• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Intisari Agama Hindu

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. goesdun
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

goesdun

IndoForum Junior A
No. Urut
32661
Sejak
7 Feb 2008
Pesan
3.024
Nilai reaksi
66
Poin
48
Intisari Agama Hindu

Agama Hindu ditandai dengan sifat rasional yang sangat kuat. Melalui jalan berliku dari harapan samar dan renunsiasi praktis, dogma-dogma ketat dan petualangan jiwa yang tidak mengenal takut, melalui empat atau lima melinium upaya-upaya tanpa henti dalam bidang menthapisik dan teologi para Maharesi Hindu telah mencoba untuk menangkap masalah-masalah terakhir dalam suatu kesetiaan kepada kebenaran dan perasaan atas kenyataan.

Reg Weda memberitahu kita mengenai Tuhan, Satu Hakekat Kenyataan Terakhir, Ekam Sat, mengenai Dia para terpelajar menyebutnya dengan berbagai nama.
Upanisad-Upanisad juga mengatakan bahwa Tuhan yang satu itu disebut dengan berbagai nama sesuai dengan tingkat kenyataan dimana Dia dilihat berfungsi.

Konsepsi mengenai Tri Murti muncul dari periode epik, dan dimantapkan dalam zaman Purana-Purana.

Analogi dari kesadaran manusia, dengan tiga lapis kegiatan, yaitu mengetahui (cognition), merasa (emotion), dan kehendak (will), menyarankan pandangan mengenai Tuhan sebagai Sat, Cit dan Ananta Kenyataan (reality), kebijaksanaan (wisdom) dan kebahagian (joy).

Triguna yaitu :
  • Sattwa atau ketenangan, lahir dan kebijaksanaan,
  • Rajas atau energi lahir dari rasa yang penuh semangat, dan
  • Tamas, kelambanan, lahir sebagai akibatnya kurangnya kendali dan pencerahan, adalah merupakan unsur-unsur dari semua eksistensi.
Tiga fungsi dari utpeti (shristi) atau penciptaan stiti atau pemeliharaan dan pamralaya (pralina) atau penghancuran (peleburan) juga berasal dari Tri Guna ini.
  • Wisnu Sang Pemelihara alam semesta adalah Jiwa Tertinggi yang didominasi oleh sifat sattwa,
  • Brahman Sang Pencipta alam semesta adalah Jiwa Tertinggi yang didominasi oleh sifat rajas dan
  • Siwa Sang Pemrelina alam semesta adalah Jiwa Tertinggi yang didominasi oleh sifat tamas.
Tiga Sifat dari Tuhan Yang Tunggal dikembangkan menjadi tiga pribadi yang berbeda. Dan masing-masing pribadi itu dianggap berfungsi melalui sakti atau energinya masing-masing: Uma, Saraswati dan Laksmi.

Secara harfiah ketiga sifa-sifat dan fungsi-fungsi ini seimbang di dalam Tuhan Yang Tunggal sehingga Dia dikatakan tidak memiliki sifat-sifat sama sekali.

Satu Tuhan yang tidak dapat dipahami yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan ada di mana-mana, tempat berbeda bagi pikiran yang berbeda dalam cara yang berbeda.

Satu teks kuno mengatakan bahwa bentuk diberikan kepada yang tak berbentuk bagi kepentingan manusia.

Dengan keterbukaan pikiran yang merupakan sifat dan filsafat, orang Hindu percaya akan relativitas dari keyakinan mayarakat umum yang memeluk keyakinan itu.

Agama dipergunakan oleh umat Hindu dalam hidup berketuhanan Yang Maha Esa berasal dari bahasa Sanskerta dari akar kata "gam" yang artinya "pergi" atau "perjalanan".

"gam" mendapat prefix "a" yang berarti "tidak" dan tambahan "a" di belakang yang berarti "sesuatu" atau dapat berfungsi sebagai suffix dalam bahasa Sanskerta guna mengubah kata kerja menjadi kata sifat.

Dengan demikian kata agama diartikan "sesuatu yang tidak pergi", tidak berubah atau tetap, langgeng (abadi).

Yang tidak pernah berubah- ubah atau kekal abadi itu hanyalah Brahman beserta ajarannya.

Sistem agama dan falsafah Hindu mengakui evolusi dan involusi dunia secara periodik yang mempresentasikan detak jantung universal, yang selalu diam dan selalu aktif.

Seluruh dunia merupakan pengejawantahan dari Tuhan, bahwa segala sesuatu adalah wahana atau kendaraan dari manifestasi Jiwa Yang Tertinggi (Tuhan).

Mahluk dibedakan dalam beberapa tingkatan. "Di antara mahluk, yang bernafas yang tertinggi; di antara ini, mereka yang telah mengembangkan pikirannya; di antara ini, mereka yang telah mempergunakan pengetahuannya; sementara yang tertinggi adalah mereka yang dikuasai oleh perasaan mengenai kesatuan dari semua kehidupan dalam Tuhan. Jiwa yang satu mengungkapkan dirinya melalui tingkatan yang berbeda."

Yang tak terbatas dalam diri manusia tidak dapat dipuaskan oleh bentuk dunia terbatas yang fana.

Kebebasan adalah harta milik kita, bila kita lari dari apa yang sementara dan terbatas dalam diri kita. Makin banyak hidup kita memanifestasikan yang tak terbatas dalam diri kita, makin tinggi kita berada dalam tingkatan hidup.

Manifestasi yang paling tinggi disebut Awatara atau inkarnasi dari Tuhan.
Ini bukanlah suatu yang tidak biasa, satu mukjijat Tuhan, tetapi hanya manifestasi yang lebih tinggi dari prinsip tertinggi, berbeda dari yang umum yang lebih rendah dalam derajat saja.

