Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -Hari-hari ini, banyak afirmasi yg saya temui dari kawan-kawan sebaya tentang tentang hidup. Seperti misalnya perkataan"Kerja kawan, jangan cuma ngopa-ngopi mulu. Biar tahu pahitnya hidup, enggak cuma tahu pahitnya kopi mulu."Atau seperti yg sekarang lagi tren di TikTok,"Menjauhlah dari duit orang tuamu, maka kau akan tahu bagaimana pria hidup."
Ketika menemui pernyataan tersebut, saya yg saat ini hidupnya kebanyakan masih bergantung dari duit orang tua, lantas sedikit tersinggung. Untungnya saja cuma sedikit, enggak banyak. Kalau banyak, mungkin bukan tersinggung namanya, tetapi tersungging. Xixixi.
Menanggapi afirmasi tersebut, bukan semata-mata karena ketersinggungan saya. Tapi, ya, karena memang rasa-rasanya ada yg kurang pas aja sama pernyatannya.
Saya bukan siapa-siapa, & enggak dapat dibilang berkapasitas dalam menjelaskan makna hidup yg sebenarnya. Meski begitu, kalau ada pernyataan yg kiranya terasa irasional, yah saya sebagai makhluk yg berakal, lumayan tergugah lah buat berkecimpung dalam membantahnya. Wushh.
Ini kalau hingga tahu sama orang yg hobinya ngatain si paling, saya mungkin akan dikatain,Iya-iya, si paling membantah. Emang ada-ada aja kelakuan anak muda sekarang. Dikit-dikit dibilang si paling. Kalau misalnya tentang bernafas, kira-kira mereka rela enggak, ya, dikatain,Iya-iya, si paling bernafas.Kan, aneh jadinya.
Tapi ini serius. Seperti pernyataan di atas tadi, saya pikir pernyataan itu tidak masuk akal loh. Karena bagaimana mungkin tentang hidup itu cuma soal kerja, kerja, & kerja. Yah memang, dalam hidup kita enggak dapat lepas dengan yg namanya uang. Makanya kita harus bekerja biar dapat uang, lalu uangnya dibuat untuk menyambung kehidupan.
Tapi, apakah iya, kalau hidup itu makna autentiknya itu bekerja? Apakah iya, kalau kita diciptakan di dunia ini semata-mata untuk bekerja? Berarti, kalau kita berangkat pada konotasi bekerja itu sendiri, hidup ini esensinya menghadapi kerasnya hidup, dong? Artinya, hidup sama dengan kekerasan, dong?
Kalaupun memang begitu, saya sendiri jadi takut loh sama mereka yg bertuhan. Serius, dah. Karena secara enggak langsung, mereka itu mengatakan bahwa Tuhannya cuma memberikan kekerasan pada mereka. Iya, enggak? Apa enggak ironi kalau begitu? Apa enggak timbul banyak paradoks kalau dikaitkan dengan Tuhan yg maha segalanya? Gimana? bingung, kan? Yah sama. Awowkwok.
Jadi begini. Kalau misalnya pernyataan tadi kita asumsikan sebagai makna autentik dari hidup. Maka, pernyataan itu bukanlah pernyataan yg bersifat informatif. Karena semut pun ya tahu, kalau hidup ini keras. Bahkan enggak cuma semut, bayi baru lahir pun tahu kalau hidup itu keras. Wong dia saja hingga menangis saat keluar dari Rahim Ibu.
Mau kalian bantah dengan argumentasi dari perspektif mana saja, tetap saja bayi menangis ketika baru lahir itu pada intinya karena dia merasa dalam keadaan tidak nyaman. Yang artinya ketidaknyamanan itu menandakan bahwa dia sudah merasakan kerasnya kehidupan. Kalau enggak percaya, silakan dicek dari sumber sains maupun agama.
Saya menebak, kalian pasti timbul omongan,Yang dimaksud keras bukan itu, tetapi menjalani kerasnya kehidupan yg sebenarnya, yakni dengan kerja sendiri, berdiri di atas kaki sendiri.
