatan ketika Tyrone Mings & Marcus Rashford menguasai bola.
Baca juga: Ben White gantikan Trent Alexander-Arnold dalam skuad timnas Inggris
"Saya mendengar seorang suporter dengan jelas berteriak ‘Hei, monyet’ saat Mings mengoper bola,” mengatakan dia.
Mings menyayangkan debutnya bersama timnas senior Inggris itu harus sedikit dinodai dengan perlakuan rasis tetapi dia mengaku tak terlalu mengacuhkan itu dengan meyakini bahwa penampilannya dalam pertandingan cukup jadi pembuktian dia kepada para pelaku rasis.
Sementara itu, penyerang Inggris Raheem Sterling melalui akun Twitter-nya mencuitkan bahwa dia merasa kasihan kepada Bulgaria yg "diwakili oleh orang-orang idiot di dalam stadion mereka.”
Akibat ulah suporternya, Bulgaria pun didenda sekira 65.000 pound oleh UEFA & harus memainkan dua pertandingan tanpa penonton.
Sebelum melawan Bulgaria, timnas Inggris sudah lebih dulu mendapat pelecehan rasial saat laga lawatan menghadapi Montenegro, Maret 2019.
Inggris memang menang akbar 5-1, tetapi kemenangan itu harus kembali didahului dengan tindakan penghinaan rasis yang pada saat itu dilontarkan kepada bek Dany Rose.
Rose jadi target suporter atas cemoohan rasis berupa nyanyian monyet. Raheem Sterling juga mendapat ejekan sebagaimana didapat Rose setelah gelandang Manchester City itu merayakan gol kelima Inggris dengan menutup telinganya kepada para pendukung Montenegro.
Tak cuma teriakan monyet, Callum Hudson-Odoi yang tampil mengesankan pada debutnya, mengatakan suporter Montenegro juga melemparkan korek api ke arah para pemain Inggris ketika mereka merayakan gol Sterling.
"Ironi dari sepak bola adalah ketika ruang ganti dapat mempersatukan kami terlepas dari agama maupun warna kulit yg berbeda, tetapi kami masih dihadapkan pada masalah ini (rasisme),” kata Southgate kepada beIN Sports seperti dikutip Reuters.
Baca juga: Seberapa bugar bintang-bintang lapangan hijau saat Euro 2020
Sebagai hukumannya, Montenegro cuma disanksi UEFA untuk memainkan laga kandang mereka tanpa penonton serta denda 17.500 pound.
Piala Eropa 2020 bebas rasisme?
Hukuman & sanksi yg diterapkan badan pengelola sepak bola itu sayangnya tidak serta merta menurunkan angka kasus rasisme.
Berdasarkan laporan tahunan Kick It Out, organisasi antirasisme & antidiskriminasi, terjadi peningkatan mengejutkan untuk kasus rasisme yg terjadi dalam sepak bola musim 2019/2020 kendati lomba sempat dihentikan beberapa bulan karena pandemi COVID-19.
Pada musim yg sama juga terdapat 282 kasus rasisme yg dilaporkan. Angka itu naik 53 persen dibandingkan tahun sebelumnya yg tercatat 184 kasus.
Organisasi tersebut juga melaporkan bahwa jajak pendapat menunjukkan 30 persen responden menyaksikan komentar atau nyanyian berbau rasisme dalam pertandingan sepak bola pada musim lomba 2019/2020.
Selain itu, 70 persen dari mereka juga menyatakan menemukan komentar bernada rasisme yg diarahkan kepada para pemain sepak bola dalam media sosial.
Dalam upaya memerangi perilaku rasisme, FIFA sebetulnya sudah merilis Kode Disiplin baru pada Juli 2019. Badan tertinggi sepak bola tersebut sudah meminta seluruh regu yg berlaga untuk menghentikan pertandingan kalau suporter terbukti bersalah atas perilaku rasial & tindakan diskriminatif lainnya.
Langkah tersebut dapat diterapkan setelah wasit menerapkan prosedur tiga langkah untuk menangani insiden itu, yakni meminta suporter menghentikan perilaku tersebut, lalu menghentikan sementara pertandingan, & terakhir meninggalkan pertandingan.
