• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita Hitungan Subsidi BBM Salah Total, Rancu!

hendladi

IndoForum Beginner D
No. Urut
113568
Sejak
15 Jan 2011
Pesan
685
Nilai reaksi
2
Poin
18
1621205620X310.jpg


JAKARTA, KOMPAS.com - Bicara soal bahan bakar minyak (BBM) memang tak pernah ada habisnya, apalagi pembatasan BBM bersubsidi. Pada kenyataannya, rakyat sudah dibohongi pemerintah sekian lama.

Pakar perminyakan Kutubi menegaskan, hitung-hitungan subsidi yang dimiliki pemerintah salah total. Ia mengaku telah menangkap kerancuan dalam istilah maupun penghitungan subsidi BBM yang digunakan oleh pemerintah.

Menurut aturan yang berlaku umum di dunia internasional, kata Kurtubi, subsidi adalah selisih dari biaya dan harga jual. Namun, subsidi yang justru digunakan pemerintah adalah selisih harga pasar Internasional dan harga jual dalam negeri. Yang tampak adalah, kata dia, pemerintah seolah-olah merugi.

"Jadi, subsidi BBM tak mengacu pada harga pokok Internasional, tapi harga pokok di Singapura, jadinya besar subsidi. Padahal, kalau lihat biaya pokok enggak seperti itu. Hitungan pemerintah salah total, itu bisa dibilang tipu-tipu. Agar kelihatan subsidinya gede, dibilang enggak ada dana untuk infrastruktur dan sebagainya, kalau lihat biaya pokok enggak sampai. Keliru, salah total perhitungan pemerintah," katanya di Wisma Antara, Sabtu (22/1/2011).

Oleh karena itu, Kurtubi mendesak pemerintah kembali ke hitungan universal yang berlaku di dunia. Menurutnya, dengan alur produksi migas di Indonesia selama ini, harga pokok produksi BBM (premium) hanya sebesar Rp 6.300 per liter. Adapun subsidi yang perlu dipenuhi pemerintah adalah selisih dengan harga jual Premium saat ini, yaitu Rp 4.500.

Kurtubi mengatakan, memang minyak mentah yang diolah pertamina juga termasuk minyak yang diimpor dari luar negeri. Namun, biaya pokok BBM tetap seharusnya lebih rendah dari harga Internasional karena sebagian minyak mentah juga berasal dari domestic market obligation atau DMO.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.