• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

IDUL GHADIR, HARI RAYA YANG JARANG DIKETAHUI UMAT ISLAM

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
IDUL GHADIR, HARI RAYA YANG JARANG DIKETAHUI UMAT ISLAM


Hari ini, 18 Dzul-Hijjah kaum Muslimin merayakan sebuah hari raya, bahkan merupakan hari raya terbesar di antara hari-hari raya Islam, seperti Idul Fitri & Idul Qurban. Hari itu adalah hari imamah, khilafah & hari kesempurnaan agama & kemanusiaan. Hari dimana Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As dinobatkan sebagai imam & khalifah kaum Muslimin pasca Rasulullah Saw. Hari itu sepanjang perjalanan sejarah kaum Muslimin diketahui sebagai hari Ghadir.

Apabila Ghadir bermakna kembalinya ingatan pada perubahan akbar dalam sejarah umat manusia, di tengah budaya kaum Muslimin, hari Ghadir layak untuk diperingati sebagai hari raya akbar umat manusia khususnya bagi kaum Muslimin.

Lantaran perubahan akbar dalam sejarah umat manusia berlangsung pada hari ini. Dan sebagaimana kita mendengar dari lisan riwayat, bahwa pada hari ini kesempurnaan agama & kebahagiaan manusia sudah distempel & dijamin.

Seluruh agama-agama samawi, sebagai pendahulu agama Islam sudah sempurna pada hari Ghadir. Dan Tuhan semesta alam (Rabbul Alamin) sudah rela dengan agama Islam.

Pada hari ini Aku sudah sempurnakan agamamu untukmu & sudah Kulengkapi nikmatKu atasmu & Aku ridha Islam sebagai agamamu. (Qs. al-Maidah [5]:3)[1]

Dan tidak satu pun peristiwa yg lebih signifikan melebihi sempurnanya agama pada kehidupan manusia. Dan oleh sebab itu, tidak ada hari yg lebih layak untuk diperingati & dimeriahkan melebihi hari Ghadir.

Dan persis dengan alasan yg sama, Rasulullah Saw pada hari ini ia umumkan sebagai hari ied & meminta kepada kaum Muslimin untuk menyampaikan ucapan selamat kepadanya.

Rasulullah Saw bersabda:

Berikan ucapan selamat kepadaku, berikan ucapan selamat kepadaku. Sesungguhnya Allah mengkhususkan kepadaku kenabian (nubuwwah) & kepemimpinan (imamah) kepada keluargaku.[2]

Dan ia juga bersabda:

Hari Ghadir merupakan hari ied yg paling afdhal. Pada hari itu, Allah Swt menugaskan kepadaku untuk memperingatinya dengan melantik saudaraku Ali ibn Abi Thalib bagi umatku; sehingga selepasku mereka menemukan hidayah. Allah Swt menyempurnakan agama & melengkapkan sedap bagi umatku pada hari itu & ridha Islam sebagai agama merekanya.[3]

Oleh karena itu, memperhatikan hari Ghadir sebagai salah satu hari ied dalam Islam memiliki akar pada masa Rasulullah Saw. Dan Rasulullah Saw mengumumkan pada hari itu sebagai hari ied & ia pada hakikatnya merupakan pencetus hari ied ini.

Selepas Rasulullah Saw, para imam maksum sangat memberikan perhatian spesifik kepada hari Ghadir sebagai hari ied.

Amirul Mukminin Ali As pada hari Ghadir yg bertepatan dengan hari Jumat menyampaikan khutbah. Dan khutbah tersebut adalah sebagai berikut:

Semoga Allah Swt merahmati kalian! Hari ini bagikanlah kepada keluarga kalian uang belanja. Dan bersikap santunlah kepada saudara-saudara kalian, & bersyukurlah kepada Allah Swt yg sudah menganugerahkan sedap ini kepada kalian. Senantiasalah kalian bersama sehingga Allah Swt mengumpulkan orang-orang yg berpisah di antara kalian. Berbuat baiklah kepada sesama kalian, sehingga Allah Swt mendatangkan rahmat dengan keakraban & perkumpulan ini.