Lah, terus, maksudnya bayi baru lahir itu harus kerja dulu gitu biar dapat tahu makna hidup? Kan enggak mungkin. Kalaupun memang begitu, berarti kerja bukan makna autentik dari hidup. Sebab, maknanya cuma berlaku bagi manusia yg sudah sanggup bekerja. Sedangkan makna atau esensi dari hidup itu yah harusnya berlaku bagi makhluk atau manusia yg sedang hidup.
Dalam hidup, saya pikir ada porsi & proporsionalnya sendiri. Enggak semata-mata semua manusia digeneralisir dengan tindakan bekerja & harus dapat uang untuk mengetahui makna hidup. Bahkan bayi baru lahir pun dia bekerja loh, meskipun hasilnya bukan berupa uang.
Yah maksudnya dia bekerja untuk memanajamen dirinya dengan kapasitas yg dia miliki. Salah satunya dengan cara menangis, yg dalam hal tersebut menandakan kepada dokter atau suster untuk segera menanganinya supaya tetap dapat hidup.
Nah, dari sini kita mulai mengerti, bahwa makna sebenarnya dari hidup itu bukan soal bekerja atau merasakan kerasnya kehidupan. Karena kalau balik pada pernyataan di awal tadi, yah orang yg ngopi itu berarti sudah tahu makna kehidupan. Bagi orang yg suka ngopi itu kan diasumsikan sebagai salah satu cara buat menangani kerasnya kehidupan. Meskipun dengan intensitas & bentuk kerasnya yg berbeda. Tapi, tetap saja, tabiatnya itu menangani kerasnya kehidupan.
Kalau begitu, apa argumentasi yg dapat menutupi pernyataan di awal tadi?
Lagi-lagi saya perlu menegaskan dulu kalau saya bukan siapa-siapa & belum dapat dikatakan punya kapasitas dalam menjelaskan makna hidup yg sebenarnya. Maka dari itu, di sini saya akan meminjam diktum dari salah satu filsuf eksistensialis sekaligus teolog dari Denmark, yakni Soren Aabye Kierkegaard. Beliau menyatakan,Hidup itu bukan untuk melihat masalah di dalamnya. Melainkan menghayati sebuah proses, & membawanya pada perubahan.
Saya pikir, pernyataan dari beliau tersebut lebih masuk akal untuk dipakai sebagai referensi dalam memaknai kehidupan. Karena ketika kita mengerjakan apapun itu pasti enggak lepas dengan yg namanya keterpurukan & kebahagiaan. Oleh sebab itu, apapun yg kita terima, yah harusnya kita dapat menghayatinya bahwa hidup ini mau enggak mau pasti terus berjalan.
Mau berhenti pada titik kebahagiaan pun pasti selanjutnya kita akan berjumpa dengan masalah yg membawa kita pada keterpurukan. Begitupun dengan sebaliknya. Dengan begitu, kita dapat memaknai hidup secara bijak dengan mengatakan,Kita hidup yah merasakan keras & merasakan empuk, & apa lagi yg dapat kita lakukan selain dengan menerima, menghayati, lalu mengerjakan segala hal lagi dengan tujuan perubahan.
Akhirnya dari sini saya dapat membantah pernyataan kawan-kawan di atas tadi. Jadi, ngopi bukan suatu hal yg muskil dalam hidup, pun bukan berarti tentang ngopi, lantas dikatakan enggak tahu makna hidup. Siapa tahu dengan ngopi, seseorang dapat mendapatkan sesuatu, lalu membawanya pada perubahan. Orang sekarang ngopi saja dapat dapat ide lalu menuliskannya jadi sebuah artikel, kok.
Malahan, orang yg melulu bekerja, dapat-dapat mereka enggak tahu bahwa hidup itu bukan cuma kerasnya bekerja. Alhasil, story/instastory-nya gitu-gitu aja, kalau enggak tentang sambat, yah berdoa yg seakan-akan Tuhannya ikut serta bermain sosial media. Hmmm.
Tulisan ini ditulis oleh Achmad Fauzan Syaikhoni diCangkemanpada tanggal 19 APril 2022.
Hari ini 17:03