Jakarta - Sebut saja namanya: Bu Tina Naniar. Dia adalah seorang guru di sebuah sekolah swasta jenjang menengah atas, yang dikelola secara kurang profesional.
Sekolah yang masuk di wilayah Jakarta Timur ini bukanlah tergolong sekolah favorit, bahkan boleh dibilang sekolah tempat berlabuh bagi siswa yang gagal diterima di sekolah pilihan.
Konsekwensinya bisa dibayangkan: siswa bermasalah, yang suka merokok, tak disiplin, kurang bersemangat belajar dan suka berlaku tak santun pada guru akan menumpuk di institusi pendidikan ini.
Berceritalah Bu Tina, yang sehari-hari mengajar ilmu akuntansi di sekolah itu. "Kalau bukan karena panggilan profesi, saya mungkin sudah meninggalkan siswa-siswa yang susah diatur ini," kata guru lulusan IKIP Jakarta yang kini berganti nama jadi Universitas Negeri Jakarta ini.
Guru yang masih melajang itu mengaku bahwa gaji yang diterimanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti bayar sewa kamar, beli sandang dan makan sehari-hari.
"Tapi bukan soal pendapatan yang membuat saya gelisah jadi guru di sini. Saya sering merasa terluka hati saya karena anak-anak yang saya ajar kurang santun dan suka melanggar disiplin sekolah," katanya.
Di sekolah ini, tuturnya, anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah lain atas dasar kenakalan yang diperbuat bisa diterima.
"Yang penting sang wali murid mau membayar sejumlah uang masuk dan sumbangan suka rela. Soal perilaku yang berkaitan dengan etos belajar dan etika bertindak, kurang disorot dan dijadikan standar penerimaan," katanya.
Berbagai macam kenakalan bahkan, dalam batas-batas tertentu tindak kriminal, bisa ditemui di lingkungan siswa tempat Tina mengajar. Ada yang suka memancing kemarahan guru dengan mengirim SMS yang nadanya memaki, mengancam. Ada yang sengaja tak menghiraukan guru saat pembelajaran berlangsung. Ada yang sengaja merokok di lingkungan kelas saat istirahat.
"Bahkan tahun lalu ada siswa yang membawa narkoba. Tapi siswa itu sudah lulus," kata Tina.
Karena kebijakan sekolah yang tak mau mengeluarkan siswa yang brengsek itulah, tambah Tina, tingkat moralitas yang bisa ditoleransi menjadi tidak jelas. Ada anak yang jarang masuk, tapi tetap saja bisa naik kelas dan lulus. Ada juga siswa yang melanggar sejumlah disiplin belajar tapi tetap dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi.
Menurut Tina, sebagian guru bahkan kepala sekolah kurang peduli dengan soal peningkatan mutu atau prestasi akademis para siswa. "Yang penting para guru mengajar dan di akhir bulan menerima gaji atau honor bagi guru tak tetap," tutur Tina.
Eskalasi kenakalan siswa
Terjadinya eskalasi kenakalan siswa di tempat Tina mengajar merupakan konsekwensi logis dari kebijakan pengelola sekolah yang hanya menerima siswa tanpa seleksi ketat.
Alasan bahwa kompetisi yang semakin keras dalam menjaring siswa di lingkungan sekolah swasta memaksa pengelola sekolah bersedia menampung siswa bermasalah.
Pengamat dan praktisi pendidikan Arif Rachman mengatakan, semua persoalan di sekolah dari mulai kenakalan siswa sampai mutu akademisnya berpangkal pada kebijakan yang ditempuh oleh yayasan atau kepala sekolah dalam pengelolaan institusi pendidikan.
"Kalau sekolah sudah membiarkan siswanya berkeliaran di jalan pada jam-jam belajar, bisa ditebak seperti apa kualitas sekolah semacam itu," kata Arif.
Menurut Arif, mendidik anak dari taman kanak-kanak hingga jenjang menengah atas tidak bisa kompromi dalam hal disiplin dan akhlak siswa. "Jangan pernah mengabaikan soal moralitas dalam mendidik anak-anak termasuk pada jenjang sekolah lanjutan tingkat atas," katanya.
