byakuya
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 46894
- Sejak
- 25 Jun 2008
- Pesan
- 14.460
- Nilai reaksi
- 288
- Poin
- 83
Dalam penanganan pacsagempa, tidak hanya diperlukan tanggap darurat dan rehabilitasi terhadap kerusakan infrastruktur. Namun yang tak kelah pentingnya adalah meningkatkan kesiapsiagaan mitigasi terhadap bencana.
Mitigasi merupakan upaya untuk meminimalkan risiko bencana alam. Terlebih hingga saat ini tidak ada alat yang bisa memprediksi kapan bencana, terutama gempa bakal terjadi.
Menurut ahli manajemen bencana dari Universitas Indonesia, Ahmad Syafiq kesiapan mitigasi bencana di Indoensia masih lemah. Padahal, pendekatan ini dapat meminimalisasi jumlah korban akibat bencana. "Kita memang selalu respons dan melakukan rehabilitasi setelah terjadi becana. Namun yang perlu diperhatikan adalah kesiapan mitigasi bencana. Ini masih kurang dan harus diperkuat," katanya kepada okezone, Minggu (4/10/2009).
Dengan demikian, kata Ahmad Syafiq, saat terjadi bencana tidak terkesan panik respons, namun penanganan yang lebih sistematis dan terencana. Dia juga mengatakan, pentingnya proaktif dalam koordinasi berbagai organisasi atau lembaga yang terlibat dalam penanganan pacsabencana di lapangan.
Kata dia, koordinasi harus terpusat pada lembaga yang berwenang dan ditunjuk sehingga tidak saling menunggu. Misalnya, tersentral di pemda, dengan melakukan pendataan organisasi mana yang masuk dan apa yang akan mereka lakukan. Kemudian, undang organisasi itu duduk bersama untuk melihat operasional mapping.
"Pemetaan operasional ini harus sama-sama dilakukan dengan menekankan apa, dimana, dan kepada siapa, karena kita tak bisa mambatasi orang yang ingin membantu. Koordinasi proaktif juga meliputi resources yang dimiliki," ujar dia.
Mitigasi merupakan upaya untuk meminimalkan risiko bencana alam. Terlebih hingga saat ini tidak ada alat yang bisa memprediksi kapan bencana, terutama gempa bakal terjadi.
Menurut ahli manajemen bencana dari Universitas Indonesia, Ahmad Syafiq kesiapan mitigasi bencana di Indoensia masih lemah. Padahal, pendekatan ini dapat meminimalisasi jumlah korban akibat bencana. "Kita memang selalu respons dan melakukan rehabilitasi setelah terjadi becana. Namun yang perlu diperhatikan adalah kesiapan mitigasi bencana. Ini masih kurang dan harus diperkuat," katanya kepada okezone, Minggu (4/10/2009).
Dengan demikian, kata Ahmad Syafiq, saat terjadi bencana tidak terkesan panik respons, namun penanganan yang lebih sistematis dan terencana. Dia juga mengatakan, pentingnya proaktif dalam koordinasi berbagai organisasi atau lembaga yang terlibat dalam penanganan pacsabencana di lapangan.
Kata dia, koordinasi harus terpusat pada lembaga yang berwenang dan ditunjuk sehingga tidak saling menunggu. Misalnya, tersentral di pemda, dengan melakukan pendataan organisasi mana yang masuk dan apa yang akan mereka lakukan. Kemudian, undang organisasi itu duduk bersama untuk melihat operasional mapping.
"Pemetaan operasional ini harus sama-sama dilakukan dengan menekankan apa, dimana, dan kepada siapa, karena kita tak bisa mambatasi orang yang ingin membantu. Koordinasi proaktif juga meliputi resources yang dimiliki," ujar dia.
