• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Internasional Indonesia & Piala Afrika 2021

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Diggie
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Diggie

IndoForum Activist C
No. Urut
287751
Sejak
6 Apr 2020
Pesan
13.747
Nilai reaksi
1
Poin
0
Berikut adalah berita Indonesia & Piala Afrika 2021.

Indonesia & Piala Afrika 2021


Pemain Aljazair Yacine Brahimi berduel dengan pemain Sierra Leone Steven Caulker dalam pertandingan Grup E Piala Afrika 2021 antara Aljazair & Sierra Leone di Stade de Japoma, Douala, Kamerun, 11 Januari 2022. (REUTERS/MOHAMED ABD EL GHANY)

Jakarta (ANTARA) - Indonesia pada 2014 & sebelum tahun itu, tepatnya Liga Indonesia, boleh disebut masa emas bagi pesepak bola asal Afrika.

Bahkan pada 2014 hampir 40 pemain asal Afrika bermain dalam liga profesional Indonesia yg masih bernama Indonesia Super League itu.

Salah satu pemain Afrika terkenal yg bermain pada masa-sama sebelum 2014 yg dapat disebut adalah Roger Milla yg meramaikan liga Indonesia kala usianya sudah 42 tahun.

Baca juga: Kelechi Iheanacho antar Nigeria tundukkan Mesir 1-0

Milla adalah salah satu pemain Afrika perdana yg jadi bintang akbar kelas dunia yg membela Kamerun dalam tiga putaran final Piala Dunia hingga sukses ke perempat final Piala Dunia 1990.

Namun delapan tahun kemudian setelah 2014, mengutip laman Liga 1 Indonesia, cuma empat pemain Afrika yg bermain dalam liga utama di Tanah Air untuk musim 2021/2022.

Keempatnya adalah Jean Marie Privat Befolo Mbarga dari Kamerun untuk Bali United, Ezechiel Ndousel dari Chad bersama Bhayangkara FC, Makan Konate dari Mali yg membela Persija Jakarta, & bek Alie Sesay dari Sierra Leone yg memperkuat Persebaya Surabaya.

Banyak faktor yg menciptakan Indonesia tak lagi jadi magnet untuk pemain Afrika, tetapi umumnya terjadi karena minat klub-klub Indonesia kepada pemain asal Afrika memang tak lagi setinggi delapan tahun silam.

Faktornya dapat karena selera pelatih, hingga masalah administrasi seperti urusan visa yg acap mendorong klub-klub Indonesia jadi semakin meminati pemain asal Brazil atau Eropa & Asia.

Beberapa di antaranya bahkan merekrut pemain dari negara yg tidak memiliki kultur atau liga sepak bola yg kuat.

Memang jadi hak prerogatif klub-klub Indonesia dalam memilih pemain mana pun, khususnya dalam kaitannya dengan kebutuhan & kemampuan klub.

Tapi kualitas liga yg di antaranya dihadirkan dari lomba antar pemain lokal & asing yg baik, adalah tetap nomor satu.

Kualitas liga tak saja mencerminkan kemajuan sepak bola nasional, namun juga sering berdampak langsung kepada kiprah regu nasional dalam ajang-ajang internasional.

Thailand, Korea Selatan & Jepang adalah di antara contoh negara yg menikmati insentif akbar dari kualitas liga dalam menolong performa bagus dalam tingkat regional & internasional.

Memang tidak wajib menciptakan kualitas itu dengan cara mendatangkan pemain asing dari kawasan tertentu, katakanlah Afrika, tetapi patut jadi pertimbangan Benua Hitam ini memang sudah jadi salah satu gudang talenta sepak bola yg dilihat dunia.

Baca juga: Juara bertahan Piala Afrika ditahan imbang 0-0 oleh Sierra Leone

Sengit

Klub-klub di berbagai liga Eropa yg selama ini jadi kutub sepak bola profesional global pun menggandrungi mereka.

Dan beberapa dari bintang-bintang klub Eropa asal Afrika tengah bertempur dalam Piala Afrika 2021 di Kamerun sejak 9 Januari hingga 6 Februari 2022.

Turnamen bernama resmi Africa Cup of Nations ini sudah memasuki hari ketiga. Memang masih belum terlalu seru karena mungkin baru pertandingan perdana fase grup.

Tetapi pertandingan demi pertandingan berikutnya kemungkinan akbar bakal semakin sengit karena pasti tak ada regu yg mau terjegal di awal.

Pemain-pemainnya pun semakin terpicu untuk tampil secemerlang mungkin, tidak saja karena demi gengsi & kehormatan negara, namun juga demi reputasi kebintangan mereka yg mereka dapatkan dari liga-liga Eropa & bagian lain termasuk liga-liga Timur Tengah.

Afrika sendiri sudah lama jadi sumber talenta hebat sepak bola yg bahkan di antaranya menghasilkan legenda-legenda berkat mencapai puncak penampilan bersama klub-klub Eropa.

Di masa lalu, mereka menghasilkan para legenda seperti kiper Zimbabwer Bruce Grobbelaar yg membela Liverpool era 1990-an, Didier Drogba dari Pantai Gading yg mengantarkan Chelsea tiga kali pemenang Liga Inggris & sekali pemenang Liga Champions Eropa, George Weah, Abedi Pele & lainnya.