Ketika sekolah menoleransi siswanya untuk datang terlambat dan tidak dihukum, sekolah itu sudah mulai bekompromi dengan ketidakdisiplinan. "Pada tingkat inilah sekolah akan membiarkan terjadinya eskalasi ketakdisiplinan di kalangan siswa," katanya.
Menurut dia, penanaman disiplin pada siswa tak bisa dilepaskan dari bagian dari pembentukan akhlak siswa. Siswa diwajibkan hadir sebelum pembelajaran di kelas dimulai antara lain punya tujuan etis, yakni siswa harus menghargai gurunya yang sudah datang lebih dulu.
Guru yang tidak dihargai karena para siswa sering melanggar disiplin bisa mempengaruhi proses belajar mengajar.
Tina Naniar sebagai guru yang mengaku mengajar sebagai panggilan hidup juga tak bisa mengelak dari adagium di atas.
"Kadang saya terpengaruh oleh situasi yang dibentuk oleh sejumlah siswa yang sengaja membuat terganggunya ketenangan belajar. Begitu ada siswa yang usil dan memancing gelak tawa siswa lain, konsentrasi mengajar saja terpecah," katanya.
Yang lebih menyedihkan, tambah Tina, ada guru-guru yang apatis dan tak peduli dengan kenakalan yang diperbuat siswa. "Kalau saya masih mau bersusah-susah memanggil siswa yang perilakunya sudah ke taraf melukai hati saya sebagai guru," katanya.
Tina menceritakan pengalamannya ketika mendatangi rumah salah satu siswanya yang tersangkut kasus narkoba.
"Setelah saya dialog dengan siswa itu dan anggota keluarganya, saya jadi berempati. Ternyata siswa bermasalah ini hidup dalam kondisi keluarga yang berantakan. Sejak itu saya sadar bahwa saya tak boleh menyerah jadi guru meski hati saya kadang dilukai oleh siswa yang berakhlak buruk," tuturnya.
Sumber
http://www.lebihcepat.com/nasional/34-berita-nasional/8881-hati-guru-yang-terluka-.html
http://www.lebihcepat.com
Sekolah yang masuk di wilayah Jakarta Timur ini bukanlah tergolong sekolah favorit, bahkan boleh dibilang sekolah tempat berlabuh bagi siswa yang gagal diterima di sekolah pilihan.
Konsekwensinya bisa dibayangkan: siswa bermasalah, yang suka merokok, tak disiplin, kurang bersemangat belajar dan suka berlaku tak santun pada guru akan menumpuk di institusi pendidikan ini.
Berceritalah Bu Tina, yang sehari-hari mengajar ilmu akuntansi di sekolah itu. "Kalau bukan karena panggilan profesi, saya mungkin sudah meninggalkan siswa-siswa yang susah diatur ini," kata guru lulusan IKIP Jakarta yang kini berganti nama jadi Universitas Negeri Jakarta ini.
Guru yang masih melajang itu mengaku bahwa gaji yang diterimanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti bayar sewa kamar, beli sandang dan makan sehari-hari.
"Tapi bukan soal pendapatan yang membuat saya gelisah jadi guru di sini. Saya sering merasa terluka hati saya karena anak-anak yang saya ajar kurang santun dan suka melanggar disiplin sekolah," katanya.
Di sekolah ini, tuturnya, anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah lain atas dasar kenakalan yang diperbuat bisa diterima.
"Yang penting sang wali murid mau membayar sejumlah uang masuk dan sumbangan suka rela. Soal perilaku yang berkaitan dengan etos belajar dan etika bertindak, kurang disorot dan dijadikan standar penerimaan," katanya.
Berbagai macam kenakalan bahkan, dalam batas-batas tertentu tindak kriminal, bisa ditemui di lingkungan siswa tempat Tina mengajar. Ada yang suka memancing kemarahan guru dengan mengirim SMS yang nadanya memaki, mengancam. Ada yang sengaja tak menghiraukan guru saat pembelajaran berlangsung. Ada yang sengaja merokok di lingkungan kelas saat istirahat.