Bagawad Gita mengatakan bahwa sekalipun Tuhan ada dan bergerak dalam segalanya, Dia memanifestasikan dirinya dalam derajat khusus dalam hal-hal yang indah.

Para Maharesi dan para Buddha, para Nabi dan Mesiah, merupakan pengungkapan terdalam dari jiwa universal.

Bagawad Gita menjanjikan bahwa mereka akan muncul bilamana mereka diperlukan.
Bila kecenderungan meteralis yang merendahkan atau mendominasi kehidupan, seorang Rama atau Krishna atau seorang Buddha akan datang kedunia untuk memperbaiki harmoni kebenaran.

Dalam manusia yang telah memutuskan kekuasaan indria, membuka hati yang penuh kasih, dan memberikan kita inpirasi akan kasih, kebenaran dan keadilan, kita memiliki konsentrasi yang kuat mengenai Tuhan.
Mereka mengungkapkan kepada kita jalan, kebenaran dan hidup.
Mereka tentu saja melarang penyembahan buta terhadap diri mereka, karena ini akan menurunkan pengejawantahan dari Jiwa yang Agung.

Rama mengungkapkan dirinya tidak lebih dari anak seorang manusia.
Seorang Hindu yang mengetahui sesuatu mengenai keyakinannya siap untuk memberikan rasa hormat kepada setiap penolong kemanusiaan.

Dan percaya bahwa Tuhan berinkarnasi dalam seorang manusia (Awatara).
Manifestasi suci bukanlah pelanggaran terhadap kepribadian manusia sebaliknya, ia merupakan drajat kemungkinan tertinggi dari pengejawantahan-diri manusia yang alamiah sebab hakikat sebenarnya dari manusia adalah suci.

Tujuan dari hidup adalah pengungkapan secara perlahan dari yang abadi dalam diri kita, dari eksistensi kemanusiaan kita. Kemajuan umum diatur oleh karma atau hukum sebab akibat moral.

Agama Hindu tidak percaya akan satu Tuhan yang dari kursi-pengadilannya menimbang tiap kasus secara terpisah dan menetapkan balasannya.
Dia tidak melalukan keadilan dari luar, menambah atau mengurangi hukuman berdasarkan kehendakNya sediri.
Tuhan ada "dalam" manusia, dan demikian juga hukum karma adalah merupakan bagian organik dari kakekat manusia.
Setiap saat ada pada pengadilannya sendiri, dalam setiap usaha yang jujur akan memberikan dia kebaikan dalam upaya internalnya. Karakter yang kita bangun akan berlanjut ke masa depan sampai kita menyadari kesatuan kita dengan Tuhan. Anak-anak Tuhan, yang dalam pandangannya satu tahun adalah seperti satu hari, tidaklah merasa perlu kecil hati bila tujuan kesempurnaan itu tidak tercapai dalam suatu kehidupan.
Kelahiran kembali diterima oleh semua penganut Hindu.


Keyakinan dalam Hindu
Agama Hindu adalah agama yang monoteisme, yaitu Tuhan tunggal tidak ada duanya, disebut Brahman atau Shang Hyang Widhi Wasa, juga dapat disebut sebagai Dewata Nawa Sangga.

Brahman hanya ada satu, tidak ada duanya, namun orang-orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama sesuai dengan sifatnya yang maha kuasa. Dalam keesaannya dan tidak berwujud dipanggil OMKARA.

OMKARA adalah sebutan Tuhan dalam ke Esaannya dan tidak berwujud. Kemudian dalam penulisan menggunakan aksara suci Omkara yaitu dibaca OM.

Dalam prakteknya umat Hindu sebagai masyarakat social religius, menjalankannya dengan konsep Monoteisme dan Panteisme.

Monoteisme dalam agama Hindu dikenal sebagai filsafat Advaita Vedanta yang berarti “tak ada duanya” (a + dvaita) dipanggil OMKARA.

Selayaknya konsep ketuhanan dalam agama monoteistik lainnya, Advaita Vedānta menganggap bahwa Tuhan merupakan pusat segala kehidupan di alam semesta, dan dalam agama Hindu, Tuhan dikenal dengan sebutan Brahman.

Brahman merupakan sesuatu yang tidak berawal namun juga tidak berakhir.
Brahman merupakan pencipta sekaligus pelebur alam semesta.
Brahman berada di mana-mana dan mengisi seluruh alam semesta.
Brahman merupakan asal mula dari segala sesuatu yang ada di dunia.
Segala sesuatu yang ada di alam semesta tunduk kepada Brahman tanpa kecuali.

Dewa adalah manifestasi Brahman dan filsafat Advaita Vedānta menganggap tidak ada yang setara dengan Brahman, Sang pencipta alam semesta.

Dalam keyakinan umat Hindu, Brahman hanya ada satu, tidak ada duanya, namun orang-orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama sesuai dengan sifatnya/manifestasi yang maha kuasa.

Nama-nama kebesaran Tuhan kemudian diwujudkan ke dalam beragam bentuk Dewa-Dewi, seperti misalnya: Wisnu, Brahmā, Çiwa, Lakshmi, Parwati, Saraswati, dan lain-lain.

Panteisme dalam salah satu Kitab Hindu yakni Upanishad, konsep yang ditekankan adalah Panteisme. Konsep tersebut menyatakan bahwa Tuhan tidak memiliki wujud tertentu maupun tempat tinggal tertentu, melainkan Tuhan berada dan menyatu pada setiap ciptaannya, dan terdapat dalam setiap benda apapun, ibarat garam pada air laut.

