• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Janda Pemulung Pelihara Buaya Sepanjang 1,5 Meter

facebookeb

IndoForum Senior A
No. Urut
210735
Sejak
9 Jan 2013
Pesan
7.471
Nilai reaksi
100
Poin
48
q05Sg.jpg
Petugas Satpol PP Jakarta dan warga yang terlibat dalam pembongkaran kampung pemulung di Jalan Raya Tebet Barat, Jakarta Selatan, Rabu (3/12/2014), terkejut bukan kepalang. Di balik sebuah gubuk berdinding kayu beratap seng bekas, ditemukan "kolam" berukuran sekitar 2 x 1,5 meter. Di dalamnya, ada seekor buaya yang panjangnya hampir mencapai 1,5 meter.

"Kirain ada orang yang jatuh. Pas diangkat kayunya, ternyata ada buaya gede di dalamnya," kata Joko (40), warga setempat.

Menurut Joko, buaya berkulit hitam itu dipelihara oleh seorang janda pemulung yang hidup seorang diri di kampung pemulung tersebut. Binatang buas tersebut diperkirakan dipelihara oleh Ipah, pemulung tersebut, sejak kecil, sekitar 5 tahun lalu.

"Dipelihara dari panjangnya sepenggaris, kira-kira 30 sentimeter. Dia (Ipah) memelihara karena kasihan. Ada yang buang (buaya) di pinggir taman terus dipelihara sampai sekarang," ujarnya.

Walau hanya seorang pemulung, Ipah memelihara bayi buaya itu dengan sepenuh hati. Perempuan itu memberi makan buaya dengan apa saja, mulai dari sampah dagangan ikan dan ayam di Pasar Tebet Barat. Sebab, penghasilannya sebagai pemulung tidak seberapa.

"Makanannya apa saja. Saya tahunya waktu kecil, mulai dari ceker, kepala ayam, sisa-sisa jeroan ikan-ayam, pokoknya apa saja dari Pasar Tebet Barat," cerita Joko.

Lama tidak terdengar mengenai kabar adanya buaya tersebut, Joko mengira kalau buaya tersebut sudah mati atau dibuang Ipah ke dalam saluran air yang membelah kampung pemulung, persis di sebelah gubuk milik Ipah.

Dikirim ke Ragunan

Namun, alangkah terkejutnya Joko, warga, dan petugas Satpol PP Jakarta Selatan saat menemukan buaya itu masih hidup. Saat itu, petugas tengah membongkar gubuk Ipah.

Mengetahui ada seekor buaya di dalam area pembongkaran, anggota satpol PP dan warga pun mencoba mengamankan buaya tersebut dengan menggunakan jerat yang dipasangkan pada ujung bambu. Seusai melakukan penjinakan, buaya akhirnya berhasil ditarik ke atas dan dibaringkan di tanah.

Layaknya penjinak buaya, seorang petugas Satpol PP pun menaruh selembar kain untuk menutupi mata binatang itu dan kembali mengikatkan jerat pada ujung mulut buaya.

Setelah buaya terlihat tenang, beberapa warga pun bergantian menduduki tubuh buaya dan mengangkat sekaligus mengikat keempat kaki hewan reptil tersebut. Seusai diamankan dalam gerobak sampah kosong, buaya tersebut pun dikirim ke Taman Margasatwa Ragunan (TMR).

Lalu, di mana Ipah, pemilik buaya itu? "Ipah enggak kelihatan lagi. Mungkin karena takut, dia langsung pergi," kata Joko.

Selain buaya, seekor ular berjenis sanca kembang sepanjang sekitar tiga meter juga ditemukan petugas Satpol PP di lokasi pembongkaran. Ular tersebut ditaruh dalam sebuah akuarium dan kemudian diambil seorang warga untuk dipelihara.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.