• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Hidup Lajang VS Hidup Menikah

pinnacullata

IndoForum Activist C
No. Urut
24506
Sejak
24 Okt 2007
Pesan
13.034
Nilai reaksi
224
Poin
63
Hidup Lajang dan Hidup Menikah



Banyak orang yang masih single berpikir bahwa

alangkah menyenangkannya hidup pernikahan itu. Ada

seseorang untuk berbagi, dalam suka dan duka, dalam

untung dan malang , dalam keadaan sehat dan sakit,

sebagaimana yang dinyatakan dalam janji pernikahan.

Itu benar adanya, saya tidak pernah memungkiri betapa

benarnya kenyataan itu! Namun di lain pihak, terdapat

harapan dan impian Hollywood , sebagaimana film-film

dramanya memberikan gambaran, betapa kehidupan yang

diarungi berdua itu indah-indah saja dan pasti

endingnya sebagian besar adalah
"Happy End".

Saya tidak mengatakan bahwa kehidupan perkawinan tidak

ada unsur yang menyenangkan. Sama sekali tidak! Namun

sejak saya pribadi menjalani kehidupan perkawinan yang

masih seumur jagung ini, saya pun mulai menyadari

bahwa untuk benar-benar bertahan dalam kehidupan

perkawinan, mimpi romantisme saja tidaklah cukup.

Kehidupan sebagai seorang lajang, tidak lepas dari

begitu banyak kebebasan. Kalaupun ada yang mengikat

tentunya hanya sang pacar dan keluarga kita.

Namun ketika kita memutuskan untuk menikah,

keterikatan itu tidak lagi sebatas apel di malam

minggu, nonton atawa makan bersama yang mungkin cuma

makan waktu sekitar 2-3 jam seminggu 2-3 kali

misalnya.

Keterikatan itu menyangkut penyesuaian diri dengan

seseorang yang bisa-bisa selama 24 jam bersama-sama

dengan kamu dan itu bukan main-main,
untuk seumur

hidupmu!

Dua pribadi yang dipersatukan, tentunya memiliki

banyak perbedaan. Mungkin ketika berpacaran, kamu

dengan gampang menemukan begitu banyak persamaan

antara kamu dengan pasangan. Dan ketika kamu memasuki

mahligai perkawinan, kemudian kamu menjadi bingung,

mengapa kamu semakin melihat begitu banyak perbedaan?

Untuk itu penyesuaian dan pengertian yang terus

menerus amat dibutuhkan oleh kedua belah pihak dalam

rumah tangga.

Dan bukan itu saja, keterikatan itu termasuk

perkawinan plus plus di Indonesia. Kenapa saya

katakan perkawinan ++ (baca: perkawinan plus plus)?

Karena keterikatan dalam suatu perkawinan juga

termasuk dengan keluarga suami/istri dan seluruh

kerabatnya. Keluarga besar, begitu istilahnya.

Dan tiba-tiba saja, saudara kita bertambah amat

banyak, dikarenakan tali
pernikahan yang kita jalani.

Mungkin kamu pernah dengar pernyataan begini, " Itu

lho... Pak Ade, adik dari ipar saya..." Atau mungkin, "

Itu keponakan dari mertua saya..."

Belum lagi terkadang istilah-istilah yang begitu

kompleksnya, yang pasti ujung-ujungnya ada hubungan

saudara dikarenakan perkawinan ...

Berhadapan dengan semakin banyak orang, tentunya

berhadapan pula dengan semakin banyak karakter. Dan

disadari atau tidak, tentunya banyak kepala semakin

banyak permasalahan yang dihadapi. Untuk banyak

pasangan, pertengkaran tidaklah terjadi antarmereka,

namun banyak kali dikarenakan campur tangan dari pihak

ketiga, keempat, bahkan kelima yang semakin

memperkeruh suasana.

Jadi, pasangan yang menikah dengan kekerabatan plus

plus hendaknya pandai-pandai memilah situasi, sehingga

mereka tidak gampang
terhasut oleh pihak-pihak yang

tidak bertanggung jawab, walaupun itu adalah dari

pihak keluarga sendiri.

Perkawinan mengajarkan saya untuk hidup lebih

realistis. Tidak selamanya pasangan kita berada pada

'top performance' sebagaimana yang ditunjukkan selama

masa berpacaran atau masa ketika sang wanita tengah

'dikejar' oleh sang pria atau sebaliknya sang pria

yang 'dikejar' wanita.

Perkawinan membawa seseorang ke tahap di mana harus

menerima kalau pasangannya tengah kelelahan selepas

kerja dan mendengar celotehan yang penuh amarah adalah

hal terakhir yang diinginkan pada saat itu karena

tubuhnya penat amat membutuhkan istirahat.

Menikah, apabila mendapatkan seseorang yang cocok,

memang memberikan satu ketenangan batin dan

ketentraman. Yang paling penting adalah azas yang

diterapkan, tetap bersama dalam
keadaan apa pun, tetap

dijalankan.

Jujur saja, kehidupan lajang yang belum memiliki

pacar alias jomblo atau sedang 'kosong' sebetulnya

juga sangat menyenangkan. Kamu bisa lakukan apa saja

yang kamu mau, mau pergi karaoke keluarga bersama

teman-temanmu, mau nonton, mau jalan-jalan ke luar

negeri, mau pelayanan sana-sini, mungkin tidak jadi

masalah. Itu bakal jadi sesuatu yang berbeda ketika

ada seorang pacar dan kemudian menjadi pasangan, suami

atau istri kita, harus dilakukan penyesuaian di

sana-sini dan tentunya saling toleransi antara satu

dengan yang lain.

