• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Hingga Kapan Toleransi Umat Beragama Bertahan?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Sampai Kapan Toleransi Umat Beragama Bertahan?


Cangkeman.net -Isu klasik yg dihadapi oleh pemeluk agama adalah adanya pendapat tentang kebenaran & keselamatan cuma habis dibagi oleh kelompok sendiri, yakni; seagama. Mengingat Indonesia memiliki lebih dari satu agama yg diakui oleh negara, pemikiran; Agama kami yg benar, menyembah Tuhan yg sebenarnya & keselamatan cuma ada di kami. Sementara agama lain; salah, sesat, & pemeluknya bergaransi tidak selamat hingga hari akhir, akan menimbulkan konsekuensi berantai.

Perang klaim kebenaran & menggombalkan janji keselamatan terjadi di sana-sini; baik di dunia nyata maupun dunia maya, tanpa mempertimbangkan bersikap menghargai kepercayaan yg dianut agama lain. Lucunya, mereka mengerjakannya atas nama Tuhan. Kejadian macam ini yg kemudian memunculkan rasa saling curiga antar-umat beragama.

Dari kecurigaan, bukan tidak mungkin melahirkan konflik antar-agama. Agama yg merupakan sebuah ajaran yg diklaim mengantarkan manusia menuju kedamaian lahir & batin, justru dijadikan pembenaran atas sikap intoleran hingga kekerasan. Dari skala kecil hingga besar. Dari 'sekadar' sakit hati hingga jatuh korban jiwa.

Jauh sebelum Hindu & Budha mengantarkan peradaban era klasik, nenek moyang kita memiliki kepercayaan sendiri, menyembah roh pelindung. Mereka percaya bahwa roh pelindung bermukim di tempat tertinggi, yakni; gunung. Maka, demi memudahkan untuk dekat kepada Yang Maha Pelindung, mereka menciptakan tempat ibadah; punden berundak-undak. Bangsa Babilonia menyebutnyaziggurat.Piramid menurut orang Mesir. Salah satu bangunan yg menyerupai punden berundak-undak adalah candiKethek, di Karanganyar, Jawa Tengah.

Kemudian, gelombang pengaruh Hindu berlabuh di Indonesia. Lantas, apakah nenek moyang kita menanggalkan sepenuhnya kepercayaan lama dengan mengganti kepercayaan baru? Inilah yg menarik. Nenek moyang bangsa kita, atau secara spesifik, orang Jawa kuno, sadar akan potensi konflik yg terjadi akibat derasnya pengaruh Hindu. Mereka mengerjakan sesuatu demi menghindaripralaya(bencana) akibat disparitas keyakinan. Sinkretisasi.

Sinkretisasi dapat dipahami dengan sebuah sikap akomodatif dalam mencari sebuah cara untuk mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan kebutuhan setempat. Dalam kasus ini, nenek moyang kita mencari sebuah cara untuk beradaptasi akibat pengaruh budaya luar tanpa meninggalkan budaya lokal.

Sinkretisasi bukanlah hal mudah. Dibutuhkan sikap fleksibel & kreativitas tinggi dalam memadukan beberapa unsur. Dalam konteks ini, adanya budaya India masuk & bersinggungan denganlocal-geniusdi masyarakat Jawa Kuno. Dalam Kitab Tantu Panggelaran, bagian kisah Samudramanthana, proses Jawanisasi kepada budaya India dijelaskan secara simbolis. Kisah pengadukan samudra versi Tantu Panggelaran berbeda dengan versi India.

Jika proyek Samudramanthana yg terekam dalam kitab Mahabharata bagian Adiparwa, bertujuan untuk mencari Tirta Amerta & berhubungan dengan sistem kosmologi serta simbol para dewa menurut Hinduisme, Samudramanthana menurut Kitab Tantu Panggelaran mengisahkan pemindahan beberapa badan gunung Mahameru (Himalaya) ke Jawadwipa untuk menyelamatkan Pulau Jawa yg masih mudah terombang-ambing di tengah samudera. Proyek ini dilakukan oleh; para dewa, resi, bidadara, gandarwa, yg dipimpin Batara Guru.

