• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Herd Immunity : Mimpi Buruk amit - amit jangan sampai

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Ijin nulis pendapat pribadi.. Semoga gak salah nulis & mohon jangan dimaki - maki yah...

Kita mulai apa itu Herd Immunity ?

Dikutip dalam Euronews, herd immunity adalah konsep dalam epidemiologi yg menggambarkan bagaimana orang secara kolektif dapat mencegah infeksi kalau beberapa persen populasi memiliki kekebalan kepada suatu penyakit.

Istilah awamnya, virus kehadapatn orang untuk dia infeksi karena orang - orang yg tersisa adalah orang - orang yg sudah pernah kena virus itu jadi sudah ada antibodi alami untuk menolak virus.

Namun ada syarat utama untuk terbentuknya Herd Immunity, yaitu MINIMAL 70% penduduk sebuah kota / negara sudah pernah kena & sembuh sehingga 70% orang ini punya antibodi. Artinya, untuk Indonesia yg memiliki populasi 270 juta jiwa,
minimal 190 juta jiwa penduduk harus tertular terlebih dahulu sebelum Herd Immunity mulai terbentuk di Indonesia.

Banyak kita dengar, demi ekonomi, jalan satu - satunya adalah Herd Immunity biar Covid-19 segera hilang dari Indonesia karena mereka sudah tidak percaya dengan kemampuan pemerintah melacak, memeriksa & mengisolasi para ODP, PDP, OTG, dll.

Hari ini, 18 Mei 2020, penduduk Indonesia yg sudah terkena Covid-19 adalah 18,000 orang. Kita mulai simulasi yah.

Inget kejadian awal di Wuhan, virus menyerang & manusia benar - benar tidak ada persiapan. Tidak ada yg pakai masker, tidak ada yg pakai sarung tangan, tidak ada yg pakai hand sanitizer, tidak ada yg sering cuci tangan, semua orang masih saling memeluk & cipika cipiki. Dalam kondisi ini laju virus menyebar adalah sekitar 15% per hari. Artinya kalau tgl 18 Mei 2020, ada 18,000 pasien Covid-19, pada tanggal 11 September 2020, jumlah pasien akan menyentuh angka 190 juta. Kalau secara biasa pasien di Indonesia butuh waktu 30 hari untuk sembuh, Herd Immunity akan terbentuk pada tanggal 11 Oktober 2020. Ingat, kita harus hidup biasa aja tanpa masker, sarung tangan, cuci tangan, tidak ada social distancing sama sekali.

Lanjut ke simulasi kedua, PSBB dengan bumbu kenakalan orang Indonesia : laju virus menyebar adalah sekitar 3.1% per hari. Jadi kalau tanggal 18 Mei 2020, ada 18,000 pasien, pada tanggal 18 Mar 2021, jumlah pasienakan menyentuh angka 190 juta. Kalau secara biasa pasien di Indonesia butuh waktu 30 hari untuk sembuh, Herd Immunity akan terbentuk pada tanggal 18 Apr 2021. Ingat, kita harus PSBB atau apapun jenisnya selama itu.

Lanjut ke simulasi ketiga, tanpa PSBB tetapi semua orang waspada untuk sering pakai masker, cuci tangan, social distancing, dll. Istilahnya the new normal ditambah bumbu pasti ada yg bandel & gak peduli, laju virus menyebar adalah sekitar 6% per hari.Jadi kalau tanggal 18 Mei 2020, ada 18,000 pasien, pada tanggal 24 Oktober 2020, jumlah pasienakan menyentuh angka 190 juta. Kalau secara biasa pasien di Indonesia butuh waktu 30 hari untuk sembuh, Herd Immunity akan terbentuk pada tanggal 24 November 2020. Ingat, kita harus hidup dalam the New Normal selama itu.

Nah kita udah bahas waktu yg dibutuhkan untuk mencapai Herd Immunity, sekarang kita bahas Fatality Rate.

Di simulasi pertama, ketika semua gak siap, Fatality Ratenya sekitar 65%, artinya ketika kita bicara virus akan menginfeksi 190 juta jiwa, 125 juta jiwa akan meninggal & 65 juta jiwa akan sembuh & memiliki antibodi. Total penduduk Indonesia yg selamat dari Covid-19 : 65 juta dengan antibodi + 80 juta yg belum sempat kena Covid-19 karena virus keburu hilang karena Herd Immunity = 145 juta jiwa berhasil melewati pandemi Covid-19

Di simulasi kedua, ketika kita menerapkan The New Normal tanpa ada PSBB sama sekali, Fatality Rate sekitar 30%, artinya ketika kita bicara virus akan menginfeksi 190 juta jiwa, 60 juta jiwa akan meninggal & 130 juta jiwa akan sembuh & memiliki antibodi. Total penduduk Indonesia yg selamat dari Covid-19 : 130 juta dengan antibodi + 80 juta yg belum sempat kena Covid-19 karena virus keburu hilang karena Herd Immunity = 210 juta jiwa berhasil melewati pandemi Covid-19

Di simulasi ketiga, ketika PSBB masih diberlakukan, Fatality Rate sekitar 5%,artinya ketika kita bicara virus akan menginfeksi 190 juta jiwa, 10 juta jiwa akan meninggal & 180 juta jiwa akan sembuh & memiliki antibodi. Total penduduk Indonesia yg selamat dari Covid-19 : 180 juta dengan antibodi + 80 juta yg belum sempat kena Covid-19 karena virus keburu hilang karena Herd Immunity = 260juta jiwa berhasil melewati pandemi Covid-19.

Kenapa dapat ekstrim angka kematiannya ?

