Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Derung motor yg sedikit berisik itu menciptakan suasana tak kembali normal seperti yg kami harapkan.
Asap di mana-mana, kalau mungkin daya tahan tubuh kita tidak sanggup mengimbangi udara tersebut, barangkali hidung & mulut akan terpasang alat seperti apa yg anjurkan. Tapi alhamdulillah kita baik-baik saja. Dan satu hal lagi. Karena kita begitu memahami, sebetulnya alat tersebut di peruntukkan bagi mereka yg mengidap penyakit/tidak terlalu sehat. Nah, dari itu kami memilih mengalah, bukan apa-apa. Namun begitu masih banyak diantara mereka yg masih mengpakai alat seadanya sebagai penutup mulut & hidung tersebut. Malam perlahan meninggalkan jejaknya, jalanan mulai sunyi dari pemelihara rasa, & dharap pun perlahan datang menyapa kita tanpa kalimat tanya maupun dialog nyata. Berapa detik kemudian, salah satu diantara kita sengaja mengambil kopi hitam yg masih utuh & penuh kepulan asap pun perlahan ia tuang. Sembari berkata:
"assyuuuu"!!!!! Jam berapa ini???
Begitulah kita, tanpa memikirkan apapun. Bahkan sering berharap malam sering panjang. Sebab kita tak sanggup menghadapi esok pagi.
Suatu malam, tepat di hari selasa malam. Entahlah, yg jelas ia mengajak~ku pada suatu tempat, namun yg jelas tidak pada sekitaran kota. Iya terserahlah, turut serta dalam ajakannya. Malam pun mulai merayu roda sepeda yg kita tunggangi, tangan mulai gemetar tak kuasa menahan dharapnya dimana kala itu tanpa alat bantu penghangat badan yg semestinya sebagai penawar.
Setengah jam kita nikmati jalan berlubang & berombak. Ah, macam naik kapal saja. Tapi sudahlah, anggap saja bagian dari senam perut. Ucapnya pada saya.
Bisa....dapat... tetapi sebenarnya kita ini mau kemana dulu??? Tanya~ku.
Sudah diam saja, cuman mau ikut aja kok repot. Jawabnya.
Krik...krik...krik..
Suara rintik hujan membentur pengaman kepalaku. Hujan, bang.!!
Iya, cari tempat bernaung dulu sebentar. Atau cari warung kopi di deket-deket sini.
Tanpa basa basi, saya pun langsung katakan"ayo" mau nunggu apalagi.
Nah, diwarung situlah kita memulai sebuah pembahasan dimana sekarang keadaan lingkungan sedang tidak baik-baik saja.
Sebenarnya mereka-mereka itu mau diarahkan kemana?? Tanya dia(sambil mikir)
Loh, kok tanyak saya..
Emang apa yg dapat saya lakukan?!!!
Mengajak mereka??? Iya nggak lah, mana mungkin mereka ikut arahan saya. Ngaco anda ini. Jawab saya( (: )
Terus....terus... mau dibiarkan begitu saja maksudnya!!!!?
Iya apa boleh buat?!!! Jawabku.
Lagian, untuk bicara soal semacam itu, kalau saya atau pun anda yg menyampaikan, mana mungkin mereka-mereka sejalan. Saya yaqin gak bakalan.!!!
Sebab apa, karena ia sudah sanggup berpikir, bahwa esok itu masih ada lusa. Jadi, yg terbayang dalam diri mereka sekarang itu tentang bagaimana cara menyambung hidup.. sudah bukan lagi soal hari ini, ada apa, bagaimana, & gimana.
Loh...loh...loh... jawabnya(kaget)
Saya mah santai saja, toh saya juga ada dalam bagian mereka.
Hari ini 11:55
Asap di mana-mana, kalau mungkin daya tahan tubuh kita tidak sanggup mengimbangi udara tersebut, barangkali hidung & mulut akan terpasang alat seperti apa yg anjurkan. Tapi alhamdulillah kita baik-baik saja. Dan satu hal lagi. Karena kita begitu memahami, sebetulnya alat tersebut di peruntukkan bagi mereka yg mengidap penyakit/tidak terlalu sehat. Nah, dari itu kami memilih mengalah, bukan apa-apa. Namun begitu masih banyak diantara mereka yg masih mengpakai alat seadanya sebagai penutup mulut & hidung tersebut. Malam perlahan meninggalkan jejaknya, jalanan mulai sunyi dari pemelihara rasa, & dharap pun perlahan datang menyapa kita tanpa kalimat tanya maupun dialog nyata. Berapa detik kemudian, salah satu diantara kita sengaja mengambil kopi hitam yg masih utuh & penuh kepulan asap pun perlahan ia tuang. Sembari berkata:
"assyuuuu"!!!!! Jam berapa ini???
Begitulah kita, tanpa memikirkan apapun. Bahkan sering berharap malam sering panjang. Sebab kita tak sanggup menghadapi esok pagi.
Suatu malam, tepat di hari selasa malam. Entahlah, yg jelas ia mengajak~ku pada suatu tempat, namun yg jelas tidak pada sekitaran kota. Iya terserahlah, turut serta dalam ajakannya. Malam pun mulai merayu roda sepeda yg kita tunggangi, tangan mulai gemetar tak kuasa menahan dharapnya dimana kala itu tanpa alat bantu penghangat badan yg semestinya sebagai penawar.
Setengah jam kita nikmati jalan berlubang & berombak. Ah, macam naik kapal saja. Tapi sudahlah, anggap saja bagian dari senam perut. Ucapnya pada saya.
Bisa....dapat... tetapi sebenarnya kita ini mau kemana dulu??? Tanya~ku.
Sudah diam saja, cuman mau ikut aja kok repot. Jawabnya.
Krik...krik...krik..
Suara rintik hujan membentur pengaman kepalaku. Hujan, bang.!!
Iya, cari tempat bernaung dulu sebentar. Atau cari warung kopi di deket-deket sini.
Tanpa basa basi, saya pun langsung katakan"ayo" mau nunggu apalagi.
Nah, diwarung situlah kita memulai sebuah pembahasan dimana sekarang keadaan lingkungan sedang tidak baik-baik saja.
Sebenarnya mereka-mereka itu mau diarahkan kemana?? Tanya dia(sambil mikir)
Loh, kok tanyak saya..
Emang apa yg dapat saya lakukan?!!!
Mengajak mereka??? Iya nggak lah, mana mungkin mereka ikut arahan saya. Ngaco anda ini. Jawab saya( (: )
Terus....terus... mau dibiarkan begitu saja maksudnya!!!!?
Iya apa boleh buat?!!! Jawabku.
Lagian, untuk bicara soal semacam itu, kalau saya atau pun anda yg menyampaikan, mana mungkin mereka-mereka sejalan. Saya yaqin gak bakalan.!!!
Sebab apa, karena ia sudah sanggup berpikir, bahwa esok itu masih ada lusa. Jadi, yg terbayang dalam diri mereka sekarang itu tentang bagaimana cara menyambung hidup.. sudah bukan lagi soal hari ini, ada apa, bagaimana, & gimana.
Loh...loh...loh... jawabnya(kaget)
Saya mah santai saja, toh saya juga ada dalam bagian mereka.
Hari ini 11:55