yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Sebagai penganut agama Katolik, rakyat Filipina hidup dalam tradisi penghormatan terhadap mereka yang telah meninggal dunia. Tidak sedikit bangunan musolium di North Cemetery dilengkapi dengan dapur, kamar mandi dan berpendingin ruangan. Anak cucu dari mereka yang dimakamkan disini melakukan penghormatan dengan persembahan makanan pada hari-hari tertentu seperti All Souls’ Days, penghormatan serupa juga dilakukan oleh Philippines Chinese pada hari Ceng Beng. Setiap bangunan musolium menunjukkan status sosial ekonomi, mereka yang mampu akan menggaji para penjaga makam untuk merawat dan membersihkan musolium.
Hermogenes Soliman yang telah bekerja sebagai penjaga kuburan selama puluhan tahun di North Cemetery mengungkapkan bahwa ketika pada tahun 1970-an penerangan listrik dipasang dikomplek ini, kaum urban mulai berdatangan, tinggal dan menjadikan musolium sebagai rumah mereka, beberapa orang mulai mendirikan gubuk ditanah yang masih kosong. Lebih lanjut Soliman mengatakan bahwa dirinya telah tinggal di North Cemetery sejak lahir dan meneruskan usaha orang tuanya sebagai penjaga kuburan. Musolium yang dihuninya adalah satu-satunya tempat tinggal yang dimiliki, bersama tiga saudara kandung lainnya, Soliman tinggal dan membesarkan anak cucunya disini. Soliman mengatakan bahwa tidak semua pemukim North Cemetery adalah rakyat miskin. Moody Diaz seorang pelawak terkenal ditahun 70-an juga tinggal disini, disaat jayanya dan bahkan sempat menjadi aktris, Diaz tetap tinggal disini. Beberapa pemukim juga memiliki sepeda motor bahkan ada seorang warga yang bekerja dikantor administrasi dan memiliki mobil.
Soliman mengaku tidak pernah melihat hantu disini, para pemukim mengatakan bahwa  bukan hantu yang mereka takuti tetapi para preman hidup yang berdatangan dan menetap disini. Pendatang baru ini telah menjadikan North Cemetery lebih menyeramkan dan lebih rawan. Beberapa salib dan nisan berlapis emas telah raib. Soliman tidak ambil peduli dengan para pendatang baru namun menekankan bahwa kuburan merupakan tempat peristirahatan terakhir mereka yang telah meninggal dunia bukan bagi mereka yang masih hidup. Walaupun gerbang pemakaman telah dijaga, mereka tidak kuasa menghentikan datangnya warga baru yang ingin tinggal dikomplek pemakaman ini. Beberapa dari para pendatang ini adalah  pekerja bangunan disekitar komplek.
Petugas Pamong Praja telah beberapa kali membersihkan dan mengusir pemukim liar North Cemetery serta memutuskan aliran listrik tetapi setelah petugas pergi, pemukim kembali lagi mendirikan gubuk tempat tinggal mereka dan mencuri listrik dengan menggunakan jumper. Para pemukim lebih suka tinggal disini daripada dikolong jembatan layang atau dihamparan sungai. Mereka lebih merasa aman dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari seperti memulung, bermain, berkaraoke, membuka warung dan menawarkan jasa  menggotong peti jenazah. Antara 80 hingga 100 pemakaman berlangsung di North Cemetery setiap harinya, seorang penggotong peti jenazah mendapat upah sekitar 5000 rupiah.
Mereka yang kurang mampu tidak dimakamkan dalam musolium tetapi dalam pemakaman bertingkat yang mereka sebut apartemen. Pada awalnya pemakaman North Cemetery diperuntukkan mereka yang telah meninggal dunia, tetapi karena zaman makin sulit, makin banyak manusia untuk dapat bertahan hidup, tinggal bersama yang mati disini
