Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Moral & Etika anak bangsa Indonesia
Setiap zaman memiliki orang, & setiap orang memiliki zamannya sendiri. Generasi yg baik, adalah generasi yg sanggup memberikan sebuah kontribusi sejarah dalam perannya bersama masyarakat.
Paling tidak, sejarah akan mencatat segala sesuatu yg bernilai. Entah kekurangan atau kelebihan dari nilai sejarah yg tertinggal. Agar generasi masa mendatang sanggup mencontohi segala sesuatu yg baik. Yang merupakan peninggalan sejarah itu sendiri.
Seperti sebuah pekikan sejarah yg hingga pada hari ini masih mengalir dalam benak kita sebagai anak bangsa yakni; Tokoh proklamator negara Ir.Soekarno pernah berkata Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah (Jasmerah). Momen yg tidak akan dilupakan oleh anak bangsa dalam sejarah bernegara, kata-kata semangat serta harpan akbar yg diungkapkan oleh Ir. Soekarno ini pun merupakan sebuah pidato terakhir dari bapak sejarah bangsa ini.
Dari sejarah bangsalah, kita dapat mencontohi segala ragam tabiat anak bangsa. Sala satunya adalah etika sopan santun anak bangsa. Merupakan cermin dari bangsa yg tersayang ini. Seseorang dapat saja jadi tokoh yg terhormat dalam bangsanya, tetapi tokoh tersebut tidak menunjukan etika baikya kepada orang-orang yg hidup dalam bangsa itu sendiri, tentunya tokoh tersebut akan hilang dalam ingatan anak bangsanya sendiri.
Jika kita mengharapkan orang untuk menghargai kita, maka patutlah kita pun sudah lebih jauh menunjukan etika untuk menghargai orang itu sendiri.
Jangan seenaknya kita mau dihargai atau dihormati atas sebuah kapasitas diri kita dalam masyarakat. Tetapi diri kita pun miskin akan menghargai orang lain. Sama halnya kita menaburkan garam di laut.
Kembali & melihat diri kita, sejauh mana kita sudah menghargai orang disekitar kita, sejauh ini? Berkaca pada diri kita sendiri, langkah awal yg baik dalam menunjukan etika kita.
Hilangnya moral & etika pada paras generasi bangsa. Sebuah suguhan pertanyaan yg sangat menyengat isi perasaan kita semua. Benar adanya bahwa etika sopan santun ini, sudah luntur pada pundak nurani anak bangsa zaman sekarang. Bukankah, anak bangsa hari ini merupakan asa bangsa dalam mempertahankan kekuatan bangsa pada generasi akan datang?
Hal sederhana ini pun sudah hilang dari pundak mereka, atau pundak kita bersama. Maka apa yg akan kita harapkan untuk melangkah bersama dalam bermasyarakat & bernegara? Generasi yg salah ataukah pendidikan tabiat anak bangsa yg salah? Semuanya cuma bisu, sanggup berdengung dalam benak semata. Siapa yg pantas disalahkan? Ya, inilah cermin negara hari ini, semua sanggup cuma beretorika melangit tetapi memiliki kepentingan sendiri-sendiri.
Etika sopan santun merupakan cerminan diri, tetapi semuanya semakin luntur. Nah, apakah kita masih berpegangan pada sejarah negara? Hari ini kita mempersalahkan keluhuran pancasila. Lagi-lagi kita hanyalah generasi yg sering mempersalahkan sesuatu yg tidak hidup.
Pancasila merupakan falsafah bangsa kita. Merupakan pedoman hidup anak bangsa, itulah mengapa kita diminta oleh tokoh pendiri bangsa ini adalah jangan meninggalkan sejarah awal bangsa.
