• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Itu Dulu, Pas Lagi Kuliah.

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Welcome to my thread

Just share semoga berkenan, bukan repost​




Pernah gak pas waktu jadi mahasiswa mengerjakan hal ini?


PONSEL SEBAGAI JARINGAN PENGAMAN KEHIDUPAN MAHASISWA/I​


Perkembangan telekomunikasi ikut membawa perubahan pada masyarakat. Dahulu manusia berkomunikasi cuma mengpakai bagian tubuhnya saja. Dimulai dengan mata, gerak tubuh serta yg paling diketahui adalah berbicara. Melalui mulut dihinggakanlah kode-kode untuk menyampaikan ide-ide dari pikiran melalui perantara bahasa.
Lama kelamaan dirasakan adanya kebutuhan akan komunikasi jarak jauh karena berbicara dengan berteriak saja ternyata dibatasi oleh jarak. Mulailah dipakai berbagai benda di luar tubuh manusia. Batu, kayu, genderang yg dipukul-pukul jadi sebuah alteranatif komunikasi yg cukup nyaman karena tidak menciptakan tenggorokan terasa sakit. Dengan mengatakan lain manusia mencoba mencari alat pengganti komunikasi selain tubuhnya sendiri.
Kini kita mengpakai telepon sebagai alat komunikasi jarak jauh. Tinggal angkat gagang telepon & tekan nomor telepon tujuan, kita dapat berkomunikasi dengan lancar. Namun manusia sebagai makhluk yg tidak pernah puas & sering kreatif senantiasa mencari & menemukan hal-hal baru. Alat komunikasi yg selama ini terpasang di rumah (telepon rumah) atau tertanam di tempat biasa (telpon umum), kini dapat diganti dengan penggunaan ponsel (telepon seluler). Telepon tipe ini tidak memerlukan kabel yg tersambung dengan dengan pusat pelayanan telekomunikasi atau ditanam di suatu tempat. Dengan ponsel kita bebas beraktifitas kemana saja & menelpon dimana saja.
Apakah yg menarik dari fenomena ponsel ini, sebenarnya? bukan mengenai sejarah terciptanya, bukan juga mengenai teknologi yg ada di dalamnya tetapi mengenai pengguna ponsel tersebut.

Jatinangor & Ponsel
Penulis yg sering mengerjakan aktifitas sehari-hari di kecamatan Jatinangor, Sumedang melihat perkembangan yg pesat terjadi di daerah tersebut. Selain perkembangan dalam hal infrastruktur, terlihat juga perkembangan penduduk yg cukup tinggi. Disinyalir bukan penduduk asli Jatinangor yg meningkat tetapi penghuni rumah sewa atau kost yg sering bertambah setiap tahunnya seiring dengan semakin banyaknya jumlah pondokan. Dengan mengatakan lain mahasiswa/i mendominasi kehidupan yg berlangsung di Jatinangor.
Kita kembali pada masalah ponsel. Dengan banyaknya calon pembeli yg ada di Jatinangor para pelaku bisnis ponsel segera menangkap peluang ini. Tetapi sesuai dengan kocek yg dimiliki mahasiswa maka bisnis ponsel yg berkembang lebih mengarah pada ponsel second (bekas). Harga yg lebih miring dipercaya dapat menciptakan mahsaiswa/i untuk menjangkau ponsel yg diharapkan. Tanpa ragu-ragu maka berjamur toko ponsel second di Jatinangor.
Lagi-lagi bukan itu yg akan kita soroti disini. Bagaimana konsumsi ponsel ini berpengaruh pada mahasiswa/i?

Mahasiswa & Ponsel
Banyak orang yg berpendapat bahwa mahasiswa atau anak sekolah cenderung mengarah pada budaya konsumtif. Membeli barang lebih dikarenakan pemuasan hasrat saja. Orang-orang yg lebih akademis bahkan mengatakan bahwa pemakaian ponsel pada anak-anak, remaja & mahasiswa lebih bersifat pada pencarian status atau identias. Dengan lebih sederhana mungkin dapat dibilang untuk terlihat keren & diterima oleh kelompok bermainnya.
Memiliki ponsel maka seseorang akan dapat begaul atau berhubungan dengan teman-temannya yg sama-sama memiliki ponsel. Memiliki ponsel juga akan menolong seseorang mendapatkan perhatian dari teman-temannya karena dianggap mengikuti perkembangan zaman. Walaupun terdengar naif tetapi itulah penjelasan masyarakat mengenai ponsel & pemakainnya.
Apakah sering seperti itu sifat para pemakai ponsel? Itulah sebenarnya jawaban yg dicari penulis setelah mengamati fenomena ponsel & mahasiswa/i di kecamatan Jatinangor Sumedang.

Saluran Pengaman Kehidupan Bulanan
Ponsel dilengkapi kamera, ponsel dengan layar berwarna, ponsel dengan layar hitam putih. Berbagai macam jenis, merk, & kelengkapan dapat kita jumpai ditelapak tangan, disamping telinga mahasiswa/i bahkan ketika diarahkan untuk mengambil gambar teman-temannya. Dari harga 150 ribu hingga lima jutaan dapat kita temukan pada mahasiswa di Jatinangor. Ada mahasiswa/i yg membawa satu buah ponsel tetapi tidak jarang juga yg membawa dua sekaligus.
Apakah cuma kosumtif penjelasannya?apakah cuma gengsi penjelasannya?
Ternyata tidak!
Sifat mahasiswa/i yg mendapatkan uang kirimannya sebulan satu kali, ikut mempengaruhi pemilikan ponsel. Banyak dari mereka yg mengpakai ponsel sebagai sarana untuk menyimpan beberapa uang bulananannya. Ketika kiriman bulanan datang beberapa uang dibelikan ponsel second. Apabila mencukupi, sisa uang kiriman dipakai untuk hidup sebulan oleh mahasiswa/i. Bila belum genap satu bulan sudah habis terpakai uang bulanan maka ponsel akan dijual untuk biaya hidup. Walau uang bulanan mahasiswa/icukup untuk hidup satu bulan, kadang uang kiriman mahasiswa telat datangnya atau molor beberapa hari, dapat juga beberapa minggu.
Tidak selamanya mahasiswa/i yg memiliki ponsel mengharapkan status sosial atau harap diterima di kelompok pertemanannya. Ponsel dapat juga jadi alat untuk pengamanan biaya hidup mahasiswa/i selama satu bulan atau bulan berikutnya hingga kiriman datang. Jadi untuk mahasiswa/i, hal ini dapat dijadikan salah satu pertimbangan sebagai cara untuk dapat bertahan hidup di tanah rantau.


Itu Dulu, Pas Lagi Kuliah.


Itu Dulu, Pas Lagi Kuliah.


Itu Dulu, Pas Lagi Kuliah.


Image source: koleksi penulis



Komen agan merupakan kebahagian tersendiri

Apalagi dibagi & dibantu, itu merupakan kebahagian tiada tara​


Hari ini 19:30
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.