Dan demikianlah Allah Swt menganugerahkan sedap kepada kalian, ganjaran atas ied hari ini dilipatgandakan atas hari-hari ied yg lain. Dan di antara nikmatnya adalah bahwa sesama kalian hendaknya saling membimibng. Berbuat baik pada hari ini akan memperbanyak rizki & memanjangkan usia. Bersikap pemurah pada hari ini akan mendatangkan sayang & kasih Tuhan.[4]

Sebagaimana kita ketahui bahwa pada masa khilafah Amirul Mukminin Ali As banyak di antara sahabat Rasulullah Saw ikut hadir dalam seremoni Ghadir. Dan mereka mendengar sabda Imam Ali ini; apabila ied tidak pasti bagi mereka, niscaya mereka akan menyampaikan protes.

Selepas Amirul Mukminin As, sejauh yg dapat direkam oleh para perawi, para imam maksum sangat memberikan perhatian kepada hari Ied ini. Mereka merayakan & memeriahkan hari tersebut. Pada hari ini mereka menunaikan puasa. Dan mereka meminta kepada para sahabat & kerabatnya untuk menunaikan puasa juga sebagaimana mereka.

Tsiqtul Islm Kulaini dalam al-Kfi, yg meriwayatkan dari Salim:

Aku berkata kepada Imam Shadiq As: Apakah kaum Muslimin memiliki hari ied selain hari Jumat, Idul Fitri & Idul Adha?

Ia bersabda: Iya, Idul akbar (hari raya yg paling besar).

Aku bertanya lagi: Hari apa itu wahai Imam?

Imam bersabda: Hari tatkala Rasulullah Saw menetapkan wilyah Amirul Mukminin As & bersabda: Man kuntu mawlahu, fa Aliyun mawlahu.[5]

Dan juga diriwayatkan dari Hasan ibn Rasyid yg mengajukan pertanyaan kepada Imam Shadiq As. Ia berkata: Semoga diriku jadi tebusanmu wahai Imam! Apakah kaum Muslimin memiliki ied selain Idul Fitri & Idul Adha?

Imam bersabda: Iya. Lebih akbar & lebih utama dari keduanya.

Aku berkata: Hari apakah itu wahai Imam?

Imam bersabda: Hari ketika wilyah Amirul Mukminin Ali As ditetapkan.

Aku berkata: Semoga diriku jadi tebusanmu! Pada hari ini, apa yg harus kami lakukan?

Imam As bersabda: Berpuasa & bershalawat ke atas Nabi Saw & keluarganya. Tunjukanlah rasa penyesalan dari orang-orang yg engkau tindas. Para nabi Ilahi memerintahkan kepada para khalifah mereka bahwa pada hari penetapan khalifah dirayakan sebagai hari ied.

Aku berkata: Apa ganjaran bagi orangyang mengerjakan puasa pada hari ini?

Imam As bersabda: Ganjarannya adalah sebanding dengan enam ratus bulan berpuasa.[6]

Demikian juga, Furat ibn Ibrahim meriwayatkan dalam kitab tafsirnya bahwa Imam Shadiq As ditanya: Apakah kaum Muslimin memiliki ied yg lebih utama daripada Idul Fitri, Idul Adha & hari Jumat & hari Arafah?

Imam As bersabda: Iya. Lebih utama, lebih mulia & lebih akbar dari seluruh ied di sisi Allah. Dan hari itu adalah hari dimana Allah Swt menyempurnakan agama-Nya, & menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya:

Pada hari ini Aku sudah sempurnakan agamamu untukmu & sudah Kulengkapi nikmatKu atasmu & Aku ridha Islam sebagai agamamu. (Qs. al-Maidah [5]:3)

Seorang perawi berkata: Hari apakah itu?

Imam bersabda: Para Nabi Bani Israel tatkala menetapkan khalifah & pengganti mereka, mereka merayakannya sebagai hari ied. Dan hari ied untuk kaum Muslimin adalah hari dimana Rasulullah Saw menetapkan wilayah Imam Ali As. Dan pelbagai ayat turun berkaitan dengannya, & menyempurnakan agama & melengkapkan nikmat-Nya atas kaum Mukminin.[7]

Demikian juga, ia bersabda: Hari ini adalah hari ibadah, hari shalat & hari memanjatkan syukur. Lantaran Allah Swt sudah menganugerahkan sedap wilyah kami kepada kalian. Aku harap engkau laksanakan puasa pada hari ini.[8]

Dalam sebuah riwayat yg bersumber dari Fayyadh ibn Muhammad ibn Umar Thusi, bahwa ia datang menghadap Imam Ridha As.

