• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

IPA VS IPS & Bahasa

pinnacullata

IndoForum Activist C
No. Urut
24506
Sejak
24 Okt 2007
Pesan
13.034
Nilai reaksi
224
Poin
63
> EQ = emotional intelligence
>
> SQ = Spiritual intelligence
>
> Saya ingat waktu di SMA dulu, kami (murid) harus menjalani
> test IQ untuk
> penjurusan. Sekolah saya menetapkan bahwa murid2 dengan IQ
> tinggi bisa
> masuk ke jurusan IPA/Science. Murid dengan IQ sedang hanya
> bisa masuk
> jurusan Sosial dan yang paling rendah IQnya hanya diijinkan
> untuk masuk
> ke jurusan Bahasa.
>
> Aturan di sekolah saya ternyata berlawanan dengan aturan
> dari SMA swasta
> terkenal di Yogyakarta yang mengarahkan anak-anak yang ber
> IQ paling
> tinggi justru ke jurusan Bahasa.
>
> Sewaktu saya diskusi dengan Romo Mangun Wijaya (Alm)
> tentang kurikulum
> sekolah, Beliau mengatakan bahwa pen didikan di Indonesia
> masih mewarisi
> "budaya" kolonial Belanda.
>
> Menurut beliau, seharusnya anak-anak yang kecerdasannya
> tinggi
> seharusnya diarahkan untuk masuk jurusan Sosial supaya di
> masa mendatang
> akan lahir ekonom, hakim, jaksa, pengacara, polisi,
> diplomat, duta
> besar, politisi dsb yang hebat2. Tetapi rupanya hal itu
> tidak
> dikehendaki oleh penguasa (Belanda). Belanda menginginkan
> anak-anak yang
> cerdas tidak memikirkan masalah2 sosial politik. Mereka
> cukup diarahkan
> untuk menjadi tenaga ahli/scientist, arsitektur, ahli
> computer, ahli
> matematika, dokter, dsb yang asyik dengan science di
> laboratorium
> (pokoknya yang nggak membahayakan posisi penguasa). Saya
> nggak tahu
> persis yang benar Romo Mangun Wijaya atau pemerintah
> Belanda. Hanya saja
> waktu itu saya yang kuliah ambil jurusan Kurikulum jadi
> patah semangat
> karena kayaknya kurikulum di Indonesia ini hampir tidak ada
> hubungannya
> dengan kehidupan yang akan dijalani orang setelah keluar
> dari sekolah.
>
> Kita bisa lihat, Insinyur yang menjadi politisi bahkan
> memimpin
> parlemen,kemudian dokter (umum) bisa menjadi kepala Dinas P
> & K atau
> tenaga marketing, sarjana theologia yang jadi pengusaha,
> dsb. Sampai
>
> saat ini,masih banyak orang tua dan masyarakat yang
> beranggapan bahwa
> anak yang hebat adalah anak yang nilai matematika dan
> science-nya
> menonjol.
>
> Paradigma berpikir orang tua/masyarakat ini sangat
> mempengaruhi konsep
> anak tentang kesuksesan. Bulan Juni 2003 yang lalu, lembaga
> tempat saya
> bekerja mengadakan seminar anak-anak.
>
> Di depan 800-an anak, Kak Seto Mulyadi (Si Komo)
> menunjukkan 5 Rudy.
>
> - Yang Ke-1 : Rudy Habibie (BJ Habibie) yang genius, pintar
> bikin
> pesawat dan bisa menjadi presiden.
>
> - Yang Ke-2 : Rudy Hartono yang pernah beberapa menjadi
> juara bulu
> tangkis kelas dunia.
>
> - Yang Ke-3 : Rudy Salam yang suka main sinetron di TV
>
> - Yang Ke-4 : Rudy Hadisuwarno yang ahli di bid. kecantikan
> dan punya
> byk salon kecantikan di bbrp kota .
>
> - Yang Ke-5 : Rudy Choirudin yang jangok masak dan sering
> tampil memandu
> acara memasak di TV.
>
> Sewaktu Kak Seto bertanya,
>
