Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Islamofobia perdana kali diciptakan pada 1901 di Prancis & jadi tantangan terbesar zaman ke-21. Seorang sejarawan Amerika, Samuel P Huntington menulis sebuah artikel, berisi teori Clash of Civilizations" yg mendorong kelompok militan Alqaeda mendeklarasikan jihad (Perang) melawan barat, khususnya Amerika.
Dalam teorinya, Huntington berpendapat bahwa "Islam secara inheren anti-Barat & peradaban Islam adalah ancaman bagi peradaban Barat." Peradaban Barat menurut Huntington terdiri dari demokrasi, kebebasan, norma, nilai, & hak asasi manusia, yg dibedakan dari peradaban Islam yg tidak demokratis, tidak beradab & tidak peduli dengan hak asasi manusia, norma & nilai. Teorinya ini dianggap menentukan dasar-dasar Islamofobia, & efeknya disebarkan ke publik melalui media.
Kedua, perang Amerika Serikat melawan terorisme pada 9/11 menciptakan kondisi semakin buruk. Pasca 9/11, dunia melihat perubahan radikal, & Amerika Serikat menyatakan perang melawan organisasi radikal Islam. Amerika Serikat menyerang Afghanistan & Irak bersama dengan sekutunya & memberi kesan kuat bahwa pelakunya adalah Muslim, & menciptakan teroris erat dengan citra Islam, tulis Jawad Liaquat dalam artikellnya di Naya Daur TV, Jumat (26/2).
Akibatnya, masyarakat Barat mulai membangun narasi bahwa Muslim persis seperti yg digambarkan Huntington, yaitu bahwa mereka tidak beradab & tidak demokratis & bahwa mereka tidak peduli dengan hak asasi manusia, norma atau nilai. Sebagai akibat langsung dari ini, kebencian, prasangka & kekerasan kepada Muslim berkembang pesat & perang melawan teror dirasionalkan dengan argumen bahwa semua Muslim, & Islam secara keseluruhan, layak untuk diperangi. Banyak peneliti Amerika mengakui bahwa narasi yg menyebabkan lonjakan sentimen Islamofobia benar-benar dipromosikan setelah 9/11.
Ketiga, evolusi Eropa Barat & Amerika Utara berkontribusi kepada Islamofobia. Perkembangan ekonomi menjadikan negara-negara di kawasan ini model kemakmuran & pemenang demokrasi. Ini diikuti dengan peningkatan globalisasi, penemuan media komunikasi yg efektif & media jadi yg terdepan.
Masyarakat Muslim mulai berpikir bahwa Barat memiliki masa depan yg lebih baik, kehidupan ekonomi yg sehat, & keamanan yg terjamin. Akibatnya, migrasi Muslim menuju "Barat" dimulai. Namun, migrasi memiliki beberapa akibat yg serius.
Untuk perdana kalinya, masyarakat Barat mendapat kesempatan untuk menyaksikan budaya Muslim. Sementara pertukaran budaya ini membuka jalan pemahaman baru, perkembangan budaya Muslim di barat juga menyebabkan banyak segmen di barat & masyarakat Muslim menyadari bahwa mereka tidak dapat mendamaikan norma budaya mereka yg berbeda. Akibatnya, budaya Muslim diejek & dianggap sebagai ancaman bagi budaya barat.
Induk dari semua penyebab adalah peran media barat dalam mempromosikan Islamofobia. Sudah bukan rahasia lagi bahwa media Barat menunjukkan bias kepada Muslim, & cenderung secara tidak seksama melaporkan semua "serangan teroris" yg dilakukan secara eksklusif oleh "Muslim". Banyak universitas, peneliti & cendekiawan internasional sudah membuktikan bias ini & bias ini jelas mendorong Islamofobia, jelas Liaquat.
Solusi dari persoalan ini, mengatakan dia, mendidik masyarakat Barat tentang multikulturalisme, supaya mereka memahami bahwa Muslim memiliki budaya yg berbeda namun tidak berarti anti-barat. Umat Islam juga perlu dididik bahwa masyarakat Barat memiliki budaya yg berbeda, namun dapat dimaklumi & diterima tanpa perlu kekerasan atau hinaan.
Selain itu, negara-negara Muslim perlu menderadikalisasi masa mudanya. Mereka harus mendakwahkan nilai-nilai Islam sejati tentang perdamaian, sayang & harmoni kepada pemuda. Pemberitaan versi Islam yg benar dapat mencegah Islamofobia, sarannya.
Islamofobia adalah tantangan paling penting tidak cuma bagi negara Muslim tetapi juga bagi negara Barat. Kondisi ini bukan kebetulan, melainkan disengaja & disengaja oleh oknum-oknum tertentu yg tidak harap melihat perdamaian di dunia, mengatakan dia.
Sumber: nayadaur.tv
2021 Republika.Co.Id - All Rights Reserved.
Republika Online
Republika Online - berita terkini, berita hari ini, membahas isu politik, Dunia Islam dan peristiwa terhangat indonesia
Abaikan sahaja
Hari ini 11:26