Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Kisah Pierre Tendean & Rukmini Chaimin sejatinya bakal berlanjut ke pelaminan. Namun, sejarah berkata lain. Pernikahan itu tidak pernah terjadi karena Pierre Tendean jadi korban dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 yg disebut melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI) & sejumlah oknum dari unsur kemiliteran.
Letnan Satu Pierre Tendean adalah ajudan Menteri Pertahanan Republik Indonesia kala itu, Jenderal Abdul Haris (A.H.) Nasution. Malam itu, tanggal 30 September 1965 jelang pergantian bulan, Pierre Tendean yg sedang bertugas di kediaman sang jenderal mengalami kejadian tak terduga yg nantinya jadi akhir dari segalanya.
Sejarah Hidup Pierre Tendean Hingga G30S
Sejak kecil, Pierre Tendean bercita-cita jadi prajurit, atau setidaknya jadi dokter seperti ayahnya. Tahun 1958, ia diterima di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung & kemudian lulus dengan menyandang pangkat letnan dua.
Pierre Tendean lalu ditugaskan sebagai Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Sumatera Utara sejak 1961. Semasa berdinas di Medan inilah ia berkenalan dengan Rukmini Chaimin. Jalinan asmara dua sejoli ini semakin serius & berniat mengikat janji bersama.
Tahun 1962, tulis Gamal Komandoko dalam Kisah 124 Pahlawan & Pejuang Nusantara (2006), Pierre Tendean dikirim ke Bogor untuk menjalani pendidikan intelijen. Setelah lulus, ia bergabung dengan Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) & disusupkan ke Malaysia yg kala itu sedang terlibat konfrontasi dengan Indonesia.
Karier Pierre Tendean di kemiliteran melaju mulus lantaran kecakapannya sehingga mendapatkan kenaikan pangkat letnan satu pada 1965. Masa depannya semakin cerah karena tidak lama setelah itu, Lettu Pierre Tendean dipromosikan untuk mengemban tugas sebagai ajudan Jenderal A.H.Nasution.
Kisah Cinta Pierre Tendean & Rukmini Chaimin
21 Februari 1939 Lahirnya Pierre Tendean Pahlawan Revolusi
Akhir Juli 1965, Letnan Satu Pierre Tendean ditugaskan mengawal Jenderal A.H. Nasution beserta istri ke Medan untuk mengerjakan peninjauan. Kesempatan ini tidak cuma dipakai Pierre Tendean melepas rindu kepada Rukmini. Ia menemui orang tua Rukmini untuk melamar kekasihnya itu.
Jangan terlalu memuja calon istrimu. Jangan sekali-kali mempunyai anggapan bahwa sayangmu kepada calon istrimu tidak dapat dipisahkan oleh siapa pun.
Pesan sang ibunda yg dinukil dari buku Jejak Sang Ajudan: Sebuah Biografi Pierre Tendean (2018) yg disusun Ahmad Nowmenta Putra & Agus Lisna itu dihinggakan tepat dua hari sebelum peristiwa berdarah Gerakan 30 September 1965 terjadi.
Jasad Pierre Tendean & 6 jenderal TNI-AD ditemukan, kemudian dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, tanggal 5 Oktober 1965. Pemerintah RI menetapkan Pierre Tendean sebagai salah satu pahlawan revolusi & secara anumerta dipromosikan naik pangkat kapten.
Profil & Biodata Pierre Tendean
Berikut ini jejak-rekam Pierre Tendean dalam kronik:
1939
Pierre Andries Tendean dilahirkan di Jakarta tanggal 21 Februari 1939. Ayahnya, A.L. Tendean, merupakan seorang dokter kelahiran Manado, Sulawesi Utara. Sedangkan sang ibunda, Maria Elizabeth Cornet, adalah perempuan blasteran Indo-Perancis.
__________________________________
1958
Sejak kecil, Pierre Tendean sudah bercita-cita jadi prajurit, atau setidaknya jadi dokter seperti ayahnya. Tahun 1958, ia diterima di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung.
__________________________________
1961
Pierre Tendean lulus dari akademi militer dengan menyandang pangkat letnan dua. Pada 1961, ia ditugaskan jadi Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Sumatera Utara.
__________________________________
1962
Setahun di Sumatera Utara, Pierre Tendean dikirim ke Bogor untuk menjalani pendidikan intelijen. Setelah lulus, ia bergabung dengan Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) & disusupkan ke Malaysia yg kala itu sedang terlibat konfrontasi dengan Indonesia.
__________________________________
1965
Pierre Tendean naik pangkat jadi letnan satu pada 1965 & ditugaskan sebagai ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution. Malam hari tanggal 1 September 1965, punggawa pimpinan Pelda Djaharup sebanyak satu kompi bersenjata & satu peleton milisi sipil komunis menyambangi rumah Nasution.
Mendengar suara gaduh, Pierre Tendean terjaga & segera melihat apa yg terjadi. Tak disangka, ia ditodong senapan oleh para penculik yg mengira Pierre adalah Jenderal Nasution. Ia dibawa ke Lubang Buaya & ditembak mati di sana.
Jasad Pierre Tendean & beberapa jenderal TNI-AD ditemukan, kemudian dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada 5 Oktober 1965. Pemerintah RI menetapkan Pierre Tendean sebagai salah satu pahlawan revolusi & secara anumerta dipromosikan jadi kapten.