facebookeb
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 210735
- Sejak
- 9 Jan 2013
- Pesan
- 7.471
- Nilai reaksi
- 100
- Poin
- 48
Temuan ini membuka jalan menuju penggunaan bahan bakar ramah lingkungan, dilansir laman Japantoday.com, Senin 9 Desember 2013.
Hidrogen jamak digunakan sebagai bahan bakar roket dan sel bahan bakar berbasis baterai. Hidrogen dipilih karena menawarkan bahan bakar non polusi. Sayangnya, adopsi hidrogen terbentur biaya yang tinggi.
Dalam risetnya, peneliti Prancis menggunakan aluminium oksida guna mempercepat produksi hidrogen secara alami saat air bersua dengan olivin di bawah suhu tinggi dan tekanan yang ditemukan pada kedalaman yang besar. Olivin merupakan sejenis bebatuan.
"Kami telah mengatasi solusi awal untuk produksi energi bebas karbon," ujar Muriel Andreani, pemimpin penelitian dari University Claude Bernard Lyon 1 keapda Reuters.
Dia mengatakan, penambahan aluminium oksida membuat proses alami tujuh hingga 50 kali lebih cepat, dengan menggunakan suhu antara 200 dan 300 derajat Celcius pada tekanan setara dua kali kedalaman laut terdalam.
Dalam prosesnya, olivin berubah jadi mineral yang berkelok-kelok dan air kemudian terpecah ke dalam komponen hidrogen dan oksigen.
Dewasa ini, untuk memproduksi hidrogen peneliti menggunakan suhu lebih dari 700 derajat Celcius. Dengan temuan baru penggunaan suhu yang lebih rendah menjadi lebih efisien.
"Adopsi bahan bakar bebas emisi ini diperkirakan akan siap secara global dalam 50 tahun mendatang," ujar Jesse Ausubel, peneliti Universitas Rockefeller, New York.
Studi bahan bakar hidrogen ini merupakan bagian dari Deep Carbon Observatory (DCO), sebuah proyek 10 tahun yang dijadwalkan rampung 2019 mendatang. Proyek ini melibatkan 1.000 peneliti dari 40 negara.
Temuan akan dipresentasikan pada konvensi internasional American Geophysical Union di San Francisco selama 9-13 Desember 2013.
Sebelumnya, laporan awal studi sudah dipublikasikan pada jurnal American Minrralogist edisi Oktober.