The Old Normal : (segala sesuatu berlangsung begitu cepat cuma dalam rentang waktu 4 bulan)
190 juta jiwa = 70% terdeteksi setelah "stadium lanjut" + 30% "Stadium awal"
190 juta jiwa = 130 juta terdeteksi setelah "stadium lanjut" harus rawat inap + 60 juta terdeteksi "stadium awal" cukup isolasi rumah
karena tidak cukupnya rumah sakit, 125 juta "stadium lanjut" meninggal, cuma 5 juta "stadium lanjut" yg sembuh + 60 juta "stadium awal" sembuh

The New Normal : (segala sesuatu berlangsung tidak cepat namun tidak lambat juga dalam rentang waktu 5 bulan)
190 juta jiwa = 50% terdeteksi setelah "stadium lanjut" + 50% "Stadium awal"
190 juta jiwa = 95 juta terdeteksi setelah "stadium lanjut" harus rawat inap + 95 juta terdeteksi "stadium awal" cukup isolasi rumah
karena tidak cukupnya rumah sakit (tetap tidak cukup tetapi tersebar di waktu yg berbeda tidak berbarengan), 60 juta "stadium lanjut" meninggal, cuma 35 juta "stadium lanjut" yg sembuh + 95 juta "stadium awal" sembuh


PSBB + bandel2 dikit : (segala sesuatu berlangsung dalam rentang waktu 10 bulan)
190 juta jiwa = 30% terdeteksi setelah "stadium lanjut" + 70% "Stadium awal"

190 juta jiwa = 60 juta terdeteksi setelah "stadium lanjut" harus rawat inap + 130 juta terdeteksi "stadium awal" cukup isolasi rumah

karena lumayan cukupnya rumah sakit, 10 juta "stadium lanjut" meninggal, & 50 juta "stadium lanjut" yg sembuh + 130 juta "stadium awal" sembuh


Setelah melihat ketiga hal tersebut, sepertinya semua gak bagus - bagus amat. Adakah alternatif ke-4 ?


ADA & gw sangat berharap ini terjadi. Kita semua tau bahwa perusahaan2 yg dapat menciptakan reagent test kit ada di negara - negara maju. Seiring dengan pulihnya negara - negara tersebut, kebutuhan dalam negeri mereka akan semakin berkurang & mereka dapat mulai meng-ekspor reagent dalam jumlah akbar ke negara - negara lain. Di sinilah kesempatan Indonesia untuk mengimpor reagent baik dalam bentuk bahan jadi maupun bahan baku untuk di"rakit" secara lokal oleh Bio Farma untuk kemudian dipakai secara massal. Tanpa memandang remeh perusahaan dalam negeri tetapi kemampuan kita emang lom sampe ke sana. Paling mentok kemampuan kita sampe tahap "merakit" kumpulan bahan baku jadi barang jadi. Sama kayak industri otomotif, kita belum sanggup sampe bikin mesin mobil dari 0 sampe jadi dengan hak paten Indonesia.

Saat ini kemampuan swab test Indonesia : 5.000 per hari
Bandingkan dengan Rusia : 250.000 test per hari, jangan heran Rusia case banyak tetapi hampir semua sifatnya "stadium awal" jadi tidak butuh rumah sakit & dapat sembuh dalam 2 pekan tanpa harus menularkan ke orang lain terlebih dahulu.

Kata kuncinya : SABAR & BERDOA
Melihat Trend Eropa serta Rusia, di akhir Mei 2020, mereka akan ekspor akbar - besaran reagen mereka ke luar negeri (pasti mereka juga pemasukan buat balikin ekonomi mereka, salah satunya jualan reagent). Setelah kita dapat reagent kita ngebut test.

Beberapa negara yg sudah mulai membuka PSBB di negara mereka dengan gaya hidup New Normal itu posisinya ketika sudah memasuki hari ke- 30 atau ke-45 di mana kasus sembuh lebih akbar daripada kasus baru. Saat ini, Indonesia kasus sembuh masih lebih kecil dari kasus baru

Iran adalah contoh konkret.

Hari perdana di mana kasus sembuh lebih akbar daripada kasus baru di Iran sekitar tanggal 05 April 2020. Idealnya Iran membuka PSBB mereka tanggal 05 Mei 2020 (setelah 30 hari) paling cepat atau setidaknya 20 Mei 2020 (setelah 45 hari) kalau mau aman. Namun, demi menyelamatkan ekonomi, Iran memutuskan membuka PSBB mereka tanggal 20 April 2020 (15 hari saja).

Apa yg terjadi ? 2 pekan setelah PSBB dibuka, grafik Iran berbalik arah di mana kasus baru lebih akbar daripada kasus sembuh & ini terus berlangsung selama 1 pekan berikutnya. Akhirnya dengan sangat terpaksa Iran sekitar tangal kembali menerapkan PSBB karena kalau tidak, gelombang kedua akan lebih dahsyat daripada gelombang perdana mereka. (20 April 2020 buka lockdown, 11 Mei 2020 kembali lockdown).

Ingat, virus itu sifatnya eksponensial...

100 ke 200, 200 ke 400, 400 ke 800, 800 ke 1600 & seterusnya

Kalau dimulai dari 10,000 akan cepat sekali ke angka 100,000, tetapi kalau dimulai dari 10, akan butuh waktu yg lebih lama untuk mencapai angka 100,000

Again, buat manusia semua anggapan di atas terlihat mengerikan & semua jalan buntu.

Tapi buat Tuhan YME, semua itu tidak mustahil... perbanyak waktu pribadi buat beribadah perbanyak sabar, perkecil nyinyir & menghina banyak orang. Hari ini 00:07
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.