Sampai di sini dapat disimpulkan; sinkretisasi antara Hindu danlocal-genius, bukan proses Indianisasi, yg terjadi malah proses Jawanisasi. Artinya, bukan pengaruh India yg mengubah tatanan masyarakat Jawa Kuno, melainkan pengaruh India diadaptasikan kelocal-genius.

Kesimpulan di atas juga disimbolkan dengan kejadian; rombongan tewas setelah menenggak air mengalir dari potongan badan gunung Mahameru. Rupanya, air mengandung wisya Kalakuta. Batara Guru yg menyaksikan kejadian tersebut, ikut mencicipinya. Membuat lehernya hangus. Julukan Nilakanta menurut Samudramanthana versi Tantu Panggelaran bermula dari sini. Dengan kekuatan Batara Guru, diubah Kalakuta jadi Tirta Amerta. Air kehidupan itu dipercikkan ke jenazah rombongan sehingga mereka hidup kembali, & berpulang ke Pulau Jawa.
Perubahan wisya jadi air suci merupakan simbol dari penyelarasan ajaran Hindu ke dalam kepercayaan orang Jawa Kuno. Rombongan hidup kembali setelah mendapat percikkan air suci oleh Batara Guru, menyimbolkan; adanya transformasi budaya baru menuju budaya lokal. Hal ini bertujuan supaya budaya baru tidak semena-mena, karena melalui proses penyesuaian. Rombongan kembali ke Pulau Jawa dapat dipahami; proses transformasi bertujuan untuk mengembangkan budaya Jawa itu sendiri.

Saat rombongan tiba di Jawadwipa, mereka meletakkan hasil pekerjaannya di ujung barat pulau Jawa. Namun, tindakan tersebut hampir melahirkanmahapralaya(bencana besar) di bhumi Jawa. Bagian barat pulau Jawa nyungsep sementara bagian timur terangkat. Kemudian badan Mahameru dipotong lagi. Pangkal Mahameru yg di bagian barat jadi Gunung Kelasa.
Akibat proses pemotongan itu, menyebabkan badan Mahameru berguguran & jadi beberapa gunung di Pulau Jawa, yaitu; Gunung Katong, Gunung Wilis, Gunung Kampud, Gunung Kawi, Gunung Arjuna, & Gunung Kemukus. Ada sebuah pesan tersirat; budaya asing yg masuk, harus disesuaikan dengan kebudayaan setempat.

Terakhir, puncak Mahameru jadi Gunung Pawitra. Di masa modern, Gunung Pawitra diketahui sebagai Gunung Penanggungan, berlokasi di Provinsi Jawa Timur. Selain tempat para dewa bermukim, di gunung inilah pusat kosmologi ala Jawa Kuno berpusat. Maka, tak heran, di Gunung Penanggungan terdapat ratusan ritus antik yg hingga saat ini belum sepenuhnya terkuak. Kitab Negarakertagama bahkan menyebut, Gunung Penanggungan merupakan satu dari tujuh gunung suci para pertapa.

Bahkan, ada juga yg berpendapat, Gunung Penanggungan jadi alasan Kerajaan Mataram Kuno memindahkan pusat pemerintahannya ke Jawa Timur. Pemindahan itu dipimpin oleh Mpu Sindok yg kemudian hari mendirikan wangsa Isyana. Entah klaim itu betul atau tidak, namun, dalam Prasasti Pucangan (1042 M), Gunung Penanggungan merupakan tempat Pangeran Airlangga bersembunyi dalam lindungan para resi & komunitas ke-dewaguru-an.

Airlangga merupakan tokoh penting. Setelah Kerajaan Mataram Kuno tamat akibat serangan yg dilakukan Lwaram & Sriwijaya, Airlangga kemudian membangun kerajaan Kahuripan yg jadi tunas kerajaan akbar di Jawa Timur. Dari Dahanapura (Kerajaan Kediri), Singhasari, & Majapahit.

Memang, baik sinkretisasi atau sekadar bersikap toleransi, bukan berarti tidak pernah terjadi konflik antar-umat agama pada era Jawa Klasik. Pada tahun 1222 Masehi, raja terakhir Dahanapura; Kertajaya, meminta disembah oleh rakyatnya. Keharapannya mirip dengan Firaun pada masa Nabi Musa.