Problem etika sopan santun hari ini hanyalah terlalu memanjakan generasi anak bangsanya sendiri, semua bentuk pendidikan moral & etika, yg tentunya jadi bagian terpenting mesti dimiliki sejak dini untuk jadi bekal bermasyarakat dikemudian hari, malah disesuaikan dengan zaman. Semuanya jadi lembek & terkesan manja. Nah, apa kenyataan hari ini? apakah tenaga pendidik harus disalahkan? Apakah orangtua yg disalahkan juga?
Tidak ada yg pantas disalahkan dalam poin etika sopan santun ini, semuanya kembali kepada masing-masing pribadi kita. Menjadi beban dalam pundak kita masing-masing. Semuanya sudah memiliki porsinya masing-masing karena segala sesuatu yg ada di negara ini memiliki batasanya masing-masing. Didasari sering pada peraturan negara, maka kembalikan semuanya pada keutuhan tata aturan yg berlaku. Tetapi jadi catatan adalah moral bangsa pun akan tercermin memburuk kalau semuanya terlalu terhimpit oleh peraturan.
Semuanya terkatung pada Hak Asasi Manusia (HAM). Baik & benar adanya tetapi akibat etika sopan santun anak bangsa hari ini, apakah semuanya kondusif saja? Anak-anak bangsa kehilangan rasa hormatnya kepada orang-orang yg lebih tua. Mereka menganggap bahwa semuanya sama. Karena dasarnya mereka merasakan adanya proteksi di mata peraturan bangsa. Semuanya sama di mata peraturan negara.
Peran tenaga pendidikan di sekolah pun sudah dibatasi dengan berbagai macam tuntutan aturan negara. Tenaga pendidik dilarang tidak boleh memberikan pendidikan etika sopan santun yg keras lagi. Perlu diketahui bahwasannya tabiat setiap anak bangsa itu berbeda.
Ada anak yg akan patuh & dapat menghargai orang lain, misalnya menghargai tenaga pendidik tersebut kalau sudah diberikan ajaran etika dengan sedikit keras. Seperti menghukumnya dengan push up, atau saja mencubit telinga itu pun sudah dinilai sangat buruk oleh aturan. Sehingga apa jadinya? Tenaga pendidik pun manusia biasa memiliki beragam kekurangan dengan adanya aturan demikian, maka wajarlah karaker anak bangsa hari ini sangat lemes & luntur memiliki etika sopan santun di tengah masyarakat.
Salah satu contoh yg sudah terjadi, adalah ada anak didik yg tidak segan-segan melawan gurunya. Bahkan sanggup mengerjakan kontak fisik dengan guru. Ada pula orangtua wali murid pun tidak segan-segan mengerjakan perlawanan kepada tenaga pendidik. Tanpa sadar bahwa keberhasilan anaknya dalam dunia pendidikan itu merupakan peran penting yg diberikan oleh tenaga pendidik itu sendiri.
Betul bahwa pemerintah negara sudah menyediakan beragam pola dalam hal memperbaiki atau mendidik generasi anak bangsa hari ini, tetapi pada poin tertentu cobalah memberikan sedikit celah dalam hal pembentukan tabiat anak bangsa supaya tahu & sanggup menghargai orang-orang yg lebih tua.
Celah itu adalah kembali pada peran fungsi & tugas guru dalam mengatasi tabiat anak bangsa yg berbeda tersebut. Agar supaya, ketika anak bangsa itu kemudian hari jadi tumpuan & asa bangsa yg bermoral baik & etika baik. Maka karakternya sudah dibentuk dengan kematangan proses yg tidak gampang. Seperti perjuangan tokoh bangsa dalam mendirikan negara kita tersayang ini. Terima kasih ....
Tulisan ini, dipersembahkan untuk seluruh pelopor kecerdasan anak bangsa yg berkarakter & sanggup memiliki etika & moral yg baik. Merupakan cermin dari jati diri seseorang. Dalam kehidupan berbangsa & bernegara.
Selamat hari pendidikan.
