Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Umur 24, anak muda ini sudah miliki 100 perusahaan!"
Umur 20, perempuan ini miliki omzet 10 miliar!"
"Umur 23, pria ini rath gelar doktor!"
Tahun berganti, usia kita makin menunjukkan bilangan yg semestinya sudah memiliki pencapaian berarti. Insecure mulai menghantui, "Kok orang lain sudah punya pencapaian hidup yg luar biasa? Kok hidupku cuma begini?"
Kita lalu mulai menurunkan standar-standar impian. Ekspektasiekspektasi akan masa depan patah sudah. Hingga akhirnya kita merasa memiliki hidup yg tak layak dimenangkan.
Muncul istilah orang-orang biasa, orang kecil, bahkan rakyat jelata untuk menunjukkan kelas dalam kehidupan orang-orang yg "kalah".
Sebaliknya, kita sebut mereka yg sanggup memenangkan hidup dengan gelar sultan, kalangan elite, atau para bangsawan. Rumah-rumah mewah, privat jet, liburan keliling dunia seakan jadi tropi yg menyilaukan banyak mata.
Padahal para pemenang hidup ialah mereka yg mampu memberikan yg terbaik sesuai dangan peran & potensi yg Allah berikan.
Seperti seorang nenek yg ikut mengantri dalam barisan para pejuang Perang Badar. Di antara para pejuang yg menginfakkan emas, tombak, pedang, panah, bahkan diri, sesosok tua renta ikut mengantri dengan kaki gemetar.
"Ini, cuma ini yg kumiliki. Bawalah tali ini, semoga berguna Saat perang nanti," ucap nenek dengan tulus. Ya, tali itulah pengorbanan terbaik yg sanggup nenek berikan.
Siapa sangka, seusai perang Badar, tali itu sangat berguna untuk mengikat tawanan. Lihat bagaimana seutas tali sanggup memenangkan hidup sang nenek.
Para pemenang hidup ialah mereka yg sanggup alirkan banyak manfaat. Seperti KH Ahmad Dahlan, memang tak sedikit pun ia pernah mengecap kemewahan hidup yg didamba banyak manusia.
Namun, selepas kematiannya ia tinggalkan beratus-ratus sekolah, rumah sakit, lembaga sosial, juga membangkitkan gerakan kemerdekaan Indonesia.
"Hidup-hidupkanlah dakwah, Janganlah mencari penghidupan dari dakwah." begitu petuahnya yg membekas pada banyak jiwa. la tak tinggalkan harta benda sebagai warisan, tetapi gerak dakwah yg harus dilanjutkan.
Para pemenang hidup ialah mereka yg paling tinggi takwanya. Lihat, bagaimana Umar bin Khattab lebih memuliakan mantan budak, Bilal bin Rabbah dibanding mantan tokoh akbar Quraisy, Abu Sufyan.
"Wahai Abu Sufyan, bagaimana saya tidak memuliakan Bilal bin Rabbah, kalau Allah saja membedakan derajat ketakwaan berdasarkan amal & pengorbanannya, jelas Amirul Mukminin saat Abu Sufyan protes.
"Tidak sama di antara anda orang yg menafkahkan hartanya & berperang sebelum penaklukan Mekah. Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yg menafkahkan hartanya & berperang sesudah itu." (QS.Al-Hadid: 10)
Begitulah, ternyata memenangkan hidup bukan soal materi & pencapaian yg menyilaukan mata. Para pemenang hidup tak harus di depan pentas dengan sorot lampu & sorak sorai. Sangat mungkin ia nenek renta, budak, atau mereka yg disebut "orang biasa".
Kini kita sadar... tak peduli siapapun itu, bagaimana pun kita dilahirkan, jalan apapun yg Allah takdirkan, tiap hidup layak & harus dimenangkan!
Penulis: bombombeechanne
Pic: google