Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
--------- Art of coffee making ---------
Sembari menyeduh kopi, ditemani dengan pemandangan indah pantai canggu. Terbesit dipikiran saya, bahwa seni menciptakan kopi & menganalisa saham mempunyai beberapa kesamaan:
1. Theres no "holy grail" indicator
Tidak ada 1 cara/takaran yg spesifik, untuk menciptakan kopi yg dapat dinikmati. mulai dari grindsize, ratios, brew time, flowrate, pouring method, etc. Terlalu banyak komponen yg harus anda perhatikan & mengacu pada 1 takaran tidak akan menciptakan kopi yg wow. Sama halnya dengan menganalisa saham, ada yg suka analisa dari asetnya, income, maupun cashflow. didukung rasio" dari yg mudah seperti p/e, pb, der, roe hingga rasio yg panjang", yg menciptakan anda seperti orang paling keren saat mengeja singkatan tersebut. Bagaimana menciptakan kopi yg enak? buatlah 100 kopi, rasakan disparitas kopi perdana anda & ke 100 saya yakin bedanya jauh. Pengalaman lah yg akan menciptakan anda menyeduh lebih baik, mempertimbangkan seluruh aspek & menciptakan racikan yg pas untuk tiap seduhan daripada cuma berpatok dengan angka saja.
2. Either you will like it or you wont
Ada yg suka latte, namun tidak suka espresso. Ada yg suka V60, namun tidak suka french press. Bahkan ada yg tidak suka kopi sama sekali. Hal yg sama dengan menganalisa saham, ada yg suka sektor banking/konsumer/tech & ada yg tidak. Yang satu $ARTO , satunya $GGRM. Intinya setiap orang mempunyai preferensi kepada pemilihan sahamnya, salah? tentu tidak. Hal yg salah ketika anda menyalahkan atau membanding"kan opsi anda dengan orang lain, seolah-olah anda paling benar & orang lain salah cuma karena anda kelihatan lebih cuan (cuan 100% dengan modal 1jt, makanya cuma perlu 5% dengan modal 20jt). Jika anda merasa seperti itu maka saya sarankan untuk konsul ke saya/psikiater untuk memperbaikinya
.
3. At the end, its all about the taste.
Mau anda buat kopi seperti apa & bagaimana, tujuan nya ialah untuk menikmatinya. Sama hal nya dengan analisa saham, tujuan anda adalah berinvestasi, mengambangkan asset anda. Bukan untuk adu pintar, adu cuan, ato panjang"an model excel sama teman anda. Anda bukan analis/auditor yg digaji tinggi untuk mengetahui hal tersebut secara dalam, orang" berusaha jadi analis, namun mereka tidak digaji bulanan (oops). Ketika anda nyaman mengerjakan analisa dalam, maka anda mengerjakan hal tersebut untuk memantapkan keyakinan anda untuk investasi dalam jumlah besar, bukan untuk membuktikan anda paling pintar/ layak digaji bulanan. Saya melihat banyak investor pemula (seperti saya) yg membangga"kan dapat buat model dcf, tau rasio aneh", namun tidak paham line bisnisnya, siapa pemegang saham mayoritas & ketika sahamnya dibanting ARB, dia cutloss & melupakan model excel yg sudah dia buat 3 malam (ooppss) hal yg terlalu complicated ini dianggap penting, melupakan fondasi/dasar dalam menganalisa suatu perusahaan (pathetic, but hey it happens right now)
Oke, selesai. Saya mau lanjut seruput kopi saya yg mulai dharap. Have a wonderful weekend peeps
Hari ini 11:09
Sembari menyeduh kopi, ditemani dengan pemandangan indah pantai canggu. Terbesit dipikiran saya, bahwa seni menciptakan kopi & menganalisa saham mempunyai beberapa kesamaan:
1. Theres no "holy grail" indicator
Tidak ada 1 cara/takaran yg spesifik, untuk menciptakan kopi yg dapat dinikmati. mulai dari grindsize, ratios, brew time, flowrate, pouring method, etc. Terlalu banyak komponen yg harus anda perhatikan & mengacu pada 1 takaran tidak akan menciptakan kopi yg wow. Sama halnya dengan menganalisa saham, ada yg suka analisa dari asetnya, income, maupun cashflow. didukung rasio" dari yg mudah seperti p/e, pb, der, roe hingga rasio yg panjang", yg menciptakan anda seperti orang paling keren saat mengeja singkatan tersebut. Bagaimana menciptakan kopi yg enak? buatlah 100 kopi, rasakan disparitas kopi perdana anda & ke 100 saya yakin bedanya jauh. Pengalaman lah yg akan menciptakan anda menyeduh lebih baik, mempertimbangkan seluruh aspek & menciptakan racikan yg pas untuk tiap seduhan daripada cuma berpatok dengan angka saja.
2. Either you will like it or you wont
Ada yg suka latte, namun tidak suka espresso. Ada yg suka V60, namun tidak suka french press. Bahkan ada yg tidak suka kopi sama sekali. Hal yg sama dengan menganalisa saham, ada yg suka sektor banking/konsumer/tech & ada yg tidak. Yang satu $ARTO , satunya $GGRM. Intinya setiap orang mempunyai preferensi kepada pemilihan sahamnya, salah? tentu tidak. Hal yg salah ketika anda menyalahkan atau membanding"kan opsi anda dengan orang lain, seolah-olah anda paling benar & orang lain salah cuma karena anda kelihatan lebih cuan (cuan 100% dengan modal 1jt, makanya cuma perlu 5% dengan modal 20jt). Jika anda merasa seperti itu maka saya sarankan untuk konsul ke saya/psikiater untuk memperbaikinya
3. At the end, its all about the taste.
Mau anda buat kopi seperti apa & bagaimana, tujuan nya ialah untuk menikmatinya. Sama hal nya dengan analisa saham, tujuan anda adalah berinvestasi, mengambangkan asset anda. Bukan untuk adu pintar, adu cuan, ato panjang"an model excel sama teman anda. Anda bukan analis/auditor yg digaji tinggi untuk mengetahui hal tersebut secara dalam, orang" berusaha jadi analis, namun mereka tidak digaji bulanan (oops). Ketika anda nyaman mengerjakan analisa dalam, maka anda mengerjakan hal tersebut untuk memantapkan keyakinan anda untuk investasi dalam jumlah besar, bukan untuk membuktikan anda paling pintar/ layak digaji bulanan. Saya melihat banyak investor pemula (seperti saya) yg membangga"kan dapat buat model dcf, tau rasio aneh", namun tidak paham line bisnisnya, siapa pemegang saham mayoritas & ketika sahamnya dibanting ARB, dia cutloss & melupakan model excel yg sudah dia buat 3 malam (ooppss) hal yg terlalu complicated ini dianggap penting, melupakan fondasi/dasar dalam menganalisa suatu perusahaan (pathetic, but hey it happens right now)
Oke, selesai. Saya mau lanjut seruput kopi saya yg mulai dharap. Have a wonderful weekend peeps
Hari ini 11:09