Penulis: @hugomaran
Makassar, 2 mei 2020 Hari ini 19:48
Setiap zaman memiliki orang, & setiap orang memiliki zamannya sendiri. Generasi yg baik, adalah generasi yg sanggup memberikan sebuah kontribusi sejarah dalam perannya bersama masyarakat.
Paling tidak, sejarah akan mencatat segala sesuatu yg bernilai. Entah kekurangan atau kelebihan dari nilai sejarah yg tertinggal. Agar generasi masa mendatang sanggup mencontohi segala sesuatu yg baik. Yang merupakan peninggalan sejarah itu sendiri.
Seperti sebuah pekikan sejarah yg hingga pada hari ini masih mengalir dalam benak kita sebagai anak bangsa yakni; Tokoh proklamator negara Ir.Soekarno pernah berkata Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah (Jasmerah). Momen yg tidak akan dilupakan oleh anak bangsa dalam sejarah bernegara, kata-kata semangat serta harpan akbar yg diungkapkan oleh Ir. Soekarno ini pun merupakan sebuah pidato terakhir dari bapak sejarah bangsa ini.
Dari sejarah bangsalah, kita dapat mencontohi segala ragam tabiat anak bangsa. Sala satunya adalah etika sopan santun anak bangsa. Merupakan cermin dari bangsa yg tersayang ini. Seseorang dapat saja jadi tokoh yg terhormat dalam bangsanya, tetapi tokoh tersebut tidak menunjukan etika baikya kepada orang-orang yg hidup dalam bangsa itu sendiri, tentunya tokoh tersebut akan hilang dalam ingatan anak bangsanya sendiri.
Jika kita mengharapkan orang untuk menghargai kita, maka patutlah kita pun sudah lebih jauh menunjukan etika untuk menghargai orang itu sendiri.
Jangan seenaknya kita mau dihargai atau dihormati atas sebuah kapasitas diri kita dalam masyarakat. Tetapi diri kita pun miskin akan menghargai orang lain. Sama halnya kita menaburkan garam di laut.
Kembali & melihat diri kita, sejauh mana kita sudah menghargai orang disekitar kita, sejauh ini? Berkaca pada diri kita sendiri, langkah awal yg baik dalam menunjukan etika kita.
Hilangnya moral & etika pada paras generasi bangsa. Sebuah suguhan pertanyaan yg sangat menyengat isi perasaan kita semua. Benar adanya bahwa etika sopan santun ini, sudah luntur pada pundak nurani anak bangsa zaman sekarang. Bukankah, anak bangsa hari ini merupakan asa bangsa dalam mempertahankan kekuatan bangsa pada generasi akan datang?
Hal sederhana ini pun sudah hilang dari pundak mereka, atau pundak kita bersama. Maka apa yg akan kita harapkan untuk melangkah bersama dalam bermasyarakat & bernegara? Generasi yg salah ataukah pendidikan tabiat anak bangsa yg salah? Semuanya cuma bisu, sanggup berdengung dalam benak semata. Siapa yg pantas disalahkan? Ya, inilah cermin negara hari ini, semua sanggup cuma beretorika melangit tetapi memiliki kepentingan sendiri-sendiri.
Etika sopan santun merupakan cerminan diri, tetapi semuanya semakin luntur. Nah, apakah kita masih berpegangan pada sejarah negara? Hari ini kita mempersalahkan keluhuran pancasila. Lagi-lagi kita hanyalah generasi yg sering mempersalahkan sesuatu yg tidak hidup.
Pancasila merupakan falsafah bangsa kita. Merupakan pedoman hidup anak bangsa, itulah mengapa kita diminta oleh tokoh pendiri bangsa ini adalah jangan meninggalkan sejarah awal bangsa.