Kode Disiplin baru itu memperluas ruang lingkup tentang tindakan rasialisme & diskriminatif, antara lain yg melecehkan ras, warna kulit, etnis, tipe kelamin, orientasi seksual, & agama.
Protokol tersebut sudah diterapkan dalam beberapa pertandingan, termasuk laga kualifikasi Piala Eropa 2020 saat wasit memutuskan menghentikan sementara laga antara Bulgaria & Inggris setelah penggemar bertindak rasis kepada beberapa pemain.
Baca juga: Kapten timnas Spanyol Sergio Busquet positif COVID-19
Meski kasus rasisme sempat menodai beberapa pertandingan, badan pengelola sepak bola Eropa UEFA memperkirakan EURO 2020 akan terbebas dari berbagai tindakan penghinaan rasial.
Wakil Presiden UEFA Giorgio Marchetti mengaku tidak takut insiden-insiden itu tumpah ke putaran final yg akan dimulai 11 Juni nanti.
"Berdasarkan pengalaman kami, Euro sering jadi ajang yg menggembirakan, khususnya di dalam stadion," mengatakan Marchetti.
"Kami yakin atmosfer keriaan itu akan jadi prioritas kami di atas berbagai tindakan bodoh & terkadang kriminal, yg sayangnya terus terjadi di sepak bola."
UEFA juga menyatakan akan bekerja sama dengan otoritas keamanan nasional serta keamanan publik dari 12 kota tuan rumah, & khususnya dengan pihak berwenang pemerintah kota di masing-masing negara guna mencegah berbagai aksis rasisme terjadi dalam final nanti.
Dari teriakan penonton di stadion hingga cemohoon di media sosial, rasisme seakan jadi laga yg tak pernah usai.
Piala Eropa 2020 pun hadir mengambil peran tidak cuma mencoba menyematkan asa di tengah ketidakpastian, tetapi juga ajang pembuktian sejauh mana FIFA, UEFA, & asosiasi sepak bola setiap negara memberikan edukasi kepada para pemain & suporter dalam melawan rasisme.
Piala Eropa 2020 untuk perdana kalinya akan digelar di 11 stadion di 11 negara di benua itu, mulai dari Amsterdam di Belanda hingga Baku di Azerbaijan. Kejuaraan itu juga dipastikan akan dihadiri belasan hingga puluhan ribu penonton & diharapkan dapat membangkitkan kembali gairah di tengah pandemi.
Jangan hingga sejarah baru ini justru tercoreng dengan permasalahan klasik seperti rasisme, mengubah gairah yg semestinya membuncah jadi cemoohan & pelecehan memalukan.
Baca juga: Jersey baru Ukraina picu kemarahan Rusia
Berita diatas dikutip dari internet, jika Jangan ada rasisme di antara kita adalah spam, mohon beritahu kami.
Bek regu nasional Inggris Tyronne Mings (kedua kiri) yg jadi korban cemoohan rasial dari suporter Bulgaria selesai berdebat dengan wasit Ivan Bebek (kiri) dalam laga lanjutan Grup A Kualifikasi Piala Eropa 2020 di Stadion Nasional Vasil Levski, Sofia, Bulgaria, Senin (14/10/2019) setempat. (ANTARA/REUTERS/Carl Recine)
Jakarta (ANTARA) - Selasa 15 Oktober 2019, regu nasional Inggris tampil begitu dominan dalam pertandingan melawan tuan rumah Bulgaria pada babak kualifikasi Piala Eropa 2020 di Stadion Nasional Vasil Levski, Sofia.
Akan tetapi, yg semestinya diingat dari laga tersebut bukanlah soal skor akbar 6-0, melainkan kenyataan bahwa kemenangan Three Lions itu harus terlebih dahulu dinodai oleh tindakan rasial dari suporter tuan rumah.
Pertandingan bahkan harus dihentikan dua kali setelah suporter terdengar melantangkan nyanyian monyet yg ditujukan kepada pemain kulit hitam dari regu tamu.