Dalam agama Hindu, konsep panteisme disebut dengan istilah “Wyapi Wyapaka”. Upanishad mengatakan bahwa Tuhan memenuhi alam semesta tanpa wujud tertentu, beliau tidak berada di surga ataupun di dunia tertinggi namun berada pada setiap ciptaannya.

Menurut Prof Sarvelli Radhakrishnan, filsuf dan mantan presiden India, monotheisme hanya cocok bagi jiwa yang masih kanak-kanak.

Weda tidak mengajarkan apartheid agama, pemisahan orang beriman dengan orang kafir, apalagi memerintahkan pengikutnya membunuh atau menaklukan orang kafir dan membayar pajak perlindungan kecuali si kafir masuknya.

Einstein, yang juga Yahudi, hanya menerima paham ketuhanan Spinoza.
Spinoza dianggap sebagai salah seorang filsuf Barat modern yang terbesar.
Filsafatnya tentang Tuhan hampir mirip dengan dengan pandangan Hindu, yang disebut Pantheisme (pan = segalanya; theis = Tuhan).

Ia memahami Tuhan mengejawantah di dalam hukum-hukum alam, yang di dalam Hindu disebut Rta yang mengatur alam dan karma yang mengatur perbuatan manusia.

Mengenai ini ada ungkapan Einstein yang terkenal “Tuhan tidak main dadu” Artinya Tuhan tidak sewenang-wenang, semaunya sendiri, apalagi bila Tuhan sedetik ini tidak tahu apa yang dimauinya.

Apakah Einstein menganggap semua agama sama?
Ya, dalam arti negative; Karena Einstein tidak beragama, semua agama, tentunya agama yang ada di lingkungannya, yaitu agama-agama semitik, yang menyebut dirinya agama langit, tidak berguna.

Mengenai Tuhan, figur sentral atau protagonist di dalam kitab suci semua agama-agama theistic, Einstein memilih Pantheisme dan menolak Monotheisme.

Arthur Schoupenhauer (filsuf Jerman), David Hume (filsuf Inggris), Arnold J. Toynbee (sejarahawan Inggris) untuk menyebut beberapa nama, menolak monotheisme, karena Tuhan monotheisme mengajarkan keberanian dan kekerasan.
Tuhan monotheisme ini, kata mereka telah mengalirkan darah manusia jauh melebihi perang karena alasan lainnya. Masing-masing Tuhan monotheisme ini, mengajarkan kebencian, kekerasan bahkan memerintahkan perang kepada bangsa, atau masyarakat lain.


Tiga Kerangka Suci Umat Hindu yaitu :
1. Filsafat/Tattwa (Inti)
2, Ethika/Susila (Unit)
3. Rituil/Upacara/Persembahan (Reaksi)

Ketita bagian tersebut di atas menurut Agama Hindu dapat dikembangkan sebagai berikut:
1. Filsafat/Tattwa (Inti) dijabarkan melalui :
Panca Sarada
• Brahman = Percaya dengan adanya Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan
• Atma = Percaya dengan adanya Roh
• Karman = Percaya adanya Hukum Karma Phala
• Samsara=Percaya bahwa manusia lahir berulang-ulang
• Moksa=Percaya dengan adanya kebebasan abadi

2. Ethika/Susila (Unit) sesuai dengan ajaran Trikaya Parisudha.
Trikaya Parisudha:
• Manacika = Pikiran Suci
• Wakcika = Kata-kata benar
• Kayika=Perbuatan yang baik dan terpuji

3. Rituil/Upacara/Persembahan (Reaksi) dilaksanakan melalui korban suci Panca Yadnya dan Panca Maha Yadnya.

Panca Yadnya:
• Dewa Yadnya = Persembahan kepada Tuhan.
• Pitra Yadnya = Persembahan kepada para Leluhur
• Rsi Yadnya= Persembahan kepada pra Rsi dengan mengalkan ilmu pengetahuan yang diberikannya.
• Manusa Yadnya = Persembahan dilakukan kepada Roh manusia semenjak embrio sampai kematiannya.
• Bhuta Yadnya = Korban sui terhadap makhluk diluar rendahan

Panca Maha Yadnya:
1. Drewiya Yadnya = Korban suci yang dilakukan dengan menggunakan banten sajen, harta benda dan material iannya.
2. Tapa Yadnya = Korban suci dengan jalan tapa, yaitu dengan jalan tahan menderita, meneguhkan iman, menghadapi segala godaan hidup.
3. Swadyaya Yadnya = Korban suci dan kebajikan yang diamalkan dengan menggunakan diri pribadi sebagai alat atau dana pengorbanan.
4. Yoga Yadnya = Korban suci melalui pemujaan kepada Ida Sang Hayang Widhi, dengan jalan Yoga, yaitu mengatukan pikiran guna dapat menunggal Atman dengan Paramatman.
5. Jnana Yadnya = Korban suci berupa persembahan dan pemujaan untuk Ida Sang Hyang Widhi dengan mengamalkan Weda / Ilmu Pengetahuan suci (Jnana).