Problem etika sopan santun hari ini hanyalah terlalu memanjakan generasi anak bangsanya sendiri, semua bentuk pendidikan moral & etika, yg tentunya jadi bagian terpenting mesti dimiliki sejak dini untuk jadi bekal bermasyarakat dikemudian hari, malah disesuaikan dengan zaman. Semuanya jadi lembek & terkesan manja. Nah, apa kenyataan hari ini? apakah tenaga pendidik harus disalahkan? Apakah orangtua yg disalahkan juga?
Tidak ada yg pantas disalahkan dalam poin etika sopan santun ini, semuanya kembali kepada masing-masing pribadi kita. Menjadi beban dalam pundak kita masing-masing. Semuanya sudah memiliki porsinya masing-masing karena segala sesuatu yg ada di negara ini memiliki batasanya masing-masing. Didasari sering pada peraturan negara, maka kembalikan semuanya pada keutuhan tata aturan yg berlaku. Tetapi jadi catatan adalah moral bangsa pun akan tercermin memburuk kalau semuanya terlalu terhimpit oleh peraturan.
Semuanya terkatung pada Hak Asasi Manusia (HAM). Baik & benar adanya tetapi akibat etika sopan santun anak bangsa hari ini, apakah semuanya kondusif saja? Anak-anak bangsa kehilangan rasa hormatnya kepada orang-orang yg lebih tua. Mereka menganggap bahwa semuanya sama. Karena dasarnya mereka merasakan adanya proteksi di mata peraturan bangsa. Semuanya sama di mata peraturan negara.
Peran tenaga pendidikan di sekolah pun sudah dibatasi dengan berbagai macam tuntutan aturan negara. Tenaga pendidik dilarang tidak boleh memberikan pendidikan etika sopan santun yg keras lagi. Perlu diketahui bahwasannya tabiat setiap anak bangsa itu berbeda.
Ada anak yg akan patuh & dapat menghargai orang lain, misalnya menghargai tenaga pendidik tersebut kalau sudah diberikan ajaran etika dengan sedikit keras. Seperti menghukumnya dengan push up, atau saja mencubit telinga itu pun sudah dinilai sangat buruk oleh aturan. Sehingga apa jadinya? Tenaga pendidik pun manusia biasa memiliki beragam kekurangan dengan adanya aturan demikian, maka wajarlah karaker anak bangsa hari ini sangat lemes & luntur memiliki etika sopan santun di tengah masyarakat.
Salah satu contoh yg sudah terjadi, adalah ada anak didik yg tidak segan-segan melawan gurunya. Bahkan sanggup mengerjakan kontak fisik dengan guru. Ada pula orangtua wali murid pun tidak segan-segan mengerjakan perlawanan kepada tenaga pendidik. Tanpa sadar bahwa keberhasilan anaknya dalam dunia pendidikan itu merupakan peran penting yg diberikan oleh tenaga pendidik itu sendiri.
Betul bahwa pemerintah negara sudah menyediakan beragam pola dalam hal memperbaiki atau mendidik generasi anak bangsa hari ini, tetapi pada poin tertentu cobalah memberikan sedikit celah dalam hal pembentukan tabiat anak bangsa supaya tahu & sanggup menghargai orang-orang yg lebih tua.
Celah itu adalah kembali pada peran fungsi & tugas guru dalam mengatasi tabiat anak bangsa yg berbeda tersebut. Agar supaya, ketika anak bangsa itu kemudian hari jadi tumpuan & asa bangsa yg bermoral baik & etika baik. Maka karakternya sudah dibentuk dengan kematangan proses yg tidak gampang. Seperti perjuangan tokoh bangsa dalam mendirikan negara kita tersayang ini. Terima kasih ....
Tulisan ini, dipersembahkan untuk seluruh pelopor kecerdasan anak bangsa yg berkarakter & sanggup memiliki etika & moral yg baik. Merupakan cermin dari jati diri seseorang. Dalam kehidupan berbangsa & bernegara.
Selamat hari pendidikan.
Penulis: @hugomaran
Makassar, 2 mei 2020 Hari ini 19:48