Sejauh ini, saya tidak menemukan kepastian penyebab Kertajaya mengharapkan demikian. Tentu saja keharapan sang penguasa Kadiri ditolak banyak pihak. Padahal di masa itu, agama Hindu-Siwa, Hindu-Wisnu, & agama Budha, hidup berdampingan. Namun, karena keharapan penguasa, mengantarkan sebuah konflik di kemudian hari. Mereka yg menolak memutuskan hijrah ke Tumapel (Malang). Menjagokan laki-laki beragama Hindu-Siwa. Perang Ganter pun terjadi. Kertajaya dikalahkan oleh pemberontak dari Tumapel, menyebabkan Kerajaan Dahanapura tamat.

Setelah kejadian Perang Ganter, aliran sinkretisme semakin menguat. Agama Hindu, utamanya Hindu-Siwa melebur dengan agama Budha. Melahirkan agama baru, yakni; Siwa-Budha. Memang, tidak semuanya menganut agama tersebut. Ada yg tetap mempertahankan agama lamanya. Namun toleransi antar-umat beragama tetap terjalin. Bahkan hingga era Majapahit.

Ada yg menyatakan sinkretisme merupakan aliran sesat. Saya tidak menyangkal bahwa sinkretisme merupakan bentuk pola pikir yg ekstrim & radikal. Jika pluralisme 'hanya' menghilangkan eksklusivitas setiap agama sehingga berfokus pada pemikiran bahwa; semua agama benar, & setiap agama punya jalan keselamatan masing-masing, sinkretisme meleburkan beberapa tipe kepercayaan, & bukan tidak mungkin menghasilkan agama baru, seperti Siwa-Budha.

Namun, kita harus memberikan evaluasi adil kepada para pendahulu kita yg mengerjakan sinkretisme. Mereka mengerjakan sinkretisasi untuk mempertahankanlocal-geniusdan sikap toleransi antar-umat beragama. Hingga akhirnya berbagai macam peninggalan mereka dapat dinikmati hingga saat ini.

Misal, ketika mendatangi candi hindu, kebanyakan bangunan itu menghadap gunung. Hal ini terjadi akibat proses sinkretisasi antara budaya hindu dengan kepercayaan kuno. Pun begitu candi yg bernapaskan hasil sinkretisasi agama lain; seperti candi Siwa-Budha yg banyak tersebar di wilayah Jawa Timur. Contohnya, Candi Singhasari & Candi Jajawi.

Ketika berkunjung, kita akan sadar begitu banyak unsur kepercayaan tersemat dalam satu bangunan. Seolah-olah, para pendahulu sangat bangga menunjukkan hasil upaya mereka dalam mempertahankanlocal-geniusdan toleransi antar-umat beragama. Bahkan, dalam Kakimpoi Sutasoma merekamnya sangat romantis:

Konon, wujud Siwa & Budha berbeda. Namun keduanya sama-sama mengajarkan kebenaran. Bhinneka tunggal ika tana hana Dharma mangrwa. Mereka memang berbeda (wujudnya) namun tetap satu (tujuan). Karena tidak ada Dharma (kebenaran) yg mendua.

Bhinneka tunggal ika kemudian dijadikan semboyan bangsa kita. Dalam hubungan sosial-masyarakat, sejatinya kalimat ini dapat diterapkan lebih luas lagi. Indonesia bukan cuma agama saja yg beragam, tetapi juga; suku, etnis, budaya, & lain sebagainya. Banyaknya keragaman namun sesungguhnya kita tetap satu; Bangsa Indonesia.

Toleransi. Sebuah sikap yg dibangun oleh generasi terdahulu, lalu diwariskan ke generasi selanjutnya. Jika punya waktu luang, sempatkan membaca sastra kuno, sejarah, atau mengunjungi berbagai candi yg tersebar diberbagai wilayah. Sekadar merayakan & mengingat sikap toleransi antar-umat beragama. Ketika mengerjakannya, mungkin juga mengingat bahwa para pendahulu kita pernah hidup berdampingan & saling menghargai. Sudah semestinya sikap itu tetap dipertahankan di masa kini hingga mendatang.


Tulisan ini ditulis oleh Angga Prasetyo diCangkemanpada tanggal 22 Maret 2022. Hari ini 22:17
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.