Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
IMAM WANITA
Ramai perbincangan tentang aliran dalam Islam yg menjadikan wanita sebagai imam sholat. Hal ini bagi umat Islam dianggap sebagai aliran sesat.
Al Kafiyah Bikin Heboh Dunia Maya: Perempuan Jadi Imam Sholat
Konten Sensitif
Buka
Tapi ada juga pihak yg membela aliran ini dengan narasi bahwa aliran ini memuliakan wanita dengan memberinya tempat sebagai imam. Toh di dunia sudah banyak wanita yg jadi pemimpin. Dan adalah diskriminatif ketika wanita tidak diijinkan jadi imam.
TS pada kesempatan ini cuma mengemukakan apa yg TS pahami, dari sudut pandang TS yg juga seorang wanita, & sebagai umat yg meyakini Tuhan.
Sebenarnya bukan cuma dalam agama Islam saja bahwa imam dalam ritual ibadah itu laki-laki; di Katholik pasturnya tidak ada yg perempuan, dalam Hindu pun brahmana dari jaman dulu diceritakan dalam kisah-kisah merupakan seorang laki-laki, begitu pun dalam Buddha pemimpin tertinggi tetaplah seorang pria.
Agama diskriminatif kah?
Saya harap membahas tentang arti diskriminatif terlebih dahulu . Dalam kamus Oxford dikatakan bahwa diskriminatif (discriminative) adalah:
(1) recognize a distinction; differentiate: babies can discriminate between different facial expressions of emotion. n [with obj.] perceive or constitute the difference in or between: features that discriminate this species from other gastropods.
(2) make an unjust or prejudicial distinction in the treatment of different categories of people or things, especially on the grounds of race, sex, or age: existing employment policies discriminate against women. ORIGIN early 17th cent.: from Latin discriminat- distinguished between, from the verb discriminare, from discrimen distinction, from the verb discernere (see discern).
Dari definisi di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa diskriminatif adalah sikap membedakan sesuatu yg dianggap sama, & memperlakukan keduanya secara berbeda; maka seolah-olah hal tersebut mempunyai konotasi yg negatif, seperti yg terlihat pada definisi ke-2, contohnya adalah: diskriminasi ras, dll.
Namun, kalau sesuatu yg secara natural (kodrat) memang berbeda, maka tidak memberikan konotasi yg negatif, seperti yg terlihat pada definisi ke-1. Dari definisi yg perdana ini, kita melihat bahwa wanita & pria diciptakan mempunyai derajat (dignity) yg sama sebagai anak Allah, namun dengan kodrat yg berbeda.
Banyak kaum feminis mengatakan bahwa harus ada persamaan hak & kewajiban wanita & pria, termasuk adalah untuk jadi seorang imam. Mungkin kita harus menerima bahwa persamaan hak & kewajiban tidak berarti menghilangkan disparitas kodrat seorang pria & wanita. Sebagai contoh, jadi kodrat wanita untuk melahirkan. Kalaupun seorang pria harap & mau mempunyai persamaan hak untuk melahirkan seperti wanita, dia tetap tidak dapat, karena melahirkan bukan jadi bagian dari kodratnya. Demikian juga dengan imam jabatan, seorang wanita tidak dapat jadi imam, bukan karena agama memandang wanita lebih rendah dari pria, namun karena sudah jadi kodrat seorang imam adalah pria.
Toh dalam semua agama, perempuan juga diberikan posisi sesuai porsinya. Dalam Islam ada Ustadzah, dalam Katholik ada biarawati, dalam Buddha ada Biksuni.
Sebenarnya para feminis yg menyuarakan kesamaan hak & kewajiban juga harus melihat disparitas wanita pria secara sains (seperti halnya atheis lain, para feminis ini kan pemuja sains). Dimana otak wanita & pria saja berfungsi dengan cara yg berbeda. Itu sebabnya pria cenderung mengpakai logika, & wanita cenderung mengikuti "rasa". Belum lagi masalah hormonal yg berbeda antara wanita dengan pria.
Ini tentunya akan sangat mempengaruhi cara berpikir & cara pengambil keputusan.
Apalagi kalau wanita sedang mengalami menstruasi, dimana hormonalnya sedang tidak stabil.
Balik lagi kenapa dalam agama imam adalah pria; ya Tuhan memang menciptakan pria secara fisik untuk jadi pemimpin, pelindung. Dan agama adalah aturan dalam hidup yg mengikuti Tuhan.
Dan TS melihat euforia feminis yg menggaungkan persamaan derajat yg tidak lagi memandang kodrat adalah upaya mengelabui manusia & menjauhkan manusia dari Tuhan. Karena para feminis ini memang sepaket dengan para pengasong LGBT. Menyuarakan kesetaraan yg semu alias halu. Yang secara kodrat tidak akan dapat diwujudkan.
