akatsukigold
IndoForum Junior D
- No. Urut
- 52840
- Sejak
- 16 Sep 2008
- Pesan
- 2.000
- Nilai reaksi
- 47
- Poin
- 48
Industri karet di Kalimantan Barat (Kalbar) semakin terpukul akibat krisis ekonomi global. Krisis yang berimbas pada anjloknya harga karet tersebut menyebabkan pihak importir menghentikan sementara order pemesanan karet dari daerah tersebut.
Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Kalbar Leo Abam mengatakan hingga saat ini order pemesanan di seluruh pabrik karet di Kalbar untuk tiga bulan ke depan masih kosong karena belum ada importir yang mengajukan kontrak penawaran. Padahal, dalam kondisi normal order itu biasanya sudah diajukan pihak importir sejak lima hingga enam bulan sebelumnya.
Leo belum bisa memastikan kerugian yang dialami ketiga belas pabrik karet tersebut karena penghentian order itu. Namun, yang pasti kondisi ini mengganggu produktivitas pabrik mengingat selama ini Amerika Serikat menjadi tujuan utama ekspor karet Kalbar, selain jepang
Kini pabrik karet hanya menyelesaikan sisa kontrak pesanan yang sebagian besar di antaranya akan habis pada bulan ini, kata Leo, Selasa (14/10).
Harga pembelian karet di tingkat pabrikan di Kalbar saat ini berkisar Rp6.800-Rp10.200 per kilogram. Sebelumnya, harga karet alam tersebut mencapai Rp16.200 per kilogram. Leo memperkirakan penghentian order pesanan oleh importir ini masih akan berlanjut hingga harga karet mencapai titik terendah. Namun, dia tidak menjelaskan harga terendah yang dimaksud
Penghentian order ini juga diduga berkaitan dengan kesulitan keuangan yang dialami pabrik pembuatan ban kendaraan sehingga permintaan bahan baku menurun. Mengingat sebagian besar bahan olahan karet digunakan sebagai bahan baku pembuatan ban, jelasnya.
Hantaman krisis ekonomi global membuat industri karet di Kalbar semakin terpukul. Sebab, sebelumnya industri karet di daerah itu telah mengalami krisis bahan baku karena pasokannya tidak sebanding dengan kapasitas yang tersedia. Selama ini produksi karet Kalbar hanya mampu memasok maksimal separuh dari kapasitas pabrik yang tersedia, sebesar 400 ton per tahun
Selain masih rendahnya produktivitas lahan yang sebagian besar merupakan perkebunan rakyat, minimnya pasokan bahan baku itu diduga juga disebabkan maraknya penyelundupan karet ke Malaysia. Para petani dan pedagang tergiur menjual karet ke negera tetangga tersebut karena harga jual di sana lebih tinggi.
Jika dampak krisis dan permasalahan tersebut dibiarkan terus berlanjut, dapat mengancam kelangsungan industri karet Kalbar, kata Leo.
Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Kalbar Leo Abam mengatakan hingga saat ini order pemesanan di seluruh pabrik karet di Kalbar untuk tiga bulan ke depan masih kosong karena belum ada importir yang mengajukan kontrak penawaran. Padahal, dalam kondisi normal order itu biasanya sudah diajukan pihak importir sejak lima hingga enam bulan sebelumnya.
Leo belum bisa memastikan kerugian yang dialami ketiga belas pabrik karet tersebut karena penghentian order itu. Namun, yang pasti kondisi ini mengganggu produktivitas pabrik mengingat selama ini Amerika Serikat menjadi tujuan utama ekspor karet Kalbar, selain jepang
Kini pabrik karet hanya menyelesaikan sisa kontrak pesanan yang sebagian besar di antaranya akan habis pada bulan ini, kata Leo, Selasa (14/10).
Harga pembelian karet di tingkat pabrikan di Kalbar saat ini berkisar Rp6.800-Rp10.200 per kilogram. Sebelumnya, harga karet alam tersebut mencapai Rp16.200 per kilogram. Leo memperkirakan penghentian order pesanan oleh importir ini masih akan berlanjut hingga harga karet mencapai titik terendah. Namun, dia tidak menjelaskan harga terendah yang dimaksud
Penghentian order ini juga diduga berkaitan dengan kesulitan keuangan yang dialami pabrik pembuatan ban kendaraan sehingga permintaan bahan baku menurun. Mengingat sebagian besar bahan olahan karet digunakan sebagai bahan baku pembuatan ban, jelasnya.
Hantaman krisis ekonomi global membuat industri karet di Kalbar semakin terpukul. Sebab, sebelumnya industri karet di daerah itu telah mengalami krisis bahan baku karena pasokannya tidak sebanding dengan kapasitas yang tersedia. Selama ini produksi karet Kalbar hanya mampu memasok maksimal separuh dari kapasitas pabrik yang tersedia, sebesar 400 ton per tahun
Selain masih rendahnya produktivitas lahan yang sebagian besar merupakan perkebunan rakyat, minimnya pasokan bahan baku itu diduga juga disebabkan maraknya penyelundupan karet ke Malaysia. Para petani dan pedagang tergiur menjual karet ke negera tetangga tersebut karena harga jual di sana lebih tinggi.
Jika dampak krisis dan permasalahan tersebut dibiarkan terus berlanjut, dapat mengancam kelangsungan industri karet Kalbar, kata Leo.