• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

IKATAN CINTA BERAKHIR 30 SEPTEMBER

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
IKATAN CINTA BERAKHIR 30 SEPTEMBER
Kisah Pierre Tendean & Rukmini Chaimin dikandaskan sejarah. Pahlawan Revolusi Pierre Tendean jadi korban dalam peristiwa G30S 1965.

Kisah Pierre Tendean & Rukmini Chaimin sejatinya bakal berlanjut ke pelaminan. Namun, sejarah berkata lain. Pernikahan itu tidak pernah terjadi karena Pierre Tendean jadi korban dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 yg disebut melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI) & sejumlah oknum dari unsur kemiliteran.

Letnan Satu Pierre Tendean adalah ajudan Menteri Pertahanan Republik Indonesia kala itu, Jenderal Abdul Haris (A.H.) Nasution. Malam itu, tanggal 30 September 1965 jelang pergantian bulan, Pierre Tendean yg sedang bertugas di kediaman sang jenderal mengalami kejadian tak terduga yg nantinya jadi akhir dari segalanya.


IKATAN CINTA BERAKHIR 30 SEPTEMBER
Satu kompi militer bersenjata beserta satu peleton milisi sipil yg disebut pro gerakan PKI menyambangi rumah Jenderal Nasution di Menteng, Jakarta Pusat, pada tengah malam itu. Letnan Satu Pierre Tendean yg dikira sang jenderal kemudian diculik, dibawa paksa ke Lubang Buaya, lalu dibunuh.




Sejarah Hidup Pierre Tendean Hingga G30S

IKATAN CINTA BERAKHIR 30 SEPTEMBER
Nama lengkapnya adalah Pierre Andries Tendean, lahir di Jakarta tanggal 21 Februari 1939. Ayahnya, A.L. Tendean, diketahui sebagai seorang dokter yg berasal dari Manado, Sulawesi Utara. Sedangkan sang ibunda, Maria Elizabeth Cornet, merupakan blasteran Indo-Perancis.


Sejak kecil, Pierre Tendean bercita-cita jadi prajurit, atau setidaknya jadi dokter seperti ayahnya. Tahun 1958, ia diterima di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung & kemudian lulus dengan menyandang pangkat letnan dua.

Pierre Tendean lalu ditugaskan sebagai Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Sumatera Utara sejak 1961. Semasa berdinas di Medan inilah ia berkenalan dengan Rukmini Chaimin. Jalinan asmara dua sejoli ini semakin serius & berniat mengikat janji bersama.



Tahun 1962, tulis Gamal Komandoko dalam Kisah 124 Pahlawan & Pejuang Nusantara (2006), Pierre Tendean dikirim ke Bogor untuk menjalani pendidikan intelijen. Setelah lulus, ia bergabung dengan Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) & disusupkan ke Malaysia yg kala itu sedang terlibat konfrontasi dengan Indonesia.

Karier Pierre Tendean di kemiliteran melaju mulus lantaran kecakapannya sehingga mendapatkan kenaikan pangkat letnan satu pada 1965. Masa depannya semakin cerah karena tidak lama setelah itu, Lettu Pierre Tendean dipromosikan untuk mengemban tugas sebagai ajudan Jenderal A.H.Nasution.



Kisah Cinta Pierre Tendean & Rukmini Chaimin

IKATAN CINTA BERAKHIR 30 SEPTEMBER
Pierre Tendean adalah sosok pemuda yg tampan & berparas mirip bule dari darah campuran dari sang ibunda yg mengalir di dalam nadinya.

IKATAN CINTA BERAKHIR 30 SEPTEMBER
Sejak jadi taruna Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD), Letnan Satu Pierre [Tendean] sudah jadi pusat perhatian gadis-gadis remaja, ungkap Masykuri dalam buku yg ditulisnya berjudul Pierre Tendean (1983).

IKATAN CINTA BERAKHIR 30 SEPTEMBER
Saat ditugaskan di Medan pada 1961, Pierre Tendean pun jadi buah bibir para gadis yg terpesona dengan ketampanannya. Dikutip dari buku Monumen Pancasila akti (1975), ada satu gadis yg menarik perhatian Pierre Tendean. Perempuan itu bernama Rukmini Chaimin.

IKATAN CINTA BERAKHIR 30 SEPTEMBER
Hubungan dua sejoli ini beranjak serius, bahkan hingga ketika mereka terpisah jarak & waktu karena Pierre Tendean harus menjalankan tugas & meninggalkan Sumatera Utara, hingga ditarik ke Jakarta untuk jadi ajudan Jenderal A.H. Nasution.

