yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Ramainya pemberitaan di media massa mengenai penjajaan jasa prostitusi di media sosial Twitter ternyata menuai komentar dari pemilik akun yang mengaku sebagai "perempuan bayaran". Salah satunya disampaikan oleh akun @fuckaudreey.
Audreey -begitu nama di akunnya- menyebut tindakan kepolisian yang akan menyelidiki penjajaan prostitusi melalui media sosial itu tak perlu dilakukan. Alasannya, seks merupakan kebutuhan hidup seseorang.
“Diangkat di berita penjajaan jasa prostitusi di Twitter dan polisi mau menyelidiki lebih lanjut, apanya yang perlu diselidiki? Klien butuh seks, kami sediakan. Enggak perlu pake germo. Instan. Enggak pake ribet,” tulis akun tersebut.
Memang, semenjak penjajaan jasa prostitusi di media sosial ramai diberitakan, polisi berjanji akan mengambil tindakan agar dampak penjajaan tersebut tidak sampai merusak para pengguna Twitter, khususnya yang masih remaja.
“Terus yang 'penegak hukum' maunya itu apa? Cowok cari cewek di bar buat ML (making love) gitu? Atau macarin cewek beliin barang mahal in exchange for sex?” bebernya.
Audrey bahkan menuding masyarakat terlalu naif menolak keberadaan prostitusi.
“Emang moral orang Indonesia saja yang sudah bobrok. Naif. Kami di sini cuma menyediakan jasa. Toh kalau emang masyarakat ngerasa prostitusi di Twitter enggak sesuai moral orang Indonesia, enggak bakal ada bisyar (bisa dibayar) yg followers-nya sampai ratusan ribu,” tudingnya.
Dalam kicauan berikutnya, Audrey kembali menyoroti rencana kepolisian yang bakal menyelidiki jasa prostitusi online. Menurutnya, penegak hukum lebih baik mengungkap kasus korupsi dan narkoba dari pada bisnis prostitusi online.
“Kalau polisi sudah 'menyelidiki' terus mereka mau ngapain coba? Mau lacak IP address bisyar trus ditangkap-tangkapi? Atas dasar hukum apa? Pasal yang mana? Kami enggak menyalahi hukum kok. Daripada kalian buang-buang waktu mantengin akun bisyar, mending gunain waktu kalian buat nangkapi bandar narkoba dan koruptor,” tulisnya.
Di akhir-akhir kicauannya, Audrey berharap ada yang berani berbicara untuk memberi pembenaran atas bisnis prostitusi melalui Twitter.
“Harus ada orang yang stand-up tentang masalah ini. Bisyar-bisyar yang lain pada ketakutan disorot berita. Pada protect dan deactivate account. Jujur, Audrey juga takut, tapi kalau bukan Audrey, siapa lagi yang bakal nunjuki apa yang salah dengan fenomena ini?” ajaknya.
Pada penutupnya, Audrey mengaku takut membuka jasa esek-eseknya ke publik untuk sementara waktu. Dia pun akan ikut menonaktifkan akun seperti yang dilakukan penjaja jasa prostitusi via Twitter lainnya.
“Sehubungan dengan keamanan Audrey, Audrey close dulu sampai waktu yang tidak ditentukan. Terima kasih atas waktu Anda,” tutupnya.
Audreey -begitu nama di akunnya- menyebut tindakan kepolisian yang akan menyelidiki penjajaan prostitusi melalui media sosial itu tak perlu dilakukan. Alasannya, seks merupakan kebutuhan hidup seseorang.
“Diangkat di berita penjajaan jasa prostitusi di Twitter dan polisi mau menyelidiki lebih lanjut, apanya yang perlu diselidiki? Klien butuh seks, kami sediakan. Enggak perlu pake germo. Instan. Enggak pake ribet,” tulis akun tersebut.
Memang, semenjak penjajaan jasa prostitusi di media sosial ramai diberitakan, polisi berjanji akan mengambil tindakan agar dampak penjajaan tersebut tidak sampai merusak para pengguna Twitter, khususnya yang masih remaja.
“Terus yang 'penegak hukum' maunya itu apa? Cowok cari cewek di bar buat ML (making love) gitu? Atau macarin cewek beliin barang mahal in exchange for sex?” bebernya.
Audrey bahkan menuding masyarakat terlalu naif menolak keberadaan prostitusi.
“Emang moral orang Indonesia saja yang sudah bobrok. Naif. Kami di sini cuma menyediakan jasa. Toh kalau emang masyarakat ngerasa prostitusi di Twitter enggak sesuai moral orang Indonesia, enggak bakal ada bisyar (bisa dibayar) yg followers-nya sampai ratusan ribu,” tudingnya.
Dalam kicauan berikutnya, Audrey kembali menyoroti rencana kepolisian yang bakal menyelidiki jasa prostitusi online. Menurutnya, penegak hukum lebih baik mengungkap kasus korupsi dan narkoba dari pada bisnis prostitusi online.
“Kalau polisi sudah 'menyelidiki' terus mereka mau ngapain coba? Mau lacak IP address bisyar trus ditangkap-tangkapi? Atas dasar hukum apa? Pasal yang mana? Kami enggak menyalahi hukum kok. Daripada kalian buang-buang waktu mantengin akun bisyar, mending gunain waktu kalian buat nangkapi bandar narkoba dan koruptor,” tulisnya.
Di akhir-akhir kicauannya, Audrey berharap ada yang berani berbicara untuk memberi pembenaran atas bisnis prostitusi melalui Twitter.
“Harus ada orang yang stand-up tentang masalah ini. Bisyar-bisyar yang lain pada ketakutan disorot berita. Pada protect dan deactivate account. Jujur, Audrey juga takut, tapi kalau bukan Audrey, siapa lagi yang bakal nunjuki apa yang salah dengan fenomena ini?” ajaknya.
Pada penutupnya, Audrey mengaku takut membuka jasa esek-eseknya ke publik untuk sementara waktu. Dia pun akan ikut menonaktifkan akun seperti yang dilakukan penjaja jasa prostitusi via Twitter lainnya.
“Sehubungan dengan keamanan Audrey, Audrey close dulu sampai waktu yang tidak ditentukan. Terima kasih atas waktu Anda,” tutupnya.