• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Internasional Hibrida gaya sepak bola empat semifinalis Euro

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Diggie
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Diggie

IndoForum Activist C
No. Urut
287751
Sejak
6 Apr 2020
Pesan
14.401
Nilai reaksi
1
Poin
0
Berikut adalah berita Hibrida gaya sepak bola empat semifinalis Euro.

Hibrida gaya sepak bola empat semifinalis Euro


Dari kiri ke kanan, bek Italia Giorgio Chiellini, striker Belgia Romelu Lukaku & gelandang Italia Nicolo Barella berebut bola dalam pertandingan perempat final EURO 2020 antara Belgia & Italia di Allianz Arena, Muenchen, 2 Juli 2021. (AFP/MATTHIAS HANGST)

Jakarta (ANTARA) - Empat regu menuju London untuk menjalani pekan terakhir Euro 2020 & selain menjanjikan pertarungan sengit, dua laga semifinal nanti itu menghadirkan pertarungan antar gaya sepak bola berbeda & pendekatan taktis yg menarik.

Sementara sepak bola memiliki ideolog-ideolognya sendiri, yg menegaskan bahwa pendekatan tertentu adalah cara yg tepat dalam memainkan pertandingan ini, 'keempat final' adalah bukti bahwa sebenarnya tidak ada formula tunggal untuk menggapai sukses.

Dengan cara yg berbeda satu sama lain, kuartet ini juga melukiskan bagaimana timnas-timnas melepaskan diri dari gaya khasnya yg merupakan stereotip yg melekat pada mereka & muncul lagi dalam berbagai komentar seputar turnamen besar.

Baca juga: Mancini gembira Italia capai semifinal Euro 2020

Italia mengalami perubahan di bawah Roberto Mancini jadi regu yg memainkan sepak bola berenergi tinggi, menekan, memburu serangan sebanyak mungkin begitu mereka memenangkan bola.

Klise malas tentang catenaccio yg merujuk kembali kepada gaya bertahan lebih dari separuh zaman silam yg sejak lama dianggap ketinggalan zaman, benar-benar tidak relevan ketika menyaksikan regu Mancini.

Kesayangan Italia dalam bertahan masih terlihat dari penampilan Giorgio Chiellini & Leonardo Bonucci tetapi sistem ini dibangun atas dasar pendekatan energi tinggi bersama kedua bek sayap yg bermanuver tumpang tindih & penggunaan secara cerdas saluran dalam di mana Lorenzo Insigne & Federico Chiesa terhubung dengan sangat baik dengan penyerang tengah Ciro Immobile.

Ini adalah brand sepak bola cepat, positif & menghibur yg didukung oleh para pemain Italia yg terlihat paling segar & paling bugar dalam turnamen itu.

Baca juga: Luis Enrique sudah yakin Spanyol bakal menang adu penalti

Sebaliknya lawan mereka dalam semifinal Selasa itu, yakni Spanyol, lebih dekat kepada gaya khas nasional mereka, yg dibentuk selama era tiki-taka ketika mereka menjuarai Euro 2008 & 2012 yg di antara keduanya terselip sukses Piala Dunia 2010.

Tetapi sementara penguasaan bola tetap jadi inti filosofi sepakbola mereka, cara bermain mereka berubah akbar di bawah era Luis Enrique.

Spanyol yg dia latih tetap memonopoli bola, termasuk mencatat rekor umpan selama turnamen ini dengan 917 umpan saat melawan Swedia sambil mempertahankan 85 persen penguasaan bola, tetapi regu dia lebih intens ketimbang pendahulu mereka & lebih cepat bergerak maju, di mana sang pelatih acap berbicara tentang perlunya 'verticilidad' atau serangan langsung.

Dia memasang formasi 4-3-3 yg sama dengan yg dia pakai saat menangani Barcelona & lebih menyukai sistem lebih menyerang daripada mantan bos Vicente del Bosque yg terkenal karena bermain tanpa striker hampir sepanjang Euro 2012.

Pemain-pemain depan yg energik, pekerja keras, pertahanan yg kuat, adalah kunci pendekatan Luis Enrique, yg menjelaskan kegigihannya mempertahankan Alvaro Morata yg sering membuang peluang.

Baca juga: Harry Kane 'star of the match', tularkan kepercayaan diri Inggris

Sepak bola kreatif

Di benua itu, stereotip sepak bola Inggris sering fokus kepada komitmen & etos kerja serta gaya fisikalnya yg langsung, tetapi pandangan itu juga sudah ketinggalan zaman.

Memang, Three Lions memasuki turnamen ini dengan sederet gelandang serang yg terampil & pemain sayap yg memiliki potensi memainkan sepak bola cepat yg mengalir & kreatif.

Manajer Gareth Southgate pada dasarnya berhati-hati & pragmatis dengan memainkan dua gelandang bertahan pada diri Declan Rice & Kalvin Phillips di belakang trisula Raheem Sterling di kiri, Harry Kane di tengah & sayap kanan yg bergantian diisi pemain berbeda.

Kemenangan 4-0 atas Ukraina dalam perempat final Minggu itu di Roma, memperlihatkan Inggris bermain bebas & panik begitu memimpin dua gol. Akan menarik untuk dilihat apakah mereka akan mengadopsi pendekatan itu dalam semifinal Rabu nanti melawan Denmark atau kalau kembali mempraktikkan pengendalian laga yg hati-hati yg mereka tunjukkan saat melawan Jerman pada babak sebelumnya.

Gaya Inggris mungkin paling tepat digambarkan sebagai perpaduan antara struktur pertahanan yg solid & prioritas penguasaan bola di mana kreativitas beberapa akbar diserahkan kepada tiga pemain depannya.

Baca juga: Denmark ke semifinal, Kasper Hjulmand kenang rapat perdana jelang Euro

Denmark sering menciptakan sepak bola yg lebih progresif ketimbang tetangga-tetangganya di Skandinavia yg lebih sederhana & regu Kasper Hjulmand berutang banyak kepada tiga pemain depan mereka atas keberhasilan yg mereka peroleh sejauh ini.

Martin Braithwaite menciptakan ruang yg dieksploitasi dengan baik oleh Mikkel Damsgaard & Kasper Dolberg, sedangkan kedua bek sayap Jens Stryger Larsen & Joakim Maehle maju untuk menambah serangan dari lebar lapangan.

Seperti halnya Inggris, ada soliditas di lini tengah di mana Pierre-Emile Hojbjerg & Thomas Delaney jadi jangkarnya.

Siapa pun yg lolos ke Minggu pekan depan, waspadalah kepada siapa pun yg menyatakan hasil menunjukkan gaya sepak bola tertentu yg kini jadi cara untuk diikuti.

Euro 2020 sudah menunjukkan bahwa tidak ada model strategi yg dominan untuk meraih sukses, begitu analisis Reuters.

Baca juga: Arsene Wenger yakin Inggris ke final Euro 2020
Baca juga: Kjaer akui capai Wembley memang target Denmark sejak awal
Baca juga: Spanyol yg ompong atasi Swiss tetapi krisis bukti diri berlanjut
Baca juga: Semifinal Euro 2020: Italia ladeni Spanyol, Inggris ditantang Denmark

Berita diatas dikutip dari internet, jika Hibrida gaya sepak bola empat semifinalis Euro adalah spam, mohon beritahu kami.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.