• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita Indonesia.ready for disaster

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. byakuya
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

byakuya

IndoForum Activist C
No. Urut
46894
Sejak
25 Jun 2008
Pesan
14.460
Nilai reaksi
288
Poin
83
Edukasi yang baik menyebabkan korban Chile jauh lebih sedikit dibanding gempa Aceh 2004 lalu. RI harus sadar sebagai negara dengan potensi gempa paling tinggi di dunia.

Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI Jan Sopaheluwakan mengatakan potensi gempa Indonesia sangat tinggi. Setiap hari puluhan gempa terjadi di Indonesia dengan titik episentrum baik dangkal, menengah maupun dalam. Titik-titik ini juga tersebar merata di setiap wilayah Indonesia kecuali Kalimantan.

“Bisa dikatakan Indonesia potensi gempanya paling tinggi di dunia, istilah sleeping with earthquake memang sangat cocok dengan kondisi geologi di Indonesia. Pertemuan tiga lempeng lebih banyak dari dua lempeng di Jepang,” kata Jan di Jakarta, kemarin.

Menyangkut antisipasi jumlah korban, Jan mengatakan saat ini tidak ada sistem peringatan dini terhadap gempa. Tindakan baru diambil 5 menit setelah terjadinya gempa.

Tetapi untuk tsunami, Indonesia memiliki sistem peringatan dini disebut Indonesian Tsunami Warning System.

Dalam waktu 10 menit, sistem bisa langsung memberitahu pada pemerintah daerah untuk segera melakukan tindakan pencegahan dan evakuasi agar korban dapat diminimalisir. “BMKG punya teknologi tersebut,” ujar Jan. Selain itu, Jan menilai edukasi di Jepang dan Chile mengenai gempa dan tsunami jauh lebih baik dibandingkan Indonesia.

Kepala Bidang Gempa Bumi dan Gerakan Tanah Badan Geologi, I Gede Suantika mengatakan Indonesia merupakan kawasan yang sangat rawan gempa, karena terletak di antara pertemuan tiga lempeng yaitu Asia, Pasifik dan Australia. Daerah yang masuk rawan gempa adalah sepanjang pantai barat Sumatera, sepanjang pantai selatan Jawa, Maluku dan Papua. Daerah yang tidak dilewati lempengan adalah Kalimantan.

Ia mengatakan untuk mengantisipasi agar korban bisa diminimalisir, selain masyarakat diberi pendidikan mengenai waspada bencana, juga perlu dipersiapkan infra struktur yang tahan gempa.

Menyangkut jumlah gempa Chile yang jauh lebih sedikit dibandingkan Aceh ia beralasan kekuatannya berbeda. Meskipun terlihat hanya kecil 8,8 SR dengan di 9,4 SR, namun angka itu merupakan beda yang cukup besar.

“Beda satu tingkat, berarti satu tingkat lebih besar di Aceh. Korban di Chile menurut saya sudah sangat banyak, meskipun tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan Aceh. Pertama karena gempa yang tidak sama besar dan kekuatan tsunami pun jauh lebih besar di Aceh,” katanya.

Ia mengatakan dampak tsunami yang timbul di dua negara juga berbeda. Tsunami Aceh disebabkan gesekan lempengan yang terletak di depan laut. Sehingga tekanan air lebih besar dan gelombang tsunami juga lebih besar.

Sedangkan di Chile, gempa terjadi di pesisir pantai sehingga tidak terlalu menyebabkan gelombang tsunami yang tinggi. “Sederhananya, kerusakan Aceh lebih parah karena tsunami dibandingkan gempa. Sedangkan Chili parah karena gempa dibandingkan tsunami,” katanya.

Sementara Kepala Pusat Sains LAPAN Thomas Djamaludin mengatakan Indonesia sebenarnya sama rawannya dengan Jepang. “Oleh karena itu yang penting adalah memberikan informasi kepada masyarakat untuk waspada dan sigap gempa. Contohnya, memberikan pendidikan kepada siswa, seperti yang telah dilakukan saat ini,” katanya.

Lalu apakah masyarakat perlu waspada saat bulan purnama akan terjadi gempa dan tsunami? Thomas mengatakan LAPAN masih meneliti dampak bulan purnama terhadap gempa dan tsunami. LAPAN meneliti masalah itu karena kontroversial dan masih banyak yang meragukannya.

“Kemungkinan itu kami teliti. Secara sederhana, kami melihat bahwa efek pasang surut bulan dan matahari juga mempengaruhi jumlah maksimum air laut. Jumlah air laut ini mempengaruhi besar dari tsunami atau gempa. Karena pada dasarnya, gesekan dari lempengan akan menghasilkan energi potensial gempa. Energi potensial ini salah satu pendorongnya adalah kuantitas air laut,” imbuhnya
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.