Baca juga: Boupendza bawa Gabon taklukkan debutan Comoros 1-0

Kini daftar pemain hebat dari Afrika itu makin panjang setelah masuk pula Mohamed Salah, Sadio Mane, Riyad Mahrez, Kalidou Koulibaly, Achraf Hakimi, Edmond Tapsoba, Victor Osimhen, Nicolas Pepe, Abdou Diallo, Karl Toko Ekambi, Naby Keita, & seterusnya.

Pemain-pemain itu kini tengah unjuk kemampuan guna mengukuhkan pencapaian akbar mereka dalam klub liga-liga terkenal Eropa, hingga Piala Afrika 2021 selesai awal Februari nanti.

Menurut lembaga konsultansi KPMG, saat ini ada 500-an pesepak bola asal Afrika yg masuk skuad inti sejumlah klub di 11 liga akbar Eropa.

Memang tak semua diimpor langsung dari Afrika karena beberapa di antaranya lahir & akbar di Eropa, namun itu sama sekali tak memupus fakta bahwa Afrika adalah gudang pesepak bola berbakat yg patut dilirik siapa saja, termasuk mungkin Indonesia.

Uniknya beberapa akbar mereka berasal dari bagian barat Afrika. Buktinya, sebanyak 15 dari 24 regu yg bertanding dalam Piala Afrika 2021 kebanyakan berada di bagian barat Afrika.

Kelimabelasnya adalah Mali, Burkina Faso, Pantai Gading, Senegal, Ghana, Gambia, Guinea, Sierra Leone, Guinea-Bissau, Mauritania, Cape Verde, Nigeria, Kamerun, Guinea Ekuatorial, & Gabon, walaupun Kamerun masuk zona Afrika tengah dalam kualifikasi.

Baca juga: Sylla antar Guinea menang 1-0 atas Malawi

Spesial

Afrika barat memang spesial & ini diakui oleh komunitas sepak bola Eropa. Legenda-legenda sepak bola dunia yg berasal Afrika beberapa akbar dari bagian barat benua ini.

Tim-tim Afrika barat juga menonjol dalam Piala Dunia di mana tiga negara Afrika yg pernah mencapai perempat final Piala Dunia semuanya dari Afrika barat, yakni Kamerun era Roger Milla, Senegal & Ghana.

Afrika bahkan menyaingi Eropa & Amerika Latin di kancah Olimpiade ketika Nigeria & Kemerun meraih medali emas sepak bola putra Olimpiade masing-masing pada 1996 & 2000.

Kamerun mungkin nama yg paling akrab bagi sepak bola Indonesia karena kerap menghadirkan wakilnya dalam sepak bola nasional termasuk Jean Marie Privat yg membela Bali United dalam Liga 1 Indonesia musim ini.

Mengapa Afrika barat begitu hebat? Menurut ilmuwan olahraga Tim Noakes, seperti dilaporkan BBC beberapa tahun lalu, itu terjadi karena faktor genetik & lingkungan.

Orang-orang Afrika bagian barat rata-rata lebih akbar & lebih kuat ketimbang yg dari bagian-bagian lainnya. Bahkan mereka terkenal sebagai sprinter-sprinter tangguh di benuanya.

Tetapi Mesir jadi anomali atas semua itu. Negeri Firaun ini bukan dari bagian barat Afrika & bukan pula dari bagian timurnya yg agak tertinggal dari bagian barat dalam urusan sepak bola.

Baca juga: Piala Afrika 2021, turnamen akbar yg nyaris luput dari perhatian

Mesir bahkan jadi negara yg paling sering mengikuti putaran final Piala Afrika & sekaligus paling sering menjuarainya sebanyak tujuh kali.

Menurut Noakes, hal itu terjadi karena Mesir mengimbangi superioritas fisik tim-tim Afrika barat dengan keterampilan tinggi dalam mengolah bola. Demikian pula Aljazair, Tunisia & Maroko yg seperti Mesir berada di bagian utara Afrika & juga masuk dunia Arab yg baru menuntaskan turnamen regional Piala Arab tahun lalu.

Negara-negara bagian barat Afrika sendiri (Kamerun, Ghana, Nigeria, & Pantai Gading) total sudah 14 kali menjuarai Piala Afrika, sedangkan negara-negara Afrika utara (Mesir, Aljazair, Tunisia & Maroko) total 11 kali.

Kini semua regu Afrika barat & Afrika utara yg pernah menjuarai Piala Afrika itu bertarung lagi dalam Piala Afrika 2021.

Persaingan di antara mereka sudah dimulai & kedudukan sementara sama kuat 1-1 ketika Maroko mengalahkan Ghana 1-0 & Nigeria menaklukkan Mesir 1-0.

Sudah pasti bukan cuma itu yg menarik perhatian, sebaliknya bakal banyak lagi yg dapat menghibur penggemar sepak bola sejagat dari turnamen itu.

Bagi yg berkepentingan dengan sepak bola profesional seperti klub-klub sepak bola profesional termasuk Indonesia, Piala Afrika dapat jadi petunjuk mengenai kemampuan Afrika khususnya di bagian baratnya dalam menyediakan talenta-talenta sepak bola yg baik yg dapat menolong meningkatkan kualitas lomba sepak bola di mana pun.

Baca juga: Konflik Kamerun bayang-bayangi Piala Afrika

Berita diatas dikutip dari internet, jika Indonesia & Piala Afrika 2021 adalah spam, mohon beritahu kami.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.