• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Hikayat Begal Legendaris Mat Peci

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Hikayat Begal Legendaris Mat Peci

Gambar illustrasi

Mamat alias Mat Peci diketahui sebagai begal legendaris pada era 1970-an. Berani membunuh polisi & merebut pistolnya untuk merampok.

Stasiun Leuwigoong di Desa Sindangsari, Kecamatan Leuwigoong, Garut, Jawa Barat, merupakan stasiun kecil yg dilintasi kereta api rute Bandung-Garut. Stasiun ini cukup tua usianya. Tapi bagi warga Jawa Barat, khususnya Garut, stasiun ini sangat populer. Stasiun itu diikenal karena jadi tempat penangkapan & tewasnya begal legendaris pada 4 Februari 1978, yaitu Mat Peci.

Mat Peci & kelompoknya kerap menciptakan resah & takut warga di Bandung. Mereka membegal & tak segan membunuh korbannya. Bahkan Mat Peci pernah membunuh seorang polisi & merampas senjata apinya. Dengan pistol revolver rampasan itu, Mat Peci semakin nekat dalam melancarkan aksi kejahatannya di beberapa daerah di Jawa Barat.

Karena kesohorannya itu, kisah Mat Peci pernah diangkat jadi film dengan judul Mat Peci (Pembunuh Berdarah Dharap) produksi PT Diah Pitaloka Film. Pemeran utama adalah aktor kawakan Rachmat Hidayat. Sedangkan pemeran utama wanita adalah Doris Callebaute. Film itu juga dibintangi oleh aktor Eddy M Sapri & Kelly Jones. Film yg disutradarai Willy Wilianto tersebut ditayangkan di bioskop Nusantara Theatre, Bandung, pada 12 September 1978.

Dikutip dari Pikiran Rakyat, film Mat Peci menyedot perhatian masyarakat Jawa Barat, khususnya di Bandung. Pemutaran film sering dipenuhi penonton yg membeludak setiap harinya. Jumlah penonton film tersebut memecahkan rekor penonton bioskop terbesar di Bandung. Karcis yg dijual seharga Rp 650 sering ludes satu jam sebelum film diputar.


Hikayat Begal Legendaris Mat Peci

Poster film Mat Peci pada 1978 - Foto : indonesiacinematheque

Padahal, pada saat yg bersamaan, beberapa bioskop di Bandung tengah menayangkan film nasional & Barat top. Film Mat Peci, yg berdurasi 88 menit, popularitasnya mengalahkan film Hollywood berjudul Fury of The Dragon, yg dibintangi aktor laga asal Hong Kong, Bruce Lee. Salah satu yg menciptakan warga Bandung menggemari film Mat Peci adalah karena diangkat dari kisah nyata.

Mat Peci memiliki nama asli Mamat bin Sutomo. Ia disebutkan berasal dari keluarga terpandang di kampungnya, Leuwigoong. Mamat lahir pada 1943. Nama 'Peci' disematkan di belakang namanya karena ia diketahui sering mengenakan peci hitam ke mana-mana. Tak diketahui secara pasti motif yg mendasari dirinya terjun ke dunia hitam karena minimnya dokumen & literasi tentang Mat Peci beserta keluarganya.

Masyarakat Jawa Barat, khususnya Bandung & Garut, mengetahui kisah Mat Peci melalui film. Dari perjalanan hidup awalnya, Mat Peci menjalani hari-harinya dengan normal & baik. Saat muda, ia menjalin kisah persayangan dengan gadis bernama Euis. Sayangnya, kisah sayang mereka putus karena tak mendapatkan restu dari keluarga. Orang tua Euis sangat tak menyukai Mamat.

Karena kecewa, Mat Peci meninggalkan Euis untuk pergi merantau ke Kota Kembang, Bandung. Di kota itu, Mat Peci tinggal & bekerja sebagai calo karcis bioskop di kawasan Cicadas. Setiap hari ia menawarkan karcis kepada calon penonton bioskop Liberty atau Tjahaja & Taman Hiburan. Lama kelamaan, Mat Peci merasa muak karena keadaan ekonominya tak kunjung meningkat.

Mulailah ia berteman dengan sejumlah preman di Cicadas pada 1970. Sejak itu ia nyemplung ke dunia kejahatan. Pada 1970-an, ia mulai mengerjakan kejahatan kecil-kecilan di daerah Cirebon dengan mencuri sejumlah lampu petromaks. Ia sempat ditangkap polisi, tetapi berhasil kabur dari tahanan sebelum kasusnya diadili di meja hijau.

Saat jadi buron, Mat Peci masih terus mengerjakan aksinya bersama kawanannya. Beberapa kali ia masuk penjara. Saat berada di dalam penjara itulah Mat Peci disebutkan belajar ilmu kebal. Dengan ilmunya itu, Mat Peci semakin percaya diri & nekat mengerjakan aksi kriminalnya.

Bahkan ia nekat membunuh seorang polisi berpangkat sersan satu (sertu) di Jakarta cuma untuk merampas pistolnya. Berbekal pistol itulah Mat Peci mengerjakan perampokan. Ia diketahui sangat kejam & sadis. Tak segan-segan ia akan langsung menembak mati mangsanya bila ketahuan akan melawan. Jejak kejahatannya terbanyak di wilayah Bandung, Cirebon, Sukabumi, & beberapa daerah lainnya.

Salah satu aksi perampokan yg menggegerkan adalah ketika Mat Peci menembak mati seorang karyawan yg baru saja mengambil uang di bunk Karya Pembangunan di Jalan Naripan, Bandung, pada 10 September 1977 siang bolong. Aksi nekat lainnya, Mat Peci menembak mati pasangan suami-istri yg membawa uang ketika korban baru turun dari becak di depan rumahnya di Jalan Pasir Kaliki No 24, pada 25 Januari 1978. Aksi itu dilakukan tak begitu jauh dari pos polisi.