Aku melihat Imam sedang menjamu para sahabatnya dengan ifthr (buka puasa) di rumahnya. Dan ia mengirimkan kepada mereka beragam hadiah berupa pakaian & bahkan sepatu & cincin. Di kediamannya, terdapat suasana yg berbeda.

Aku melihat para pembantu Imam memperbaharui semua yg mereka punyai & bahkan temasuk peralatan-peralatan yg mereka pakai sehari-hari.

Imam As menyampaikan khutbah tentang kemuliaan & keutamaan hari itu kepada para hadirin.[9]

Terlepas dari itu, yg dapat kita manfaatkan dari catatan sejarah bahwa kaum Muslimin sepanjang perjalanan sejarah yg berbeda memeriahkan & merayakan hari Ghadir.

Abu Raihan Biruni dalam kitab al-tsar al-Bqiyah menulis:

Hari kedelapan belas merupakan hari raya (Ied) Ghadir Khum. Dan nama itu merupakan nama sebuah tempat dimana Rasulullah Saw selepas Hajjatul Wida berhenti & mengumpulkan perlengkapan unta-unta & mengambil lengan Ali ibn Abi Thalib As. Kemudian ia menaiki mimbar (tumpukan kumpulan perlengkapan unta, AK) & bersabda: Barang siapa yg menjadikan saya sebagai mawlanya, maka Ali adalah mawlanya.[10]

Dan Masud dalam kitabnya at-Tanbih wa al-Asyrf menulis:

Putra-putri Ali & Syiah-nya merayakan & memeriahkan hari ini (Ghadir).[11]

Dan Ibn Talha Syafii dalam kitabnya Mathlib as-Suul menulis:

Dan hari ini, disebut sebagai hari Ghadir Khum & merupakan hari raya. Lantaran pada hari itu merupakan hari dimana Rasulullah Saw menetapkannya (Ali) pada kedudukan yg tinggi. Dan cuma ialah yg dapat mencapai kedudukan ini di antara semua orang.[12]

Tsaalabi dalam kitab Tsamratul Qulb, menyebut malam hari Ghadir termasuk malam yg paling khusus, menuliskan: Malam hari Ghadir merupakan malam dimana Rasulullah Saw pada keesokan harinya yaitu pada hari Ghadir Khum menaiki mimbar yg terbuat dari pelana-pelana unta & bersabda:

Orang-orang Syiah merayakan malam itu & mengerjakan ibadah-ibadah pada malam hari itu.[13]

Demikian juga, Ibn Khallaqan dalam Syarh Hali al-Mustali Fathimi ibn al-Mustanshir menulis:

Pada hari raya (Ied) Ghadir yaitu bertepatan dengan tanggal 18 Dzulhijjah 487 H, orang-orang memberikan baiat kepadanya.[14]

Dan dalam Syarh Hl al-Mustanshir Fthimi menulis:

Ia wafat pada Kamis malam dua belas hari tersisa dari bulan Dzulhijjah 487 H & malam ini adalah malam Idul Ghadir yaitu malam 18 Dzulhijjah adalah Idul Ghadir Khum.[15]

Sebagaimana yg kita saksikan dalam berbagai riwayat & ucapan para sejarawan, hari Ghadir merupakan tahun-tahun terakhir usia Rasulullah Saw yaitu tahun ia menetapkan wilyah Amirul Mukminin Ali As diketahui sebagai hari raya & pada tahun itu & pada sahara itu juga Idul Ghadir, tersebar dari mulut ke mulut di sepanjang sejarah & negeri-negeri Islam.

Dari persfektif sejarah, pada masa Imam Shadiq As wafat tahun 148, pada masa Imam Ridha As wafat tahun 203, pada masa ghaibah sughrah yaitu masa dimana Furat ibn Ibrahim Kufi & Kulaini Razi hidup, pada masa Masudi wafat tahun 345, Tsaalabi Naisyaburi wafat tahun 429, Talha Syafii wafat tahun 654, & Abu Raihan Biruni wafat tahun 430 H, hari ini dianggap sebagai hari raya.

