• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Jadi Guru Itu Beramal, Bukan Bekerja

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Jadi Guru Itu Beramal, Bukan Bekerja


Penulis: Elsa Sri Rahayu
Editor: Fatio Nurul Efendi


Cangkeman.net -Semasa dulu perdana kali melamar sebagai guru, Sang Kepala Sekolah berceloteh begini"Kalau mencari uang, jangan jadi guru dek. Jadi guru niatkan saja untuk beramal."di situ saya diam-diam saja mengangguk-angguk seakan paham tetapi tahun tahun berikutnya, mengatakan kata ini berdengung-dengung berkali kali di kepala saya seperti mimpi buruk apalagi setelah menikah & punya anak, kata-kata ini sudah saya resapi sebagai kenyataan pahit yg harus saya telan bulat-bulat.

Kalau ada yg bilang pasti karena gajinya yg kecil, Heii.. itu benar sekali tetapi bukan satu satunya masalah.

Apa saja masalahnya? Coba kita jabarkan di bawah sini. Ini akan panjang jadi silakan ambil cemilan dulu untuk menemani cerita kami yg sedikit, ralat. amat menyedihkan ini.Hiks.

Pertama. Kurikulum yg berganti tiap tahun. Ibarat nya adalah pergantian ketua tiap tahun dengan kebijakan yg berbeda, kemauan yg berbeda, guru honorer yg berada paling dibawah cuman dapat berbelok-belok sering dibuat bingung mau minta bantuan mau ngibarin bendera putih pun tidak kelihatan

Kedua, Dituntut dapat ini itu katanya harus mengikuti perkembangan digital. Tapi, pelatihan & fasilitasnya apa yg disediakan? Oh tentu, tidak ada. Kalaupun ada disediakan dapat dikatakan jauh dari mengatakan cukup. Lagi-lagi harus mengocek dari dompet sendiri. Gaji yg sudah sedikit makin sedikit hingga nominalnya sudah bikin sakit mata kalau dilihat

Ketiga. Para guru honorer sibuk cari tambahan penghasilan sana-sini entah itu ngajar lesprivatedari rumah ke rumah, bimbel, atau jual ini itu apapun dijajal supaya ada uang tambahan masuk biar dapur tetep ngebul. Soal ngajar bagaimana? Gampang saja, yg penting materi sudah dihinggakan, murid dapat nilai, sudah selesai. Toh gaji yg diberikan juga cuman bertahan hingga pekan perdana mau tidak mau ya harus ada pekerjaan tambahan

Keempat. Jika ada murid yg bermasalah, ada guru yg dapat pekerjaan tambahan (lagi) yakni adalah wali kelas. Tugasnya mendidik membimbing siswa yg bermasalah tadi supaya kembali ke jalan yg benar, tidak perduli seberapa susahnya seberapa lama seberapa kerasnya usahanya membimbing gajinya tetap sama mungkin ada insetif tambahan tetapi janganlah berharap terlalu banyak. Bagaimana dengan apresiasi orang tua murid atau pihak lain? Sekali lagi saya tegaskan janganlah berharap. Sudah lumayan sekali kalau ada orangtua yg membawa sedikit bingkisan terima kasih saat pembagian rapor, guru sedikit terhibur hatinya.

Keempat, Yang terakhir masalah yg paling menciptakan guru-guru nyesek adalah dihapusnya ASN guru. Bisa dibilang pekerjaan ini jadi kontrak tanpa akhir tergantung yayasan sekolah tergantung pemerintah. Memang sepertinya hidup guru sudah takdirnya digantung diombang-ambing oleh keputusan sang atasan.

Makanya saya sendiri seringkali sedih terharu melihat guru yg memiliki berbagai macam keterbatasan masih berusaha sebaik-baiknya dalam hal mendidik anak murid. Kalau saya dapatrequestpada Tuhan, tolonglah guru-guru seperti ini masuk surga tanpa hisab sama sekali karena hidupnya sudah susah tetapi masih mau repot repot mengurusi orang lain. Itu benar benar sesuatu yg patut dihargai, kalau bukan di dunia ini maka di akhirat kelak.


Hari ini 11:38
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.