Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
KRL Commuter Line (Foto: Google - id.wikipedia.org)
Kereta api merupakan salah satu moda transportasi selain pesawat, bus, atau kapal. Ada juga mobil, sepeda, atau sepeda motor yg juga jadi alat transportasi yg dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sebagai bagian dari transportasi umum, kereta api banyak peminatnya. Di samping bebas macet, tiketnya pun relatif murah! Tak heran bila banyak penumpang rela berdesakan di dalam gerbong kereta api, demi kepraktisan & harga tiketnya yg terjangkau kantong tipis.
Banyak tipe kereta api. Ada kereta api barang & kereta api penumpang. Kita juga masih dapat membedakan kereta api jarak jauh (antarprovinsi) & kereta api dalam kota. Kereta api jarak jauh, misalnya tujuan Jakarta-Bandung, Jakarta-Semarang, Jakarta-Yogyakarta, & sebagainya. Kereta api dalam kota, kita dapat menyebutkannya dengan mudah saking populernya, yaitu kereta rel listrik (KRL).
Kereta api jarak jauh (Foto: Google - ayosemarang.com)
Sekarang, KRL dapat juga kita bagi lagi jadi kereta bandara, misalnya yg mengangkut penumpang dari stasiun-stasiun tertentu di Jakarta menuju Bandara Soekarno-Hatta. Dan, commuter line, yaitu KRL yg mengangkut penumpang di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek). Commuter line jadi moda transportasi favorit para pekerja di Jakarta & sekitarnya karena tak terkendala kemacetan & itu tadi, harga tiketnya yg lebih murah dibanding alat transportasi lainnya.
Kereta bandara (Foto: Google - koran.tempo.co)
Saat ini KRL & kereta jarak jauh semua ber-AC. Sejuk di dalam kereta, yg dapat kita rasakan kalau penumpang tidak terlalu penuh. Sebelum seluruh gerbong kereta ber-AC, dulu ada yg namanya KRL kelas ekonomi. Waahhh....rame di dalamnya! Penumpang dapat berdesakan, bahkan hingga di atap kereta. Tidak cuma itu, di dalam gerbong juga banyak penjual yg jualan beraneka macam barang dagangan.
Namun, seiring perbaikan yg dilakukan oleh pemangku kepentingan di dunia perkeretaapian maka seluruh kereta, baik yg di dalam kota maupun tujuan luar kota, ber-AC. Semua kelas, dari kelas ekonomi hingga kelas eksekutif untuk kereta jarak jauh, kita dapat menikmati kenyamanan dengan AC yg sejuk menenangkan hati.
Penumpang berdesakan hingga atap kereta. Suasana yg tak ada lagi sekarang. Tinggal kenangan. (Foto: Google - voaindonesia.com)
Filosofi Perubahan Hidup
Ada filosofi atau setidaknya makna yg saya catat dari kereta api, alat transportasi yg jadi andalan saya, baik itu di dalam kota maupun ketika saya mudik ke Jogja. Kereta api mengajarkan saya makna perubahan diri. Berubah dari yg tidak sempurna jadi lebih sempurna. Dari yg semula ada kereta api ekonomi, baik tujuan jarak jauh maupun dalam kota, tanpa AC misalnya, sekarang kita dapat merasakan perubahan. Semua gerbong ber-AC, lebih bersih, tersusun rapi, sehingga saya dapat lebih nyaman naik kereta api tut tut tut...menuju tempat yg saya tuju.
Dibandingkan dengan bus, misalnya, kereta api jauh lebih cepat berbenah diri. Itu membawa makna bagi saya, untuk berubah kita membutuhkan waktu. Setiap waktu untuk berubah berbeda bagi masing-masing orang, masing-masing pribadi. Ada yg cepat, ada yg lambat. Perubahan yg relatif cepat dari kereta api dibandingkan dengan bus umum, misalnya, mengingatkan saya bahwa proses untuk perbaikan diri itu tidak sama satu dengan yg lainnya.
Cepat atau melambatkan diri adalah opsi masing-masing orang!
Filosofi Perhentian Diri
Sehebat apa pun kereta api, yg dapat memaksa moda transportasi lain untuk berhenti kalau kereta lewat, tetaplah ada pencerahan diri. Ada perhentian diri, ada saat-saat untuk berhenti meski jalannya sangat cepat. Itu diperlihatkan kereta api ketika harus berhenti di stasiun-stasiun tertentu kemudian berangkat lagi menuju tempat yg dikehendaki para penumpangnya.
Saya pun harus tahu diri. Meski banyak aktivitas harus dilakukan, meski banyak impian masih diperjuangkan, tetap ada saat-saat berhenti. Introspeksi. Merenung. Berdiam diri, berdoa, membersihkan hati yg penuh emosi, penuh letupan-letupan kekecewaan, atau pikiran buruk lainnya.
Tanpa perhentian diri maka saya dapat jadi pribadi yg penuh ambisi namun tak terkendali. Bisa juga jadi pribadi yg amarah, tanpa pernah tahu cara meredam kemarahan. Bahkan, jadi pribadi yg mudah stres karena cepat & padatnya aktivitas yg harus dilakukan.
Seperti halnya kereta api yg punya perhentian diri di setiap stasiun sebelum bergerak lagi, maka begitu pula saya, harus pintar mengatur waktu, kapan saatnya berkarya, kapan saatnya beristirahat, kapan saatnya menyehatkan jiwa maupun raga, supaya dapat menikmati hidup dengan lebih baik lagi.
Begitulah yg harap saya tuliskan. Mengapa idenya muncul dari kereta api? Jawabannya mudah. Rumah saya sekarang ini dekat dengan stasiun kereta di pinggiran Jakarta. Setiap hari, saya mendengar suara kereta datang & pergi, Jakarta-Bogor, & sebaliknya, Bogor-Jakarta. Ada juga yg jurusan Tanah Abang, Duri, Angke, Jatinegara, & Nambo. Saya hapal betul jurusan-jurusan lengkapnya karena saya suka naik kereta.
Filosofi pun mudah dituliskan karena rasa suka, rasa sayang kepada hidup, kepada lingkungan di sekitar kita. Hari ini 06:23