FILSAFAT HINDU
Dalam Agama Hindu ada lima keyakinan dan kepercayaan yang disebut dengan Panca Sradha. Panca Sradha merupakan keyakinan dasar umat Hindu. Kelima keyakinan tersebut, yakni:
1. Widhi Tattwa – percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya
2. Atma Tattwa – percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk
3. Karmaphala – percaya dengan adanya hukum sebab-akibat dalam setiap perbuatan.
4. Punarbhawa – percaya dengan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi)
5. Moksha – percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan akhir manusia

Widhi Tattwa
Widhi Tattwa merupakan konsep kepercayaan terdapat Tuhan yang Maha Esa dalam pandangan Hinduisme. Agama Hindu yang berlandaskan Dharma menekankan ajarannya kepada umatnya agar meyakini dan mengakui keberadaan Tuhan yang Maha Esa. Dalam filsafat Advaita Vedānta dan dalam kitab Veda, Tuhan diyakini hanya satu namun orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama. Dalam agama Hindu, Tuhan disebut Brahman. Filsafat tersebut juga enggan untuk mengakui bahwa Dewa-Dewi merupakan Tuhan tersendiri atau makhluk yang menyaingi derajat Tuhan.

Ātmā Tattwa
Atma tattwa merupakan kepercayaan bahwa terdapat jiwa dalam setiap makhluk hidup. Dalam ajaran Hinduisme, jiwa yang terdapat dalam makhluk hidup merupakan percikan yang berasal dari Tuhan dan disebut “Jiwatma”. Jiwatma bersifat abadi, namun karena terpengaruh oleh badan manusia yang bersifat “Maya”, maka Jiwatma tidak mengetahui asalnya yang sesungguhnya. Keadaan itu disebut “Awidya”. Hal tersebut mengakibatkan Jiwatma mengalami proses reinkarnasi berulang-ulang. Namun proses reinkarnasi tersebut dapat diakhiri apabila Jiwatma mencapai moksha.

Karmaphala
Agama Hindu mengenal “hukum sebab-akibat” yang disebut Karmaphala (karma=perbuatan; phala=buah/hasil) yang menjadi salah satu keyakinan dasar. Dalam ajaran Karmaphala, setiap perbuatan manusia pasti membuahkan hasil (baik atau buruk). Ajaran Karmaphala sangat erat kaitannya dengan keyakinan tentang reinkarnasi, karena dalam ajaran Karmaphala, keadaan manusia (baik suka maupun duka) disebabkan karena hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ia menjalani hidup maupun apa yang ia lakukan pada saat ia menjalani kehidupan sebelumnya. Dalam ajaran tersebut, bisa dikatakan manusia menentukan nasib baik/buruk yang akan ia jalani sementara Tuhan yang menentukan kapan hasilnya diberikan (baik semasa hidup maupun setelah reinkarnasi).

Punarbhawa
Punarbhawa merupakan keyakinan bahwa manusia mengalami reinkarnasi. Dalam ajaran Punarbhawa, reinkarnasi terjadi karena jiwa harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu. Apabila manusia tidak sempat menikmati hasil perbuatannya seumur hidup, maka mereka diberi kesempatan untuk menikmatinya pada kehidupan selanjutnya. Maka dari itu, munculah proses reinkarnasi yang bertujuan agar jiwa dapat menikmati hasil perbuatannya (baik atau buruk) yang belum sempat dinikmati. Proses reinkarnasi diakhiri apabila seseorang mencapai kesadaran tertinggi (moksha).

Moksha
Dalam keyakinan umat Hindu, Moksha merupakan suatu keadaan di mana jiwa merasa sangat tenang dan menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya karena tidak terikat lagi oleh berbagai macam nafsu maupun benda material. Pada saat mencapai keadaan Moksha, jiwa terlepas dari siklus reinkarnasi sehingga jiwa tidak bisa lagi menikmati suka-duka di dunia. Oleh karena iu, Moksha menjadi tujuan akhir yang ingin dicapai oleh umat Hindu.

Empat macam Moksha / kebebasan:
1. Samipya Moksa = Kebebasan yagn dicapai semasih hidup oleh para Resi sehingga mampu menerima wahyu dari Tuhan.
2. Sarupya/Sadarmmya = Kebebasan yang diperoleh semasih hidup seperti Awatara Sri Kresna, Budha Gautama.
3. Salokya / karma Mukti = Kebebasan yang dicapai oleh Atman itu sendiri telah berada dalam posisi sama dengan Tuhan tetapi belum dapat bersatu dengan Tuhan.
4. Sayujya / Purna Mukti = Kebebasan yang tertinggi dan sempurna sehingga dapat menyatu dengan Tuhan.
\
 
Om swastiastu,
bli goesdun kayaknya tau banyak tentang weda.saya punya gagasan neh. dari pengalaman saya, susah sekali nyari web yang berisikan weda dan artinya. ga kayak agama lain yang gampang mempelajari kitabnya.apa bli goesdun sudah punya web hindu sendiri?gmn klo pengetahuannya dituangkan di web.kalau ada webnya mohon di info ke saya. thx

Om Santih,Santih,Santih,Om
 
Om swastiastu,
bli goesdun kayaknya tau banyak tentang weda.saya punya gagasan neh. dari pengalaman saya, susah sekali nyari web yang berisikan weda dan artinya. ga kayak agama lain yang gampang mempelajari kitabnya.apa bli goesdun sudah punya web hindu sendiri?gmn klo pengetahuannya dituangkan di web.kalau ada webnya mohon di info ke saya. thx

Om Santih,Santih,Santih,Om

Om Swastiastu,

Maaf saya tidak banyak tahu tentang weda, dan apa yang @menuju_kebenaran sampaikan sama seperti yang saya rasakan juga.
Gagasan seperti itupun ada juga, dan sudah mencoba untuk membuatnya.
Karena tidak ditangani secara khusus tentu akan tidak maksimal juga.

Karena Weda begitu luas cakupannya, hingga kita mengenal istilah Sanatan Dharma yaitu pengetahuan weda sudah melingkupi "kebaktian/yadnya yang sebenarnya" atau "pelayanan yang nyata". Dan Kitab suci Weda mengikuti perkembangan itu sehingga banyak kitab-kitab pendukung sebagai suplement dari weda.