> "Rudy yang mana yang paling sukses menurut
> kalian?"
>
> Hampir semua anak menjawab "Rudy Habibie"
>
> Sewaktu ditanyakan "Mengapa, kalian bilang bahwa yang
> paling sukses Rudy
> Habibie?"
>
> Anak-anakpun menjawab "Karena bisa membuat pesawat
> terbang, bisa menjadi
> presiden, dsb"
>
> Sewaktu Kak Seto menanyakan "Rudy yang mana yang
> paling tidak sukses?"
>
> Hampir seluruh anak menjawab "Rudy Choirudin"
>
> Ketika ditanyakan "Mengapa kalian mengatakan bahwa
> Rudy Choirudin bukan
> orang yang sukses?"
>
> Anak-anakpun menjawab "Karena Rudy Choirudin hanya
> bisa memasak"
>
> Memang begitulah pola pikir dan pola asuh dalam keluarga
> dan masyarakat
> Indonesia pada umumnya yang masih menilai kesuksesan orang
> dari
> karya-karya besar yang dihasilkannya. Masyarakat kita
> banyak yang belum
> bisa melihat kesuksesan adalah pengembangan talenta secara
> optimal
> sehingga bisa dimanfaatkan dalam kehidupan yang dijalaninya
> dengan
> "enjoy".
>
> Banyak masyarakat kita yang beranggapan bahwa IQ adalah
> segala-galanya.
> Padahal kenyataannya EQ, SQ dan faktor2 lain juga sangat
> menentukan.
> Dalam seminar tsb Kak Seto hanya ingin merubah paragidma
> berpikir
> anak-anak (dan juga orang tua/keluarga) . Anak-anak dan
> orang tua harus
> menyadari dan mensyukuri setiap talenta yang diberikan oleh
> Tuhan.
>
> Bila talenta tersebut dikembangkan dengan baik, maka kita
> bisa mencapai
> kesuksesan di "bidangnya". Jadi untuk anak-anak
> yang tidak pintar
> matematika, anak2 tidak perlu minder dan orang tua tidak
> perlu malu atau
> menekan anak. Anak-anak yang lebih menyukai pelajaran
> menggambar
> daripada pelajaran2 lain, bukanlah anak-anak yang bodoh
> karena justru
> anak2 yang punya imajinasi tinggilah yang pintar
> menggambar/ melukis.
>
> Anak-anak yang suka ngobrol, kalau kita arahkan bisa saja
> kelak menjadi
> politisi atau negotiator yang baik.
>
> Anak-anak yang banyak bicara, kalau diarahkan untuk
> menuliskan apa yang
> ingin dibicarakan bisa2 menjadi penulis yang hebat. ***
> Mbak Dwi Setyani
> juga mengingatkan kita untuk lebih memfokuskan pada
> kekuatan kita dari
> pada "wasting time" bersungut-sungut, hanya
> memikirkan kelemahan kita.
>
> Saya pernah membaca pengalaman hidup seorang penyanyi di
> Amerika.
> Penyanyi tsb dulunya tidak PD karena wajahnya tidak terlalu
> cantik dan
> giginya tonggos. Saat menyanyi di pub, dia repot mengatur
> bibirnya
> supaya giginya yang tonggos tidak dilihat orang. Hasilnya:
> ia hanya bisa
> menghasilkan suara yang pas-pasan. Ketika temannya
> meyakinkan bahwa
> giginya yang tonggos itu bukanlah masalah, maka iapun bisa
> menyanyi
> dengan bebas dan meng-eksplore suara emasnya. Ternyata
> orang-orang
> mengingat penyanyi itu karena kualitas suaranya, bukan
> parasnya yang
> jelek dengan gigi tonggosnya.
>
> *** Kitapun meyakini bahwa Tuhan menciptakan setiap kita
> (manusia)dengan
> maksud yang terbaik demi kemuliaan-Nya. Kalau saja kita
> meyakini hal
> tersebut, maka semua orang akan mensyukuri keadaan dan
> memanfaatkan
> talenta yang Tuhan berikan untuk kemuliaan-Nya.
>
 