"Bahkan tahun lalu ada siswa yang membawa narkoba. Tapi siswa itu sudah lulus," kata Tina.
Karena kebijakan sekolah yang tak mau mengeluarkan siswa yang brengsek itulah, tambah Tina, tingkat moralitas yang bisa ditoleransi menjadi tidak jelas. Ada anak yang jarang masuk, tapi tetap saja bisa naik kelas dan lulus. Ada juga siswa yang melanggar sejumlah disiplin belajar tapi tetap dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi.
Menurut Tina, sebagian guru bahkan kepala sekolah kurang peduli dengan soal peningkatan mutu atau prestasi akademis para siswa. "Yang penting para guru mengajar dan di akhir bulan menerima gaji atau honor bagi guru tak tetap," tutur Tina.
Eskalasi kenakalan siswa
Terjadinya eskalasi kenakalan siswa di tempat Tina mengajar merupakan konsekwensi logis dari kebijakan pengelola sekolah yang hanya menerima siswa tanpa seleksi ketat.
Alasan bahwa kompetisi yang semakin keras dalam menjaring siswa di lingkungan sekolah swasta memaksa pengelola sekolah bersedia menampung siswa bermasalah.
Pengamat dan praktisi pendidikan Arif Rachman mengatakan, semua persoalan di sekolah dari mulai kenakalan siswa sampai mutu akademisnya berpangkal pada kebijakan yang ditempuh oleh yayasan atau kepala sekolah dalam pengelolaan institusi pendidikan.
"Kalau sekolah sudah membiarkan siswanya berkeliaran di jalan pada jam-jam belajar, bisa ditebak seperti apa kualitas sekolah semacam itu," kata Arif.
Menurut Arif, mendidik anak dari taman kanak-kanak hingga jenjang menengah atas tidak bisa kompromi dalam hal disiplin dan akhlak siswa. "Jangan pernah mengabaikan soal moralitas dalam mendidik anak-anak termasuk pada jenjang sekolah lanjutan tingkat atas," katanya.
Ketika sekolah menoleransi siswanya untuk datang terlambat dan tidak dihukum, sekolah itu sudah mulai bekompromi dengan ketidakdisiplinan. "Pada tingkat inilah sekolah akan membiarkan terjadinya eskalasi ketakdisiplinan di kalangan siswa," katanya.
Menurut dia, penanaman disiplin pada siswa tak bisa dilepaskan dari bagian dari pembentukan akhlak siswa. Siswa diwajibkan hadir sebelum pembelajaran di kelas dimulai antara lain punya tujuan etis, yakni siswa harus menghargai gurunya yang sudah datang lebih dulu.
Guru yang tidak dihargai karena para siswa sering melanggar disiplin bisa mempengaruhi proses belajar mengajar.
Tina Naniar sebagai guru yang mengaku mengajar sebagai panggilan hidup juga tak bisa mengelak dari adagium di atas.
"Kadang saya terpengaruh oleh situasi yang dibentuk oleh sejumlah siswa yang sengaja membuat terganggunya ketenangan belajar. Begitu ada siswa yang usil dan memancing gelak tawa siswa lain, konsentrasi mengajar saja terpecah," katanya.
Yang lebih menyedihkan, tambah Tina, ada guru-guru yang apatis dan tak peduli dengan kenakalan yang diperbuat siswa. "Kalau saya masih mau bersusah-susah memanggil siswa yang perilakunya sudah ke taraf melukai hati saya sebagai guru," katanya.
Tina menceritakan pengalamannya ketika mendatangi rumah salah satu siswanya yang tersangkut kasus narkoba.
"Setelah saya dialog dengan siswa itu dan anggota keluarganya, saya jadi berempati. Ternyata siswa bermasalah ini hidup dalam kondisi keluarga yang berantakan. Sejak itu saya sadar bahwa saya tak boleh menyerah jadi guru meski hati saya kadang dilukai oleh siswa yang berakhlak buruk," tuturnya.
Sumber
http://www.lebihcepat.com/nasional/34-berita-nasional/8881-hati-guru-yang-terluka-.html
http://www.lebihcepat.com