Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net - Menghabiskan musim libur di rumah Simbah memang sering menyenangkan & memberi kesan mendalam. Selain mendengarkan cerita mengenai ilmu kanuragan masa lalu yg begitu memukau, melihat benda-benda koleksi unik di rumah Simbah juga sering berhasil menarik perhatian saya.
Meski masih satu kabupaten, namun jarak antara rumah saya & Simbah lumayan jauh. Setidaknya dapat menghabiskan satu liter bensin untuk dapat hingga di rumahnya yg berada di kawasan perbukitan tandus nan gersang itu. Rumah itu dikelilingi gunung-gunung menjulang yg ditumbuhi aneka rumput liar yg biasa dibabat Simbah untuk makan kedua kambing miliknya.
Di belakang rumah Simbah, tepatnya di bawah pohon trembesi, ada toilet tradisional yg hingga saat ini masih lestari & masih aktif dipakai untuk membuang kotoran. Toilet klasik yg biasa disebut Simbah dengan nama Kakus atau WC cemplung itu berbentuk lobang dengan kedalaman 7-10 meter, yg atasnya ditutup rapi dengan kayu-kayu glondongan & diberi sedikit celah yg berfungsi sebagai pintu masuk tinja.
Kakus yg sudah ada jauh sebelum saya dilahirkan itu memiliki dinding berupa gedek bambu dengan ukuran sekitar 2x2 meter, tanpa sebuah atap di atasnya. Renovasi atau pemugaran jamban itu sudah dilakukan puluhan atau bahkan ratusan kali. Biasanya, saat dinding bambu sudah dimakan rayap, Simbah langsung menggantinya dengan yg baru.
Berbeda dengan jamban yg ada di pinggir sungai yg langsung membawa tinja-tinja itu berkeliling terlebih dahulu. Di toilet milik simbah, tinja akan bertumpuk & bertumpuk hingga akhirnya mengendap & menghilang. Hal inilah yg kadang bikin aromanya seringkali menari-nari menusuk hidung.
Beberapa hari lalu, saya memutuskan untuk napak tilas mengenang masa kecil saya di rumah simbah. Jongkok di atas kayu rapuh yg di bawahnya ada lobang kedalaman 7 meter, bukanlah persoalan mudah. Butuh mental tangguh & teknik kuda-kuda yg sempurna untuk menjaga keseimbangan tubuh saat nongkrong di kakus. Jika tidak, bersiaplah untuk terjun bebas & berjumpa dengan kotoran manusia.
Ada rasa lega & plong saat saya berada di toilet milik simbah ini. Semilir angin yg menampar-nampar menciptakan suasana BAB jadi lebih hikmat. Pantas saja, banyak ide kreatif yg katanya muncul saat buang air. Ternyata hal itu bukan isapan jempol semata, karena simbah juga pernah mengalami hal yg sama saat saya bertanya tentang arti toilet bagi hidupnya.
Kakus memiliki kenangan manis & sangat berharga bagi hidup simbah. Kakus yg berada di belakang rumah itu, jadi saksi sayang sejati saat simbah kakung memutuskan untuk menikahi mbah setri (nenek). Tidak cuma perkara sayang, banyak sekali permasalahan-permasalahan hidup yg berhasil beliau pecahkan dengan baik saat berada di jamban.
Peran jamban dalam membangun peradaban manusia di muka bumi tentu sudah tidak diragukan lagi. Banyak sekali penemuan serta pemikiran solutif, kreatif, & revolusioner dari pegiat hidup yg ditemukan saat nongkrong di kamar mandi.
Sejak perdana kali ditemukan pada era Ratu Elizabeth 1, jamban sudah jadi ruang kreatif bagi para seniman, seniwati, ilmuwan, pengusaha, & mungkin Pak Polisi untuk menciptakan karya-karya mutahirnya. Seperti diutip dari Detik Health, seorang ilmuwan kognitif bernama Scott Barry Kaufman mengungkapkan sekitar 72 persen orang mendapatkan ide-ide kreatif di tempat-tempat khusus, salah satunya saat nongkrong di WC.
Sejarah juga mencatat, banyak sekali ilmuwan yg menemukan teorinya di kamar mandi. Konon, ilmuwan sekaliber Archimedes juga menemukan teori hukum volume di dalam kamar mandinya. Ilmuwan matematika dari Yunani itu menemukan teori hukum volume saat nyemplungdi bak mandi, lalu menyadari bahwa beberapa air naik & tumpah.
Meski sering berada di belakang, kotor, bau, menjijikan, & disepelekan, jamban memiliki peran akbar bagi kehidupan manusia, Melalui jamban, banyak inspirasi keluar & menghasilkan karya-karya otentik yg bermanfaat untuk kelangsungan hidup manusia. Meminjam istilah Farid Stevy, memang betul, sesuatu yg sering disepelekan, sering memiliki peluang & kesempatan akbar untuk mengejutkan.
Tidak terasa, hampir satu jam lebih saya menulis ini sambil nongkrong di jamban. Setelah menoleh kanan kiri, saya baru sadar, ternyata tidak ada ember yg berisi air.
"Mbah, ini ngga ada air to mbah?" Tanya saya kepada simbah yg sedang memberi makan kambing.
"Dibersihkan pakai batu wae, Le! Gunungkidul susah air." Jawab Simbah sambil tertawa diselingi batuk.
Tulisan ini ditulis oleh Jevi Adhi Nugraha di Cangkeman pada tanggal 3 Februari 2022.
Hari ini 11:27