Ajaran agama dalam Hindu didasarkan pada kitab suci atau susastra suci keagamaan yang disusun dalam masa yang amat panjang dan berabad-abad, yang mana di dalamnya memuat nilai-nilai spiritual keagamaan berikut dengan tuntunan dalam kehidupan di jalan dharma. Di antara susastra suci tersebut, Weda merupakan yang paling tua dan lengkap, yang diikuti dengan Upanishad sebagai susastra dasar yang sangat penting dalam mempelajari filsafat Hindu. Sastra lainnya yang menjadi landasan penting dalam ajaran Hindu adalah Tantra, Agama dan Purāna serta epos: Rāmāyaa dan Mahābhārata. Bhagavad Gītā adalah ajaran yang dimuat dalam Mahābhārata, merupakan susastra yang dipelajari secara luas, yang sering disebut sebagai ringkasan dari Weda.

Hindu meliputi banyak aspek keagamaan, tradisi, tuntunan hidup, serta aliran/sektarian.
Umat Hindu meyakini akan kekuasaan Yang Maha Esa, yang disebut dengan Brahman dan memuja Brahma, Wisnu atau Siwa sebagai perwujudan Brahman dalam menjalankan fungsi sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur alam semesta.

Secara umum, pustaka suci Hindu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kitab Sruti dan kelompok kitab Smerti.

* Sruti berarti “yang didengar” atau wahyu.
Yang tergolong kitab Sruti adalah kitab-kitab yang ditulis berdasarkan wahyu Tuhan, seperti misalnya Veda, Upanishad, dan Bhagavad Gītā.
Dalam perkembangannya, Veda dan Upanishad terbagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil, seperti misalnya Rigveda dan Isa Upanishad. Kitab Veda berjumlah empat bagian sedangkan kitab Upanishad berjumlah 108.

* Smerti berarti “yang diingat” atau tradisi.
Yang tergolong kitab Smerti adalah kitab-kitab yang tidak memuat wahyu Tuhan, melainkan kitab yang ditulis berdasarkan pemikiran dan budaya manusia, seperti misalnya kitab tentang ilmu astronomi, ekonomi, politik, kepemimpinan, tata negara, hukum, sosiologi, dan sebagainya. Kitab-kitab smerti merupakan penjabaran moral yang terdapat dalam kitab Sruti.

Veda

Veda (Sansekerta: Vid, "ilmu pengetahuan") adalah sastra suci agama Hindu yang juga dikenal dengan Sanatana Dharma, yang merupakan kumpulan sastra-sastra kuno dari India kuno, yang jumlahnya sangat banyak dan luas. Weda termasuk dalam śruti (yang didengar), karena merupakan wahyu dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Weda diyakini sebagai sastra tertua dalam peradaban manusia, yang masih ada hingga saat ini.
Pada masa awal turunnya wahyu, Weda diturunkan/diajarkan dengan sistem lisan — pengajaran dari mulut ke mulut, yang mana pada masa itu tulisan belum ditemukan — dari Guru ke Siswa.
Setelah tulisan ditemukan, para Rsi menuangkan ajaran-ajaran Weda ke dalam bentuk tulisan.
Weda bersifat apaurusheya, karena berasal dari wahyu, tidak dikarang oleh manusia, dan abadi.
Maharsi Vyasa, menyusun kembali Weda dan membagi Weda menjadi empat bagian utama yaitu: Rgveda, Yajurveda, Samaveda dan Atharvaveda, pada masa awal Kali Yuga.

Veda merupakan kitab suci yang menjadi sumber segala ajaran agama Hindu.
Veda merupakan kitab suci tertua di dunia karena umurnya setua umur agama Hindu.
Veda berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu dari kata “vid” (Wid) yang berarti tahu.
Kata Veda berarti “pengetahuan”.

Para nabi yang menerima wahyu Veda jumlahnya sangat banyak, namun yang terkenal hanya tujuh saja yang disebut Sapta Maharsi atau Sapta Rsi. Ketujuh nabi tersebut yakni:
1. Rsi Grtsamada
2. Rsi Wasistha
3. Rsi Atri
4. Rsi Wiswamitra
5. Rsi Wamadewa
6. Rsi Bharadwaja
7. Rsi Kanwa

Ayat-ayat yang diturunkan oleh Tuhan kepada nabi-nabi tersebut tidak terjadi pada suatu zaman yang sama dan tidak diturunkan di wilayah yang sama.

Nabi yang menerima wahyu juga tidak hidup pada masa yang sama dan tidak berada di wilayah yang sama dengan nabi lainnya, sehingga ribuan ayat-ayat tersebut tersebar di seluruh wilayah India dari zaman ke zaman, tidak pada suatu zaman saja.

Agar ayat-ayat tersebut dapat dipelajari oleh generasi seterusnya, maka disusunlah ayat-ayat tersebut secara sistematis ke dalam sebuah buku.

Usaha penyusunan ayat-ayat tersebut dilakukan oleh Rsi Vyāsa atau Krishna Dwaipayana Wyasa dengan dibantu oleh empat muridnya, yaitu: Bagawan Pulaha, Bagawan Jaimini, Bagawan Wesampayana, dan Bagawan Sumanta.

Setelah penyusunan dilakukan, ayat-ayat tersebut dikumpulkan ke dalam sebuah kitab yang kemudian disebut Veda. Sesuai dengan isinya, Veda terbagi menjadi empat, yaitu:
1. Rigveda Samhita
2. Ayurveda Samhita
3. Samaveda Samhita
4. Atharvaveda Samhita

Keempat kitab tersebut disebut “Catur Veda Samhita”. Selain keempat Veda tersebut, Bhagavad Gītā yang merupakan intisari ajaran Veda disebut sebagai Veda yang kelima.

