Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -Di tahun 2016, tercatat lebih dari 1000 outlet coffeeshop tersebar di seluruh Indonesia. 3 tahun kemudian di 2019, jumlahnya meningkat hampir 300% jadi 2937 outlet. Data dari Toffin ini membuka mata banyak khalayak betapa besarnya market size dunia kopi-kopian, yg jumlahnya diperkirakan hampir Rp 5 Triliun pertahun. Ini baru hitung-hitungan kasar hasil dari anggapan omset masing-masing gerai sebanyak 200 cup perhari dengan harga Rp 22.500,- tiap cup. Nilai market size sesungguhnya dapat jauh lebih besar.
Barometer baik dari sisi desain maupun pelayanan kedai kopi tetap berada di dua kota akbar yaitu jakarta & bandung. Tren yg sempat naik yaitu tema industrial, ornamen bata timbul & tembok dengan corak batu bata, kayu & besi hitam jadi biasa di berbagai kedai kopi. Beberapa tahun terakhir tren ini bergeser ke tema concrete. Tembok tidak lagi bercorak bata, namun tidak juga mengeluarkan effort untuk mengecat, tema concrete cenderung membiarkan suasana dinding yg belum dicat, mempertahankan warna asli semen, dengan warna abu-abu tersebut biasanya akan dikreasikan dengan gambar-gambar berstyle kapur. Tren ini juga lebih memanfaatkan area outdoor, bahkan dapat lebih luas dari indoornya. Membaca pola ngopi masyarakat Indonesia yg cenderung dibersamai dengan rokok menjadikan lebih banyak masyarakat yg memilih ngopi di area outdoor daripada memilih ruangan ber-AC.
Kalau harap terjun ke dunia kopi-kopian, ada banyak yg harus jadi catatan kita, apalagi bisnis kopi di bagian hilir seperti ini. Walaupun kopi ready to drink masih berkembang, akan ada banyak varian baru hasil mixing dengan bahan-bahan yg ada misal cendol, cincau, pandan, dll. Meskipun dalam beberapa tahun kedepan diprediksi bisnis kopi-kopian sejenis ini masih menjadil andalan, tetap pertahankan kualitas kopi, karena esensinya ada di situ. Satu kali lidah merasakan unique taste sebuah kopi akan lebih mudah diingat, apalagi penikmat kopi cenderung loyal. Ada konsumen tersendiri yg cenderung untuk itu.
Sekarang bisnis kopi bukan cuma eksis di kota utama , namun cukup berani untuk merambah ke 2nd & 3rd cities di Indonesia. Keberhasilan beberapa kedai kopi di daerah-daerah menjadikan brand yg lain tidak cuma wait and see tetapi juga memberanikan diri untuk terjun. Tidak sedikit yg berhasil, namun banyak juga yg gulung tikar di kota-kota sekunder. Bahkan brand akbar sekalipun. Karena budaya minum kopi masih berbeda di tiap daerahnya ditambah demografi millenial yg beragam menciptakan hitung-hitungan membuka kedai kopi di selain kota utama jadi rumit & sedikit gambling.
Walaupun hadir dengan mixing produk yg kekinian, ditambah dengan ragam jajanan lokal, tetapi masuk ke kota berpopulasi sedang atau bahkan kecil menciptakan kedai kopi harus menekan harga produksi secara top down. Karena harga yg ditawarkan tidak dapat terlalu akbar di pasaran.
Beberapa praktisi & pemerhati kopi mengkhawatirkan hype industri kopi sekarang ini. Di mana kopi tiba-tiba jadi gaya hidup. Menjadi akbar dalam waktu singkat sering dihantui dengan kecemasan akan hilangnya tren ini dalam waktu yg tiba-tiba. Memang, revolusi tidak akan sering berjalan sejajar dengan keharapan praktisi kopi yg mengutamakan kualitas. Tapi arah demand dari pasar yg justru menentukan perkembangannya.
Karena ya kembali lagi, apapun itu, kalau sudah bicara industri, semua harus ikuti kemauan pasar. Beruntungnya, pasar dalam dunia kopi sangat luas & "berbhinneka". Hari ini 20:42