yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Tapi, belum tamat SMP, mereka telah terjerat kasus narkoba dan meringkuk di sel tahanan. Itu semua gara-gara ibu AM yang ternyata bandar narkoba.
Harapan untuk kembali hidup normal muncul, setelah petugas Pemkot Surabaya membawa mereka ke shelter khusus di Gayungan.
Di sinilah AM, KC, dan anak-anak senasib menjalani rehabilitasi dan pembinaan mental sambil menunggu proses perkara hukum berakhir.
Ditemui di shelter, Senin (30/1/2015), AM mengungkapkan, "Semua ini gara-gara ibu.”
AM hidup di tengah keluarga tidak harmonis. Setelah ayah-ibu bercerai, AM ikut ayah yang kemudian menikah lagi.
Nah, ibu sambung (tiri) ini kebetulan bandar sabu. Dia inilah yang membuat AM dan KC terjerat narkoba.
Awalnya, dua remaja ini dijadikan kurir oleh ibu AM. "Biasanya saya disuruh bawa barang (sabu) ke suatu tempat sampai ada orang yang datang mengambil,” kenang AM.
Pelajaran menjadi kurir kali pertama diterima saat mereka duduk di bangku SMP, usia sekitar 15 tahun.
Sang ibu biasanya memberi imbalan uang jajan. Tapi, lama-lama remaja ini ingin juga mencicipi sabu. Apalagi, sang ibu tidak keberatan memberi.
Nikmat sabu membuat AM dan KC jatuh cinta. Mereka kerap pesta kristal haram ini berdua.
Sang ibu tak lagi memberi upah uang jajan, melainkan sabu. Semakin serang pesta, semakin rajin mereka menjadi kurir.
AM dan KC tak lagi bersekolah. Wilayah kirim sabu tak lagi di pinggir jalan menunggu orang datang ambil barang. Mereka bahkan sudah berani menemui pembeli di hotel.
September 2014, mereka ditangkap polisi di sebuah kamar hotel. Selain hendak menyerahkan barang ke pembeli, mereka juga sekaligus ikut pesta sabu.
Mereka sempat seminggu meringkuk di sel tahanan Polres Tanjung Perak.
“Waktu itu, kami belum sempat memakai sabu, tapi sudah ditangkap polisi. Si pemesan juga belum datang ambil barang,” ungkap KC.