• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

HUTANG MEMBUAT SEMANGAT CARI UANG

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
[B]HUTANG MEMBUAT SEMANGAT CARI UANG[/B]



Hutang Membuat Hidup Lebih Berwarna

Terdengar aneh judulnya, atau malah terdengar menyebalkan?

Bermula perjumpaan saya dengan teman sekolah dulu. Jadi, suatu hari entah disengaja atau tidak teman saya berkunjung ke rumah. Kami mengawali seperti biasa, basa basi, bertanya keadaan, pekerjaan, hingga pada saat beliau bercerita baru saja membeli rumah lagi (ups, bukan membeli, tetapi oper kredit rumah)

Lagi? Hu'um.

Sebab, rumah yg beliau tempati saat ini, masih dalam kondisi kredit berjalan juga. Oh, ya, tak lupa beliau pun bercerita, belum lama kredit mobil dengan depe 25 juta. Berarti, total kredit yg dijalani sebanyak tiga properti.

Lalu, tiba saat beliau bertanya, "ini rumah lo?"

"Bukan. Gue masih kontrak," jawab saya.

"Emang lo gak pengen beli rumah," imbuhnya.

"Mau, asal cash. Gue gak mau riba."

"Gaya lo, riba. Kalo gak hutang gak bakal punya tau."

Saya tersenyum sambil berkata, "gak papa gak punya. Asal gak punya hutang udah seneng. Gue gak mau pusing mikir hutang."

Lalu, beliau tertawa, "hutang itu bikin semangat cari duit, bikin hidup berwarna juga. Ga bikin pusing, kan hutangnya dibayar."

"Iya itu lo. Gue mah beda. Buat apa punya rumah, mobil, kalo dari hutang. Biar keliatan keren gitu di mata orang? Ngapain keliatan keren hasil hutang. Keren itu kalo lo beli cash." Di bagian ini, air mukanya mulai berubah. Mungkin sedikit tersinggung dengan kata-kata saya. But, i dont care.

"Gue yakin 100% lo pasti pusing sama hutang lo!" Saya menambahi.

"Kaga pusinglah. Wong penghasilan tempat servis laki gue tiap bulannya dapat banyak. Gue dapat beli perhiasan, shopping, terus ke salon. Pusing dari mana?!"

Memang, selain beliau bekerja sebagai Sales Promotion Girl dengan gaji sebesar lima juta (saat itu) suaminya punya tempat usaha servis AC & barang elektronik lainnya.

Tiba-tiba saya teringat dua tahun ke belakang, saat teman saya itu sedang bermasalah dengan suaminya. Sang suami sempat kabur ke kampung meninggalkan teman saya. Saat itu beliau curhat, & berkata ...

"Bukan apa-apa. Kalo dia kabur, yg bayar cicilan siapa? Gue ga mau ketempuhan bayarin utang dia!" Mungkin beliau lupa pernah merasa pusing dengan segala cicilannya.

Hey, Gaes. Saya paham, tiap orang punya pendapat & prinsip hidup masing-masing. Dan saya berusaha menghormati disparitas pendapat. Hanya saja sedikit tersentil dengan ucapannya (sempat berucap) kalau orang yg kontrak itu sama saja dengan anak yg merepotkan & mengharapkan warisan orang tua.

Hey, tidak semua orang kontrak bergantung kepada orang tua. Catat itu! Mereka yg kontrak, bukan berarti TIDAK dapat kredit rumah. Mereka BISA kalau mereka mau. Wong, bayar kontrakan tahunan (misal) 10 juta saja sanggup, apalagi kredit rumah. PASTI BISA! Logikanya begitu. Ingat, logikanya.

Lalu, kenapa pilih kontrak?

Apa mereka bodoh? TIDAK.

Banyak dari mereka yg kontrak, karena TIDAK mau terjerat RIBA, malah mengoper kredit rumahnya setelah tahu hukum riba. Mereka pilih kontrak. Demi apa? Demi mendapat kemuliaan di mata Allah.

Beberapa teman saya lainnya, memiliki alasan TIDAK mau pusing memikirkan hutang. Meski mereka tahu kalau saat kredit rumah berjalan tiba-tiba meninggal dunia dianggap lunas.

Saya pun pernah berjumpa dengan orang yg memiliki prinsip sama seperti cerita di atas. Namun, finally beliau (teman saya yg lain) sempat merasa pusing juga terlalu banyak hutang. Meski dari hutang itu dia pun memiliki rumah, mobil & sebuah tempat usaha.

Pada akhirnya, mereka merasa pusing. Apalagi di tengah kondisi virus.

Kalau buat saya pribadi. Cukup hidup tidak punya hutang saja sudah tenang. Bukan tanpa alasan berkata ini. Sebab, saya pernah ada dalam fase punya cicilan ini itu. Hasilnya, saya lebih menikmati hidup yg sekarang. Hidup tanpa cicilan (dapat tidur tenang). Ada rezeki masuk selain gaji, dapat ditabung, bukan untuk bayar hutang.

Lagi pula, rumah itu termasuk REZEKI, artinya kalau belum rezeki, meski kita punya uang banyak pun belum tentu dapat terbeli. Pengalaman teman saya (lagi) ... jangan bingung ya, Gaez kalau teman saya banyak.

[B]HUTANG MEMBUAT SEMANGAT CARI UANG[/B]


'Banyak teman, banyak pelajaran, loh.'

Jadi, teman saya (sebut saja namanya Lala) beliau sempat mengutarakan harap membeli rumah cash. Tawar menawar sudah dijalani, tetapi karena belum rezeki, rumah itu tidak dapat beliau beli. Akhirnya, sedikit uang tabungan dia perpakai untuk memperbaiki rumah orang tuanya.

See! Membeli rumah tidak seperti membeli cabe.

Lalu, tolak ukur kebahagiaan kalian kira- kira apa, Gaes?


Sumber: Opini Pribadi (Pandu Eva)
Sumber Gambar: Koleksi Pribadi Hari ini 03:46
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.