Bhagavad Gītā
Bhagavad Gītā merupakan suatu bagian dari kitab Bhismaparwa, yakni kitab keenam dari seri Astadasaparwa kitab Mahābhārata, yang berisi percakapan antara Sri Kresna dengan Arjuna menjelang Bharatayuddha terjadi.

Diceritakan bahwa Arjuna dilanda perasaan takut akan kemusnahan Dinasti Kuru jika Bharatayuddha terjadi.

Arjuna juga merasa lemah dan tidak tega untuk membunuh saudara dan kerabatnya sendiri di medan perang.

Dilanda oleh pergolakan batin antara mana yang benar dan mana yang salah, Arjuna bertanya kepada Kresna yang mengetahui dengan baik segala ajaran agama.

Kresna yang memilih menjadi kusir kereta Arjuna menjelaskan dengan panjang lebar ajaran-ajaran ketuhanan dan kewajiban seorang ksatria agar dapat membedakan antara yang baik dengan yang salah. Ajaran tersebut kemudian dirangkum menjadi sebuah kitab filsafat yang sangat terkenal yang bernama Bhagavad Gītā.

Bhagavad Gītā terdiri dari delapan belas bab dan berisi ± 650 sloka.
Setiap bab menguraikan jawaban-jawaban yang diajukan oleh Arjuna kepada Kresna. Jawaban-jawaban tersebut merupakan wejangan suci sekaligus pokok-pokok ajaran Veda.

Purana
Purana adalah bagian dari kesusastraan Hindu yang memuat mitologi, legenda, dan kisah-kisah zaman dulu. Kata

Purana berarti sejarah kuno atau cerita kuno. Penulisan kitab-kitab Purana diperkirakan dimulai pada tahun 500 SM. Terdapat delapan belas kitab Purana yang disebut “Mahapurana”. Delapan belas kitab tersebut yakni:

1. Matsyapurana
2. Wisnupurana
3. Bhagawatapurana
4. Warahapurana
5. Wamanapurana
6. Markandeyapurana
7. Wayupurana
8. Agnipurana
9. Naradapurana
10. Garudapurana
11. Linggapurana
12. Padmapurana
13. Skandapurana
14. Bhawisyapurana
15. Brahmapurana
16. Brahmandapurana
17. Brahmawaiwartapurana
18. Kurmapurana

Itihāsa

Itihāsa adalah suatu bagian dari kesusastraan Hindu yang menceritakan kisah-kisah epik/kepahlawanan para Raja dan ksatria Hindu di masa lampau dan dibumbui oleh filsafat agama, mitologi, dan makhluk supernatural. Kata Itihāsa terdiri dari tiga suku kata, yaitu: iti-ha-sa, yang berarti “kejadian itu sesungguhnya begitu nyata”. Kitab Itihāsa disusun oleh para Rsi dan pujangga India masa lampau, seperti misalnya Rsi Walmiki dan Rsi Vyāsa. Itihāsa yang terkenal ada dua, yaitu Ramayana dan Mahābhārata.
Kitab lainnya

Selain kitab Veda, Bhagavad Gītā, Upanishad, Purana dan Itihāsa, agama Hindu mengenal berbagai kitab lainnya seperti misalnya: Tantra, Jyotisha, Darsana, Salwa Sutra, Niti Sastra, Kalpa, Chanda, dan lain-lain. Kebanyakan kitab tersebut tergolong ke dalam kitab Smerti karena memuat ajaran astroniomi, ilmu hukum, ilmu tata negara, ilmu sosial, ilmu kepemimpinan, ilmu bangunan dan pertukangan, dan lain-lain.

Kitab Tantra memuat tentang cara pemujaan masing-masing sekte dalam agama Hindu.
Kitab Tantra juga mengatur tentang pembangunan pura dan peletakkan citra (arca).
Kitab Niti Sastra memuat ajaran kepemimpinan dan pedoman untuk menjadi seorang pemimpin yang baik.
Kitab Jyotisha merupakan kitab yang memuat ajaran sistem astronomi tradisional Hindu.
Kitab Jyotisha berisi pedoman tentang benda langit dan peredarannya.
Kitab Jyotisha digunakan untuk meramal dan memperkirakan datangnya suatu musim.

Om Santih, Santih, Santih
 
@Goesdun
makasi buat chartveda nya ya, gw minta ijin DL nya boleh kan :D

oh ya klo ga keberatan gw mo nambahin dikit mengenai Purana, biar lebih banyak bahan yang diperoleh ma teman2, ga pa2 kan Goes ??

