Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Hiu Emas Super Langka Muncul di Kosta Rika, Diduga Alami Kelainan Genetik Ganda
Peristiwa langka ini melibatkan seekor hiu perawat (Ginglymostoma cirratum) yg tertangkap di Kosta Rika.
Hiu diketahui sebagai pemburu senyap di laut dalam dengan warna tubuh yg cenderung gelap & samar. Namun alam kadang punya cara sendiri untuk mengejutkan. Salah satunya terjadi di perairan Kosta Rika, ketika seekor hiu justru tampil mencolok dengan warna oranye keemasan.
Peristiwa langka ini melibatkan seekor hiu perawat (Ginglymostoma cirratum) yg tertangkap & kemudian dilepas kembali oleh pemancing olahraga di lepas pantai Kosta Rika pada Agustus 2024. Bukan cuma jauh dari warna cokelat keabu-abuan khas hiu perawat, tubuh hiu ini tampak oranye menyala, dengan mata berwarna putih tanpa iris.
Para ilmuwan kemudian menemukan penyebab di balik penampilan tak biasa tersebut. Hiu ini mengalami dua kelainan pigmen sekaligus: Albinisme, yakni ketiadaan pigmen gelap, & Xanthism, kondisi kelebihan pigmen kuning. Gabungan keduanya diketahui sebagai albino-xanthochromism, sebuah kondisi genetik yg sangat jarang ditemukan. Yang menciptakan para peneliti semakin tercengang, kelainan tersebut tidak mengganggu kelangsungan hidup hiu. Individu ini diketahui hidup normal di perairan hangat Laut Karibia.
Penemuan hiu oranye ini terjadi pada 10 Agustus 2024, di perairan dekat Taman Nasional Tortuguero, Kosta Rika. Seorang nelayan bernama Juan Pablo menangkap hiu tersebut pada kedalaman sekitar 37 meter. Terkejut dengan warnanya, ia sempat memotret & mengukur panjang tubuh hiu sebelum melepaskannya kembali tanpa cedera. Foto-foto hewan itu kemudian diunggah ke media sosial oleh perusahaan ekowisata Parismina Domus Day, & menarik perhatian para pakar biologi kelautan.
Tim peneliti yg dipimpin Marioxis Macas-Cuyare dari Universitas Federal Rio Grande, Brasil, menghubungi para nelayan & menganalisis data serta dokumentasi yg ada. Hasilnya dipublikasikan dalam laporan ilmiah pada Agustus 2025.
Hiu ini menunjukkan warna kuning-oranye yg kuat & merata, dengan mata putih tanpa iris yg terlihat, tulis para peneliti.
Menurut mereka, keberadaan mata putihterutama tidak adanya iris hitammenjadi petunjuk kuat bahwa hiu tersebut mengalami albino-xanthochromism, bukan sekadar xanthism saja. Meski langka, kondisi ini bukan hal yg sepenuhnya baru di alam. Albino-xanthochromism lebih sering dilaporkan pada burung, namun juga pernah ditemukan di laut. Pada 1978, seekor ikan kerapu tutul di Teluk Meksiko terdiagnosis kondisi serupa. Kasus lain tercatat pada 2018, ketika pari tutul dari Laut Irlandia dilaporkan mengalami kelainan yg sama. Warna mencolok sering dianggap merugikan bagi predator laut yg mengandalkan kamuflase. Namun hiu ini membuktikan sebaliknya. Hasil pengukuran menunjukkan panjang tubuhnya mencapai 200 sentimeter, menandakan ia sudah mencapai usia dewasaproses yg pada hiu perawat biasanya memakan waktu lebih dari 10 tahun.
Hal ini mengindikasikan bahwa kelainan pigmen tersebut tidak menghambat pertumbuhan maupun kelangsungan hidupnya. Kelainan warna pada hiu umumnya disebabkan oleh mutasi genetik. Mengingat keterbatasan manusia dalam menjelajahi laut, para ilmuwan menduga kondisi semacam ini dapat jadi lebih biasa daripada yg tercatat selama ini.
Sebelumnya, hiu perawat juga pernah ditemukan mengalami albinisme, piebaldisme, hingga hipomelanosis (penurunan pigmen gelap). Namun, perseorangan dari Kosta Rika ini jadi yg perdana diketahui mengalami albinisme & xanthism secara bersamaan. Para peneliti menilai faktor lingkungan juga mungkin berperan & menyerukan penelitian lanjutan.
Apakah ini kasus terisolasi? Apakah ini menandakan tren genetik baru di populasi regional? Atau terkait kondisi lingkungan tertentu di Karibia utara Kosta Rika? tulis mereka.
Menurut regu peneliti, menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk memahami bagaimana lingkungan lokal memengaruhi ekspresi genetik & kemampuan spesies laut beradaptasi dengan perubahan alam.
