yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Kekhawatiran pelaku pasar terhadap ancaman tingginya inflasi dan kenaikan kembali suku bunga acuan (BI Rate), memicu aksi jual di pasar saham Bursa Efek Indonesia. Pada penutupan transaksi hari ini, Senin 8 Juli 2013, indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok hingga di bawah 4.500.
Berdasarkan data BEI, IHSG rontok 169,18 poin (3,68 persen) menjadi 4.433,62. Selama transaksi, sebanyak 273 saham turun dan hanya 33 saham menguat. Volume perdagangan yang dibukukan mencapai 7,5 juta lot senilai Rp4,6 triliun dengan frekuensi transaksi 135,4 ribu kali.
Seluruh indeks saham sektoral melemah, dengan penurunan terbesar dialami sektor properti yang anjlok 5,93 persen. Disusul indeks saham sektor konsumsi yang turun 4,6 persen dan perdagangan 4,38 persen.
Analis PT panen Sekuritas Tbk, Purwoko Sartono, mengatakan, selain dari dalam negeri, faktor eksternal juga memengaruhi pergerakan IHSG. Sebagian besar indeks saham regional yang juga melemah, dipicu kekhawatiran pengurangan stimulus oleh bunk sentral sejumlah negara.
Kondisi itu terjadi menyusul beberapa data ekonomi seperti data tenaga kerja di AS yang menunjukkan pertumbuhan positif. "Selain dari AS, investor global juga khawatir bahwa pertumbuhan China akan tertahan oleh pengetatan kredit," ujar Purwoko.
Indeks diproyeksikan masih melemah pada transaksi besok, meski tekanan jual akan mereda. Kisaran support-resistance 4.370-4.470.
Rupiah melemah
Sementara itu, nilai tukar rupiah juga kembali melemah sore ini. Berdasarkan data kurs tengah bunk Indonesia, nilai tukar rupiah berada di level Rp9.960 per dolar AS. Sebelumnya, pada Jumat lalu, rupiah berada di posisi Rp9.945 per dolar AS.
Sebelumnya, Gubernur bunk Indonesia, Agus Martowardojo, mengatakan, cadangan devisa Indonesia telah turun US$7 miliar dari US$105,1 miliar sepanjang Juni menjadi US$98,1 miliar. Cadangan devisa Indonesia saat ini setara 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri.
Turunnya cadangan devisa itu, menurut dia, disebabkan keluarnya arus modal asing di Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham hingga US$4,1 miliar atau Rp40,1 triliun selama Juni 2013.
Selain itu, pelemahan cadangan devisa juga dipengaruhi oleh intervensi BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, selisih kurs neraca dan revaluasi aset. Meskipun, terjadi penurunan yang cukup dalam, Agus memastikan jumlah cadangan devisa saat ini cukup untuk melakukan stabilitasi nilai tukar rupiah.
Agus mencermati, pelemahan nilai rupiah masih lebih baik jika dibandingkan dengan negara regional yang lain. Rupiah, menurut dia, hanya mengalami depresiasi sebesar 3,01 persen, sedangkan Malaysia 3,3 persen, Singapura 3,8 persen, dan Filipina 5,04 persen.
Beberapa negara yang mengalami depresiasi cukup dalam adalah Jepang dan Korea Selatan masing-masing 14 persen dan 7 persen.