21 Februari 1939 Lahirnya Pierre Tendean Pahlawan Revolusi


Akhir Juli 1965, Letnan Satu Pierre Tendean ditugaskan mengawal Jenderal A.H. Nasution beserta istri ke Medan untuk mengerjakan peninjauan. Kesempatan ini tidak cuma dipakai Pierre Tendean melepas rindu kepada Rukmini. Ia menemui orang tua Rukmini untuk melamar kekasihnya itu.

IKATAN CINTA BERAKHIR 30 SEPTEMBER
Lamaran Pierre Tendean diterima & disepakati bahwa perkawinan akan digelar beberapa bulan mendatang, tepatnya tanggal 21 November 1965. Kabar gembira ini kemudian dihinggakan Pierre Tendean kepada ibunya. Sang ibunda berpesan kepada putra kesayangannya itu:

Jangan terlalu memuja calon istrimu. Jangan sekali-kali mempunyai anggapan bahwa sayangmu kepada calon istrimu tidak dapat dipisahkan oleh siapa pun.

Pesan sang ibunda yg dinukil dari buku Jejak Sang Ajudan: Sebuah Biografi Pierre Tendean (2018) yg disusun Ahmad Nowmenta Putra & Agus Lisna itu dihinggakan tepat dua hari sebelum peristiwa berdarah Gerakan 30 September 1965 terjadi.

IKATAN CINTA BERAKHIR 30 SEPTEMBER
Takdir berkehendak lain. Tragedi G30S 1965 yg menyorot keterlibatan orang-orang PKI & sejumlah oknum dari unsur militer ternyata turut merenggut nyawa Letnan Satu Pierre Tendean. Sang pembela bangsa yg oleh gerombolan penculik dikira atasannya, yakni Jenderal A.H. Nasution, jadi korban bersama 6 perwira tinggi TNI Angkatan Darat.

Jasad Pierre Tendean & 6 jenderal TNI-AD ditemukan, kemudian dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, tanggal 5 Oktober 1965. Pemerintah RI menetapkan Pierre Tendean sebagai salah satu pahlawan revolusi & secara anumerta dipromosikan naik pangkat kapten.

Profil & Biodata Pierre Tendean



Berikut ini jejak-rekam Pierre Tendean dalam kronik:

1939

Pierre Andries Tendean dilahirkan di Jakarta tanggal 21 Februari 1939. Ayahnya, A.L. Tendean, merupakan seorang dokter kelahiran Manado, Sulawesi Utara. Sedangkan sang ibunda, Maria Elizabeth Cornet, adalah perempuan blasteran Indo-Perancis.

__________________________________

1958

Sejak kecil, Pierre Tendean sudah bercita-cita jadi prajurit, atau setidaknya jadi dokter seperti ayahnya. Tahun 1958, ia diterima di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung.

__________________________________

1961

Pierre Tendean lulus dari akademi militer dengan menyandang pangkat letnan dua. Pada 1961, ia ditugaskan jadi Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Sumatera Utara.

__________________________________

1962

Setahun di Sumatera Utara, Pierre Tendean dikirim ke Bogor untuk menjalani pendidikan intelijen. Setelah lulus, ia bergabung dengan Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) & disusupkan ke Malaysia yg kala itu sedang terlibat konfrontasi dengan Indonesia.

__________________________________

1965

Pierre Tendean naik pangkat jadi letnan satu pada 1965 & ditugaskan sebagai ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution. Malam hari tanggal 1 September 1965, punggawa pimpinan Pelda Djaharup sebanyak satu kompi bersenjata & satu peleton milisi sipil komunis menyambangi rumah Nasution.

Mendengar suara gaduh, Pierre Tendean terjaga & segera melihat apa yg terjadi. Tak disangka, ia ditodong senapan oleh para penculik yg mengira Pierre adalah Jenderal Nasution. Ia dibawa ke Lubang Buaya & ditembak mati di sana.



Jasad Pierre Tendean & beberapa jenderal TNI-AD ditemukan, kemudian dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada 5 Oktober 1965. Pemerintah RI menetapkan Pierre Tendean sebagai salah satu pahlawan revolusi & secara anumerta dipromosikan jadi kapten.


IKATAN CINTA BERAKHIR 30 SEPTEMBER
IKATAN CINTA BERAKHIR 30 SEPTEMBER


IKATAN CINTA BERAKHIR 30 SEPTEMBER
Hari ini 00:57
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.