Hikayat Begal Legendaris Mat Peci

Stasiun Leuwigoong - Foto :komunitasaleut.com

Kelakuan Mat Peci Counter Strike itu menciptakan geger warga Bandung & geram polisi. Pihak Polrestabes Kota Bandung saat itu membentuk regu spesifik untuk memburu & menangkap kelompok Mat Peci. Tim spesifik itu merupakan gabungan unit serse yg dipimpin oleh Komandan Serse Polrestabes Bandung, yg saat itu dijabat almarhum Brigjen Pol (Purn) Toni Sugiarto (ayah Wali Kota Bogor, Bima Arya).

Mat Peci licin seperti belut. Ia sering berhasil meloloskan diri dari pengintaian & pengejaran aparat. Ia tak pernah tinggal di sebuah rumah atau kontrakan, melainkan di sebuah kamar di kawasan pelacuran di Cicadas.

Di tempat inilah Mat Peci berjumpa dengan mantan kekasihnya Euis, yg ternyata kabur dari kampungnya & masuk dunia pelacuran. Cinta keduanya kembali bersemi di lembah hitam itu. Keduanya bercita-cita menikah.

Di tengah pelariannya, Mat Peci membawa Euis bertamasya ke Danau Cangkuang, Garut. Mereka yg tengah dimabuk sayang itu naik rakit (lalayaran) menyeberang danau menuju Candi Cangkuang. Di tempat itulah mereka berjanji akan menikah.

Mereka seakan lupa akan adanya mitos larangan bagi sepasang kekasih untuk tidak menyeberang naik rakit menuju Candi Cangkuang. Bila mitos itu dilanggar, hubungan persayangan mereka akan putus begitu saja. Benar atau tidaknya, yg jelas, begitu Mat Peci & Euis kembali ke Cicadas, polisi yg menyamar sudah mengintainya.

Merasa posisinya sudah terendus, Mat Peci terpaksa meninggalkan Euis. Mat Peci melarikan diri dari pengejaran aparat menuju kampung halamannya di Leuwigoong. Dari Cicadas, Mat Peci berganti-ganti naik kendaraan umum. Namun, sehingganya di Jalan Kadungora, Leles, Garut, terlihat polisi tengah mengerjakan razia.

Karena takut tertangkap, Mat Peci turun & melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Leles. Dari stasiun itu ia naik kereta api menuju Stasiun Leuwigoong di Desa Sindangsari. Selama di dalam kereta api, Mat Peci sering menutupi wajahnya dengan topi supaya tak dikenali orang. Sebab, saat itu pihak kepolisian sudah menyebar selebaran tentang dirinya sebagai buron.

Mat Peci mulai panik ketika kondektur memeriksa tiket para penumpang kereta api. Karena tak punya karcis & takut ketahuan, Mat Peci loncat ke luar dari kereta sebelum hingga Stasiun Leuwigoong. Kakinya mengalami luka-luka. Terseok-seok, Mat Peci meneruskan perjalanan menyusuri rel kereta api & pematang sawah supaya tak diketahui masyarakat.
Hikayat Begal Legendaris Mat Peci

Danau Situs Candi Cangkuang, Garut - Foto : Brigida Emi Lilia/detikTravel

Tapi nahas, di dalam perjalanannya, ia berpapasan dengan warga yg sudah tahu identitasnya karena melihat selebaran. Warga itu langsung melaporkan kepada aparat desa. Saat itu seorang anggota Banpol (Bantuan Polisi) bernama Entik diperintahkan mengambil senjata Carl Gustav CG-45. Entik bersama polisi Sersan Bana mencari & mengintai keberadaan Mat Peci di kampung itu.

Mat Peci yg tengah kesakitan di kakinya terlihat tengah menerawang di luar pojokan Stasiun Leuwigoong yg sepi. Ia mengingat paras kekasihnya Euis yg ditinggalkannya. Ia tak menyadari saat itu Bana & Entik tengah mengendap-endap mendekati stasiun.

Setelah Bana & Entik memastikan targetnya itu Mat Peci sesuai selebaran yg dipegangnya, dengan aba-aba, Bana & Entik menyergap Mat Peci yg terkesiap. Mat Peci langsung mencabut pistol dari balik jaketnya. Tapi, sebelum pistolnya menyalak, timah panas dari senjata tipe Carl Gustav yg ditembakkan Entik sudah menghujani tubuh Mat Peci.

Mat Peci seketika ambruk bersimbah darah & tewas tak jauh dari Stasiun Leuwigoong pada 4 Februari 1978. Bana & Entik langsung melaporkan penangkapan itu ke Polsek Leuwigoong. Tak lama, regu spesifik Polrestabes Bandung datang & membawa jasad Mat Peci. Setelah itu, pihak keluarga menguburkan Mat Peci di TPU Sinaraga, Jalan Pajajaran, Kota Bandung.

Quote:
Inilah kisah dari jalanan/ Tentang seorang pemuda terpandang/ Cinta tak direstui, dia tetapkan hati/ Pergi merantau unjukkan diri/ Pergi ke kota jadi mafia/ Dengan ilmu yg dimilikinya/ Perintah tembak mati, tak lama menghampiri/Untuk sang buron paling dicari..


Itulah beberapa bait lagu yg mengisahkan perjalanan hidup begal legendaris berjudul Mat Peci yg dinyanyikan grup band Bendi Harmoni yg beraliran folk steady/Jamaican sound dalam album 'Kusir Kobam' yg dirilis pada 2019.


sumber Hari ini 15:11
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.