PURANA

Dikisahkan setelah menyusun MahaBharata Weda Vyasa yang ke 28 ( Maharsi Khrisna Dvipayana ) menyusun 18 Mahapurana dan 18 Upapurana ( seperti halnya kitab2 Veda (Sruti; catur Veda.) Purana sisusun dalam tulisan jauh setelah kisah tersebut berkembang, sehingga tiap Purana banyak ditemukan Versinya ) agar umat Hindu semakin tertuntun dan mendapat cerminan dalam melaksanakan Ajaran Weda.
Purana terdiri atas lima topik Utama ( Panca Laksana )
1. Tentang Penciptaan semesta ( pratisarga, sarga dan Pralaya), 2.Geografi 3. kisah kisah Para Dewa dan berbagai kisah lainnya 4.Manvantara (waktu, jaman yuga dan Manu ) 5.Silsilah (Suryawamsa dan Chandrawamsa)
Keseluruhan Mahapurana terdiri atas ± empat Laksa (400.000) Sloka. Dan Krsna Dvipayana dipercaya sebagai penyusunnya ( ada lagi kepercayaan bahwa Mahapurana yang disusun oleh Vedavyasa mempunyai satu crore Sloka, karena jumlah tersebut sangat sulit untuk dibaca oleh manusia biasa, beliau merangkum purana purana tersebut dalam empat laksa Sloka saja; Siva Purana ). Atau dengan kata lain Vedavyasa telah menyusun suatu Purana asli yang dikenal dengan nama Purana Samhita, beliau kemudian mengajarkan Purana ini kepada muridnya Lomaharsana atau Romaharsana yang kemudian menceritakan Purana Samhita itu kepada umum, dari cerita Lomaharsana tersebut terbetuklah Mahapurana tersebut;
[Roma ( rambut ) Harsana ( bergetar ), setiap orang yang mendengar cerita Romaharsana membuat bulu tubuh (bulu roma ) orang yang mendengarkannya berdiri karena terpengaruh oleh indah, seram dan sebagainya dari cerita Purana beliau]
Dengan demikian dinyatakan bahwa Purana tidak disusun oleh seorang pun pengarang lain, pada setiap kurun waktu. Hanya saja beberapa pengarang telah menambahkan cerita dan embel embel hingga naskah ini berkembang lebh banyak jadi sangatlah mungkin beberapa bagian Puranan disusun sekitar 500 tahun sebelum masehi
Kebanyakan Sarjana Menyetujui bahwa Mahapurana disusun dalam bentuk akhir antara 1000-300 tahun sebelum masehi.

Karakter Purana itu sendiri yg dalam penjabarannya akan selalu mengagungkan salah satu Dewa Trimurti ( mengingat dalam manusia dipengaruhi 3 sifat dasar Tri Guna : satwam = kebaikan Rajas= Nafsu/gairah Tamas= kegelapan (kebodohan)
Rajasika Purana : Mengagungkan Dewa Brahma
Sattwika Puranan : Mengagungkan Vishnu
Tamasika Purana : Mengagungkan Shiva
Hal yang menarik dalam Purana adalah satu Purana dengan Purana yang lain mengisahkan peristiwa yang sama dengan versi yang berbeda ( sepintas seperti kontradiksi, namun sebenarnya mengajarkan qta untuk menilai dan menganalisa sesuatu dari sudut pandang yg berbeda........ )

18 Mahapurana masing-masing (jumlah sloka):

Rajasika Puranas :
Brahma Purana 9.000
Brahmānda Purana 18.000
Brahma Vaivarta Purana 18.000
Mārkandeya Purana 9.000
Bhavishya Purana 14.000
Vāmana Purana 10.000

Sattwika Puranas :
Vishnu Purana 23.000
Bhagavata Purana 18.000
Nārada Purana 25.000
Garuda Purana 19.000
Padma Purana 55.000
Varaha Purana 24.000

Tamasika Puranas :
Shiva Purana 24.000
Vāyu purana 24.000
Skanda Purana 81.000
Agni Purana 15.000
Matsya Purana 15.000
Kūrma purana 17.000

bersambung............
 
Sepintas masing-masin Purana

Brahma Purana
Disebut juga Adi Purana karena merupakan Purana yang disusun, naskah asli purana ini tidak ada lagi, naskah sekarang merupakan rancang ulang dengan bahan-bahan yang dikumpulkan dari MahaBharata, Harivamsa, Vayupurana, Markandeya Purana dan Visnu Purana

Padma Purana
Merupakan Purana terpanjang kedua, menceritakan keagungan Visnu juga terdapat ca3ra cara pemujaan yang berkenaan dengan Visnu

Visnu Purana
tidak seperti umumnya Purana, Visnu Purana terdiri atas 6 bagian Utama sayang ada beberapa bagian Purana ini tidak sesuai dengan naskah aslinya , meski demikian Visnu Purana merupakan satu2nya Purana yg mendekati lima permasalahan yang menjadi karakteristik dari sebuah Purana.

Siva Purana
Ada beberapa ketidaksetujuan tentang apakah SivaPurana ini adalah Mahapurana atau tidak akan tetapi diluar semua pertimbangan, Siva Purana jelas adalah suatu Purana yang penting.

Bhagavata Purana
Seringkali dihubungkan dengan Srimad Baghavata. Srimad Bhagavata ini terbagi menjadi 12 Bagian atau Skanda. Sepuluh skanda diantaranya merupakan skanda yang terpanjang. Srimad ini paling terkenal di kalangan umat karena menceritakan kehidupan ζri Khrisna

Narada Purana
Juga dikenal sebagai Vhrat Naradeya, karena aslinya purana ini diceritakan oleh Devarsi Narada

Markandeya Purana
Purana ini merupakan Purana tersingkat, didalamnya ada sebuah naskah yg dikenal sebagai ’Candi’ yg dibaca oleh hampir sebagian penduduk India khususnya di India Timur. Ada hubungan erat antara Markandeya Purana dengan Mahabharata, banyak pertanyaan yang tidak terjawab bila seseorang membaca MahaBharata akan terjawab dalam Markandeya Purana.

Agni Purana
Dipercaya di karang oleh Agni (deva Api) sendiri lalu diajarkan kepada Rsi Vasistha, Agni Purana merupakan satu satunya Purana yang penuh dengan ritual upacara. Sehingga dikatakan Agni Purana merupakan Purana terakhir yang disusun, sehingga semua cerita-cerita telah dimuat dalam Purana Purana lain yang tersisa adalah masalah ritual upacara saja, disamping Ritual juga ditonjolkan tentang wujud pemujaan patung dewa dewi, tempat tirthayatra, upacara kremasi, tapabrata, ilmu firasat dll.