Dari sisi menjuntainya letak geografis, pada daerah-daerah Timur dunia Islam yaitu pada sekeliling an-nahr (daerah-daerah seperti Iran, Afghanistan, Tajikistan, Kazakstan, AK) yg merupakan tempat tinggal Abu Raihan & Naisyabur yg merupakan tempat lahir Tsaalabi, hingga kota kelahiran & bermukim Kulaini, & hingga kota Baghdad kota kelahiran & besarnya Masudi, hingga Halab tempat tinggal & wafatnya Ibn Thalha Syafii & Mesir yg jadi tempat tinggal & wafatnya Ibn Khallaqan, orang-orang di tempat-tempat ini mengetahui tentang hari raya Ghadir & mereka merayakan hari akbar itu.

Hal ini apabila kita berasumsi bahwa masing-masing pembesar ini memberikan berita ini kepada orang-orang di sekitarnya; sementara kita ketahui bahwa perdana beberapa orang-orang seperti Masudi & Biruni mengelilingi hampir seluruh negeri-negeri Islam; yg kedua dalam tulisan-tulisan mereka hari ini disebutkan sebagai hari raya kaum Muslimin.


Adab-adab & Amalan Idul Ghadir

Unsur asasi dalam menemukan setiap hari raya, di antara bangsa-bangsa, kejadian-kejadian yg memberikan kebahagiaan & keceriaan, terjadi dalam lintasan perjalanan waktu, muatan kejadiannya sudah dibuat berbeda sebelum & setelahnya.

Kemudian masyarakat menyebut hari itu sebagai hari raya (ied) , selaras & sejalan dengan budaya & ajaran mereka, & memperingatinya sepanjang zaman & zaman.

Dalam kultur & budaya Islam, unsur asasi ini, disebut sebagai anugerah. Dan setiap insan berakal, ia memandang dirinya wajib untuk menyampaikan rasa syukur atas kebaikan yg diterimanya.

Atas alasan ini, salah satu tata-cara biasa agama Islam dalam perayaan-perayaan ini adalah penetapan ibadah & amalan-amalan spesifik yg jadi penyebab semakin mendekatnya manusia kepada Tuhan semesta alam sang pemberi sedap sejati.

Pada hari Ghadir juga sebagaimana ied-ied yg lain, orang-orang dianjurkan & diprogramkan untuk mengerjakan ibadah-ibadah & mengadakan perayaan-perayaan khusus.

Adab-adab hari raya akbar ini memiliki dua tipologi nyata:

1. Adab-adab hari raya Ghadir tidak dapat disamakan atau dibandingkan dengan adab-adab hari-hari akbar Islam; sedemikian sehingga dapat dikatakan: apa yg diriwayatkan tentang adab-adab pada hari Ghadir, termasuk model biasa seluruh amal kebaikan, perbuatan-perbuatan terpuji, & sebuah kehidupan ideal dalam skala personal atau sosial.

2. Menurut riwayat yg hingga ditangan kita dari para maksum As dalam masalah ini, masing-masing perbuatan memiliki nilai-nilai yg tinggi, & atas alasan ini mendapatkan ganjaran yg melimpah.

Oleh karena itu, hari Ghadir merupakan hari yg sangat bernilai & hidup & harus dirayakan.

Dan satu-satunya jalan untuk memperingati & memuliakan hari ini, mengerjakan adab-adab yg sudah dicontohkan oleh Ahlul Bait As.


Adab-adab Idul Ghadir dalam Beberapa Fokus Umum


Amal Saleh

Kendati seluruh adab-adab hari raya Ghadir masing-masing merupakan amal saleh. Akan tetapi dalam sebuah aturan biasa & sebagai pendahuluan adab-adab ini yg terdapat dalam riwayat: Setiap perbuatan baik (amal saleh) sama dengan perbuatan baik selama delapan puluh bulan.[16]

Oleh karena itu, hari Ghadir merupakan memiliki peran seperti bulan Ramadhan & malam Qadhar.


Sumber:https://erfan.ir/indonesian/82168.html
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.