Terima kasih sudah membaca tulisan TS di pagi hari yg cerah ini. Selamat menikmati akhir pekan GanSis. Hari ini 09:40
Ramai perbincangan tentang aliran dalam Islam yg menjadikan wanita sebagai imam sholat. Hal ini bagi umat Islam dianggap sebagai aliran sesat.
Al Kafiyah Bikin Heboh Dunia Maya: Perempuan Jadi Imam Sholat
Konten Sensitif
Buka
Tapi ada juga pihak yg membela aliran ini dengan narasi bahwa aliran ini memuliakan wanita dengan memberinya tempat sebagai imam. Toh di dunia sudah banyak wanita yg jadi pemimpin. Dan adalah diskriminatif ketika wanita tidak diijinkan jadi imam.
TS pada kesempatan ini cuma mengemukakan apa yg TS pahami, dari sudut pandang TS yg juga seorang wanita, & sebagai umat yg meyakini Tuhan.
Sebenarnya bukan cuma dalam agama Islam saja bahwa imam dalam ritual ibadah itu laki-laki; di Katholik pasturnya tidak ada yg perempuan, dalam Hindu pun brahmana dari jaman dulu diceritakan dalam kisah-kisah merupakan seorang laki-laki, begitu pun dalam Buddha pemimpin tertinggi tetaplah seorang pria.
Agama diskriminatif kah?
Saya harap membahas tentang arti diskriminatif terlebih dahulu . Dalam kamus Oxford dikatakan bahwa diskriminatif (discriminative) adalah:
(1) recognize a distinction; differentiate: babies can discriminate between different facial expressions of emotion. n [with obj.] perceive or constitute the difference in or between: features that discriminate this species from other gastropods.
(2) make an unjust or prejudicial distinction in the treatment of different categories of people or things, especially on the grounds of race, sex, or age: existing employment policies discriminate against women. ORIGIN early 17th cent.: from Latin discriminat- distinguished between, from the verb discriminare, from discrimen distinction, from the verb discernere (see discern).
Dari definisi di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa diskriminatif adalah sikap membedakan sesuatu yg dianggap sama, & memperlakukan keduanya secara berbeda; maka seolah-olah hal tersebut mempunyai konotasi yg negatif, seperti yg terlihat pada definisi ke-2, contohnya adalah: diskriminasi ras, dll.
Namun, kalau sesuatu yg secara natural (kodrat) memang berbeda, maka tidak memberikan konotasi yg negatif, seperti yg terlihat pada definisi ke-1. Dari definisi yg perdana ini, kita melihat bahwa wanita & pria diciptakan mempunyai derajat (dignity) yg sama sebagai anak Allah, namun dengan kodrat yg berbeda.
Banyak kaum feminis mengatakan bahwa harus ada persamaan hak & kewajiban wanita & pria, termasuk adalah untuk jadi seorang imam. Mungkin kita harus menerima bahwa persamaan hak & kewajiban tidak berarti menghilangkan disparitas kodrat seorang pria & wanita. Sebagai contoh, jadi kodrat wanita untuk melahirkan. Kalaupun seorang pria harap & mau mempunyai persamaan hak untuk melahirkan seperti wanita, dia tetap tidak dapat, karena melahirkan bukan jadi bagian dari kodratnya. Demikian juga dengan imam jabatan, seorang wanita tidak dapat jadi imam, bukan karena agama memandang wanita lebih rendah dari pria, namun karena sudah jadi kodrat seorang imam adalah pria.
Toh dalam semua agama, perempuan juga diberikan posisi sesuai porsinya. Dalam Islam ada Ustadzah, dalam Katholik ada biarawati, dalam Buddha ada Biksuni.
Sebenarnya para feminis yg menyuarakan kesamaan hak & kewajiban juga harus melihat disparitas wanita pria secara sains (seperti halnya atheis lain, para feminis ini kan pemuja sains). Dimana otak wanita & pria saja berfungsi dengan cara yg berbeda. Itu sebabnya pria cenderung mengpakai logika, & wanita cenderung mengikuti "rasa". Belum lagi masalah hormonal yg berbeda antara wanita dengan pria.
Ini tentunya akan sangat mempengaruhi cara berpikir & cara pengambil keputusan.
Apalagi kalau wanita sedang mengalami menstruasi, dimana hormonalnya sedang tidak stabil.
Balik lagi kenapa dalam agama imam adalah pria; ya Tuhan memang menciptakan pria secara fisik untuk jadi pemimpin, pelindung. Dan agama adalah aturan dalam hidup yg mengikuti Tuhan.
Dan TS melihat euforia feminis yg menggaungkan persamaan derajat yg tidak lagi memandang kodrat adalah upaya mengelabui manusia & menjauhkan manusia dari Tuhan. Karena para feminis ini memang sepaket dengan para pengasong LGBT. Menyuarakan kesetaraan yg semu alias halu. Yang secara kodrat tidak akan dapat diwujudkan.
Terima kasih sudah membaca tulisan TS di pagi hari yg cerah ini. Selamat menikmati akhir pekan GanSis. Hari ini 09:40