Bhavisya Purana
Merupakah naskah yang menceritakan tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang. Bhavisya merupakan bentuk future tense dari ‘bhu’ yang artinya akan terjadi. Banyak Wahyu dan ramalan yang termuat di Bhavisya Purana. Purana ini juga menceritakan tetntang dinasti2 yang akan memerintah di jaman Kaliyuga. Bahkan Bhavisya Purana juga memeuat tentang Nabi Noah ( Nuh ), Nabi Adam, Allah bahkan Putri Victoria

Brahmavaivarta Purana
Purana ini menceritakan tentang Brahma dan penciptaan melalui vivartana ( evolusi ) Brahma. Dalam naskah ini Vedavyasa menjelaskan tentang pengetahuan Brahma

Linga Purana
Dalam Daftar Maha purana Linga Purana menduduki urutan kesebelas, namun tidak berarti Linga Puranan berada di urutan kesebelas dalam penyusunannya, ada banyak ritual upacara dalam naskah ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa Linga Puranan disusun ketika Agama Hindu telah menjadi semakin Ritualistik. Tahun penyusunannya mungkin berkisar antara 800-900 sebelum masehi. Bahasa linga Purana ini cukup sulit untuk dimengerti, komposisi naskah juga tidak seindah Purana lain, kalimatnya masih berliku2 hingga memeahaminya relatif sulit.

Varaha Purana
Khusus mengagungkan Visnu dalam inkarnasinya sebagai babi hutan (Varaha). Kadang-kadang Purana ini juga disebut Visnawa Purana karena isinya langsung diceritakan Visnu dalam wujud Varaha kepada Prthivi ( Dewi Bumi), aslinya naskah ini terdiri atas 24 ribu Sloka dan yang tertinggal sekitar 10 Ribu Sloka saja, bagian2 yang hilang menceritakan tentang penciptaan, Vamsanucarita ( keturunan raja-raja) dan Manvatara. Sedangkan yang tertinggal hanya berisikan doa-doa, aturan-aturan upacara dan cerita tentang tempat suci.

Skanda Purana
Sakanda Purana merupakan Purana terpanjang dalam Mahapurana. Purana ini dianggap karya Vedavyasa kedua setelah MahaBharata, didalam Skanda Purana juga memeuat beberapa cerita Mahabharata didalamnya. Para Sarjana juga sepakat Skanda Purana bukanlah suatu kesatuan karya. Naskah Skanda Purana yang ada sekarang merupakan kompilasi dari naskah-naskah skanda Purana yang ada di berbagai wilayah di India. Ada dua alternatif tentang siapa yang menurunkan naskah ini, pertama tentu saja diasosiasikan kepada Putra Siva dan Parvati, Skanda jenderal para Dewa lalu beliau menurunkan kepada Rsi Brghu lalu Rsi Brghu menurunkan kepada Rsi Chyavana dan Rsi Rcika lalu Vedavyasa yang merangkum naskah dari kedua Rsi tersebut . Beberapa ahli menelusuri bahwa Sakti Siva yaitu Parvati yang menurunkan Skanda Purana kepada Puteranya Skanda, Nandi ( pengawal Siva) menerima naskah ini dari Skanda lalu menurukan kepada Rsi Atri.

Vamana Purana
Adalah purana yang isinya pendek. Purana ini dibagi menjadi dua bagian,nazca ini berhubungan dengan Avatara Visnu yaitu Vamana ( manusia cebol )

Kurma Purana
Nama Karma Purana juga berhubungan dengan avatara Visnu. Kurma berarti kura kura. Dalam wujud inkarnasi inilah Visnu menyampaikan isi Purana ini, makanya nama Purana mengikuti. Purana ini terdiri dari empat bagian yaitu Brahmi, Bhagavati, Souri dan Vaisnavi. Namun satu satunya bagian yang kita jumpai hanyalah Brahmi. Oh ya mungkin Anda sudah biasa mendengar Gita (Bhagavad Gita ) yang diajarkan Krishna kepada Arjuna. Anda juga pasti tahu Gita tersebut adalah bagian dari Mahabharata ( Bhisma Parwa ), yang mungkin belum anda ketahui adalah jumlah kitab Bhagavad Gita ini lebih dari satu, untuk membedakan Gita ini dengan yang lainnya orang harus menyebut secara lengkap Gita ini yaitu Srimadbhagavata Gita, karena ada juga Gita yang merupakan bagian dari Kurma Purana yang dinamakan Isvara Gita.

Mastya Purana
Purana ini dinamakan Mastya Purana karena diturunkan oleh Visnu dalam wujud avatara Mastya ( ikan )

Garuda Purana
Naskah yang berukuran sedang, dinamakan Garuda Purana karena diturunkan oleh burung Dewata Garuda kepada Rsi Kasyapa.

Brahmanda Purana
Purana ini selalu menjadi urutan terakhir dalam Mahapurana

Vayu Purana
Diatas dalam urutan keempat ada dua Purana yang menempatinya, hal ini disebabkan karena adanya ketidaksetujuan tentang Mahapurana keempat, apakah Siva Purana atau Vayu Purana, dalam Mastya Purana dan Narada Purana bahwa Vayu Purana lah menempati urutan keempat. Dan tidak ada jalan untuk menegahi hal ini
Vayu purana pertama kali diturunkan oleh Vayu ( Dewa Angin )

Demikian sedikit pengenalan tentang Mahapurana

Semoga Bermanfaat
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.