facebookeb
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 210735
- Sejak
- 9 Jan 2013
- Pesan
- 7.471
- Nilai reaksi
- 100
- Poin
- 48
Dunia terbagi menjadi ratusan negara yang masing-masing memiliki karakter khas masing-masing. Bahasa, agama, sosial, budaya, cuaca, kiranya perlu dipelajari sebelum menginjakkan kaki ke negara tujuan, baik sekadar berlibur ataupun menetap selama beberapa waktu. Berikut ini merupakan cerita yang dibagikan Bambang Suratno, salah seorang warga Indonesia yang menempuh studi strata-3 di Technische Universitat Eindhoven, Belanda.
pria asal Yogyakarta ini mengisahkan bahwasanya di Negeri Kincir Angin tersebut, terutama Kota Eindhoven tempatnya bersekolah, terdapat perbedaan mencolok tentang beberapa hal.
Beberapa hal di Negeri Tulip tersebut antara lain adalah sebagai berikut, seperti yang dituturkan dosen jurusan Teknik Industri di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta ini:
1. Disiplin aturan
Bambang menuturkan, "Di sini, hukum dibuat dengan asumsi orang bakal mematuhi." Dia juga menceritakan tentang masyarakat Eindhoven yang telah terbiasa patuh pada lampu lalu lintas. Sesepi apapun kendaraan di jalan raya, kata Bambang, jika memang lampu merah maka tidak akan ada yang menerobos.
2. Keamanan rumah
Bambang mengaku kaget ketika awal-awal tinggal di Eindhoven perihal orang-orang yang terbiasa meninggalkan rumah tanpa pernah mengunci pintu. "Di sini aman. Paling yang dikunci pintu kamar aja," tukas Bambang.
3. Keturunan Indonesia
Bambang cukup sering berbincang dengan warga setempat. Setelah mengetahui Bambang berasal dari Indonesia dan Pulau Jawa, beberapa dari mereka mengaku memiliki darah Jawa dan mencoba berbincang dengan Bambang memakai bahasa Indonesia. Mereka ada yang keturunan orang Yogyakarta dan Semarang. Bambang mengisahkan, mereka adalah keturunan orang-orang yang sempat berada di Indonesia sebelum kemerdekaan. "Mereka lebih kenal Jawa daripada Indonesia. Waktu itu kan belum merdeka jadi belum ada Indonesia."
4. Transportasi
Salah satu fasilitas yang dinikmati Bambang adalah kereta. Alat transportasi ini tak hanya dapat mengantarkan dari satu kota ke kota lain, namun juga hingga ke luar negeri. "Eropa ini kan terdiri dari negara-negara kecil. "Kita bisa bepergian sampai ke luar negeri cukup dengan kereta," imbuhnya.
5. Musim
Perubahan musim menyebabkan waktu terbit dan terbenam matahari berubah drastis. Ketika winter, tutur Bambang, siang hanya berlaku 8 jam, matahari terbenam sekitar pukul 17.00. Ketika summer maka yang terjadi berkebalikan, siang menjadi lebih panjang, matahari baru terbenam sekitar pukul 20.00. Akibatnya waktu shalat jadi berubah drastis, berbeda dengan di Indonesia yang hanya mengalami selisih beberapa menit ketika pergantian musim.
"Indonesia memang tempat yang nyaman untuk kuliner, untuk cuaca. Hidup di Indonesia enak banget lah. Dulu rasanya di luar negeri itu asyik, setelah ngejalanin ternyata hidup di Indonesia enak banget," ungkapnya.
6. Individualis
Masyarakat yang ditemui Bambang tidak seramah orang-orang Indonesia. Mereka lebih sibuk dengan urusan pribadi. Masyarakat juga tidak terlalu aktif dalam memakai Facebook. "Di sini nggak sering ada orang ngomong-ngomong pas ketemu di jalan gitu."
7. Karakter
Orang-orang Belanda terbiasa menepati janji, profesional dalam setiap urusan, tidak suka menyindir, to the point, dan tidak suka provokasi. Ketimbang mengurusi orang lain, mereka lebih sibuk pada diri sendiri. "Kalau tentang profesional, etika, saya kira sama saja dengan di Indonesia. Itu karena mereka terdidik dengan baik, sama saja dengan orang Indonesia yang mendapat pendidikannya tinggi dan benar-benar terdidik."
8. Makanan
Bambang menuturkan, Belanda terutama kota Eindhoven tak menawarkan warung makan yang bisa ditemui di hampir setiap penjuru jalan dan buka hingga tengah malam seperti di banyak kota di indonesia. Bambang mengaku sehari-harinya lebih terdorong untuk menyiapkan makanan sendiri. Alasannya adalah, selain urusan kehalalan, juga perihal keekonomisan.
"Di sini lebih mendukung untuk masak sendiri. Karena biaya jasa di sini mahal. Harga kalau beli bahan baku diolah sendiri selisih jauh sama kalau beli jadi," tutur alumnus Institut Teknologi Telkom dan Institut Teknologi Bandung ini.
