yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
"Di Maluku tidak pernah ribut dengan masalah daging," kata Direktur Statistik Peternakan, Perikanan dan Kehutanan (SP2K), Edison Aritonga, dalam acara "Peningkatan Wawasan Statistik Pertanian untuk Wartawan" pada Minggu 8 September 2013 di Hotel Mirah, Bogor.
Edison mengatakan bahwa di daerah tersebut, harga daging sapi yang tinggi, bahkan yang mencapai Rp120 ribu per kilogram pun tidak begitu dipermasalahkan. Menurut dia, sebagian besar masyarakatnya mengkonsumsi ikan segar. "Mau daging harganya Rp120 ribu per kilogram, masyarakat di sana baik-baik saja. Di sana, kebanyakan mereka makan ikan," kata dia.
Sebelumnya, pada tanggal 3 September 2013, Kementerian Perdagangan telah mencatat harga daging sapi yang berada di tiga puluh tiga Ibukota provinsi dalam empat range harga per kilogram. Pertama, pada kisaran harga Rp70 ribu-Rp80 ribu per kilogram, ada daerah Denpasar, Kupang, Gorontalo, Palu, Ambon, dan Manokwari. Di daerah itu, harga cenderung stagnan, seperti harga daging di Denpasar sebesar Rp70 ribu, Kupang seharga Rp72 ribu, serta Gorontalo, Palu, Ambon, dan Manokwari sebesar Rp80 ribu.
Pada range kedua, yaitu pada Rp80.001-Rp90.000, harga daging di kota Makassar mengalami kenaikan sebesar 4,08 persen, yaitu dari Rp81.667 menjadi Rp85 ribu per kilogram. Lalu, harga daging di Surabaya turun sebesar 0,46 persen, yaitu dari Rp86.600 menjadi Rp86.200. Sedangkan harga daging di Semarang, Manado, Kendari, Mamuju, Medan, Mataram, dan Serang cenderung tetap.
Di Semarang, harga dagingnya sebesar Rp83 ribu per kilogram. Di Manado, Kendari, dan Mamuju harga daging sapi tetap, yaitu sebesar Rp85 ribu per kilogram. Begitu pula dengan harga daging di Mataram dan Serang yang masih bercokol di angka Rp90 ribu per kilogram.
Pada range ketiga, yaitu Rp90.001-Rp100.000, harga daging sapi di Padang, Bengkulu, Sofifi, Palembang, dan Bandung tidak bergerak. Harga daging sapi di Padang, Bengkulu, dan Sofifi sebesar Rp95 ribu per kilogram, harga daging di Palembang sebesar Rp98 ribu, sedangkan harga daging di Bandung sebesar Rp98 ribu.
Harga komoditas pangan ini naik sebesar 1,09 persen, yaitu dari Rp92 ribu menjadi Rp93 ribu di Jakarta, naik sebesar 1,06 persen, dari Rp94 ribu menjadi Rp95 ribu di Pekanbaru, dan naik sebesar 0,34 persen, dari Rp98.334 menjadi Rp98.667 di Yogyakarta.
Sementara itu, harga daging di Jambi, mengalami kenaikan tertinggi di semua kelompok, yaitu sebesar 9,09 persen menjadi Rp100 ribu. Disusul dengan penurunan harga di Banda Aceh sebesar 5 persen, yaitu dari Rp100 ribu menjadi Rp95 ribu, dan di Bandar Lampung sebesar 1,99 persen.
Range yang terakhir adalah harga daging sapi di atas Rp100 ribu per kilogram dan terjadi di luar Pulau Jawa dan Sumatera. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan stok sapi lokal di daerah Pontianak, Banjarmasin, Palangkaraya, Samarinda, Tanjung Pinang, dan Jayapura. Tidak hanya itu, ketergantungan pasokan daging sapi dari luar daerah juga terdapat di daerah Pangkal Pinang dan Tanjung Pinang.
Di area ini, kenaikan harga tertinggi terjadi di Pangkal Pinang, yaitu sebesar 10 persen, dari Rp100 ribu menjadi Rp110 ribu. Harga daging sapi justru tetap di Palangkaraya, Samarinda, dan Tanjung Pinang. Harga daging di Palangkaraya sebesar Rp110 ribu, di Samarinda sebesar Rp111.650, dan di Tanjung Pinang sebesar Rp115 ribu.
Lalu, di Pontianak, harga daging turun sebesar 2,38 persen, yaitu dari Rp105 ribu menjadi Rp102.500, di Banjarmasin turun sebesar 7,57 persen, yaitu dari Rp113 ribu menjadi Rp104.444 per kilogram, dan di Jayapura turun harga dari Rp120 ribu menjadi Rp117.500 per kilogram atau turun sebesar 2,08 persen.
Harga Beras
Sementara itu, dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, harga beras di Indonesia jauh lebih mahal. Hal itu diungkapkan Direktur Analisis Pengembangan Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Yohanes Bambang Kristianto, pada acara yang sama.
"Harga beras di Indonesia pada September ini mencapai Rp10 ribu per kilogram, sedangkan harga beras di Vietnam Rp6 ribu per kilogram dan Thailand Rp7 ribu per kilogram," kata Bambang.
Dia mengatakan bahwa konsumsi beras dalam negeri sangat tinggi. Setiap orang mengkonsumsi beras sebesar 113,5 kg per tahun. Apabila penduduk Indonesia berjumlah 240 juta orang, total beras yang dikonsumsi bisa mencapai 230 juta ton. "Indonesia masih negara agraris, tapi masih tetap impor," kata Bambang.
Kemudian, harga beras yang mencapai Rp10 ribu per kg terbilang mahal dan itu memberatkan masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah. "Bayangkan saja tukang ojek yang pendapatannya cuma untuk membeli beras, padahal dia perlu membeli makanan lain, misalnya protein," kata dia.