Namun, yang namanya manusia, sering kali tidak pernah

puas, dan tidak jarang ada perasaan bosan menghinggapi

hati kita apabila rutinitas itu-itu saja yang kita

alami. Yang single berkeinginan segera mengakhiri

kehidupan melajangnya dan melabuhkan
hatinya kepada

seseorang yang cocok. Sementara tidak jarang yang

sudah menikah dan punya anak merindukan saat-saat

lajang, di mana kebebasan menjadi begitu berarti di

mata mereka.

Rumput tetangga sepertinya kelihatan selalu lebih

hijau...

Bagaimana mencari penyelesaian agar kita bisa

mensyukuri kehidupan yang kita jalani pada saat ini,

sebetulnya merupakan kunci permasalahan.

Pada akhirnya, saya menilai bahwa kehidupan perkawinan

akan jadi sangat menyenangkan bila:



1. Menikah dengan seorang yang cocok, dari segi

intelektual, kepercayaan/ agama, strata sosial, dan

pemikiran akan masa depan berkeluarga yang bakal

diarungi bersama.

2. Menjalani cinta romantisme- denyut jantung yang

berdetak semakin cepat saat bertemu dengan si Dia,

muka yang memerah (blushing)- dengan
penuh rasa syukur

namun tidak terbius olehnya. Sehingga tidak kecanduan

akan cinta romantis ini dan bisa menerima keadaan

ketika cinta romantis menjadi cinta realistis.

3. Berusaha mengerti kondisi pasangan, terutama

pada saat-saat pasangan tengah menghadapi hal yang

kurang menyenangkan ataupun menghadapi masalah besar.

Pengertian adalah dasar yang utama yaitu dengan

berusaha menempatkan diri pada posisi pasangan.

4. Tanggung jawab yang tinggi akan keputusan untuk

menikah dan menjalani kehidupan bersama. Dalam

kondisi apa pun!

5. Tetap setia dan menyertakan Tuhan dalam relasi

ini. Adalah sangat beruntung apabila kedua orang yang

terikat dalam satu mahligai rumah tangga adalah orang

yang sama-sama memiliki hubungan pribadi yang indah

dengan sang Pencipta. Karena banyak kali dalam

kehidupan ini, kita
mengalami kekecewaan dengan

pasangan kita. Mungkin yang paling sering mengecewakan

kita adalah pasangan kita, namun apabila kita punya

relasi yang baik dengan Tuhan, yakinlah bahwa kita

akan dimampukan memaafkan dan mengasihi pasangan kita.

Namun, bila hanya salah satu pihak yang lebih dekat

relasinya dengan Tuhan, sebaiknya mendoakan

pasangannya agar bisa merasakan cinta Tuhan secara

pribadi dan setia menunggu saatnya Tuhan tiba bagi

pasangannya untuk merasakan hal itu.



Jika belum menemukan yang cocok, apa yang harus

dilakukan?



1. Tetaplah mengasihi Tuhan secara sempurna, jangan

marah-marah atau 'complain'. Kalaupun ada 'complain'

nyatakan kerinduan dan kegelisahan hatimu kepada

Tuhan.

2. Nikmati ke-single-an itu sebagai berkat Tuhan

juga, karena
kamu tidak pernah tahu apa yang harus

kamu hadapi ketika kamu menikah. Tanggung jawab yang

lebih berat, juga masalah yang lebih besar. Ketika

kamu menghadapi itu semua, mungkin kamu tidak kuat,

makanya Tuhan menunggu waktu yang tepat untuk

memberikan seseorang yang tepat pula untuk kamu.

3. Dan yakinlah, apabila Tuhan sudah bertindak, dan

memberikan yang terbaik untukmu, Dia tidak pernah

lepas tangan! Dia dengan setia terus membimbing agar

kita siap mengalami semua perubahan yang terjadi.

Dengan demikian, sebagai seorang single, kita hidup

dalam kepenuhan, dan kita mampu mengucap syukur dengan

kehidupan melajang itu. Dan ketika saatnya kamu harus

menikah, kamu pun memiliki rasa syukur yang tinggi

atas kehidupan single yang sudah kamu jalani selama

ini, dan mampu mengambil tanggung jawab akan

kehidupan berumah tangga
yang Tuhan percayakan kepada kamu.


Jadi, lajang atau menikah, tidaklah jadi masalah asal

kita menjalani kehidupan ini dengan realistis,

sekaligus penuh pengharapan di dalam iman kita kepada Tuhan.

Tuhan tahu yang terbaik untuk setiap kita, jangan

pernah ragukan itu! Bersyukur atas apa yang Dia beri,

itu adalah yang terbaik yang bisa kita lakukan pada

saat ini...
 
/sob

nice post........

jadi........ jadi........ jadi pengen merenung

terutama untuk 3 item paling bawah /sob

Beda dikit sama sms tmn gwe yg isinya seperti ini :

Jika kamu berdo'a (berharap bertemu dgn jodohnya) dan belum dikabulkan, maka bersabarlah.
Karena mungkin saat ini bukan waktu yg tepat untuk mengabulkan permohonanmu.
Namun jika saatnya sudah tiba, permintaanmu pasti akan dikabulkan walau kau tak berdo'a (itu hanyalah ujian kecil bagimu)
 
Gw vote HIDUP MENIKAH untuk menghilangkan DOSA BESAR /gawi

Bagi yang lom menikah SABAR yach /wah sabar semuanya
 
^
Hahaha, gw sadarkoq kalo menikah itu nga hanya ada enaknya doang
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.