Ketua FA Inggris Greg Clarke yang hadir di Stadion Levski mengatakan bahwa malam itu jadi malam yg dapat dibilang paling mengerikan yg pernah dia saksikan dalam pertandingan sepak bola.
Aksi yg dikatakan Clarke mengerikan itu juga terekam oleh saluran TV Inggris yg menunjukkan sekelompok pria mengenakan pakaian serba hitam dengan mulut ditutup & menyerukan olok-olok rasis dari arah tribun.
Menyadari pelecehan yg terjadi, Harry Kane memimpin protes timnas Inggris kepada wasit atas cemoohan rasis yang diarahkan kepada bek debutan Tyronne Mings. Wasit segera menghentikan pertandingan & panitia memperingatkan suporter supaya menghentikan tindakan rasis dari pengeras suara stadion.
Pelecehan pun masih berlanjut & memaksa pertandingan dihentikan lagi pada menit ke-42 setelah manajer Gareth Southhgate mengajukan protes kepada ofisial di tepi lapangan.
Kapten Bulgaria Ivelin Popov bertindak langsung dengan berbicara kepada suporter yg pada akhirnya beberapa dikeluarkan dari tribun stadion.
Reporter Sky Sports Rob Dorsett mengaku mendengar teriakan ‘monyet’ pada enam kesempatan ketika Tyrone Mings & Marcus Rashford menguasai bola.
Baca juga: Ben White gantikan Trent Alexander-Arnold dalam skuad timnas Inggris
"Saya mendengar seorang suporter dengan jelas berteriak ‘Hei, monyet’ saat Mings mengoper bola,” mengatakan dia.
Mings menyayangkan debutnya bersama timnas senior Inggris itu harus sedikit dinodai dengan perlakuan rasis tetapi dia mengaku tak terlalu mengacuhkan itu dengan meyakini bahwa penampilannya dalam pertandingan cukup jadi pembuktian dia kepada para pelaku rasis.
Sementara itu, penyerang Inggris Raheem Sterling melalui akun Twitter-nya mencuitkan bahwa dia merasa kasihan kepada Bulgaria yg "diwakili oleh orang-orang idiot di dalam stadion mereka.”
Akibat ulah suporternya, Bulgaria pun didenda sekira 65.000 pound oleh UEFA & harus memainkan dua pertandingan tanpa penonton.
Sebelum melawan Bulgaria, timnas Inggris sudah lebih dulu mendapat pelecehan rasial saat laga lawatan menghadapi Montenegro, Maret 2019.
Inggris memang menang akbar 5-1, tetapi kemenangan itu harus kembali didahului dengan tindakan penghinaan rasis yang pada saat itu dilontarkan kepada bek Dany Rose.
Rose jadi target suporter atas cemoohan rasis berupa nyanyian monyet. Raheem Sterling juga mendapat ejekan sebagaimana didapat Rose setelah gelandang Manchester City itu merayakan gol kelima Inggris dengan menutup telinganya kepada para pendukung Montenegro.
Tak cuma teriakan monyet, Callum Hudson-Odoi yang tampil mengesankan pada debutnya, mengatakan suporter Montenegro juga melemparkan korek api ke arah para pemain Inggris ketika mereka merayakan gol Sterling.
"Ironi dari sepak bola adalah ketika ruang ganti dapat mempersatukan kami terlepas dari agama maupun warna kulit yg berbeda, tetapi kami masih dihadapkan pada masalah ini (rasisme),” kata Southgate kepada beIN Sports seperti dikutip Reuters.
Baca juga: Seberapa bugar bintang-bintang lapangan hijau saat Euro 2020
Sebagai hukumannya, Montenegro cuma disanksi UEFA untuk memainkan laga kandang mereka tanpa penonton serta denda 17.500 pound.
Piala Eropa 2020 bebas rasisme?
Hukuman & sanksi yg diterapkan badan pengelola sepak bola itu sayangnya tidak serta merta menurunkan angka kasus rasisme.
Berdasarkan laporan tahunan Kick It Out, organisasi antirasisme & antidiskriminasi, terjadi peningkatan mengejutkan untuk kasus rasisme yg terjadi dalam sepak bola musim 2019/2020 kendati lomba sempat dihentikan beberapa bulan karena pandemi COVID-19.
