yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Warga Kabupaten Pulau Morotai memilih untuk mengkonsumsi telur di tengah melonjaknya harga ikan yang mencapai Rp 300.000 per ekor untuk jenis ikan cakalang. Namun masih banyak pula warga yang tetap mengkonsumsi ikan meski harganya mahal.
Seperti yang dialami Nurain Kadjim (27). Dia mengaku sudah tiga hari belakangan mengkonsumsi telur sebagai pengganti ikan karena harga ikan di pasaran sangat mahal. Itu artinya, sudah tiga hari ini keluarga Nurain ini tidak lagi mengkonsumsi ikan. Padahal ikan merupakan menu makanan utama bagi masyarakat Maluku Utara, khususnya lagi di Morotai.
"Bagaimana mau makan ikan kalau mahal begitu. Kalau saya beli telur sisanya saya bisa beli kebutuhan lain. Harga ikan sama seperti harga beras satu karung, tapi masih mendingan beras bisa makan berhari-hari. Ikan Rp 300.000 hanya makan satu dua kali saja," ulas Nurain, Rabu (1/8/2012).
PNS di Pemkab Pulau Morotai ini mengaku tidak mau beralih ke daging sebagai pengganti ikan lantaran harga daging khususnya ayam di Morotai juga mulai merangkak naik. Harga daging ayam sekilo berkisar Rp 35.000-Rp 40.000. Normalnya harga daging ayam di Morotai antara Rp 30.000-Rp 35.000.
Lain halnya dengan Nunung (24), ibu rumah tangga yang satu ini tetap membeli ikan meski harganya selangit. Namun dia tetap saja mengeluh dengan harga ikan di Morotai saat ini.
"Soalnya anak saya kalau tidak makan ikan tidak mau. Makanya mau tidak mau tetap beli meski mahal," tutur Nunung.
Warga berharap melonjaknya harga ikan yang fantastis ini secepatnya berakhir. Apalagi lonjakan ikan kali ini bertepatan dengan bulan Ramadhan. Dimana konsumsi rumah tangga untuk ikan boleh dibilang meningkat.
"Siapa yang mau mahal? Semua orang mau murah bila perlu gratis. Kalau tanya saya ya saya bilang penjual ikan jangan terlalu kasih naik harga ikan," pungkas Nunung.
Seperti yang dialami Nurain Kadjim (27). Dia mengaku sudah tiga hari belakangan mengkonsumsi telur sebagai pengganti ikan karena harga ikan di pasaran sangat mahal. Itu artinya, sudah tiga hari ini keluarga Nurain ini tidak lagi mengkonsumsi ikan. Padahal ikan merupakan menu makanan utama bagi masyarakat Maluku Utara, khususnya lagi di Morotai.
"Bagaimana mau makan ikan kalau mahal begitu. Kalau saya beli telur sisanya saya bisa beli kebutuhan lain. Harga ikan sama seperti harga beras satu karung, tapi masih mendingan beras bisa makan berhari-hari. Ikan Rp 300.000 hanya makan satu dua kali saja," ulas Nurain, Rabu (1/8/2012).
PNS di Pemkab Pulau Morotai ini mengaku tidak mau beralih ke daging sebagai pengganti ikan lantaran harga daging khususnya ayam di Morotai juga mulai merangkak naik. Harga daging ayam sekilo berkisar Rp 35.000-Rp 40.000. Normalnya harga daging ayam di Morotai antara Rp 30.000-Rp 35.000.
Lain halnya dengan Nunung (24), ibu rumah tangga yang satu ini tetap membeli ikan meski harganya selangit. Namun dia tetap saja mengeluh dengan harga ikan di Morotai saat ini.
"Soalnya anak saya kalau tidak makan ikan tidak mau. Makanya mau tidak mau tetap beli meski mahal," tutur Nunung.
Warga berharap melonjaknya harga ikan yang fantastis ini secepatnya berakhir. Apalagi lonjakan ikan kali ini bertepatan dengan bulan Ramadhan. Dimana konsumsi rumah tangga untuk ikan boleh dibilang meningkat.
"Siapa yang mau mahal? Semua orang mau murah bila perlu gratis. Kalau tanya saya ya saya bilang penjual ikan jangan terlalu kasih naik harga ikan," pungkas Nunung.