SUMBER
Peristiwa langka ini melibatkan seekor hiu perawat (Ginglymostoma cirratum) yg tertangkap di Kosta Rika.
Hiu diketahui sebagai pemburu senyap di laut dalam dengan warna tubuh yg cenderung gelap & samar. Namun alam kadang punya cara sendiri untuk mengejutkan. Salah satunya terjadi di perairan Kosta Rika, ketika seekor hiu justru tampil mencolok dengan warna oranye keemasan.
Peristiwa langka ini melibatkan seekor hiu perawat (Ginglymostoma cirratum) yg tertangkap & kemudian dilepas kembali oleh pemancing olahraga di lepas pantai Kosta Rika pada Agustus 2024. Bukan cuma jauh dari warna cokelat keabu-abuan khas hiu perawat, tubuh hiu ini tampak oranye menyala, dengan mata berwarna putih tanpa iris.
Para ilmuwan kemudian menemukan penyebab di balik penampilan tak biasa tersebut. Hiu ini mengalami dua kelainan pigmen sekaligus: Albinisme, yakni ketiadaan pigmen gelap, & Xanthism, kondisi kelebihan pigmen kuning. Gabungan keduanya diketahui sebagai albino-xanthochromism, sebuah kondisi genetik yg sangat jarang ditemukan. Yang menciptakan para peneliti semakin tercengang, kelainan tersebut tidak mengganggu kelangsungan hidup hiu. Individu ini diketahui hidup normal di perairan hangat Laut Karibia.
Penemuan hiu oranye ini terjadi pada 10 Agustus 2024, di perairan dekat Taman Nasional Tortuguero, Kosta Rika. Seorang nelayan bernama Juan Pablo menangkap hiu tersebut pada kedalaman sekitar 37 meter. Terkejut dengan warnanya, ia sempat memotret & mengukur panjang tubuh hiu sebelum melepaskannya kembali tanpa cedera. Foto-foto hewan itu kemudian diunggah ke media sosial oleh perusahaan ekowisata Parismina Domus Day, & menarik perhatian para pakar biologi kelautan.
Tim peneliti yg dipimpin Marioxis Macas-Cuyare dari Universitas Federal Rio Grande, Brasil, menghubungi para nelayan & menganalisis data serta dokumentasi yg ada. Hasilnya dipublikasikan dalam laporan ilmiah pada Agustus 2025.
Hiu ini menunjukkan warna kuning-oranye yg kuat & merata, dengan mata putih tanpa iris yg terlihat, tulis para peneliti.
Menurut mereka, keberadaan mata putihterutama tidak adanya iris hitammenjadi petunjuk kuat bahwa hiu tersebut mengalami albino-xanthochromism, bukan sekadar xanthism saja. Meski langka, kondisi ini bukan hal yg sepenuhnya baru di alam. Albino-xanthochromism lebih sering dilaporkan pada burung, namun juga pernah ditemukan di laut. Pada 1978, seekor ikan kerapu tutul di Teluk Meksiko terdiagnosis kondisi serupa. Kasus lain tercatat pada 2018, ketika pari tutul dari Laut Irlandia dilaporkan mengalami kelainan yg sama. Warna mencolok sering dianggap merugikan bagi predator laut yg mengandalkan kamuflase. Namun hiu ini membuktikan sebaliknya. Hasil pengukuran menunjukkan panjang tubuhnya mencapai 200 sentimeter, menandakan ia sudah mencapai usia dewasaproses yg pada hiu perawat biasanya memakan waktu lebih dari 10 tahun.
Hal ini mengindikasikan bahwa kelainan pigmen tersebut tidak menghambat pertumbuhan maupun kelangsungan hidupnya. Kelainan warna pada hiu umumnya disebabkan oleh mutasi genetik. Mengingat keterbatasan manusia dalam menjelajahi laut, para ilmuwan menduga kondisi semacam ini dapat jadi lebih biasa daripada yg tercatat selama ini.
Sebelumnya, hiu perawat juga pernah ditemukan mengalami albinisme, piebaldisme, hingga hipomelanosis (penurunan pigmen gelap). Namun, perseorangan dari Kosta Rika ini jadi yg perdana diketahui mengalami albinisme & xanthism secara bersamaan. Para peneliti menilai faktor lingkungan juga mungkin berperan & menyerukan penelitian lanjutan.
Apakah ini kasus terisolasi? Apakah ini menandakan tren genetik baru di populasi regional? Atau terkait kondisi lingkungan tertentu di Karibia utara Kosta Rika? tulis mereka.
Menurut regu peneliti, menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk memahami bagaimana lingkungan lokal memengaruhi ekspresi genetik & kemampuan spesies laut beradaptasi dengan perubahan alam.
SUMBER