Sesekali jika Bambang menginginkan makan di luar, dia memilih kebab Turki yang terjamin halal dan memiliki banyak variannya. Makanan lain yang aman konsumsi baginya yang merupakan seorang muslim adalah kibbeling, yaitu ikan goreng. Di kota ini Bambang juga menemukan sate yang sudah bukan lagi menjadi makanan asing di sana, bahkan dianggap makanan asli negeri tersebut.
pria asal Yogyakarta ini mengisahkan bahwasanya di Negeri Kincir Angin tersebut, terutama Kota Eindhoven tempatnya bersekolah, terdapat perbedaan mencolok tentang beberapa hal.
Beberapa hal di Negeri Tulip tersebut antara lain adalah sebagai berikut, seperti yang dituturkan dosen jurusan Teknik Industri di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta ini:
1. Disiplin aturan
Bambang menuturkan, "Di sini, hukum dibuat dengan asumsi orang bakal mematuhi." Dia juga menceritakan tentang masyarakat Eindhoven yang telah terbiasa patuh pada lampu lalu lintas. Sesepi apapun kendaraan di jalan raya, kata Bambang, jika memang lampu merah maka tidak akan ada yang menerobos.
2. Keamanan rumah
Bambang mengaku kaget ketika awal-awal tinggal di Eindhoven perihal orang-orang yang terbiasa meninggalkan rumah tanpa pernah mengunci pintu. "Di sini aman. Paling yang dikunci pintu kamar aja," tukas Bambang.
3. Keturunan Indonesia
Bambang cukup sering berbincang dengan warga setempat. Setelah mengetahui Bambang berasal dari Indonesia dan Pulau Jawa, beberapa dari mereka mengaku memiliki darah Jawa dan mencoba berbincang dengan Bambang memakai bahasa Indonesia. Mereka ada yang keturunan orang Yogyakarta dan Semarang. Bambang mengisahkan, mereka adalah keturunan orang-orang yang sempat berada di Indonesia sebelum kemerdekaan. "Mereka lebih kenal Jawa daripada Indonesia. Waktu itu kan belum merdeka jadi belum ada Indonesia."
4. Transportasi
Salah satu fasilitas yang dinikmati Bambang adalah kereta. Alat transportasi ini tak hanya dapat mengantarkan dari satu kota ke kota lain, namun juga hingga ke luar negeri. "Eropa ini kan terdiri dari negara-negara kecil. "Kita bisa bepergian sampai ke luar negeri cukup dengan kereta," imbuhnya.
5. Musim
Perubahan musim menyebabkan waktu terbit dan terbenam matahari berubah drastis. Ketika winter, tutur Bambang, siang hanya berlaku 8 jam, matahari terbenam sekitar pukul 17.00. Ketika summer maka yang terjadi berkebalikan, siang menjadi lebih panjang, matahari baru terbenam sekitar pukul 20.00. Akibatnya waktu shalat jadi berubah drastis, berbeda dengan di Indonesia yang hanya mengalami selisih beberapa menit ketika pergantian musim.
"Indonesia memang tempat yang nyaman untuk kuliner, untuk cuaca. Hidup di Indonesia enak banget lah. Dulu rasanya di luar negeri itu asyik, setelah ngejalanin ternyata hidup di Indonesia enak banget," ungkapnya.
6. Individualis
Masyarakat yang ditemui Bambang tidak seramah orang-orang Indonesia. Mereka lebih sibuk dengan urusan pribadi. Masyarakat juga tidak terlalu aktif dalam memakai Facebook. "Di sini nggak sering ada orang ngomong-ngomong pas ketemu di jalan gitu."
7. Karakter
Orang-orang Belanda terbiasa menepati janji, profesional dalam setiap urusan, tidak suka menyindir, to the point, dan tidak suka provokasi. Ketimbang mengurusi orang lain, mereka lebih sibuk pada diri sendiri. "Kalau tentang profesional, etika, saya kira sama saja dengan di Indonesia. Itu karena mereka terdidik dengan baik, sama saja dengan orang Indonesia yang mendapat pendidikannya tinggi dan benar-benar terdidik."
8. Makanan
Bambang menuturkan, Belanda terutama kota Eindhoven tak menawarkan warung makan yang bisa ditemui di hampir setiap penjuru jalan dan buka hingga tengah malam seperti di banyak kota di indonesia. Bambang mengaku sehari-harinya lebih terdorong untuk menyiapkan makanan sendiri. Alasannya adalah, selain urusan kehalalan, juga perihal keekonomisan.
"Di sini lebih mendukung untuk masak sendiri. Karena biaya jasa di sini mahal. Harga kalau beli bahan baku diolah sendiri selisih jauh sama kalau beli jadi," tutur alumnus Institut Teknologi Telkom dan Institut Teknologi Bandung ini.
Sesekali jika Bambang menginginkan makan di luar, dia memilih kebab Turki yang terjamin halal dan memiliki banyak variannya. Makanan lain yang aman konsumsi baginya yang merupakan seorang muslim adalah kibbeling, yaitu ikan goreng. Di kota ini Bambang juga menemukan sate yang sudah bukan lagi menjadi makanan asing di sana, bahkan dianggap makanan asli negeri tersebut.

