Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Nuswantara, Indonesia adalah negeri spiritual. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia spiritual berarti berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin) , artinya sesuatu yg bersifat non material. Dapat mencakup hal metafisis, supranatural maupun instink rasa. Sedangkan tuhan dalam KKBI sesuatu yg diyakini, dipuja, & disembah oleh manusia sebagai yg Mahakuasa, Mahaperkasa, & sebagainya.
Itulah sebabnya Pancasila sila perdana Ketuhanan Yang Maha ESA. Esa artinya memiliki sifat sama. Sifat Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Mengetahui, Maha Baik & sebagainya yg diakui oleh semua agama. ESA adalah bahasa sangkserta yg artinya Yang memiliki sifat sama, dzat sama. Eka berarti satu. Jadi bukan satu tuhan, apalagi satu agama duh! Ada fakta orang bergama & tidak beragama itu bukan ilusi.
Ke ESA-an tuhan sebagai yg diyakini sejak dahulu ketika agama-agama yg berasal dari Luar tanah Nusantara belum datang. Kepercayaan pada Yang Lebih Tinggi , Spirit (power) yg ada pada SOSOK yg disembah Shang Hyang, Batara-Batari, Dewa-Dewi & lain sebagainya yg dipercaya paling dekat dengan CiptaanNya yg termulia Manusia karena merupakan turunan langsung dewa-dewi di suatu wilayah, & yg menyediakan Alam Semesta (mahluk-mahluk terdahulu, hewan, tumbuhan, & non living thing -bebatuan).
Tradisi menyapa & berkomunikasi Para Spirit (Leluhur langsung yg sudah pindah alam), Dewa-Dewi dilakukan melalui meeting point PALINGGIH, tempat pemujaan, tempat sembahyang yg disiapkan manusia, warga masing-masing secara personal maupun kelompok. Ada yg menyiapkan di dalam kamar di pojok, ada yg dibawah pohon, dibebatuan, di pinggir sungai, dipinggir laut, di laut, di gunung dsb. Itulah medium material yg jadi bagian "keterbatasan" manusia dalam menjangkau Spirit.
Itulah sebabnya juga bangsa Nusantara kemudian dengan sangat mudah menerima ajaran religi apapun yg masuk ke Nusantara, karena semua religi itu menyembah suatu Yang Lebih Tinggi yg bagi orang awam "tak tampak" "tak dirasakan secara fisik" tetapi DIYAKINI keberadaanNya, KekuasaanNya.
Bagi manusia yg sudah mencapai keilmuwan spiritual tinggi, setingkat wali atau mereka yg langsung mendapat kewahyon dari Yang Maha Kuasa Dewa/Dewi, maka penyembahan langsung dapat dilakukan mereka & mereka dapat melihat langsung Para Sang Hyang yg disembah orang awam. Sehingga bila ada foto, arca sosok ataupun peninggalan yg disungkemi itu bukanlah memuja material tersebut, sebagaimana yg disangkakan oleh ilmuwan barat dengan menyebut dinamisme/aninimisme. Tidak mereka tidak menyembah batu, menyebah pohon, semua yg material itu hanyalah medium. Ada atau tidak ada medium yg disembah Yang Tinggi yg manusia awam belum mencapainya.
Maka ketika akhirnya ada religi dari timur tengah masuk nasrani maupun islam, dapatlah orang Nusantara menerimanya. Selain ada Yang disembah, ada juga ajaran kesehari-harian yg mengajarkan hal-hal baik. Berbagi (sedekah), adil, tidak membunuh, saling mengasihi dsb. Hal-hal yg sudah jadi bagian kehidupan spiritual sehari-hari bangsa di Nusantara. Terlebih dalam hubungan dengan Alam Semesta & Lingkungan Hidup, ada yg mengajarkan berkah se alam raya, artinya ya tidak membawa kerusakan dsb.
Ajaran hidup bermasyarakat saling berbuat baik SESAMA MANUSIA dan alam itulah inti dari semua ajaran spiritual Nusantara, & itu pula yg ada di religi yg masuk belakangan.Sehingga apabila ada ajaran religi yg bertentangan dengan hal-hal yg jadi inti spiritual bangsa Nusantara maka, tentunya Penguasa Spiritual di Nusantara juga tidak akan tinggal diam. Budhi akan kembali membawa kesentosaan & kedamaian.
SUMBER KE-1
Hari ini 12:15