Pada musim yg sama juga terdapat 282 kasus rasisme yg dilaporkan. Angka itu naik 53 persen dibandingkan tahun sebelumnya yg tercatat 184 kasus.
Organisasi tersebut juga melaporkan bahwa jajak pendapat menunjukkan 30 persen responden menyaksikan komentar atau nyanyian berbau rasisme dalam pertandingan sepak bola pada musim lomba 2019/2020.
Selain itu, 70 persen dari mereka juga menyatakan menemukan komentar bernada rasisme yg diarahkan kepada para pemain sepak bola dalam media sosial.
Dalam upaya memerangi perilaku rasisme, FIFA sebetulnya sudah merilis Kode Disiplin baru pada Juli 2019. Badan tertinggi sepak bola tersebut sudah meminta seluruh regu yg berlaga untuk menghentikan pertandingan kalau suporter terbukti bersalah atas perilaku rasial & tindakan diskriminatif lainnya.
Langkah tersebut dapat diterapkan setelah wasit menerapkan prosedur tiga langkah untuk menangani insiden itu, yakni meminta suporter menghentikan perilaku tersebut, lalu menghentikan sementara pertandingan, & terakhir meninggalkan pertandingan.
Kode Disiplin baru itu memperluas ruang lingkup tentang tindakan rasialisme & diskriminatif, antara lain yg melecehkan ras, warna kulit, etnis, tipe kelamin, orientasi seksual, & agama.
Protokol tersebut sudah diterapkan dalam beberapa pertandingan, termasuk laga kualifikasi Piala Eropa 2020 saat wasit memutuskan menghentikan sementara laga antara Bulgaria & Inggris setelah penggemar bertindak rasis kepada beberapa pemain.
Baca juga: Kapten timnas Spanyol Sergio Busquet positif COVID-19
Meski kasus rasisme sempat menodai beberapa pertandingan, badan pengelola sepak bola Eropa UEFA memperkirakan EURO 2020 akan terbebas dari berbagai tindakan penghinaan rasial.
Wakil Presiden UEFA Giorgio Marchetti mengaku tidak takut insiden-insiden itu tumpah ke putaran final yg akan dimulai 11 Juni nanti.
"Berdasarkan pengalaman kami, Euro sering jadi ajang yg menggembirakan, khususnya di dalam stadion," mengatakan Marchetti.
"Kami yakin atmosfer keriaan itu akan jadi prioritas kami di atas berbagai tindakan bodoh & terkadang kriminal, yg sayangnya terus terjadi di sepak bola."
UEFA juga menyatakan akan bekerja sama dengan otoritas keamanan nasional serta keamanan publik dari 12 kota tuan rumah, & khususnya dengan pihak berwenang pemerintah kota di masing-masing negara guna mencegah berbagai aksis rasisme terjadi dalam final nanti.
Dari teriakan penonton di stadion hingga cemohoon di media sosial, rasisme seakan jadi laga yg tak pernah usai.
Piala Eropa 2020 pun hadir mengambil peran tidak cuma mencoba menyematkan asa di tengah ketidakpastian, tetapi juga ajang pembuktian sejauh mana FIFA, UEFA, & asosiasi sepak bola setiap negara memberikan edukasi kepada para pemain & suporter dalam melawan rasisme.
Piala Eropa 2020 untuk perdana kalinya akan digelar di 11 stadion di 11 negara di benua itu, mulai dari Amsterdam di Belanda hingga Baku di Azerbaijan. Kejuaraan itu juga dipastikan akan dihadiri belasan hingga puluhan ribu penonton & diharapkan dapat membangkitkan kembali gairah di tengah pandemi.
Jangan hingga sejarah baru ini justru tercoreng dengan permasalahan klasik seperti rasisme, mengubah gairah yg semestinya membuncah jadi cemoohan & pelecehan memalukan.
Baca juga: Jersey baru Ukraina picu kemarahan Rusia
Berita diatas dikutip dari internet, jika Jangan ada rasisme di antara kita adalah spam, mohon beritahu kami.