setuju bgt... gk semua org IPS + bahasa itu kualitas nay ecek2 :D
 
/no1
asli....
biar anak2 IPS tuh dianggap di bawahnya anak2 IPA....
jangan di remehkan bro.../no1
 
Dan tidak semua anak IPA se Dahsyat yang dikatakan orang

[NB : Saya IPA loh]

/heh
 
wah..
saiia kelas 1 sma
bentar lagi penjurusan bakat saiia di Matematika dan fisika..
tetapi nilai ipsnya juga menabjubkan..
masuk mana yah jadinya??
 
@atas

Ikutin apa yang lebih lu suka ajah /heh..

Gw masih bingung nih liat artikel diatas..

Gw orangnya malez, makanya IPS nya banyak yang jelek..

IPAnya bisa di bilang di atas rata2 XP

Tapi, malez jadi dokter, ahli matematika, dll gitu..

Bener juga, pemikiran yang hebat dari romo itu /no1
 
Gw anak Bahasa
emang waktu penjurusan dulu banget
gw emang niat di bahasa...
 
Gw anak IPA.... karna pas kelas satu SMA dulu udah juara satu. Otomatis masuk IPA - Fisika.... minta dispensasi nyebrang ke Biologi pun tak diizinkan. Pokoknya, yang kualitas terbaik (menurut mereka) harus masuk Fisika....

Kenyataan berkata lain. Lulus SMA, saya justru kuliah di Akuntansi. Dan yang lebih parah lagi, prestasi yang lebih menonjol justru di Musik, Bahasa (suka nulis), melukis (cat air atau cat minyak) dan seakrang malah ke computer. Fisikanya? kayanya seperti buang buang waktu saja 2 tahun belajr fisika sampe berdarah darah.

Saya lebih setuju pemilihan jurusan ditentukan dari minat, bakat dan prestasi di bidang yang ada. Namun, kembali ke paradigma orang tua. Kalau ada anaknay yang sejak sma sudah bercita-cita jadi sastrawan.... mau makan apa nanti kamu kalau sudah besar?.....

Tentu saja makan nasi. Emang kalau sudah masuk Ipa atau IPS tidak makan nasi lagi?

Ada yang dikatakan sebagai bakat. Yang tidak bisa dipelajari, hanya bisa diasah dan unik, serta tidak bisa dipaksakan. Misalnya, berkesenian. Pemusik, penulis, pelukis, penari....

Kalau tidak mempunyai bakat dan minat ke sana. Mau dipaksa bagaimanapun tidak akan bisa maksimal. Daya kreasi susah didapat dalam pakem Fisika. Yang justru mempunyai kreasi paling banyak, walau hanya dalam hal imajinasi justru di dalam seni, sastra, dll.... jadi, dengan pemikiran seperti itu, setuju sekali dengan uraian TS, bahwa anak yang IQ tinggi justru cocoknya ke dalam Bahasa. karena diperlukan letupan letupan krativitas yang tak henti-henti untuk terus menulis lagu, menulis buku, melukis dsb.

Namun, IQ setinggi menara eiffel pun tak ada gunanya, jika si anak sendiri tidak mempunyai bakat seni.
 
ssttt..sssttt....

sini aq bisikin....

nanti kalo di dunia kerja, org IPA tuh di gaji sama org IPS. Dgn kt lain org IPS tuh bos nya org IPA... :))

Just kidding... :))
 
^ tul wakakakak,

Anak ips akan bekerja dalam manajemen
dengan kata lain yang mengatur anak IPA jadinya
wakakakakak
 
^
Jarang2x ada owner seorg insinyur.... :D

Kalo ada jg, itu berupa bisnis keluarga / turun temurun... :D
 
jangan remehkan anak IPS (walaupun gw mau masuknya IPA)...
Yah, gw masuk IPA juga karena gw bingung berat harus ngafalin segitu banyak bahan...
 
^
Jarang2x ada owner seorg insinyur.... :D

Kalo ada jg, itu berupa bisnis keluarga / turun temurun... :D

Kalo maslaah jarang sih relatif. Anak IPS pada kenyataannya juga jarang ada yang berhasil. Kebanyakan santainya.... Akhirnya insinyur insinyur juga yang banting stir jadi manager..... Soekarno yang berhasil memproklamirkan negri ini insinyur loh..... jadi?... wekekeke.... pikir sendiri.

jangan remehkan anak IPS (walaupun gw mau masuknya IPA)...
Yah, gw masuk IPA juga karena gw bingung berat harus ngafalin segitu banyak bahan...

Yah, setuju. Mau IPS atau IPA atau Bahasa.... yang penting harus dijalani dan ditekuni dengan sungguh sungguh. Dan tentu saja kerja yang keras... tanpa itu semua, punya IQ kaya Einsten atau Habibie juga kaga ade gunanye,..... paling jadi semacam orang gila... karna hidup dalam kepintaran dan nalar otak yang diluar nalar otak orang lain. Akhirnya.... yah itu, malah dikucilkan dan gak gaul jadinya.....

Susah nyari yang kaya saya, IQ tinggi, pinter, kreatif dan.... wakakakakakaka narcis.... =))
 
Gw rasa sih nga ada keharusan orang ber IQ tinggi untuk masuk jurusan manapun, karena kalau IQ tinggi di jurusan apapun pasti bisa sukses kan...
 
pada akhir nya

yg seharus nya menentukan IPA , IPS ato BHS itu harus nya murid sndiri

karena mreka tau sukanya apa

gw masuk IPA bukan karna tuntutan ortu ,,, ataupun kualitas pas masa depan

tapi emang otak gw yg bego klu pelajaran IPS ,, dari SD dah keliatan


=))=))
 
well,skrg jurusan g menentukan...
tergantung pribadi itu sendiri....
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.