Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Pagi itu seperti biasa, saya menghubungi mamaku yg ada di Sidoarjo melalui pesan Whatsapp. Maklum, kami tinggal beda kota, saya di ibukota mengumpulkan pundi-pundi uang di dunia penuh tipu-tipu ini. Yang berbeda, seminggu ini kami intens berkabar karena bapak sambungku dirawat di rumah sakit karena terkena Covid-19.
Sehari setelah dinyatakan positif, mama & dua adikku langsung swab PCR (Polymerase Chain Reaction). Alhamdulillah semuanya negatif. Tapi pagi itu saya terusik, karena malam sebelumnya, mama nggak badan jadi saya harus memastikan mama baik-baik aja.
Namun...
Mama langsung menelpon. Sambil menahan tangis, mama bilang bahwa pagi itu nggak dapat mencium aroma apapun. Kuminta tenang & menghirup nafas dalam-dalam sambil mengoleskan minyak kayu putih di hidungnya namun tidak muncul aroma sama sekali. Aku menduga, mamaku mengalami kehilangan indera penciuman alias anosmia. Sebuah gejala khas dari virus yg menyebabkan pandemi di seluruh dunia saat ini.
Quote:
Anosmia adalah hilangnya kemampuan seseorang untuk mencium bau. Kondisi ini juga dapat menghilangkan kemampuan penderitanya untuk merasakan makanan.
Aku langsung menenangkannya, kuminta mengerjakan beberapa hal berbekal pengalaman sebagai alumni Covid-19. Kupersiapkan mental mamaku, supaya nggak panik. Aku langsung mencari penyewaan oksigen & membelikan inhealer karena mamaku memiliki asma. Banyak ketakutan yg ada dalam pikirannya. Takut dikucilkan tetangga, takut diangkut ke rumah sakit pakai baju astronot seperti yg ada di berita-berita.
Singkat cerita, semuanya di test swab & benar saja, positif semua. Yang pasti, yg jelas, yg tentunya jadi kepikiran juga sih. Terdengar biasa yah cerita hilang indera ini? Sama seperti cerita-cerita penderita Covid-19 lainnya. Tapi, tapi, tapiiiiii............ Ada beberapa hal yg perlu dicatet, yg mungkin dapat jadi pelajaran buat kalian-kalian yg baca thread ini.
Quote:
Nggak Murah & Menguras Emosi
Sakit ini nggak murah gaes. Yes, semua sakit nggak ada yg murah wahai Julehaaaa. Memang , kalau dirawat di rumah sakit tidak bayar, namun vitamin, tes swab (PCR maupun antigen) itu nggak murah. Apalagi kalau yg terkena sekeluarga. Segala macam obat dicoba, karena memang penyakit ini tergolong baru, jadi berusaha ikhtiar tidak ada salahnya. Lalu beberapa alat seperti oxymeter (alat pengukur kadar oksigen dalam tubuh) , nasal spray (pencuci hidung), stok makanan juga harus siap sedia.
Menguras emosi? Jelas, keluarga pasti kepikiran. Belum lagi menjaga mood yg sedang sakit. Salah mengatakan saja, dapat bikin gondok, kebetulan saya juga sempat mengalami ini. Sesederhana pertanyaan, Ketularannya dimana?
Kalau memang kontak erat sih ya jelas ketularan dimana, tetapi kalau bukan ya susah. Virusnya tak kasat mata, meneketehe yaaaa dapat kena dimana
Quote:
Hanya Tahu Mencegah
Kita cuma membaca & hafal tindakan pencegahan penularan. Namun, seberapa banyak sih orang yg tahu tindakan yg harus dilakukan ketika dinyatakan positif? Apa saja sih obat, alat & vitamin yg wajib dipunya. Saranku, jangan malas membaca berita terupdate dari sumber yg terpercaya. Lebih bagus lagi kalau menyempatkan membaca jurnal ilmiah (lumayan susah sih ini, apalagi saya nggak dapat bahasa enggres
Quote:
Jangan Egois
Jujur, kemarin sempat kecolongan. Setelah mendapat hasil swab perdana yg negatif, adikku sempat pergi keluar rumah & ke kantor. Padahal semestinya isolasi berdikari di rumah dulu. Tapi kadang banyak yg nggak ngerti ini, apalagi memang tetap disuruh bekerja oleh kantor. Ini harus jadi pelajaran, semestinya adikku dapat menolak untuk masuk & adikku satu lagi harusnya dapat menahan diri nggak keluar rumah dulu. Karena walaupun di awal negatif, virusnya mungkin memang belum nongol alias masih belum reaktif.
Sekali lagi, jangan egois. Jangan tidak memikirkan orang lain ketika bertindak. Semoga ini jadi pelajaran buat keluarga & yg membaca.
So, segitu dulu cerita ini. Tetap patuhi protokol kesehatan & jangan kehilangan satu lagi indera yg tak tampak, yaitu empati kepada sesama. Kalau bukan kita, siapa lagi?
PS: Happy Birthday Ma. Sad sih kado ultahnya sakit gini. Get well soon.
Kemarin 23:10